Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Berbincang


__ADS_3

Setelah acara makan malam selesai, mereka kini tengah berkumpul diruang keluarga rumahnya Pak Adma. Acara kartun masa kecil si ungu, si hijau, si kuning dan si merah menjadi tontonan paling disukai si kecil Naura. Meskipun begitu, Afif, Janu dan Candra juga ikut menikmatinya.


Apalagi saat sesi si kartun itu menari-nari diatas bukit lalu perutnya berubah layaknya layar televisi yang menampilkan gambar anak-anak bercocok tanam, membuat anak kecil itu semakin berantusias. Jangan ditanya Nayla berada dimana, karena sekarang dia tengah duduk persis disamping Naura. Paha perempuan itu tengah menjadi bantal paling nyaman untuk si kecil yang sejak kemaren enggan jauh barang semeter pun dari Nayla.


"Oh iya pa.. Mas Danu kok belum pulang ya?" Tanya Reyhan yang sayup-sayup masih tertangkap jelas ditelinga Nayla.


"Mas mu itu ya begitu Rey.. Dia terlalu berambisi sama pekerjaannya. Jangankan pulang karena keponakannya ada disini..


Menghadiri pernikahanmu kemaren saja dia nggak ada waktu.."


"Ah iya... Dia memang hebat sejak dulu sih kalau soal perusahaan.."


"Iya, tapi seharusnya gak begitu... Kamu saja sudah menikah, la mas mu? Ngenalin calonnya ke Papa saja belum..." Jawab Pak Adma dengan nada kesal.


"Yasudah lah pa.. mungkin belum ada yang pas kali..."


"Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan toko buku kamu?" Tanya Adma mencoba mencari pembahasan baru.


"Lancar kok pa.. malahan meningkat..."


Laki-laki paruh baya itu terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Reyhan. Sejurus kemudian, Jeni datang membawa nampan setelah berkutat lama didapur bersama Angga dan Roni.


"Dimakan dulu Om... Kakek juga.." Katanya sambil menaruh sepiring martabar telur didepan Reyhan dan Papanya.


"Ah pinternya cucu gadis ku..." Puji Adma bangga. "Sering-seringlah kesini Rey, biar papamu ini nggak kesepian.."


"Iya pa.. kalau ada waktu longgar pasti main kesini.. lagian mereka kan juga sekolah"


***


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Anak-anak sudah pada tidur. Kecuali Angga dan Roni yang mungkin tengah berbincang sambil menikmati udara malam.


Pun dengan Jeni yang duduk tak jauh dari tempat Angga dan Roni.


Disinilah Nayla sekarang, menemani Jeni sambil berusaha mengorek informasi.


"Rista mana Jen?" Tanya Nayla basa-basi.


"Sudah tidur duluan kak..." Jawab gadis itu sambil memainkan ponselnya. "Kak Nayla ngapain kesini? Kak Reyhan mana?"

__ADS_1


Nayla tersenyum sambil mendaratkan bokongnya disamping Jeni.


"Reyhan masih diruangan Papanya..." Kata Nayla. "Aku mau nemenin kamu disini... sekalian, kali aja bisa jadi temen curhat kamu..."


Jeni mengkerutkan dahinya sampai membentuk lipatan. Matanya menatap Nayla penuh curiga.


"Disuruh kak Rey buat jadi mata-mata ya?"


"Eng-enggakk kok.." Yakali Reyhan menyuruh Nayla menjadi mata-mata. Justru sebalinya, Nayla yang akan menjadikan Jeni sebagai mata-mata perihal kisah masa lalu Reyhan, hehe.


"Jeni punya pacar?" Tanya Nayla spontan.


"Tuh kan..." Ucap Jeni dengan mendelikkan matanya. "Ih kak Nay mah gitu.."


"Kenapa?"


"Disuruh kak Reyhan kan?"


"Enggah, suwerr!" Nayla menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Terus kenapa nih tiba-tiba gitu?"


Nayla menarik nafasnya dalam. Sepertinya susah memang mendekati Jeni kalau dirinya terlalu basa-basi seperti ini. "Sebenernya, aku mau minta bantuan sih Jen.. sama kamu..."


"I-itu... masalah Reyhan, Emm maksud ku, aku mau tau kisah Reyhan, masa la-lalu..."


What? Jeni terkekeh tak percaya.


Oh Astaga, kakak iparnya kenapa lucu begini sih? Tinggal bilang to the poin dari tadi kan bisa tanpa harus basa-basi. Sudah membuat Jeni berprasangka buruk saja.


"Ka-kamu kan janji mau cerita sama aku Jen..." Rengek Nayla lagi. Tanpa bisa dicegah, jiwa manja Nayla muncul dengan sendirinya.


Dan itu membuat Jeni semakin gemas saja rasanya.


"Iya-iya... kak Nayla mau tanya apa?"


Tatapan berbinar jelas Jeni lihat terpancar dari mata wanita cantik didepannya. Apa kak Nayla selalu bersikap seperti ini didepan Kak Reyhan? Jika iya, pantas saja Kak Reyhan begitu menyayanginya.


"Emb.. Sebenernya, Reyhan punya berapa banyak toko buku? dan, seramai apa sih Jen toko buku milikknya?"

__ADS_1


Tanya Nayla takut-takut.


Jeni terlihat mengingat-ingat. "Seingat ku sih, sudah ada tiga cabang kak, empat sekalian yang didekat rumah itu.." Lalu dia melanjutkan kata-katanya. "Kalo soal keramaiannya sih, Jeni nggak tahu pasti ya.. Jeni juga baru sekali diajak Kak Rey ke toko buku cabang dan saat Jeni disana sih memang lumayan ramai... Memangnya kenapa kak?"


"Nggak papa sih.. pengen nanya saja." Jawab Nayla. "Kalau usaha lain, Jeni tahu?"


"Usaha lain?" Tanya Jeni sambil berfikir. "Sepertinya tidak ada deh.."


"Lalu, pakaian kantoran yang didalam mobil itu?"


"Pakaian kantoran?"


"I-iya Jen, malahan pernah lo aku ketemu Reyhan pakai jas kerja. Sudah mirip pemilik perusahaan saja dia... Aku pikir dia kerja di perusahaan juga deh kayaknya"


"Nah kalau itu bisa jadi, kan Kak Reyhan baru saja wisuda? Kali aja dia juga bekerja diperusahaan kak? Tapi kalau kak Reyhan punya perusahaan sendiri, kayaknya nggak deh..."


"Yakin banget kamu? Dia kan laki-laki misterius. Aku yang istrinya saja tidak boleh tau soal pekerjaan dia kok... ya kecuali pemilik toko buku..."


"Ta-tapi.. memangnya kapan kak Reyhan mendirikan perusahaan sendiri? Dari dulu kan dia sibuk ngurusin kita..?"


Belum sempat Nayla menyanggah perkataan Jeni, suara langkah kaki Nayla dengar berjalan mendekat. Nayla membalikkan badannya, dan benar saja, ada Reyhan yang berjalan mendekat dengan senyum manisnya.


"Reyhan, sudah selesai?" Tanya Nayla mengusir gugupnya. Reyhan tidak mungkin mendengar pembicaraannya dengan Jeni kan?


"Sudah, kamu ngapain disini? Aku tadi nyariin kamu dikamar?" Tanya lelaki itu sambil mengusap rambut Nayla.


"Jeni juga, kok belum tidur Jen? sudah malam lo.. ayoo tidur"


"Ah bentar lagi kak, nanti jam sebelas Jeni masuk kamar kok... Lagian itu, ada Angga sama Roni juga.." Ucap Jeni sambil menunjuk tempat yang agak jauh dari tempatnya duduk. Tempat dimana ada Angga dan Roni sedang berbincang.


"Oh ya sudah, Kak Rey sama Kak Nayla istirahat duluan ya, kamu jangan malem malem tidurnya, gak baikk.." Katanya.


"Iya kak Rey.. Jeni paham heheh"


"Yuukk.. Aku duluan ya Jen..." Pamit Nayla sambil mengedipkan matanya. "Terimakasih.."


Detik berikutnya Nayla berlalu, menyusul langkah Reyhan yang sudah berjalan mendahuluinya. Meninggalkan Jeni dengan pikirannya yang berjelajah.


Apa benar kak Reyhan bekerja diperusahaan? Tapi kok aku gak tau ya?

__ADS_1


Ah sudahlah, untuk apa juga kepo sama kegiatan sehari-hari Kak Reyhan? Yang penting bagi Jeni adalah, lelaki penyelamatnya itu masih sehat, masih tersenyum seperti biasanya. Dan hidupnya, masih bahagia...


Tidak ada yang lebih penting dari itu. Karena Reyhan hidup bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk anak-anak yang lainnya juga.


__ADS_2