
Hari ini, Nayla dan Reyhan sedang berbelanja kebutuhan pokok disalah satu swalayan yang tak jauh dari rumahnya. Sudah hampir satu bulan Nayla tinggal dirumah suaminya. Dan sampai sekarang dia belum meminta Reyhan untuk tinggal kembali dirumah Papa.
Katanya, rumah Reyhan membawa energi positif yang bisa membuat dirinya lebih bersemangat. Dan lebih betah tentunya.
Nayla mendorong troli yang penuh barang belanjaan dengan santai. Sesekali matanya awas menengok kekanan dan kekiri saat melewati deretan rak makanan. Memastikan tidak ada barang kebutuhan yang kelupaan dibeli. Meskipun Nayla sudah membawa catatan, tapi tetep aja kan kadang ada yang nyelempit kelupaan.?
Karena biasanya, tugas belanja seperti ini diserahkan ke Mbak Nana. Tapi hari ini Nayla mengambil alih, sekalian membeli kebutuhannya sendiri.
Disampingnya ada Reyhan yang berjalan dengan menggendong Naura.
Naura kecil yang sejak tadi merengek nggak mau jauh dari Nayla barang satu meter pun. Kecuali kalau dia lagi sekolah, saat itulah Nayla bebas dari rantai yang diikat dikakinya oleh bocah kecilnya.
Entahlah, semakin hari bocah itu semakin manja, apalagi kalau berurusan dengan Nayla. Duduk minta dipangku, makan minta disuapin, tidur siangpun minta ditemanin.
Astaga.. Reyhan merasa dirinya mulai tersingkir.
"Naura, minta jajan apa sayang?" Tanya Nayla dengan sabar. Tangan istrinya itu mengusap pucuk kepala Naura, membuat bocah kecil itu senyum lebar menampilkan gigi-giginya.
Reyhan menggelengkan kepalanya. Tuh, sudah tau kan kenapa Naura maunya sama Nayla terus? Nayla memang kelewatan menunjukkan kasih sayangnya.
"Coklat sama es krim boleh?"
Ya Tuhan, Naura bertanya dengan wajah penuh pengharapan serta memakai senjata andalan dengan membulatkan mata belonya? Bagaimana mungkin dua orang dewasa disampingnya ini bisa menolak?
Jangan kan Nayla, mbak-mbak penjual makanan ringan ditoko sebelah pun kalau sudah lihat bentukan Naura yang seperti ini juga pasti langsung luluh, ya meskipun pada akhirnya menambah catatan bon atas nama mbak Nana sih.
__ADS_1
"Boleh..." Jawab Nayla menyetujui.
"Tapi gak boleh banyak-banyak ya... Nanti sakit gigi nya kalau kebanyakan makan coklat" Sanggah Reyhan menambahkan.
Dan dibalas anggukan cepat dari bocah kecil itu sambil tersenyum kesenangan.
"Terimakasih Om Rey, terimakasih bunda..."
"Kok bunda..?"
Reyhan menatap Nayla dengan sorot meminta penjelasan, lalu bergantian menatap Naura dengan sorot mata yang sama. Nayla hanya mengedikkan bahunya acuh, dan sialnya, gadis kecil dalam gendongannya pun enggan menjawab dan malah asik memeluk boneka kecil ditangannya.
Sejauh apa sebenarnya hubungan dua wanita beda usia ini?
Reyhan tersenyum mendengarnya. Bukan hanya paras Nayla yang cantik, tapi hatinya... dia juga memiliki hati yang baik. Meskipun masih sedikit manja, tapi dia memiliki jiwa sosial yang tinggi.
Nayla itu pelangi. Dan Reyhan bukanlah lelaki yang buta warna sampai tidak bisa melihat keindahannya.
"Hm tentu boleh dong..."
"Secukupnya saja, jangan banyak-banyak..." Tangannya mengambil beberapa kripik kentang, mie kremes, dan beberapa roti. "Takut uangnya habis kalau dihambur-hamburin.. kebutuhan yang lebih penting juga masih banyak."
"Gak papa, orang gak setiap hari juga..."
Jawab Reyhan santai. Sangat santai seperti tanpa beban, tanpa takut kalau kehabisan uang.
__ADS_1
Terkadang Nayla juga heran, bagaimana bisa Reyhan laki-laki sederhana pemilik toko buku ini sanggup menghidupi delapan anak, seorang diri?
Ya meskipun Nayla dengar, toko buku nya sudah membuka cabang dimana-mana, tapi tetep aja loh pengeluaran anak-anak itu banyak. Belum lagi, kartu kredit tanpa batas yang Reyhan serahkan kepada Nayla.
Sebenarnya berapa banyak sih penghasilannya ditoko buku?
"Beli yang agak banyak sekalian Nay, kamu lupa akhir pekan kita mau jalan-jalan?" Katanya mengingatkan.
"Kasian kalau mereka ga ada cemilan didalam mobil. Sekalian biar kita gak usah bolak-balik belanja"
Nayla menatap suaminya ragu.
"Reyhan, kamu gak takut kalau uang kamu habis? Ini udah banyak banget lo.." Tanya Nayla setengah berbisik.
Reyhan tergelak. Nayla lupa bahwa suaminya adalah lelaki misterius dengan segala ketelitian yang begitu detail. Masalah seperti ini sudah pasti Reyhan pikirkan sebelumnya.
"Kalau habis buat kalian mah gak papa... Uang bisa dicari lagi Nay, asalkan kalian bahagia..."
Sampailah mereka didepan kasir. Antrian yang panjang membuatnya harus lebih bersabar.
Nayla mengedarkan pandangannya kebeberapa arah.
Tanpa sengaja, matanya bersitatap dengan mata seorang laki-laki yang juga tengah berbelanja bersama seseorang perempuan yang sangat Nayla kenal.
Satyaaa....
__ADS_1