
Pagi ini, hawa dingin menyeruak menyentuh kulit dan membuatnya meremang setelah hujan deras semalam.
Waktu menunjukkan pukul sembilan. Tapi kabut tipis masih menyelimuti hamparan awan. Menghambat sinar matahari menembus dasar bumi. Membuat tanah yang basah itu semakin lama mengering.
Seperti luka lama yang kembali dibuka.
Ah Sial. kenapa jadi puitis begini sih?
Nayla berjalan santai dikoridor kampus ditemani dua sahabatnya. Sari dan Nina.
Suasana masih lumayan sepi. Mungkin banyak mahasiswa yang enggan masuk karena cuaca yang mendukung mengajak bergumul dengan selimut dikamar.
Tapi tidak bagi tiga gadis itu.
Ketiga gadis itu sudah rindu untuk bertemu. Saling menumpahkan rasa kehilangan saat salah satu dari mereka tidak bisa berkumpul bersama selama dua minggu.
"Gimana hubungan kamu sama Satya? Dia mau tanggung jawab kan Nin...?"
Nayla bertanya setengah berbisik. Memastikan tidak ada yang tahu kecuali mereka.
Nina menghela nafasnya ringan. Nayla memang tidak tahu usaha apa saja yang sudah Nina lakukan untuk meminta pertanggungjawaban dari laki-laki itu selama Nayla cuti pernikahan.
Haaah, kalau saja tidak ada nyawa didalam perutnya yang sedang Nina perjuangkan, Nina juga ogah kali memohon-mohon untuk dinikahi laki-laki macam Satya.
Menghancurkan harga dirinya saja.
"Tau lah, aku dah capek Nay.. Satya masih cinta banget sama kamu..."
Jawab Nina pasrah.
__ADS_1
"Gak bisa gitu dong... Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya Nin. Jadi laki-laki kok pengecut.!"
Nayla menjawab dengan setengah emosi. Sebenarnya, hatinya juga sakit menerima kenyataan ini. Kenyataan bahwa ada perempuan lain yang mengandung darah daging Satya. Apalagi perempuan itu adalah, sahabatnya sendiri.
Tapi mau bagaimana lagi.? Dunia yang dulu merestui hubungan Nayla dan Satya, seolah berbalik menjadi musuh. Hanya butuh waktu kurang lebih satu bulan.
Keadaan berubah seratus delapan puluh derajat. Semesta sepertinya sangat menentang mereka untuk bersama.
"Aku akan bantu kamu... tenang aja Nin..."
Ucap Nayla memberi dukungan sambil mengusap punggung sahabatnya.
Dan Nina membalasnya dengan senyuman yang manis.
"Kita sarapan dulu yukkk..."
Ajak Sari saat melewati kantin yang menu makannya menggugah selera.
Pokoknya beda deh sama restoran mewah ala ala orang kaya. Dan itu yang membuat mereka gak bosen sama menu makanan yang itu itu aja dikantin kampus ini.
Beberapa menit berlalu. Menu makanan pesanan mereka sudah tersedia di meja. Lengkap dengan minumannya.
Mereka menyantap makanannya masing-masing. Mengecap rasa yang membuat lidah mereka berpesta. Mantap deh pokoknya.
"Aku janji, kamu pasti akan nikah sama Satya. Percaya sama aku Nin..."
Ucap Nayla saat melihat ada semburat kesedihan dan kekhawatiran terpancar dari raut wajah Nina.
Sahabatnya yang paling dewasa itu, kenapa harus mengalami nasib yang menyebalkan begini?
__ADS_1
"Kamu yakin?"
Nina menjawab setengah ragu. Bagaimana mungkin Nayla bisa membuat Satya menikahinya? Padahal jelas, Satya hanya mengharapkan Nayla disisi setiap hidupnya.
"Yakin, kamu harus sabar yaa...
dan tolong tetap rahasiakan pernikahan aku sama Reyhan. Aku akan bantu kamu...
Kamu cukup percaya aja sama aku..."
Jawab Nayla yakin. Dia sudah memikirkan keputusannya ini sambil mengunyah tadi. Meskipun dirinya sendiri tidak tahu apa yang akan dia lakukan.
Masalah Reyhan,? Semoga saja dia mengerti.
"Gimana caranya Nay? Kamu kenal Satya kan?
Aku juga udah ngomong baik-baik sama dia, buat tanggung jawab.
Setidaknya demi anaknya sendiri. Tapi masih aja gak berhasil."
Ucap Sari membela Nina seraya menghela nafas pelan. Rasanya memang mustahil membuat Satya menyerah.
"Nina cukup percaya aja sama aku. Aku janji !"
Tanpa mereka sadari,
ada sepasang mata milik laki-laki yang menatap salah satu dari ketiga gadis itu dengan sendu.
Hatinya berdebar. Matanya berbinar.
__ADS_1
Kemudian dia berjalan menghampiri mereka dengan langkah lebar.
"Nay..."