Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Membagi Kekhawatiran


__ADS_3

Lelah menghujami seluruh bagian tubuh meski wajah tetap tersenyum merona karena bahagia. Hari ini, Reyhan mengukir hari yang begitu berkesan untuk mereka. Lagi-lagi bukan dengan sesuatu yang dibalut dengan kemewahan, tapi dengan kesederhanaan yang mengembalikan suasana hangatnya keluarga diantara mereka, yang dulu pernah hilang.


Setelah semua anak-anak sudah dipastikan masuk ke kamarnya untuk beristirahat, sekarang Reyhan pun tengah merebahkan tubuhnya. Tentu diatas ranjang yang sama dengan sang Istri.


Tidak ada aktifitas suami istri seperti biasanya, hanya saja posisi Reyhan yang memeluk tubuh Nayla dari belakang masih termasuk dalam posisi yang sangat intim.


"Suatu saat, aku ingin memiliki anak-anakku sendiri, dari sini..."


Ucapnya sambil sebuah tangan dia usapkan pada perut Nayla. Bibir Reyhan tersenyum, membayangkan saat itu tiba.


Sementara, dari balik tubuhnya Nayla mendadak merasa tidak nyaman atas ucapan sang suami. Jiwanya tiba-tiba merasa takut. Takut jika dia tidak bisa mewujudkan keinginan Reyhan.


"Nay..."


"Hem" Jawab Nayla.


"Apa jika Tuhan sudah mengizinkan, kau akan dengan senang hati bersedia mengandung anak ku?"


Nayla mengerjabkan matanya untuk mengusir perasaan tidak nyaman itu dari hatinya. "Tentu saja Reyhan, aku juga ingin menjadi istri yang sempurna..."


"Aku mencintai mu, Nayla..." Pernyataan Reyhan atas kelegaannya.


"Atas dasar?"


"Maksudnya?"


Perempuan itu memutar tubuhnya. Sampai tatapan mereka kini bertemu, karena Nayla tidak lagi membelakangi tubuh sang suami.


"Reyhan, ke-kenapa sepertinya kamu begitu mencintaiku?" Tanya Nayla dengan tatapan sendunya.


Tatapan yang membuat sesuatu bergejolak dalam diri lelaki itu. "Apa aku harus menjawabnya?"


Nayla mengangguk. Kemudian dia menenggelamkan kepalanya didada sang suami. Menikmati aroma tubuh Reyhan dari balik piyama tidurnya.


Dan itu, membuat Reyhan bernafas lega karena terbebas dari tatapan Nayla yang membangkitkan hasratnya.


"Em, kenapa ya? sepertinya kamu sudah pernah bertanya seperti ini deh"


"Jawab saja dengan jujur.. a-aku memang ingin bertanya lagi..."


Reyhan diam sedang berfikir. Benar juga.


Kenapa Reyhan tiba-tiba bisa mencintai Nayla sebegitu dalamnya? Apa ada alasan spesifik yang mendasarinya?


"Reyhan, kenapa diam?"


"Aku sedang berfikir Nay..." Jawabnya sambil kembali memeluk tubuh Nayla. "Tapi sepertinya, aku tidak mempunyai alasan untuk itu."


"Be-benarkan?"


"Ya sayang, tentu saja...


Cinta itu datang dengan tiba-tiba. Dan mengalir begitu saja. Aku tidak tahu sejak kapan aku mencintai mu...


Meskipun harus ku akui, aku tertarik dengan gadis cantik dalam pelukanku ini, sejak pertemuan pertama kita..."


"Apa itu berarti kamu mencintaiku sejak pertama kali melihatku?"


Reyhan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu apakah ketertarikan itu bisa di sebut cinta atau bukan... Aku tidak terlalu yakin"


Nayla menghembuskan nafasnya. Dan Reyhan dapat merasakan hembusan nafas itu didadanya. Entah kenapa, Nayla sedikit kecewa atas jawaban Reyhan soal pertanyaannya yang terakhir.

__ADS_1


Eh, apa itu artinya Nayla berharap Reyhan mencintainya sejak pertama mereka bertemu?


"Lantas, kenapa saat itu kamu mau menikah dengan ku? Bahkan sebelum kita bertemu kau sudah menyetujui permintaan papa kan?"


Reyhan tersenyum. Dia rasa tidak masalah jika sekarang Reyhan menceritakan yang sebenarnya pada Nayla.


"Sejujurnya, aku menikahimu hanya karena balas budi, Nayla.." Ucapnya dengan pelan.


"A-apa? Balas budi?" Gadis itu mendongakkan kepalanya dan melihat anggukan kepala dari Reyhan. Kenapa hatinya mendadak merasakan sakit ya?


"Ya, saat itu papa mu sudah menyelamatkan nyawa salah satu anakku. Dan sebagai balasannya, dia sendiri yang memintaku untuk bersedia menikah dengan mu. Dia memberikan padaku sebuah kepercayaan untuk menjaga mu, putri semata wayangnya..."


"Itu artinya, ka-kamu terpaksa menikahiku?"


Suaranya tercekat, mendadak oksigen disekitarnya terasa menipis.


"Dengarkan aku dulu..." Ucap Reyhan menenangkan saat melihat mata perempuannya terselaputi dengan cairan bening, yang siap tumpah setiap saat.


"Maafkan aku Rey.. Seharusnya kau tidak perlu menikah dengan wanita seperti ku, wanita yang sudah kehilangan kehormatannya."


"Kau tidak perlu meminta maaf.. Itu bukan salahmu, dan aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu Nayla..


karena sekarang aku begitu bersyukur ada kamu di sisi ku. Aku memang tidak memiliki alasan yang kuat kenapa aku mencintaimu.


Yang aku tau, kamu adalah perempuan baik yang sudah tuhan kirimkan untuk melengkapi bagian kosong dalam diri ku."


Reyhan menghela nafas sambil meng-eratkan pelukannya. "Percayalah, aku sungguh-sungguh mencintai mu, Nayla.. Tidak peduli seperti apa awal pernikahan kita, yang terpenting adalah sekarang."


Baiklah. Nayla mengerti. Tapi, bukan itu yang sebenarnya ingin Nayla bahas.


"Rey..."


"Aku merasa, ada sesuatu yang perlu di khawatirkan tentang kondisi ku"


"Maksud mu?"


"Rey, bukan kah selama kita berhubungan kamu tidak pernah memakai pengaman? Pun dengan aku, aku tidak pernah melakukan sesuatu untuk menunda kehamilan. Tapi..." Nayla mulai terisak. Sesuatu yang ditakutinya sendirian, sekarang akan ia bagikan kepada Reyhan.


"Nay, kenapa menangis?" Lelaki itu kebingungan. Situasi yang tidak pernah ia sukai adalah melihat air mata jatuh dipipi wanitanya.


"Rey, kita sudah empat bulan lebih menikah. Dan aku belum menunjukkan tanda-tanda akan memiliki seorang anak. Bagaimana kalau aku bermasalah?


A-aku takut Reyhan.. bagaimana kalau aku tidak bisa memberimu anak?"


"Ya Tuhan, apa permintaan aku yang ingin memiliki anak dari mu itu menyakiti perasaan mu? Maaf..." Reyhan mengusap punggung Nayla.


"Kau tidak perlu khawatir. Kita baru empat bulan menikah, Nayla. Itu waktu yang terlalu singkat untuk mengeluh dan berburuk sangka pada Tuhan.


Percayalah, suatu saat tuhan pasti akan menitipkan malaikat kecil itu untuk kita. Tuhan akan menitipkannya diwaktu yang tepat dan disaat kita benar-benar siap. Tidak datang terlalu cepat, dan tidak akan terlambat. Kau hanya perlu berdoa..Kemudian berbaik sangka."


Elusan dipunggungnya membuat perasaan Nayla lebih tenang sekarang. Pun dengan membagikan ketakutan yang selama ini ia pendam sendiri ternyata membuatnya merasa jauh lebih lega.


"Ta-tapi.. maukah lain waktu kau menemaniku ke dokter?"


"Untuk.?"


"Ah aku ingin memastikan kesehatan ku saja Rey, sekalian untuk berkonsultasi..."


Lelaki itu menyeringai. "Baik lah, tapi sebelum ke dokter ada baiknya kita lebih berusaha lagi.. Ingat, yang namanya usaha tidak akan menghianati hasil, mungkin saja selama ini kita masih kurang dalam berusaha? ya kan..?"


"Usaha apa?"

__ADS_1


"Ya membuat anak... bagaimana? mau dicicil sekarang?"


Nayla melongo. Benar-benar jawaban absurd yang mengubah suasana sedih menjadi semakin menyebalkan.


Perempuan itu memukul keras dada suaminya. "Ih, dasar mesum.! Nggak, aku capek"


Lalu dia balik badan kembali memunggungi sang suami. Percayalah, wajah Nayla sudah memerah semerah kepiting rebus. Reyhan sangat keterlaluan menggoda Nayla dalam situasi yang tidak pernah Nayla tebak.


Dan di belakangnya, Reyhan tergelak dengan keras sebelum kembali memeluk Nayla dari belakang serta bibirnya yang mencium pucuk kepala Nayla berulang kali.


"Tidurlah sayang, aku tidak akan mengganggumu...


Kamu perlu beristirahat, setelah apa saja yang kamu lakukan untuk kita hari ini...


Mewakili anak-anak aku ingin mengatakan, Terimakasih, bunda nya Naura.. Terimakasih, sudah hadir ditengah-tengah kami."


Hati Nayla berdesir hangat mendengar ucapan sang suami. Senyumnya mengembang sempurna, menghiasi wajah cantiknya. Sambil bergumam dalam hati.


Terimakasih Reyhan, kalian sudah menerima kehadiran ku dengan sangat baik...


***


Hari sudah berganti. Sejak dua hari yang lalu, Nayla sudah kembali tinggal dirumah papa dan mama nya. Dan seperti biasa, pagi tadi ia memulai aktifitasnya dengan senyum ceria.


Aktifitas pagi yang romantis bersama pasangannya ternyata membawa dampak positif sampai sekarang. Sepanjang mengikuti bimbingan dosen pembimbing, senyum mengembang sempurna diwajah cantiknya tanpa berkurang sedikitpun.


Bahkan saat gadis itu sudah duduk di kantin untuk mengisi ulang tenaga, raut bahagia itu masih nampak terlukis jelas di wajahnya. Senyum-nya yang seakan tidak pernah pudar membuat Sari yang kini tengah duduk disampingnya merasa terheran-heran.


"Nay, serius kamu gak kenapa-kenapa?"


Nayla menengok kesamping dengan dahi berkerut. "Memangnya aku kenapa?"


"Kayak orang gila, dari tadi senyum-senyum sendiri..."


Nayla mengedikkan bahunya acuh. Dan kembali menyantap bakso didepannya dengan hikmat.


"Jangan gitu ih Nay, aku takut... Kamu kayak orang kerasukan..."


"Sembarangan!" Jawab Nayla dengan cepat. "Kamu tuh kalau ngomong mbok ya disaring.. "


"Ya habisnya, dari tadi senyum-senyum terus..."


"Aku tuh lagi seneng Sar.. Reyhan yang sudah bikin aku seneng kayak gini" Pamernya penuh penekanan.


"Suamimu itu?"


Tepat setelah Sari menyelesaikan ucapannya, suara lain dari seorang laki-laki menyahut.


"Boleh nggak nih kita gabung?" Tanya Andi. Seperti biasa, dia datang bertiga bersama Satya dan Joan.


Suasana yang sepersekian detik membuat Sari dan Nayla bersitatap takut-takut.


"Kalian?" Ucap dua perempuan itu bersamaan. Lalu Sari meneruskan. "Sejak kapan kalian disini?"


Dengan santainya mereka duduk. "Cukup untuk mendengar semua pembicaraan kalian."


***


Kalau like nya cepet.. kemungkinan hari ini dua bab ☺️


Syukur-syukur ada yang ngasih vote..

__ADS_1


__ADS_2