Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Kecemasan


__ADS_3

Seperti halnya kesibukan Reyhan di Indonesia, jauh ditempat yang terpisah, tepatnya di negara yang berbeda benua, Nayla juga memiliki kesibukan serupa.


Bukan hanya masakan indonesia yang kini sudah ia kuasai, Nayla bahkan juga ikut kelas memasak masakan China.


Hari-hari yang dilalui perempuan itu juga begitu padat. Jadwal kelas memasak yang Nayla ambil ternyata sangat menguras waktu dan tenaga nya.


Sampai akhir-akhir ini, kesehatannya sedikit menurun.


Perempuan itu sering mengeluh merasakan lelah di sekujur tubuhnya. Bahkan, beberapa kali ia juga merasakan pusing kepala yang datang tiba-tiba.


Meski begitu, Nayla tidak terlalu memikirkan dan mencemaskan keadaannya. Justru ia lebih semangat lagi,


karena kini dia sudah merasakan buah hasil dari kerja kerasnya dalam belajar memasak, yang ternyata sangat manis.


Perempuan itu sudah siap berdiri di samping meja dapur. Berpakaian rapi dan sederhana, lengkap dengan celemek model Bip Apron yang menempel di dadanya.


Hari ini, perempuan itu yang akan memasak sendiri untuk makan siangnya bersama Linda. Mempraktekkan hasil belajarnya yang sudah susah-susah Nayla dapat.


Sejak awal telinga dan matanya awas menatap video yang berputar diponselnya, mode seratus persen on untuk memperhatikan dan mendengarkan penjelasan dari chef didalam video itu, tentang bagaimana tahapan-tahapan cara memasak menu kali ini.


Ada labu yang sudah ia potong, satu kaleng abalone dengan saus tiram kerang kering, tiga jenis jamur, daging ikan giling dan wortel.


Tangan-tangan yang cekatan bekerja sesuai tugasnya. Satu-persatu step Nayla lewati dengan sempurna. Hingga tersaji lah maha karya masakan buatannya dalam piring besar.


"Abalone With Vegetables In The Ring" Nayla bergumam lirih. Sambil bertepuk tangan kesenangan.



Hanya itu, ? Iya


Memang baru itu saja masakan China yang berhasil Nayla pelajari, karena target awal ia masuk kelas memasak itu adalah masakan Indonesia. Selingannya, baru masakan mancanegara.


"Lin, punya ku sudah siap." Kata Nayla sambil melepas celemek dari tubuhnya. Digantungkan kembali celemek itu pada tempatnya. "Yang kamu masak, sudah belum?"


"Sudah bu," Linda menyahut dari dapur. Selangkah kemudian, ia berjalan menuju meja makan sambil membawa dua piring.


"Itu apa Lin?" Tanya Nayla penasaran.


"Yang ini tumis selada air" Menunjukkan piring ditangan kanannya. "Kalau yang ini tomat tumis telur.." Menunjukkan piring sebelah kiri.


Di taruh nya piring itu didekat masakan Nayla. "Kalau dalam bahasa sini, tumis selada seperti ini penyebutannya jau sangchoi. Kalau tomat tumis telur namanya fan ge jau tan."


"Oh" Magut-magut seolah mengerti. Nayla menarik kursi dan kemudian ia duduk di kursi itu. "Kalau punya ku itu, namanya apa?"


Sekilas, Linda melihat masakan Nayla. Kemudian gadis itu berucap "Ci kwa cing pau yi.." Ucap gadis itu, lantas ia menyiapkan nasi untuk Nayla.


Nayla mengambil piring yang berisi nasi itu dari Linda. Tak lupa mengambil lauk hasil karyanya. "Kamu juga ikut makan sekalian loh, duduk situ.." Menunjuk kursi didepannya. "Kalau gak ada Reyhan, kamu santai aja Lin sama aku, anggap aja kayak kakak sendiri."


"Iyaa bu.." Tersenyum senang, diam-diam Linda mengucap syukur didalam hati. Karena, selain memiliki boss yang cukup baik seperti Reyhan, ternyata istrinya jauh lebih baik dan ramah dari boss laki-laki nya itu. "Terimakasih ya bu.."


Dua perempuan itu makan siang dengan lahap. Nayla memuji masakan Linda yang memang enak. Sesekali Linda juga memuji masakan Nayla yang ternyata tak kalah sedap.


Ya jelas saja,


Nayla sudah belajar dari ahlinya.


Obrolan ringan terjadi begitu saja, meskipun Linda masih sedikit sungkan dalam menanggapi Nayla, mengingat status Nayla sebagai boss nya. Sampai,

__ADS_1


tak terasa makanan dipiring mereka sudah habis.


Linda segera merapikan meja itu kembali. Membawa piring kotor ketempat cucian, dan menyimpan makanan sisa di dalam almari pendingin.


"Andai ada Reyhan disini. Dia pasti suka aku masakin.." gumam Nayla sambil beranjak dari sana menunju kamarnya. Diam-diam gadis itu sangat merindukan suaminya. "Aku telfon aja deh,"


Diraihnya ponsel pemberian Reyhan dari atas meja rias. Saat membukanya, Nayla sedikit terkejut karena baru kali ini, ada seseorang yang mengirim pesan ke ponsel itu.


Dengan penasaran ia membukanya.


Nay, aku Nina. Kalau kamu melihat pesan ini. Tolong telfon aku ya..


Aku sudah menghubungimu beberapa kali, tapi tidak kau angkat.


Nayla tersenyum tipis. Tanpa aba-aba, ia memencet tombol untuk menelfon Nina.


"Haloo Nay..." suara dari seberang. "Uh, akhirnya kamu menghubungi ku.."


"Nin, ya Ampun.. sudah lama banget gak denger suara kamu.." Jawab Nayla antusias. Lalu ia berjalan ke sisi ranjang, "Apa kabar,? Kamu dan bayi mu, sehat kan?"


Menyenderkan kepalanya di headboard.


"Sehat kok. Dan aku yakin, kamu juga pasti sehat.." Reyhan tidak akan membiarkan Nayla kenapa-kenapa kan?. "Oh iya, Nay,


aku mau kasih tau kamu, kalau, aku.... aku memutuskan berpisah dengan Satya."


Ha?


"Kamu apa?" Terkejut sekaligus tidak percaya.


"Kamu serius?"


Nina menceritakan semuanya kepada Nayla. Saat Satya membawa perempuan pulang, saat Satya menampar nya, saat lelaki itu mengusirnya, dan yang paling sesak adalah, saat Satya tidak memperdulikan anak didalam kandungannya.


Tangis Nina pecah, membuat Nayla ikut meneteskan air mata tanpa sengaja, saat dengan seksama Nayla mendengarkan cerita Nina.


"Yang kuat ya Nin..."


Papa benar,


Satya bukan lelaki yang baik,.. Oh tuhan,


Bodohnya dulu, kecerobohanku bahkan sampai melakukan itu.. ah.. Batin Nayla menyesal.


"Aku, sudah gak papa sekarang Nay, aku sudah lebih baik. Aku harap kamu bahagia dengan suami mu, dan tidak mengalami apa yang aku alami."


Nayla mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Sebagai sahabat, yang tahu bagaimana perjalanan hidup Nina, Nayla merasa iba, sekaligus turut merasakan sakit di hatinya atas apa yang menimpa Nina.


Bahkan, Nina sampai memilih menjauh demi memulai hidup yang baru.


"Trus, kalau kamu pindah, kita gak bisa ngumpul bertiga lagi dong?" Nayla mencebikkan bibirnya, seolah tidak rela.


Kekehan kecil Nayla dengar dari seberang ponselnya, sebelum suara Nina menjawab. "Ya gampang lah, kan kamu bisa tanya Reyhan kalau mau main kerumah ku..?"


Beberapa detik, perempuan itu terpaku. Mencerna maksud ucapan Nina. "Reyhan?" Tanya Nayla penasaran.


"Eh itu..." Dari ponsel, Nayla mendengar Nina yang sedikit gugup. "Maksud aku, kamu bi... bisa minta izin ke suami kamu kalau, kalau mau main ke rumahku... Iyaa gitu maksud ku.."

__ADS_1


Sebenarnya, Nayla merasa ada yang disembunyikan kan oleh Nina. Sebenarnya, Nayla merasa ada yang aneh. Tapi, ditepisnya rasa itu.


Perasaan Nayla yang terlalu lembut membuat nya memupuk rasa percaya kepada sahabatnya itu.


"Ohh..." begitu akhirnya Nayla menjawab.


"Jadi kan, kamu bisa kesana bareng sama Sari.." Nina sedikit memberi jeda. "Dan satu lagi, masalah donasi itu aku udah serahin ke Sari. Dia yang akan meng-handle. Sambil nunggu kamu."


"Iya, nanti aku cepet balik, biar bisa bantuin Sari.." Jawab Nayla kembali ceria. "Oh iya Nin, kalau kamu udah gak tinggal di apartemen Satya, sekarang berarti kamu dirumah dong?"


"Aku menginap di hotel Nay... Hotel sadewa dekat pantai itu loh, tempat favorit mu kan?"


"Hotel sadewa?" Tanya Nayla. Dengan bingung lagi.


"Yasudah, nanti dilanjut ya Nay.. ada yang ketuk pintu nih. Aku lihat dulu siapa yang bertamu."


"Eh Nin, tunggu. Dari mana kamu tahu kalau itu tempat fav...."


Belum sempat pertanyaan itu Nayla ucapkan sepenuhnya, sambungan telefon itu ditutup begitu saja oleh Nina.


Meninggalkan Nayla yang diam mematung ditempatnya.


"Dari mana juga Nina mendapatkan nomor ponsel ku? Bukan kah, hanya Reyhan yang tahu nomor ini?" gumamnya lirih.


Berjuta tanda tanya memenuhi seluruh otak Nayla.


Kalau tadi, perasaan lembutnya mampu menekan pikiran buruk Nayla, tidak lagi kali ini.


Nayla bukan gadis yang bodoh. Dia peka. Dan Nayla tahu, sesuatu yang entah apa itu sedang terjadi.


"Apa semua ini, ada hubungannya dengan Reyhan yang tiba-tiba pulang ke Indonesia?


Apa alasan kepulangan Reyhan adalah Nina? Apa Reyhan menyita ponselnya juga berkaitan dengan Nina?"


Gelisah.


Seketika Nayla berdiri, berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Perasaan cemas dan takut menyerang Nayla tiba-tiba. "Kalau saja iya..." Satu bulir bening kembali menetes dari mata gadis itu. "Kalau iya, kenapa, harus Nina lagi?"


Ketakutan yang menghujam hatinya, membuat Nayla merasakan sesak nafas. Diikuti dengan pandangannya yang mulai menggelap.


"Lin..." Panggil Nayla setengah berteriak dengan sisa tenaga yang ia punya. "Ambilin minyak kayu putih tolong..."


Perempuan itu kembali duduk. Dengan posisi kaki menggantung, ia rebahkan kepalanya dikasur.


Setelah itu,


ia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.


***


Ya gitu... salah paham terus. 😌


Gengs, mau nanya nih....jadi kalian suka yang happy ending atau sad ending?


Jawab ya, soalnya aku rada bingung


oh iya, sumbangin like dengan cara klik pada tombol jempol dibawah ya 😘 terimakasih

__ADS_1


__ADS_2