Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Pertemuan Pribadi


__ADS_3

Seringkali yang membuat pena terpaksa berhenti dalam menuangkan kata adalah keinginan untuk melahirkan sebuah tulisan yang banyak disanjung orang.


-Sepositif-


***


Seempuk apapun,


Dan semahal berapapun harga sebuah bantal, tidak akan mampu mengalahkan tenang dan nyamannya bahu seorang suami untuk bersandar. Mungkin itulah yang dirasakan Nayla. Saat nyatanya, sekarang perempuan bersurai hitam itu malah tertidur didada suaminya setelah sejak tadi mengungkapkan ketakutan-ketakutan dihatinya.


Waktu menunjukkan pukul setengah tiga. Sedangkan satu setengah jam lagi Reyhan sudah ada janji pertemuan dengan seseorang.


Dengan gerakan pelan dan sangat perlahan, lelaki itu memindahkan kepala Nayla dari bahunya ke sebuah bantal agar tidurnya lebih pulas.


Diselimutinya tubuh sang istri sampai batas dada. Tak lupa, ia juga mengatur suhu dingin dari pendingin ruangan, sebelum ia beranjak kekamar mandi untuk sekedar mencuci muka.


Sejurus kemudian ia mengganti pakaiannya dengan baju formal ala pekerja kantoran mengingat seseorang yang akan ditemuinya adalah orang penting dari salah satu perusahaan yang juga bekerja sama dengan kantor tempatnya bekerja.


Setelah dirasa penampilannya cukup rapi, lelaki itu menghampiri sang istri yang terlelap, mencium kening Nayla, dan mengusap-usap kepalanya.


"Semoga tidurmu nyenyak... maaf aku ada urusan sebentar... aku berharap setelah kau bangun nanti suasana hatimu sudah lebih baik.."


***


Ruang Private nomor 023 Suite Radu Resort


Begitulah pesan yang ia baca dari Bima. Lelaki muda yang selama ini menjadi tangan kanannya.


Reyhan melangkahkan kaki menuju lantai dua dimana ruangan itu berada. Dipandu oleh seorang pramusaji restoran yang berjalan didepannya.


Waktu menunjukkan pukul empat kurang lima menit, setidaknya ia merasa lega karena pertemuan penting yang akan membahas masalah pribadi ini tidak terlambat ia penuhi.


"Selamat Sore Pak Bagas.." Sapanya saat setelah lima menit menunggu, dan tepat dipukul empat sore seseorang yang ditunggunya datang.


"Mari silahkan duduk..."


Pak Bagas tersenyum membalas. Meskipun yang ia tahu Reyhan bukan pemegang jabatan penting di kantor GMT, setidaknya kinerja Reyhan yang bagus sudah diakui di perusahaan-perusahaan lain.


"Selamat sore Pak Reyhan.. terimakasih.."


Suasana tenang tapi serius menyelimuti ruangan private itu saat dua orang lelaki sedang membahas urusan mereka.

__ADS_1


"Ehm, sebelumnya saya sampaikan terimakasih yang cukup mendalam karena pak Bagas sudah menyempatkan waktunya untuk memenuhi pertemuan ini.. Suatu kehormatan bagi saya yang memiliki kesempatan untuk menjelaskan langsung dengan lebih detail apa maksud dari pertemuan ini, tentu saja sesuai dengan apa yang sudah pak Bima sampaikan kepada anda."


"Ya, dan tentu saja sebuah keberuntungan untuk saya karena bisa langsung melihat kinerja seorang Reyhan, yang sudah diakui oleh perusahaan-perusahaan lain..."


Reyhan terkekeh. "Terimakasih terimakasih..."


"Jadi, apa yang harus saya lakukan terhadap orang itu?" Seseorang yang data dirinya sudah Bima kirimkan ke email pribadiku.


"Tidak banyak, hanya perlu mengawasi dan membatasi setiap kegiatan sosial medianya. Lebih luasnya, melaporkan apa saja yang akan ia publikasikan kepada publik.. entah melalui media manapun..


Ya, mengingat kita semua tahu bagaimana perusahaan anda memiliki andil yang cukup besar di bidang ini"


Obrolan pentingnya terhenti sebentar saat pramusaji datang membawa hidangan yang sudah Reyhan pesankan. "Ah, akan lebih nyaman lagi sambil menikmati apa yang ada didepan kita.. bukankah begitu?"


Pak Bagas mengangguk setuju sambil mulai menikmati makanannya. Baginya membatasi apa saja yang ber-sliweran di dunia maya adalah permintaan yang mudah mengingat posisi saham ITE Telecom di semua perusahaan jaringan seluler termasuk diposisi yang kuat.


"Anda benar-benar kompeten ternyata, sangat tahu apa yang kolega bisnisnya inginkan.." Ucap nya setelah menyicipi salah satu hidangan.


"Maksudnya..?" Reyhan tidak mengerti.


"Beef Roast Honey Sauce, anda pasti tahu kan kalau ini makanan kesukaan saya?"


Lagi, Reyhan terkekeh.


Larut dalam menikmati hidangan, tak terasa beberapa menit berlalu sajian lezat dimeja itu tinggal sedikit, meninggalkan beberapa potong yang sengaja disisakan.


"Lalu, apa hubungannya dengan Deka Compeny? Dalam pesan emailnya semalam, pak Bima juga jelas menyebutkan nama Deka Group.." Mengambil tisu dan mengelap mulutnya sebagai tanda mengakhiri acara makan.


Reyhan mengubah posisi duduknya. Menaruh tangan diatas meja. Dan wajahnya mulai serius. Seserius seperti saat pertama mereka membahas perihal pertemuan pribadi ini.


"Membatasi apapun yang orang itu publikasikan, terutama, yang bersangkutan dengan Deka Group... Itu yang pak Bima ingin kan.


Berikan laporannya kepada pak Bima melalui saya, apapun yang akan ia publikasikan, semuanya. Apalagi menyangkut perihal Deka Group."


Lenggang sementara, karena lelaki paruh baya itu sedang berfikir. Sampai sebuah senyuman terlukis diwajahnya.


"Baik, saya akan mengatasi permintaan ini.. Saya rasa bukan tugas yang sulit.."


Tanpa pak Bagas sadari, Reyhan juga ikut bernafas lega mendengarnya. Bagi Reyhan, satu masalah yang mengancam orang-orangnya, setidaknya sudah memiliki jalan titik terang.


"Saya pribadi sangat berterimakasih untuk itu, dan sebagai gantinya.. GMT akan ikut mengambil sebagian proyek ITE Telecom. Pembangunan Tower Tbk. Persik kami pastikan akan segera dimulai. Sesuai keinginan anda"

__ADS_1


Reyhan berdiri diikuti Pak Bagas yang juga berdiri.


"Saya rasa pertemuannya cukup sampai disini. Saya pribadi sangat puas dengan andil anda dalam permasalan ini. Sekali lagi, terimakasih atas kerja samanya Pak Bagas." Ucapnya sambil menjabat tangan lawan bicaranya, kemudian sedikit membungkukkan tubuhnya.


Mereka berjalan keluar beriringan. Dua orang beda usia itu juga sempat berbincang ringan.


Sampai mereka tiba ditempat parkiran mobil.


"Jika mungkin suatu saat anda membutuhkan pekerjaan baru, pintu perusahaan saya terbuka lebar untuk orang seperti mu Pak Reyhan.."


"Ehm, tawaran yang menarik. Saya akan mempertimbangkannya." Memutar bola matanya keatas seakan tengah berfikir.


Pak Bagas tertawa keras menanggapi. "Itu tidak mungkin Pak Reyhan, saya jamin.


Pak Bima berani menukar posisi apapun asal tidak kehilangan aset berharganya, seperti anda. Atau, bagaimana kalau saya mengenalkan anda dengan salah satu anak gadis saya?


Setidaknya meskipun saya tidak bisa menjadikan anda sebagai salah satu karyawan diperusahaan, saya masih bisa menjadikan menantu."


"Wow, saya sangat tersanjung mendengarnya. Tapi, itu lebih tidak mungkin lagi pak, karena saya sudah menikah." Dan saya sangat mencintai istri saya.


Lelaki paruh baya itu seketika berubah ekpresi. "Benarkan? Ya Tuhan, saya terlambat lagi..."


***


Dirumah, mata yang terlelap dalam ketenangan itu mulai mengerjab. Menyadari keadaan yang sudah berbeda dan posisi yang tak lagi sama, Nayla mulai sadar bahwa Reyhan tidak ada. Lelaki itu entah kemana.


Ia ingin tidur lagi, dan melupakan masalahnya lagi. Tapi rasa penasaran perihal dimana keberadaan suaminya sekarang membuatnya mau tak mau beranjak. Turun kebawah menuju dapur untuk mencari.


"Bi Sri, ada lihat Reyhan nggak?"


"Mas Reyhan,? tadi keluar Non, katanya ada urusan mendadak."


"Kemana lagi sih itu orang? Yaudah deh bi.. Nayla kembali kekamar saja deh" Kembali kekamar untuk mengambil ponsel, dan menelfon suaminya.


Harusnya Reyhan ada disini menemani Nayla, tapi kemana lagi lelaki itu. Ia selalu saja keluar pergi sesuka hati, tanpa pamit dan tanpa kabar. Bukankah ia sendiri yang bilang, kalau hari ini dia tidak bekerja?


Terkadang perempuan dengan manik mata hitam itu sangat penasaran. Ingin seharian penuh ia membuntuti sang suami saat pergi keluar rumah. Ia ingin memastikan apa saja yang Reyhan lakukan diluar sana. Ia ingin tahu, sungguh...


Tapi rasa penasaran itu hilang, menguap begitu saja saat pikirannya kembali terbuka. Kadang ditengah rasa penasarannya, ia kembali ingat, dari keluarga mana Reyhan berasal.


Mau sesederhana apapun suaminya itu, tetap saja keluarganya adalah keluarga terpandang dikotanya.

__ADS_1


Dan akhirnya, Nayla kembali merutuki dirinya sendiri.


__ADS_2