
Teh susu yang dipesan baru ia minum setengahnya. Nayla kembali mengoreksi catatan Sari yang sejak tadi ia pinjam untuk disalin ke bukunya sendiri.
"Gak enak kan, tugas numpuk akibat absen?"
Perempuan berstatus sahabat yang tengah duduk disampingnya itu mencibir.
Sudah tiga hari berlalu Nayla absen datang ke kampus. Dan tiga hari juga ia dirumah dengan berdiam diri dikamar. Waktu yang cukup untuk pemilik mata bernetra hitam itu untuk menenangkan dirinya dari masalah pekik yang sedang ia hadapi. Sekarang ia jauh lebih tenang, meskipun masalahnya belum menemukan titik terang. Tentu saja, berkat sang suami yang selalu ada disisinya.
Reyhan yang selalu pulang cepat hanya untuk menemaninya dirumah. Reyhan yang membujuknya makan meskipun perempuan itu tak berselera. Reyhan yang selalu meminta maaf sekalipun tidak melakukan kesalahan apapun. Ya, Reyhan berjanji akan mencari tahu siapa pelakunya, itu cukup membuat Nayla percaya dengan mudah untuk menggantungkan harapannya.
"Makanya, masuk kuliah yang rajin.." Lagi, sahabatnya mencibir lagi.
"Minggu depan aku absen lagi lo.." Sahut Nayla memberi tahu sambil terkekeh.
"Apa? Absen lagi?" Yang benar saja.
"Udah izin kok, seminggu aku nggak ngampus."
"Serius? Yaelahh, sendiri lagi dong aku.." Ada nada kecewa saat Sari mengucapkan itu.
Hari ini, Nayla memang terpaksa masuk ke kampus untuk mengejar beberapa materi yang sempat terbengkalai. Meskipun malas, dan sangat malas. Tapi dia harus berangkat.
Apalagi, dua hari lagi Nayla akan kembali absen mata kuliah selama satu minggu. Ia ikut suaminya menjalankan tugas kantor untuk pergi ke luar negeri. Karena itulah hari ini Nayla berada disini, Nayla ingin memanfaatkan waktu nya yang ada untuk mengejar mata kuliahan penting yang beberapa hari lalu ia lewatkan.
Dan waktu tiga hari yang ia gunakan untuk menenangkan diri itu, rupanya bukan hanya membuat Nayla ketinggalan materi penting dikampus. Hal lain menanti Nayla didepan.
"Sejak kemarin Satya nyariin kamu loh Nay.."
Sekilas, kata-kata yang meluncur bebas tanpa hambatan dari mulut sahabatnya itu tidak berpengaruh apa-apa bagi Nayla. Gadis itu hanya melirik kesamping kanan, melihat Sari yang masih sibuk dengan mengunyah makanan ringan membuatnya memilih mengabaikan dan melanjutkan salinannya.
"Heh Nay, kamu dengerin aku nggak sih?"
"Denger." Tapi kan gak penting banget, makanya aku malas menanggapi.
"Satya nyariin kamu lagi." Setelah beberapa minggu terakhir sama sekali tidak mengganggumu.
Nayla menghela. "Ya terus?
Aku harus bagaimana? Nyariin balik?"
Sari menaruh bungkusan snack dari tangannya ke meja sambil mendengus sebal. Sedikit memiringkan tubuh agar matanya menjangkau tubuh Nayla.
"Dia kayak bawa-bawa amplop coklat gitu setiap nanyain kamu ke aku. Aku jadi takut"
"Takut?"
"I-iya.. bagaiamana kalau dia mau menunjukkan berkas perceraiannya dengan Nina demi kembali ke kamu?"
__ADS_1
Eh? Berkas perceraian?
Nayla tertawa keras sampai reflek satu tangan ia gunakan untuk menutupi mulutnya sendiri. "Ngaco kamu tuh..."
Sari diam sebentar. Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan mulutnya yang nyengir. "Tapi kan..."
"Sudahlah, jangan berpikir terlalu jauh. Gak ada angin gak ada hujan mana mungkin ada badai? Lagian nih ya Sar, kamu gak inget gimana kemaren Nina bercerita tentang kehidupannya dengan Satya? Bukankah ia terlihat bahagia kan?"
Obrolan mereka terhenti saat ponsel Sari tiba-tiba berdering. Dengan mata yang berbinar, gadis itu berdiri dari posisinya semula.
"Bentar ya Nay, aku angkat telfon dulu.."
Sari menjauh, entah sejak kapan gadis itu mulai sembunyi-sembunyi seperti ini hanya karena menerima panggilan telefon. Menyisakan Nayla bersama barang-barangnya yang ia tinggalkan sebentar di salah satu meja kantin.
Saat Nayla tengah fokus dengan buku-bukunya, tiba-tiba seorang lelaki meletakkan amplop coklat tepat disamping tangan kirinya dengan keras.
Bugh
"Eh, Sat-ya.." Ia tergagap saat mendongak. Mendapati sesosok lelaki yang pernah mengisi hatinya, sedang berdiri disitu dengan wajah datar yang sulit ditebak.
Panjang umur sekali lelaki ini. Baru saja Nayla membicarakan ia dengan Sari tadi.
"Apa ini?" Nayla mengkerutkan dahi. Takut-takut ia raih amplop coklat itu dan menatapnya lamat-lamat.
Amplop coklat? Berkas perceraian kah?
"Coba kamu buka. Dan jelasin apa maksudnya."
Nayla mendongak lagi. Sambil berdiri, ia amati tubuh laki-laki didepannya itu dengan intens. Lelaki yang masih berani membentaknya. Meski sedikit takut, tapi ia harus berani.
"Ya, gak perlu bentak-bentak juga kan?"
Arghh...
Lelaki itu mengusap wajahnya kasar. Erangan emosi keluar mulus dari mulutnya begitu saja.
Dengan cepat, Nayla buka amplop itu. Mengeluarkan isinya. Seketika, mulut perempuan bersurai hitam itu menganga lebar. Dengan mata bernetra hitamnya yang melotot, menatap tak percaya dengan lembaran-lembaran isi amplop coklat ditangannya.
Satu persatu lembaran itu ia lihat dengan tak percaya. Fotonya dengan Reyhan saat mereka berada di rumah sakit beberapa hari yang lalu. Fotonya saat Reyhan menjemput ia pulang dari kampus. Foto Reyhan saat keluar dari rumahnya dengan mobil milik Nayla. Foto Reyhan.. ah apa ini? Foto Reyhan sedang duduk di cafe bersama..
Nina?
Dari mana lelaki ini mendapatkannya?
"Ka-kamu, membuntutiku?" Sial, aku kecolongan.
Satya mendesis. "Itu tidak penting, sekarang yang terpenting adalah, jelaskan siapa dia"
__ADS_1
"Jawab dulu, dari mana kamu mendapatkan foto ini, Satya?" Foto Reyhan di cafe. Ya, Reyhan bersama Nina.
Ia remas foto itu kuat-kuat seiringan dengan hatinya yang juga terasa diremas kuat. Dan wajahnya seakan tidak terima dengan adanya foto itu. Nayla marah. Ia sangat mempercayai Reyhan. Tapi bagaimana dengan Nina? Apa Nayla yakin masih bisa mempercayai Nina?
Apa yang mereka lakukan di cafe?
Tanpa Nayla sadari, ekspresinya membuat kesabaran lelaki didepannya terkuras habis.
"Cih.. segitunya ya kamu Nay melihat foto lelaki itu dengan Nina.." Satya rebut semua foto dari tangan Nayla dengan kasar dan segera ia masukkan kembali ke amplop coklat saat matanya menangkap sosok Sari yang berjalan mendekat.
"Aku jadi tidak yakin kalau dia hanya sebatas orang kepercayaan papa mu.!"
Nayla tersentak, saat hembusan nafas ia rasakan dipipi kiri. Lelaki itu mendekatkan wajahnya ke telinga Nayla, lalu berbisik.
"Kamu mau tahu kan dari mana aku mendapatkan foto ini?" Satya tertawa hambar. "Tidak semudah itu Nayla sayang. Nanti, hubungi aku kalau kamu sudah siap mengakui siapa lelaki itu." Satya tertawa lagi, sinis.
"Oiya, lebih baik kamu hati-hati deh.. berhati-hatilah dengan musuh yang mengaku sebagai sahabat"
Setelah mengatakan itu, Satya pergi begitu saja. Meninggalkan Nayla yang berdiri mematung ditempatnya. Otaknya berkelana, dengan asumsi-asumsinya sendiri. Hanya ada satu nama disana, Reyhan.
Apa yang Reyhan lakukan disana?
Ada urusan apa Reyhan sampai bertemu berdua dengan Nina?
Dan, kenapa Reyhan sama sekali tidak memberitahunya?
"Nay..."
Kaget. Nayla sampai tersentak saat Sari datang menepuk lengannya. "Astaga Sari..."
"Kenapa kaget? Kamu gak papa kan? I-itu Satya tadi ngapain?"
"Sat-ya?" Ah, saking kagetnya, Nayla sampai lupa. Ia menggeleng. "Nggak ngapa-ngapain kok, cuma nunjuk in amplop coklat yang kamu bilang tadi.."
Ya Tuhan, Ada hubungan apa Reyhan dengan Nina?
"Trus, apa isinya?, ngapain ekpresi kamu kayak gitu? Satya ngasih beban apa lagi ke kamu?" Sari memandang Nayla penuh iba. Melihat ekpresi Nayla yang kebingungan, gadis itu yakin, sesuatu yang Satya tunjukkan pasti memberatkan posisi Nayla.
"Jangan bohong.! Kecuali kalau kamu udah gak nganggep aku sahabat lagi.." Ancamnya.
Eh? Nayla memang ingin menyembunyikan masalahnya sendirian tadi. Tapi kok Sari tau?
"Itu... isinya foto-foto aku sama Reyhan. Kayaknya Satya mulai curiga deh Sar.." Nayla menghela nafas lelah.
"Aku harus bagaimana? Belum lagi...." Foto Reyhan dengan Nina.
Dari mana dulu aku harus menyelesaikan masalah ini satu persatu?
__ADS_1
Reyhan tidak mungkin berselingkuh kan? Apalagi dengan Nina.
Tapi, ada urusan apa diantara mereka?