
Chek Lap Kok, Hong Kong
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima jam, kini Reyhan dan Nayla sudah sampai di negara Hong Kong.
Negara kecil yang masih termasuk dalam bagian dari Republik China.
Kesan pertama yang bisa Nayla rasakan saat pertama kali mendaratkan kaki nya adalah kemajuan teknologi yang nampak tumbuh dengan pesat. Apalagi teknologi transportasinya.
"Ini indah banget Rey.." Nayla mendongakkan wajahnya. Menatap langit-langit bandara dengan ornamen yang tampak indah, menghias seluruh bangunan di bandara itu.
"Ini belum seberapa sayang, kapan-kapan aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang lebih indah lagi" Reyhan menarik koper mereka menuju stand taxi. Diikuti Nayla yang berjalan disampingnya. "Ayo, segera ketempat istirahat. Hari sudah malam."
Istrinya mengangguk. Tanpa membantah, ia segera ikut masuk kedalam taxi. Duduk dikursi belakang, tepat di samping suaminya.
"Lei yiu hoi pinto?" ( Mau pergi kemana?) Tanya supir taxi itu.
"Muisi a asuk.. Ngo tei yiu hoi Royal Garden Hotel, Tsim Sha Tsui.." (Maaf paman, kita mau ke Royal Garden Hotel, TST.) Jawab Reyhan dengan fasih.
"Waaa, lei sek kong tung wa woo.. Hou lek a." (Waa, kamu bisa berbahasa kantonis lo, hebat-hebat..) Puji supir itu sambil menjalankan mobilnya dan terkekeh pelan.
Sebenarnya, selain bahasa kantonis yang umum digunakan di negara ini, bahasa inggris juga tak kalah populer. Sebagian besar anak-anak, pasti menguasai bahasa inggris dengan baik. Pun dengan orang dewasa.
Meski tidak semua orang di negara Hongkong ini bisa berbahasa inggris, tapi selama kita bisa menguasai bahasa inggris, kita tidak akan tersesat disini.
Bukan tanpa sebab, banyaknya pelancong yang datang dari berbagai negara membuat penduduk asli negara Hongkong harus beradaptasi dengan mempelajari bahasa lain. Apalagi, bahasa inggris adalah bahasa internasional yang umum dipakai dimana saja.
"Aku tidak sabar ingin menjelajahi negara ini Reyhan." Seru Nayla. Perempuan itu tak henti-hentinya melihat keluar jendela.
Suasana malam yang gelap, terlihat lebih terang dengan lampu-lampu yang menghiasi setiap ruangan apartemen. "Iya, aku akan menemanimu nanti setelah pekerjaan ku selesai."
Setelah turun dari taksi dan membayarnya, mereka langsung masuk hotel, menuju resepsionis dengan menunjukkan bukti booking hotel yang sudah disiapkan.
Hingga, sampailah mereka disebuah kamar yang sangat mewah, berdinding kaca dengan pemandangan laut hongkong yang indah.
Nayla melirik suaminya, yang sudah merebahkan diri diatas ranjang. Padahal lelaki itu belum juga melepaskan sepatunya.
"Kamu capek banget ya..?" Berjalan mendekat. Dan tangannya terulur hendak melepaskan sepatu Reyhan. "Sini, aku bantu lepasin dulu sepatunya.."
Reyhan tersenyum penuh arti. "Terimakasih... kamu lapar nggak Nay?"
"Sedikit.." Nayla juga melepaskan sekalian kaos kakinya.
"Aku sudah menebaknya. Tenang saja, sudah kupesankan makanan sekalian tadi. Sekarang mandilah dulu Nay.. Agar nanti setelah mandi, kamu langsung bisa makan." Mendudukkan dirinya disamping sang istri, Reyhan tersenyum manis.
"Iya,.." Berdiri dan hendak melangkahkan kakinya.
"Nayla..."
Ya?
"Jangan lupa menyalakan air panas. Disini sudah memasuki musim dingin.. Mungkin saja air didalam kamar mandi itu sudah sedingin es.."
Nayla tersenyum manis. "Iya"
"Jangan lama-lama ya" Serunya dengan sedikit berteriak, karena tubuh Nayla sudah hilang dibalik pintu.
Reyhan beranjak, mengambil laptop didalam tas ranselnya. Lelaki itu ingin melihat, jadwal pertemuannya besok. Agar malam ini, ia bisa segera mempersiapkannya.
__ADS_1
***
Tok tok tok
Hari sudah sangat malam.
Seorang perempuan dengan perut buncitnya tertidur disofa ruang tamu.
Tadi, ia sengaja menonton televisi karena ingin menunggu suaminya pulang.
Seharian lelaki yang ia tunggu hilang, tanpa memberi kabar. Lelaki itu juga tidak mau mengangkat panggilan.
Padahal, tadi pagi
ia hanya bilang ingin membeli sarapan.
Nyatanya, hingga hari sudah hampir pagi lagi, suaminya tak kunjung pulang. Tak ada pesan, pun tak berpamitan.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu untuk kedua kali membuyarkan Nina dari lamunannya. Perempuan hamil itu mengerjab, ia fikir suara ketukan pintu yang membangunkannya tadi hanya sebuah mimpi. Ternyata bukan, ketukan itu nyata.
"Iya.. sebentar" Dengan gerakan pelan, ia berdiri. Tangan kanan nya mencari pegangan, sedang tangan kirinya mengusap perutnya yang sedikit kram.
"Andi..." Nina terkejut melihat siapa yang tengah berdiri didepan pintu, sesaat setelah membukanya. Dan, ia lebih terkejut lagi, saat mengetahui siapa lelaki yang sedang Andi rangkul.
Oh, astagaa
"Satya.." Mulutnya menganga. "Apa yang terjadi?"
Reflek, tubuhnya bergeser minggir. Memberi akses pada Andi untuk membawa suami nya masuk.
"Ntar gue ceritain, sekarang buka in dulu pintu kamar. Gue mau taruh nih orang ke kamar."
Oh, Nina gugup. Ia berjalan dengan tergesa-gesa untuk segera membukakan pintu.
"Hati-hati Nin.." Ujar Andi saat melihat Nina berjalan cepat.
Setelah pintu kamar terbuka, Andi segera merebahkan tubuh Satya di atas ranjang. Lelaki itu menghela nafas panjang. Sesekali mengumpat, dan memberi kutukan pada Satya yang selalu membuatnya kerepotan.
Andi menengok ke belakang, dipandanginya tubuh Nina menyender di ambang pintu dengan raut wajah yang khawatir.
Dan akhirnya, lelaki itu memilih berjalan keluar. "Kamu bantu buka kancing bajunya ya, aku nunggu disofa aja."
Nina mengangguk setuju.
Dilepasnya satu persatu kancing baju Satya, agar tubuh nya yang panas terkena udara.
"Sebenarnya kenapa? Apa ada hubungannya, sama, Nayla?" Tebak perempuan hamil itu sesaat setelah menghampiri Andi di sofa.
Sebenarnya, sepulangnya dari caffe Bintanni, Nina sudah mempersiapkan diri dengan amukan Satya, yang mungkin saja terjadi. Apalagi, suaminya itu sudah tau tentang pernikahan Nayla.
Nina yakin, cepat atau lambat, Satya pasti akan menanyakan langsung kepadanya.
"Kamu, apa kabar Nin?" Mengalihkan pembicaraan, lelaki itu mencoba bertanya topik lain.
Nina tersenyum canggung didalam bingungnya. "Aku? Aku baik kok.."
Andi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Berdekatan dengan Nina seperti ini, kenapa ia jadi gelisah?
__ADS_1
"Ada air putih?" Lelaki itu berdiri, berjalan ke dapur dan mencari sendiri barang yang ia cari.
Ia sudah terbiasa bertindak sesuka hati di apartemen itu, apalagi,
Andi tidak ingin merepotkan Nina yang tengah menggendong perut buncitnya.
"Kehamilanmu sudah besar ya?" Meneguk segelas air putih, lalu kembali ke tempat semula. "Apa, Satya memperlakukan mu dengan baik?"
Ya?
Apa Andi mengkhawatirkannya?
Nina memiringkan tubuhnya sedikit, agar ia mampu menatap mata Andi yang tengah duduk disebelahnya.
"Ndi.."
"Hm.."
"Sebenarnya, Satya kenapa?" Tanyanya serius. "Jangan mengalihkan topik lagi, aku perlu tau apa yang sudah terjadi, untuk bersiap diri menghadapinya nanti."
Andi memfokuskan pandangannya. Sekarang mereka saling bertatapan.
Kalau sudah seperti ini, Andi tidak bisa lagi mengalihkan pembicaraan.
"Nin, lo yang kuat ya?"
Dahi Nina berkerut mendengar perkataan Andi. "Maksud mu?"
"Seperti yang kamu tebak tadi.. semuannya ini memang ada hubungannya dengan Nayla."
"Sudah ku duga"
"Nin.. apa benar, Nayla sudah menikah? dan, Apa kamu mengetahui ini sebelumnya?"
Eh?
"Jujur aja sama gue.. gue bukan Satya"
Nina membelalakkan matanya, karena pernyataan Andi, tepat sasaran. Detik berikutnya, perempuan itu mengangguk. "Iya Ndi, aku emang udah tau. Bahkan, aku menghadiri acara pernikahannya." Suaranya bergetar.
Nina menahan kebak didadanya. Dari pertanyaan Andi, sudah bisa ia tebak,
sehancur apa Satya saat ini, hanya karena mengetahui Nayla sudah dimiliki lelaki lain. Lalu,?
"Aduh" Andi gusar. Ia menyusupkan jari ke rambutnya dari depan ke belakang. Bersamaan dengan sebutir air bening menetes dari mata Nina. "Kamu tau Satya kan Nin? Kenapa kamu harus membahayakan dirimu sendiri sih?"
Ucapan Andi sukses membuat Nina menangis. "Karena, ada nyawa lain yang aku perjuangkan hak-hak nya, Ndi... Ada bayi di dalam perutku, yang harus hidup dengan didampingi ayahnya."
Betapa hati Andi ikut merasakan sakit yang Nina rasakan. Tanpa sadar, ia menarik kepala Nina, dan mendekatkan didadanya.
"Aku gak mau anak ku tumbuh tanpa ayah, Ndi.. aku mau berjuang demi dia. Sekalipun Satya tidak bisa mencintaiku, tidak apa. Asalkan anak ku nanti bisa tersenyum ceria dan hidup dengan baik bersama ayahnya juga.."
Tangisannya semakin keras, membuat pelukan Andi semakin erat. Entah, Nina sendiri merasa nyaman didalam pelukan itu, meskipun ia tahu ini salah. Tidak seharusnya Nina menerima dengan lapang perlakuan romantis dari lelaki lain. Tapi,
jujur saja, pelukan ini terasa sangat nyaman, dan menenangkan.
"Lagian, apa aku memiliki hak untuk menyampaikan kebenaran ini kepada Satya? sedangkan, Nayla sendiri yang melarangku. Lalu, aku harus bagaimana, Ndi?"
"Maaf.." Sesak didadanya, membuat mata Andi berkaca-kaca. "Maafin gue Nin..."
__ADS_1
Maaf, karena gue terlambat.