Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Reyhan Atmadja


__ADS_3

Reyhan Atmadja.


Laki laki yang berumur 24 tahun saat ini. Reyhan sebenarnya adalah anak dari orang kaya. Papanya memiliki perusahaan yang cukup besar dikota nya.


Reyhan memiliki seorang kakak laki laki yang sangat menyayanginya. Yang sekarang menjabat sebagai Direktur di perusahaan Papanya.


Mamanya sudah meninggal saat Reyhan masih kecil. Karena itulah, dia tahu bagaimana rasanya tumbuh tanpa sosok Mama. Meski begitu, Reyhan tidak kekurangan kasih sayang dari sang Kakak dan Papa nya.


Berbeda dengan kakak nya yang sangat tertarik dengan perusahan Papa nya, Reyhan saat remaja justru ingin merasakan sesuatu yang menantang. Dia meminta ijin pada sang Papa, untuk hidup jauh dari keluarganya.


Jelas saja Papa dan Kakak melarang saat itu.


"Rey ingin mandiri Pa.."


Itu alasan yang selalu Reyhan katakan untuk mendapatkan ijin dari keluarganya.


Bukan hanya ingin hidup jauh dan mandiri, Reyhan bahkan juga berniat menolak uang bulanan pemberian dari Papa nya. Dia bertekad ingin hidup sendiri dari hasil jerih payahnya sendiri.


Tentu saja hal itu membuat Sang Papa menolak keras permintaan Reyhan yang satu ini.


Saat itu, Reyhan baru saja lulus SMP. Masih terlalu kecil untuk hidup sendiri menantang kerasnya dunia. Itulah yang difikirkan Pak Adma selaku papanya. Sebagai orang tua tunggal, wajar saja jika merasa khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada anaknya.


Perdebatan Reyhan dan Papa terjadi beberapa hari, Reyhan masih kekeuh dengan keinginannya, dan Papa masih tegas dengan melarangnya.


Sampai akhirnya, sang Papa memberi ijin dengan satu syarat.


"Baiklah Rey, Papa akan mengizinkan mu... tapi dengan satu syarat." Kata sang Papa pada akhirnya...


"Apa syaratnya Pa? Reyhan janji akan menerima apapun itu syaratnya." Jawab Reyhan bersemangat.


"Papa akan mendirikan Toko Buku ditempatmu yang baru nanti. Papa tidak akan mengirimkan uang bulanan sesuai permintaan mu.. Tapi kau sendiri yang harus mengelola toko buku itu. Hasilnya, gunakan untuk kebutuhan mu sehari-hari..." Kata sang Papa tegas.


"Tapi paa.. itu sama saja aku hidup.dengan uang Papa... meski secara tidak langsung.."


"Tolong jangan bantah papa lagi Rey, ." Sang Papa menarik nafasnya dalam "Kau sudah membuat papa khawatir dengan keinginan konyolmu itu. Apa kau akan membuat papa lebih khawatir lagi dengan menolak Toko Buku dari papa?"


Reyhan sudah kehabisan kata katanya. Reyhan sendiri tidak ingin membuat papanya khawatir. Dia hanya ingin mandiri. itu sajaa...


"Baiklah pa.. Reyhan berjanji akan mengelolanya sendiri. Papa jangan khawatir. Reyhan akan pulang kalau sudah waktunya nanti." Jawab Reyhan sambil memeluk Papanya.


"Papa baik baik dirumah sama kakak ya..."


Itu awal mula dia memiliki toko buku ini.


Dan dari hasil toko bukunya ini juga, Reyhan memulai membuka Panti Asuhan pribadinya.


Jeni, bocah pertama yang dia asuh Saat itu..


Jeni seorang perempuan. Umurnya hanya selisih 7 tahun dengan Reyhan.


Reyhan mengenal Jeni sebagai pengemis saat itu. sekarang


Jeni tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pandai. karena umur yang tidak berbeda jauh itu, Jeni memanggil Reyhan dengan sebutan kakak.


Saat ini, ada sekitar 8 anak dipanti asuhannya.


3 diantaranya sudah SMA, termasuk Jeni dan dua teman laki laki nya. Satu anak perempuan yang masih SMP.. dan Empat anak yang masih SD, termasuk Naura.

__ADS_1


Kebutuhan mereka murni ditanggung dari hasil penjualan di Toko Buku Reyhan sendiri.


Pegawai di toko bukunya sendiri adalah anak anak Asuh Reyhan yang sudah remaja, termasuk Jeni.


Sedangkan anak asuhnya yang masih kecil, Reyhan hanya memberi tugas kepada mereka untuk membersihkan rumahnya yang tak lain adalah Panti Asuhan itu.


Kedekatan Reyhan dan anak anak asuhnya itu membuat Reyhan sangat menyayangi mereka.


Mereka membuat hari hari Reyhan menyenangkan.


Anak anak asuhnya juga sangat menghormati Reyhan.


Reyhan juga mengenalkan Hasan kepada anak anak asuhnya.


Dulu, Hasan sangat tidak suka saat Reyhan membahas tentang anak anak Asuhnya. Sekarang? Tanpa diminta Hasan dengan senang hati membawakan oleh oleh untuk mereka.


Apalagi Naura. Gadis kecil itu sangat menyukai sosok Hasan. Naura akan berlari meraih pelukan Hasan apabila Hasan bermain kerumah Reyhan.


***


Hari sudah menjelang pagi. Sinar matahari menerobos masuk menembus sela sela gorden kamar Nayla. Perlahan Nayla membuka matanya.


Nayla ingat kejadian semalam. Tanpa terasa air mata Nayla jatuh tanpa diminta.


Nayla masih enggan beranjak dari tempat tidurnya.


Sebenarnya, Nayla tidak akan masalah jika memberikan hal yang paling berharga itu kepada Satya, apabila mereka berdua sudah menikah.


Hal yang paling disesali Nayla bukan dengan siapa dia melakukannya. Tetapi karena dia dan Satya belum memiliki ikatan yang SAH.


Fikiran Nayla dipenuhi dengan kecemasan.


atau jika Satya meninggalkannya?


Apa yang akan Nay katakan pada suami SAH nya nanti?


Bipp.. bipp...


Ponsel Nay bergetar pertanda ada pesan masuk. Nayla segera mengusap kasar air matanya. Lalu membuka ponselnya..


Satyaku 💌


Nay, selamat pagi.. sudah bangun?


Nayla 💌


Sudah Satya...


Satyaku 💌


Jika kejadian semalam membuatmu bersedih, bisakah kau melupakannya saja untukku? Aku tidak bisa melihat wajahmu yang sayu..


Semangatlah Sayangku.. Jadi lah Nay yang ceria seperti biasanya.. ingat, ada aku yang selalu disisimu...


Nay kembali menangis..


Air matanya jatuh tanpa disuruh. Betapa bodohnya dia. Betapa menjijikkannya dia sekarang.

__ADS_1


Tiba tiba...


Tok.. tok.. tok..


"Non.. waktunya sarapan.." suara Bi Sri memanggil dari balik depan pintu.


"Iya bi... Nay mandi dulu ya.. Papa sama Mama suruh makan duluan aja gak pp." Jawab Nayla setengah berteriak.


Nay sadar. Dia tidak boleh seperti ini terus. Kalau dia selalu bersedih maka Mama Riana dan Papa nya akan curiga. Nay harus bangkit dan memasang wajah yang biasa saja.


Agar tidak ada seorang pun yang tau kejadian dengan Satya semalam.


Nay menyibakkan selimutnya... Nay berniat buru buru masuk ke kamar mandi.


Tapi saat Nay menggerakkan kakinya. Nay merasa ngilu di inti tubuhnya..


"Auuu..." Nay meringis kesakitan. "Kenapa ini? Sakit sekali..."


Mata Nayla sudah berkaca kaca.


Nay mencoba menggerakkan kaki nya perlahan. Mencoba berjalan dengan sangat pelan pelan. Rasa sakitnya masih ada sepanjang dia berjalan, sudah tidak seberapa.


Sampai dikamar mandi Nay langsung menyalakan air hangat untuk merendam tubuhnya. Berharap rasa sakitnya menghilang.


Selesai mandi, Nay buru buru turun untuk sarapan dengan Papa dan Mama. Tak lupa dia memakai make up sedikit agar mata sembabnya tersamarkan.


"Selamat pagi Pa, pagi Ma..." Sapa Nayla sambil meraih satu kursi.


"Pagi Nay" jawab Papa dan Mamanya bersamaan. "Makanlah Sayang.." kata Mama Riana.


Suasana hening sebentar.. hanya ada bunyi sendok dan piring yang saling bersahut-sahutan.


Papa dan Mama sudah habis sarapannya, sedangkan Nayla masih ada setengahnya yang belum habis.


Pak Zeko menatap lembut Nayla yang masih menikmati sarapannya. Tanpa sengaja, manik mata pak Zeko melihat liontin Nayla. Itu inisial huruf "S".. Seketika pak Zeko tau, liontin dari siapa itu.


"Nay, bagaimana hubunganmu dengan Satya?" Tanya pak Zeko to the poin. Pak Zeko ingin memastikan, Apakah Satya laki laki pecundang itu berani mengabaikan ancamannya kemarin atau tidak.


"Uhukkk...uhuukkk" Seketika Nayla tersedak.


Tak ada hujan tak ada angin, kenapa Papa nya tiba tiba menanyakan hubungannya dengan Satya sih?


Fikiran Nay melayang kemana mana. Apa papa nya tau kejadian semalam?


Oh tidak.. hancurlah Nayla jika sampai.. batin Nay.


"Hati hati sayaang... minum dulu..." Mama Riana menyerahkan segelas air putih yang langsung diminum habis oleh Nayla.


"Papa jangan godain Nayla dong.. Nay kan sedang makan. Jadi tersedak.kan?"


"Papa kan cuma bertanya Ma..." Jelass Sang Papa. "Lagian apa salahnya kalau seorang Papa ingin tahu tentang anaknya..."


"Papa, Mama.. sudah dong..." Nayla berusaha menyembunyikan ketegangannya. "Kalian berdua apa apan sihh.. sudah dulu ah makannya. Nay mau ke kampus dulu Ma, ada kelas dosen tergalak pagi ini..."


Nayla melenggang pergi.. Ditengah jalan Nayla menengok kebelakang. Kembali menemui Papanya.


"Oiyaa Pa. Nayla boleh minta tolong nggak? Papa nanti pasti lewat toko buku Gramedia kan? Beliin Nay buku ya Pa.." Dengan manjanya Nayla mencium pipi Papanya. "Soal buku apa, nanti Nay kirim ke ponsel papa.." hehe Nay tersenyum melangkah pergi tanpa menunggu jawaban Papanya.

__ADS_1


"Nay sayang Papa...hehe" Nay berteriak dari lantai dua. Membuka pintu kamarnya lalu masuk dan menguncinya dari dalam.


__ADS_2