
Hujan deras mengiringi langkah kaki seorang gadis dengan tangisannya. Tak peduli dengan gelap malam yang mencekam. Pakaiannya berupa dress lengan pendek dengan panjang selutut terlihat sudah basah kuyup tanpa tersisa. Tubuhnya menggigil kedinginan. Wajahnya memucat dengan bibir yang mulai berwarna biru.
Tangisannya sudah samar tidak terdengar. Hanya isakan-isakan kepedihan yang seperti ditahan serta air mata yang terus mengalir bercampur dengan guyuran air langit itu menandakan rasa sakit yang teramat dalam.
Langkahnya terhenti didepan gedung yang menjulang tinggi.
Matanya sayup-sayup menengadah menatap langit. Mengulang kejadian beberapa jam sebelumnya.
#Flashback ON
"Nay, Laki-laki didepan mu ini namanya Reyhan.." Ucap sang Papa ketika melihat putrinya baru saja turun menemui tamunya.
Nayla tersenyum manis kearah seorang pemuda yang dia kira adalah rekan kerja papanya. Bersikap sesopan mungkin karena tidak ingin mempermalukan sang Papa didepan koleganya.
Sangat tampan. Itu kesan pertama yang berhasil ditangkap oleh manik mata bernetra hitam milik Nayla.
"Nayla.."
Tangan kanannya terulur kedepan memperkenalkan diri dengan seramah mungkin. Ditambah senyum yang masih setia dibibirnya.
"Reyhan.."
Balas Reyhan memperkenalkan diri sambil berdiri lalu menjabat tangan Nayla sebagai tanda perkenalan singkat mereka sebelum akhirnya duduk kembali.
Mata Reyhan memandang dalam kearah gadis cantik didepannya. Dress selutut berwarna merah maroon dipadukan dengan flat shoess berwarna senada menambah kesan manis melekat erat di wajah cantik gadis itu.
Belum lagi rambut panjang yang terurai dan ditata sedemikian rapinya menjadikan gadis itu layak disebut sempurna.
Sepersekian detik berikutnya, Reyhan segera mengalihkan pandangan dari karya Tuhan yang sangat mengagumkan itu.
"Nay, apa kau menyayangi Papa mu?" Tanya Zeko kepada Putri semata wayangnya.
"Papa kenapa sih? Tanpa Nayla jawab Papa pasti sudah tau kan Pa?"
Wajab Nayla setengah heran menatap mata papanya.
"Kalau begitu, apa kamu mempercayai Papa? Dan mau melakukan sesuatu untuk Papa?" Pertanyaannya lagi yang semakin membuat Nayla bingung.
"Ini permintaan Papa yang pertama kepadamu Nay.."
Tangan lembut Riana menggenggam tangan Suaminya. Mencoba mencari jawaban dengan sikap aneh suaminya.
Benar kata Nayla. Suaminya sedang bertingkah aneh...
Sementara Reyhan hanya diam mematung menyaksikan keadaan didepannya. Dirinya sendiri bingung bagaimana memposisikan diri didepan keluarga Zeko. Terutama didepan gadis cantik bernama Nayla dan wanita paruh baya yang tak kalah cantiknya bernama Riana.
Karena jelas, keterkejutan nampak terlihat dari raut wajah keduanya.
Nayla mendekatkan dirinya pada sang Papa, Zeko.
"Pa, Nayla sayang banget sama Papa. Nayla juga sangat percaya sama Papa. Nayla janji, akan memenuhi kemauan Papa, asal Papa bahagia..." Jawabnya yakin sembari memegang tangan Papa nya erat.
Jujur saja, Nayla malu bertingkah seperti itu didepan laki-laki yang tidak dikenalnya. Nayla sudah besar, bukan lagi anak kecil.
Memang dihari-hari sebelumnya Nayla sangat manja pada Papanya, tapi kan ga ada orang lain selain keluarganya?
Zeko tersenyum puas menatap manik mata putrinya. Tangannya meraih puncak kepala Nayla lalu mengusapnya penuh sayang.
"Papa ingin kamu bahagia Nay"
Zeko menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkan secara perlahan sebelum akhirnya melanjutkan kata katanya.
"Karena itu, Papa ingin kau menikah dengan Reyhan, laki-laki pilihan Papa"
__ADS_1
Pandangan penuh perasaan yang semula menatap manik mata Nayla kini berpindah menatap sosok laki-laki yang duduk dengan sopan tanpa ekpresi didepannya. Senyum teduh yang masih melekat menghiasi wajah sang Papa menandakan bahwa sedikitpun tidak ada gurauan dalam setiap ucapannya.
Nayla yang semula menunjukkan senyumnya sekarang wajahnya berubah pias. Terkejut dengan ucapan sang Papa.
"Pa.. Papa gak serius kan?" Ucapnya sembari membuang nafas kasar.
Wajahnya tampak pucat pasi memaksa senyumnya hadir kembali.
Reyhan hanya diam. Begitupun Zeko.
Menatap kosong halaman luas yang mampu dilihatnya dibalik sela-sela pintu.
Tangannya mengusap punggung tangan sang istri seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.
"Paa.. jawab Nay dong Pa."
"Maaf Nay, tapi Papa tidak merestui hubunganmu dengan laki-laki pengecut itu."
Nayla hanya diam menunduk tak mampu menjawab perkataan sang Papa. Air matanya jatuh meleleh membasahi pipi mulusnya menggambarkan hatinya yang terluka atas ucapan Sang Papa.
Sungguh, Nayla tak pernah menyangka Papanya akan tega melakukan ini.
Detik waktu seakan berhenti. Dunianya seakan berbalik seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Kebahagian yang mengisi hari-harinya kini sirna dalam hitungan menit.
Isakannya yang mulai terdengar lirih, membuat sang Mama mulai menyuarakan pendapatnya.
"Pa... Ada apa ini?" Tanya Riana pada suaminya.
"Papa sadar kan atas tindakan papa?"
"Aku yakin Ma, karena pecundang seperti Satya tidak layak untuk putriku Nayla."
Emosi Nayla sudah pada puncaknya. Pandangan tajam dari gadis yang semula lembut, kini mengarah pada Reyhan. Tatapan kebencian itu terlihat jelas dari manik mata perempuan sempurna didepannya.
"Memang apa salah Satya Pa,?"
Tanya Nayla dengan nada yang tinggi sembari berdiri dari posisinya semula. Meluapkan emosi yang sudah menggebu dipuncak ubun-ubunnya.
"Pa.. Nay gak mau... hikssss.
Bagaimana mungkin papa memaksa Nayla menikah dengan laki-laki asing ini?
Nay kecewa sama Papa, Nay benci Papa..."
Reyhan sendiri ikut bingung dengan reaksi yang ditunjukkan oleh gadis cantik didepannya.
Saat ini keadaan sangat tegang. Nayla dengan amarahnya, Pak Zeko dengan ketegasannya dan Riana dengan keterkejutannya.
"Erhm.. Maaf Om, boleh saya bicara empat mata dengan Om sebentar?" Untuk pertama kalinya Reyhan mengeluarkan suaranya setelah perkenalan dirinya dengan Nayla tadi. Bukan Reyhan pecundang yang takut melawan keadaan, tapi Reyhan hanya mengerti posisi.
Reyhan tidak ingin menambah kecanggungan diantara keluarga ini.
Yang Reyhan ingin lakukan hanyalah, menuruti saja apa kata Om Zeko. Karena memang itu janjinya.
Tapi kenyataannya, keinginan Om Zeko tidak berjalan mulus seperti bayangan Reyhan.
"Ikut aku Rey..."
Kata Zeko sembari berdiri lalu berjalan kearah ruang kerja nya.
Kesempatan itu digunakan Riana untuk memeluk erat putri kandungnya. Riana paham bagaimana perasaan Nayla saat ini.
"Sabar ya sayang.." Kata Riana ikut menangis memeluk Nayla.
__ADS_1
"Mama akan bantu kamu cari tahu apa yang sebenarnya terjadi.."
Air mata Riana ikut jatuh merasakan kepedihan yang dialami putri semata wayangnya. Tapi Riana sendiri sangat mengenal suaminya.
Rasanya tidak mungkin suaminya melakukan ini tanpa alasan yang kuat. Ditambah lagi ini menyangkut kebahagiaan Nayla.
"Kamu percaya pada mama kan Nay? Papa pasti menginginkan yang terbaik untukmu..."
"Nay kecewa sama Papa Ma..."
Nayla berdiri dan berlari keluar meninggalkan rumahnya.
***
Diruang kerja...
Reyhan duduk disebuah kursi berhadapan dengan Zeko yang dibatasi meja ditengahnya.
Ruang kerja yang tidak terlalu besar ini terasa sangat penuh dengan banyaknya barang berupa tumpukan-tumpukan kertas.
Meski begitu, ruang kerja yang kedap suara ini tetap terlihat bersih, rapi dan nyaman ditempati.
Ada sebuah bingkai foto besar tepat dibelakang kursi yang Reyhan tempati. Itu berarti jika dia duduk di kursi kerja Om Zeko maka bingkai foto yang tak lain adalah foto Om Zeko, istrinya dan anaknya ini tepat berada didepannya.
"Sebelumnya saya minta maaf Om..." Ucap Reyhan memulai kata-katanya.
"Kenapa harus saya?"
Reyhan diam menunggu jawaban dari laki-laki gagah didepannya ini. Tapi tak ada jawaban darinya.
Yang ada hanya sorot mata menatap Reyhan seolah tak memahami maksud dari pertanyaannya.
"Maksud saya begini....
Mohon maaf Om.. putri om kan cantik, sepertinya dia juga punya calon sendiri.. Apa ini tidak terlalu cepat?
Aku hanya takut kalau ini akan membuat hub. Om dengannya semakin jauh?"
Zeko menarik nafas nya perlahan sebelum mulutnya menjawab.
"Rey, apa kamu fikir aku bisa bermain-main dengan masa depan putri ku satu-satunya?"
Mulutnya bergetar ketika suaranya keluar.
"Aku memilihmu karena aku percaya padamu."
Air mata yang sedari tadi ditahan didepan putri dan istrinya, kini meleleh didepan pemuda asing yang akan menjadi menantunya.
"Apa kamu fikir hatiku tidak sakit melihat air mata meluncur bebas dari pelupuk matanya?"
Terlihat Om Zeko mengusap pelan air mata yang membasahi pipinya.
"Aku yakin kau bisa membahagiakan dia.. Dengan semua hal yang aku tahu tentang dirimu, aku memberikan rasa percayaku padamu"
Reyhan tercengang atas jawaban yang baru saja dia dengar. Ditambah lagi Reyhan melihat dengan mata kepalanya sendiri, betapa laki-laki didepannya ini sangat menyayangi putrinya. Tapi tetep saja, Reyhan tidak mendapat jawaban yang diinginkan.
#Flashback Off
Tubuh nya yang semakin menggigil ditengah hujan lebat membuat kepala Nayla pusing.
"Papa kenapa tega sama Nay...hiks..." Ucapnya lirih namun terdengar sangat menyayat hati.
Detik berikutnya, pandangan Nay semakin gelap. Nayla jatuh tak sadarkan diri didepan gedung yang menjulang tinggi.
__ADS_1