Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Kasih Sayang Seorang Ibu


__ADS_3

(Ada yang rindu sama Satya?) Serius nanya....


***


Beberapa saat yang lalu,


Reyhan tampak duduk dengan wajah fokus di meja kerjanya. Meja kerja yang berbaur dengan karyawan biasa lainnya.


Semua orang yang ada di ruangan itu begitu serius dengan tanggung jawab pekerjaannya masing-masing.


Namun, apa yang ada didalam pikiran Reyhan tentu tidak sama dengan apa yang dipikirkan orang-orang disekitarnya.


Lelaki dengan senyum menawan itu mengetukkan bolpoin yang dipegang nya, ke meja kerja beberapa kali.


Dia cukup puas dengan cara kerja Bima yang berhasil memasukkan Satya ke dalam penjara, tepat setelah satu hari sejak kejadian itu.


Di tambah dengan laporan kasus kekerasan yang dilakukan Satya kepada Nina, selaku istrinya, tentu saja menjadi kasus yang cukup kuat untuk membuat Satya mendekam didalam sel guna mempertanggungjawabkan perbuatan buruk lelaki itu.


Tapi, bukan itu yang jadi pokok permasalahannya.


Baru saja...


kembali Reyhan mendapatkan kabar dari Bima untuk ke sekian kali bahwa, Mama dari lelaki bernama Satya itu ingin bertemu khusus dengan Reyhan.


Reyhan tidak bodoh. Tentu saja dia tahu tujuan dari pertemuan itu.


Apalagi kalau bukan,


meminta jalan damai agar Satya tidak perlu menjadi tahanan. Agar Reyhan membebaskan putranya.


Padahal,


Reyhan belum puas membuat Satya merasakan hasil dari perbuatannya itu.


Dan disini dia sekarang.


"Maaf sudah membuat tante menunggu."


"Panggil saja saya ibu. Saya lebih suka dipanggil ibu." Ucapnya pelan.


"Baik, bu."


"Nak Reyhan, Ibu minta maaf, dengan kerendahan hati yang paling dalam. Tolong nak Reyhan, maafkan putra ibu.."


Bibirnya bergetar saat kalimat itu dia ucapkan.

__ADS_1


Wanita paruh baya dengan pakaian rapi, dan rambut yang disanggul khas ibu-ibu pada umumnya, duduk dihadapan Reyhan dengan tatapan mata yang iba.


Tatapan mata yang tulus dan penuh permohonan yang pasti akan berhasil membuat siapa saja tersihir. Lalu menurutinya.


Wanita itu, begitu lembut.


Tutur katanya sopan meskipun dia tengah berbicara dengan Reyhan yang usianya lebih muda darinya. Sorot matanya teduh namun menghangatkan. Tingkah laku yang juga penuh santun, serta sifatnya yang rendah hati, jauh dari kata arogan.


Tidak peduli siapa yang lebih tua dan siapa yang lebih muda. Tidak peduli masalah apa yang ada di antara keduanya. Ibu Satya tetap memperlakukan Reyhan dengan hangat.


Lantas dari mana Satya mendapatkan sifat angkuhnya itu.?


Barangkali ada setan yang menjelma menjadi manusia sampai tega membuat sang ibu harus memohon kepada orang lain atas kesalahannya, tentu jelmaan setan itu adalah Satya.


Bahkan,


Bukan dengan tangan kosong,


Ibu itu menemui Reyhan dengan membawa makanan yang katanya dia buat sendiri. Katanya, sebagian untuk Reyhan, dan sebagian lagi untuk istrinya, Nayla.


Benar-benar membuat Reyhan terharu, dan teringat dengan Mama kandungnya yang sudah kembali ke pangkuan Tuhan sejak dia kecil.


"Ibu tahu Satya salah," Ucapnya masih terisak. "Dia begitu keras kepala. Dia memang terlalu berambisi memiliki apa yang dia inginkan. Termasuk di antaranya, Nayla. Istri Reyhan."


baik Reyhan maupun ibu Satya sudah sedikit saling mengenal sejak dimasukkannya Satya ke penjara oleh Reyhan.


"Dulu, Satya pernah mengenalkan Nayla kepada ibu sebagai pacarnya. Tingkahnya persis anak muda jaman sekarang.


Nayla gadis yang cantik dan baik. Gadis yang mampu membuat Satya mengendalikan diri dengan benar.


Satya selalu meminta doa kepada ibu, agar mendoakan hubungan mereka berdua. Ibu tahu, dulu Satya sangat mencintai Nayla. Ibu bisa melihat cinta dan kebahagiaan, dari cara dia memperlakukan gadis itu."


"Semua itu, berlangsung lama. Bahkan ibu pikir hubungan Satya dan Nayla baik-baik saja tanpa masalah dan huru hara.


Sampai tiba-tiba,


Satya kembali menghubungi ibu. Dan mengenalkan perempuan lain, sebagai calon istrinya."


"Ibu ingat betul, bagaimana Satya memohon pengampunan pada ibu atas apa yang sudah dia perbuat. Ibu sangat ingat. Bahkan rasa kecewanya masih terasa sampai sekarang. Terlebih lagi saat ibu tahu, perempuan itu adalah teman sekaligus sahabat Nayla."


"Ibu sudah menduga,


rumah tangga Satya akan seperti ini akhirnya. Tapi, Satya harus tetap bertanggungjawab bukan? sekalipun yang dia cintai adalah Nayla."


Tak mampu melanjutkan kalimatnya, Wanita itu menghapus air mata di pipi nya. Lantas dia mengusap tangan Reyhan pelan.

__ADS_1


"Ibu, sudah tidak perlu dilanjutkan. Reyhan mengerti."


"Atas nama Satya, ibu meminta maaf. Ibu tahu, dalam hal ini Satya sangat bersalah, Satya tidak pantas dimaafkan.


Tapi, disisi lain


dia memiliki tanggung jawab yang besar atas hidup ibu dan adiknya. Ibu percaya nak Reyhan adalah orang yang baik. Ibu mohon, masalah ini bisa diselesaikan dengan kekeluargaan."


Sambil menundukkan kepala, wanita paruh baya itu meneruskan kalimatnya.


"Ibu tahu dia sangat bersalah. Tapi, itu juga salah ibu, yang gagal mendidiknya. Jadi ibu mohon, maafkan ibu. Maafkan kegagalan ibu."


"Ibu..." Reyhan manyahut.


Jujur, Reyhan merasa iba. Dia jadi ikut merasa bersalah karena harus membuat wanita paruh baya yang sudah seperti ibu nya sendiri didepannya ini memohon maaf kepadanya.


Meski bukan dirinya yang bersalah.


Dan begitulah kasih sayang seorang ibu.


Kasih sayang kepada anak-anaknya tanpa mengharapkan balasan apapun. Cintanya besar, tak tertandingi oleh apapun.


Cinta seorang ibu kepada anaknya adalah sebuah kedamaian. Seorang anak tidak perlu berjuang untuk mendapatkannya, dan tidak perlu memantaskan diri untuk memperolehnya.


Cinta yang mampu mendengar apa yang belum sempat diucapkan. Juga, cinta yang mampu melihat apa yang belum sempat di lakukan.


Bisa jadi saking sibuknya seorang ibu mendoakan anak-anaknya, dia sampai lupa mendoakan dirinya sendiri.


"Ibu mohon, dari hati yang paling dalam. Tolong, Maafkan putra ibu. Ibu sendiri yang akan memastikan bahwa Satya tidak akan mengganggu Nayla lagi."


Hening.


Hanya suara isakan ibu Satya yang masih tersisa setelah pembicaraan mereka yang sebagian besar berisi permintaan maaf seorang ibu atas kesalahan anaknya.


Kiranya memang jalan kekeluargaan adalah hal yang terbaik.


Bukan Reyhan lemah dan mudah goyah,


Tapi permohonan seorang ibu untuk anaknya yang begitu tulus membuka mata hati Reyhan untuk memberi pintu maaf sebanyak-banyaknya.


Reyhan hampir saja lupa,


dia hanya manusia. Satya juga manusia. Mereka sama-sama manusia dimana pasti pernah melakukan kesalahan.


"Apa ibu ingin bertemu Nayla?"

__ADS_1


__ADS_2