Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Belum Saling Memahami


__ADS_3

Reyhan mengguyur tubuhnya dibawah pancuran air hangat. Kamar mandi yang sangat mewah ini sudah menunjukkan siapa pemiliknya.


Tapi Reyhan sama sekali tidak heran, dia pernah berada ditempat seperti ini dulu.


Saat dia masih kecil. Dimana lagi kalau bukan dirumah Papa nya?


Ya, Tuan Adma.


Ingat ya, Reyhan juga berasal dari keluarga yang cukup terpandang. Hanya saja, dia sendiri yang memilih kehidupan biasa-biasa saja seperti ini. Hidup layaknya orang yang tidak punya. Alasannya? Reyhan bilang ingin menantang dunia. Alasan yang konyol sekali bukan?


Reyhan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Tubuhnya masih setengah basah. Membuat Nayla yang sedang duduk selonjoran diranjang merasa geli sekaligus terpesona.


Seketika pipi Nayla merah merona karena tanpa sengaja matanya yang nakal itu menatap penuh kagum pemandangan yang melintas tak jauh dari tempat duduknya.


Reyhan yang sempurna....


Pikiran Nayla berlarian nakal mengingat adegan romantis yang sempat terjadi antara dirinya dan Reyhan. Tapi kenapa Reyhan belum menyentuhnya? Apa dia benar-benar menungguku mencintainya terlebih dulu ya?


Atau aku bilang saja kalau aku mencintainya, bagaimana?


Astaga. Mikir apa sih Nay? Dasar bodoh.!


Sudah baik laki-laki itu tidak memaksakan kehendaknya. Tidak menuntut hak nya sebagai suami. Kenapa kamu yang mendadak gila Nayla?


Hah.. Nayla berperang dengan batinnya sendiri.


"Nay, dimana kamu taruh baju-bajuku?"


Suara Reyhan menyadarkan Nayla dari lamunannya. Seketika dia berdiri hendak membantu Reyhan mengambail pakaiannya.


Sialaann..


Jantung Nayla berdetak lebih cepat saat dia berada disatu ruangan yang sama dalam keadaan Reyhan yang setengah telanjang.


"Hey, ngapain kamu berdiri disitu?"


Bukannya bergerak memberi tahu Reyhan dimana tempat pakaiannya, Nayla malah berdiri diam mematung diambang batas pintu. Mengamati Reyhan dengan tatapan kosong.


"Eh apa?"


Berjalan mendekat kesalah satu rak almari dengan kikuk.


Sial. Nayla pliss kuasai dirimu sendiri. Tubuh Reyhan memang sempurna. Tapi jangan bertindak bodoh dong.


"Ini Rey bajumu. Taraaa....


Tadi aku membeli beberapa kaos dan celana untukmu. Bajumu terlalu sedikit."


Nayla berkata seceria mungkin setelah berhasil menguasai dirinya dari rasa gugup. Menunjukkan pada Reyhan bahwa dia bisa menjadi istri yang baik dengan menyiapkan pakaian Reyhan.


Tapi, Reyhan malah diam mengkerutkan dahinya.


"Uang dari mana kamu membeli baju-baju ini? bukannya kamu belum kerja?"


Tanya Reyhan.

__ADS_1


"Rey, Papa memberiku kartu kredit tanpa batas. Dan aku bebas menggunakan untuk apapun yang ku mau. Termasuk membelikan suami ku ini baju."


Benarkan? Nayla tidak salah dong kalau dia berniat membelikan Reyhan yang sudah sah menjadi suaminya itu baju?


Lagian apa salahnya? Nayla sudah biasa kok menggunakan kartu kredit itu untuk mentraktir teman-temannya. Jadi gak papa kan kalau dia ingin memberi untuk suami nya juga.


" Tapi Nay...Aduhh....."


Reyhan mengusap kepalanya kasar. Dia ingin marah, bagaimana mungkin seorang menantu laki-laki memakai uang milik mertuanya untuk membeli baju? Itu terlalu menghina harga dirinya.


Tapi Reyhan tidak ingin marah pada Nayla. Alhasil dia mengambil baju miliknya sendiri. Kemudian berjalan meninggalkan Nayla yang berdiri mematung kebingungan.


Salahku dimana? Kenapa dia begitu sih.?


"Rey, kamu marah?"


Nayla bertanya pada Reyhan yang terlihat duduk disofa. Reyhan terlihat mengacuhkan Nayla.


"Lain kali jangan begitu..." Ucap Reyhan datar.


"Kenapa? Emang salahnya dimana sih? aku cuma berusaha menjadi istri yang baik dengan menyiapkan segala kebutuhanmu. Kenapa kamu jadi kesal begitu?"


Jawab Nayla dengan keras.


"Bisa gak sih kamu nurut aja Nay. ? Gak usah membantah dan banyak bertanya seperti itu?"


Lagi-lagi Reyhan berkata dengan nada dingin. Selanjutnya dia keluar. Meninggalkan Nayla sendiri didalam kamar.


***


Beberapa jam berlalu. Reyhan memutuskan kembali ke kamar setelah emosinya mereda.


Reyhan berharap Nayla sudah menyadari kesalahannya.


Reyhan membuka pintu memasuki kamar. Mengedarkan pandangan keseluruh penjuru ruangan.


Nayla tidak ada disofa. Tetapi dia menemukan seseorang tengah terbaring diatas ranjang membelakangi dirinya dengan selimut yang menutupi tubuhnya sampai ke leher.


Siapa lagi kalau bukan Nayla?


Reyhan duduk diranjang samping Nayla. Dia menepuk punggung Nayla yang tidur membelakanginya.


"Kamu nangis?"


Tanya Reyhan saat dia mendapati pundak Nayla yang bergetar sesenggukan.


"Hey, coba hadap kesini.! Katakan kenapa?"


Reyhan berusaha mengusap puncak kepala Nayla. Memberikan rasa kasih sayang padanya. Reyhan menarik tubuh Nayla lalu membenamkan kepalanya didada Reyhan.


Benar saja, mata Nayla sudah memerah. Mungkin Nayla menahan tangisannya tadi.


"Maaf ya, aku gak marah kok... sudah jangan nangis.."


Bukannya berhenti, air mata Nayla malah semakin deras mengalir. Membuat Reyhan mengkerutkan dahi.

__ADS_1


Memang ada yang salah ya dari kata-katanya? Kenapa tambah nangis sih..?


Kali ini Reyhan memilih diam saja. Sambil mengusap-usap lengan atas Nayla yang kepalanya sedang terbenam didada Reyhan. Sesekali Reyhan mencium wangi aroma rambut yang dekat dengan hidungnya.


Bukannya Reyhan malas merayu. Dia hanya takut salah berucap dan membuat Nayla semakin kencang menangis. Saat ini, Reyhan hanya ingin memberi tahu Nayla bahwa semua baik-baik saja, melalui sikapnya.


"Kamu marah kan? Kenapa kamu tidak menghargaiku yang sedang berusaha menjadi istri yang baik?"


Benar kan? Nayla sudah tenang sekarang meskipun Reyhan tidak menjelaskan apapun. Tangisnya sudah mereda. Diiringi suara parau yang terdengar lirih keluar dari mulutnya.


Jangan heran, wanita memang begitu.


Terkadang saat dia dalam kondisi yang buruk, dia hanya butuh sandaran untuk meluapkan tangisnya. Bukan sebuah ocehan yang memaksanya berhenti menangis.


Hidup memang unik. Air mata yang sebagian besar diibaratkan dengan kesedihan, justru mampu mengurangi rasa sedih itu sendiri.


Bersamaan dengan keluarnya air mata itu dari sarangnya.


"Aku gak marah kok Nay" Ucap Reyhan sembari mengeratkan pelukannya pada Nayla.


"Ini masih masalah baju-baju itu kan?


Nay, aku malu sama Papa kamu. Bagaimana kalau dia tahu, uangnya kamu pakai buat membelikan aku baju? Mau ditaruh dimana muka suami mu ini?"


Ucap Reyhan dengan tenang.


"Memang kenapa?"


"Karena aku sudah menjadi suami mu. Aku punya tanggung jawab besar untuk memberimu nafkah. Baik nafkah batin, maupun nafkah lahir..."


Reyhan diam sebentar. Menarik nafas pelan sambil mengatur rangkaian kata yang seharusnya dia sampaikan. Agar Nayla mudah menerimanya.


Apalagi, dari hembusan nafas yang Reyhan rasakan didadanya. Sepertinya Nayla sudah mulai kembali tenang.


"Aku juga minta maaf ya, aku juga salah sih.. belum kasih kamu uang ya dari kemaren?


Maaf, kemaren kita saking sibuknya..Perkenalan kita juga sangat singkat. Besok kamu pakai kartu kredit aku ya.


Dan berhenti pakai uang Papa mulai sekarang..."


Ucap Reyhan sambil membelai wajah cantik Nayla yang tengah menatapnya dalam.


Menangkap sorot mata yang ragu terpancar samar dari tatapan lekat gadis cantik yang sudah menjadi istrinya itu.


Ah, Mungkin Nayla takut membebani Reyhan. Sementara Nayla sendiri tahu, Reyhan memiliki tanggung jawab besar yang bukan hanya pada dirinya.


Tapi pada anak-anaknya juga.


Belum lagi Reyhan masih berstatus mahasiswa. Dia masih menyelesaikan skripsinya.


Memang sih dia punya toko buku. Tapi apa pendapatannya cukup untuk memenuhi semua kebutuhan Reyhan dan mereka?


"Kenapa? Percaya deh sama aku...


Aku masih mampu kok memenuhi kebutuhan kamu yang mirip tuan putri itu..."

__ADS_1


Reyhan meledek Nayla sambil menaikkan kedua alisnya. Dan dibalas pukulan keras dilengannya.


Mereka bercengkrama sampai akhirnya Nayla tertidur pulas dipelukan suaminya


__ADS_2