Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Bertemu Naura Lagi


__ADS_3

Nayla masih duduk dibangku yang menjadi saksi perseteruan dirinya dan Satya tadi. Kali ini dia sendiri. Ditemani air mata yang enggan berhenti menetes dari asalnya. Isakan tangisnya masih terdengar lirih. Sisanya tertahan dan tercekat ditenggorokannya.


Matanya sudah memerah. Tangan kanannya memegang dadanya sendiri merasakan sakit yang teramat dalam dihatinya. Nayla sudah tidak peduli seperti apa penampilannya kali ini. Dia juga tidak peduli, banyak orang berlalu lalang menatap dirinya yang terlihat menyedihkan.


Hatinya semakin sakit, saat dia menyadari Satya sudah pergi meninggalkannya dalam kekecewaan. Padahal Nayla belum mengatakan kepustusannya. Nayla baru mengatakan bahwa sang Papa menyuruhnya menikah dengan laki-laki pilihannya.


Tapi lihatlah, dengan mata kepalanya sendiri Nayla melihat Satya menampakkan sisi brutalnya didepan Nayla. Membentak Nayla dengan keras. Bahkan meninggalkan Nayla dalam tangisnya yang belum reda. Jauh berbeda dengan Satya yang selama ini Nayla kenal.


Air matanya semakin mengalir banjir tatkala Nayla mengingat umpatan kasar yang tak henti-hentinya keluar dari mulut laki-lakinya itu. Nayla semakin terisak sampai dia harus menutupi wajahnya sendiri dengan kedua tangannya.


"Kaak.. kakak sedih?"


Suara polos yang terdengar lembut membuat Nayla mengalihkan fokusnya. Nayla merasa pernah mendengar suara ini sebelumnya. Suara yang tidak asing dan terasa familiar di indra pendengaran Nayla.


Perlahan Nayla membuka tangannya yang menelangkup seluruh wajahnya. Pertama yang dilihatnya adalah satu buah tangan kecil yang berada diatas lutut Nayla.


Detik selanjutnya terlihat bocah kecil polos dengan manik mata hitam besar hampir mirip seperti milik Nayla itu menatap dalam penuh arti pada Nayla. Beberapa saat pandangan mereka bertemu.


"Kamu?" Ucap Nayla dengan segera mengusap air matanya.


"Kakk.. pangku..." pintanya dengan sangat manja pada Nayla.


Senyum kecil sengaja Nayla paksa muncul dibibirnya. Menyambut gadis kecil yang lagi-lagi memergokinya sedang larut dalam kesedihan.


Dengan segera Nayla mengangkat tubuh bocah kecil itu ke pangkuannya. Sesuatu yang berbeda tertangkap oleh indra penglihatan Nayla.


"Naura sakit?" Tanya Nayla ketika mendapati sebuah perban berwarna putih dengan noda bercak berwarna merah yang sudah kering melingkar sempurna dikepala bocah kecil itu.


"Sudah sembuh kok kak, kan ada Om nya Naura.."jawab bocah kecil itu polos. Matanya yang sangat bening membuat Nayla suka menatapnya.


"Kakak sedih?" Tanyanya dengan mata membulat sempurna.


Dengan gemas Nayla mencium pipi gembul milik bocah itu secara bergantian. Tangis yang sedari tadi tak mampu dihentikannya dengan seketika berubah menjadi tawa renyah dari Nayla dan bocah itu secara bersamaan.


"Kakak kenapa sedih? Mama sama Papa nya pergi ya?" Tanya nya lagi.


"Bukan sayang, Mama sama Papa nya kakak ada dirumah kok.... kakak sedih, karena kakak pingin jadi bocah kecil lagi sama kayak kamu"


Jawab Nayla asal-asalan.


"Kalau Mama sama Papa nya dirumah, Kakak gak boleh sedih dong... Om nya Naura aja selalu bilang kalau Naura gak boleh sedih, walaupun Naura sudah gak punya Mama sama Papa, tapi Naura masih punya Om.." Jawabnya dengan serius yang membuat Nayla tersadar dari rasa sedihnya.


"Emang Mama sama Papa nya Naura kemana?" Tanya Naura penasaran.


"Meninggal kak, kecelakaan bareng sama Naura sama Papa sama Mama. Tapi Papa sama Mama ninggalin Naura sendiri..." jawabnya dengan suara yang lirih terdengar sangat menyedihkan.


Ah betapa kurang bersyukurnya aku.. Seharusnya aku bersyukur hidup didampingi Mama dan Papa lengkap sampai sebesar ini...


Maafin Nayla pa.. Nay janji akan buat Papa sama Mama bahagia...


Ucap Nayla didalam hati.


"Aduh maaf ya sayang, kakak sudah bikin Naura sedih ya?" Ucap Nayla menyesal.


"Sudah gak sedih kok kak.. Kan ada Om nya Naura. Om bilang Naura gak boleh sedih.. Naura harus doa'in Mama dan Papa supaya Mama dan Papa bahagia disurga.." Ucapnya sambil tersenyum menampilkan gigi putihnya.


Pak Hasan baik juga ya, penyayang sama anak kecil...


Pikir Nayla..


"Trus Om nya kemana Sayang?" Tanya Nayla kemudian.

__ADS_1


"Aku tinggal disitu itu tuh, pasti dia lagi nyari-nyari Naura. Biarin aja, salah sendiri dia mainan terus sama komputernya." Ucap bocah kecil itu dengan wajah yang menahan rasa jengkelnya.


"Yaudah, Naura mau eskrim? Tunggu sini ya, kakak beliin...."


Ucap Nayla mencoba menghibur nya lalu segera pergi ke kedai Es krim yang berada sedikit jauh dari tempat duduknya semula.


Saat sudah kembali. Nayla tidak menemukan Naura berada ditempatnya.


Nayla menatap kanan kiri dan menemukan Naura melambaikan tangannya sedang tersenyum kearah Nayla didalam gendongan seorang laki-laki yang berjalan menjauh membelakanginya.


Nayla tenang, setidaknya Naura ada bersama orang yang Nayla pikir itu pak Hasan.


***


"Andii.. Joaaann..."


Teriak Nayla menghampiri keduanya setelah lama mencari keberadaan dua laki-laki itu.


"Satya sudah masuk belum?"Tanya Nayla.


Namun, bukan senyum ramah yang Nayla dapatkan. Justru tatapan mata tajam dengan raut penuh kekesalan sedang memandang Nayla penuh amarah dari salah satu rekan pacarnya.


"Lo apain sih Nay si Satya?" Ucap Joan dengan ketus mampu membuat Nayla terhenyak mengkerutkan dahinya.


Mata Nayla berkaca-kaca menerima bentakan dari sahabat pacarnya itu. Tubuhnya terpaku seperti tidak ada daya untuk bergerak.


Ini sudah hari ke lima sejak perseteruan itu dan Nayla sama sekali tidak melihat Satya. Nayla mencari Satya dikampusnya tapi tidak pernah ketemu.


Nayla sudah mencoba menghubungi Satya, tapi laki-laki itu mengabaikan panggilan telfon dari Nayla.


Nayla memang sengaja belum mengunjungi apartemen milik Satya karena jujur Nay takut pada Satya. Sifat kasar Satya kala itu masih jelas membekas dihati Nayla.


"Satya gak bakal suka kalau lo kasarin Nayla kayak gini.." Ucapnya lagi kepada Joan.


Joan menarik nafasnya dalam, lalu meghelanya dengan kasar.


"Lo tau sendiri kan Ndi gimana Satya sekarang? dan itu gara-gara cewek ini.." Ucap Joan dengan keras sambil tangan kanannya menunjuk kearah Nayla.


"Harusnya cewek ini tuh sadar, Satya sudah mati-matian berubah buat siapa? Haa? Buat dia.." Ucapnya lagi pada Andi dengan nada yang tinggi. Sangat terlihat Joan sedang emosi kala itu.


Sementara Andi duduk disebelah Joan menatap iba kearah Nayla yang diam terpaku dengan air mata bercucuran.


"Nay, jangan dengerin Joan, dia lagi emosi." Dia mencoba menghibur Nayla.


"Kamu mau ketemu Satya kan? kamu datang saja ke apartemennya Nay... dia disana.." Ucapnya lagi.


"Terimakasih Andi..." Nay ingin segera menghilang dari pandangan mereka. Rasanya dia sudah tidak sanggup lagi menerima setiap bentakan dari sahabat pacarnya itu. Nay berbalik badan melangkah pergi. Baru dua langkah berjalan, Nayla kembali menatap Joan.


"Oiyaa.. aku minta maaf yaa Joan.. kamu benar, ini memang salahku.." Nayla berbicara dengan mata yang sendu berkaca-kaca.


"Tapi .. aku bisa apa?" Suaranya tercekat diiringi hujan deras dari pelupuk matanya. Tangannya segera menutup mulutnya agar tangisannya tak bersuara. Detik berikutnya Nayla berlari pergi meninggalkan Andi dengan rasa iba nya, dan Joan dengan rasa menyesalnya telah membentak Nayla.


***


#Flashback On


POV Satya


"Jujurlah, apa yang sebenarnya terjadi antara dirimu dan Papa?" Tanya gadis cantik di hapanku itu dengan raut wajah seriusnya.


Aku terkejut. Jelas saja terkejut.

__ADS_1


Sesuatu hal yang aku takutkan detik itu menjadi kenyataan. Dunia ku seakan runtuh.


Bukan aku yang terlalu lemah. Tapi gadis di depanku ini, aku benar-benar sangat mencintainya.


"Nay,.." Ucapku gugup dengan suara yang bergetar.. "Maafkan aku.."


Saat ini, hanya permintaan maaf itu yang sanggup aku katakan. Mungkin wajahku sudah pucat pasi bersiap menghadapi segala kemungkinan terburuk yang mungkin saja bisa terjadi. Dan kulihat, wajah gadis itu tampak lebih kecewa dari sebelumnya.


"Jadi benar yang dikatakan Papa padaku Sat?" Tanyanya dengan nada tinggi membentak ku.


Sakit menyeruak masuk menembus hatiku. Seperti dicambuk habis tali yang tak terlihat.


Gadisku yang cantik dan lembut, saat itu memakiku dengan keras.


Aku melangkah kedepan. Mataku menatap manik matanya yang indah. Tanganku terulur menelangkup pipi cantiknya. .


"Aku bisa jelasin Nay... Tolong dengarkan aku dulu.."


Jawabku dengan suara yang tak kalah kerasnya. Sesaat aku menghela nafas mengatur kembali emosiku.


"Aku.. aku minta maaf Nay. Aku khilaf. Kau percaya kan padaku?" Kataku padanya lagi.


"Saat itu aku sudah benar ingin berhenti. Tapi kadang segala sesuatu tidak semudah yang kita kira.


Kau boleh tanyakan pada Joan dan Andi. Aku sudah berusaha bahkan sampai mereka menertawai ku.."


Ucapku dengan rasa pengap memenuhi ruang didada. Mungkin saat ini, gadisku tau aku sedang menahan tangis ku.


Kecewa. Hanya itu yang dapat ku tangkap jelas dari raut wajahnya. Seketika dia diam membisu. Enggan menjawab setiap kata maaf ku.


Keadaan itu semakin membuat ku frustasi.


"Nay.. katakan kamu memaafkan ku.." ucapku menggenggam kedua tangannya.


Tapi tetap saja, dia masih diam mematung enggan berbicara.


Sampai...


"Kamu tau apa akibatnya?"


Akhirnya pertanyaan itu muncul dari dirinya setelah lama aku menunggunya. Mungkin dia merasa kasihan karena jujur, aku sudah menangis didepannya. Untuk kesekian kalinya, aku menangis dihadapan wanitaku.


"Papa menyuruhku menikah dengan laki-laki pilihannya..."


"Breengsek"


Teriakku dengan sangat keras membuat wanitaku terhenyak dari tangisnya. Emosi ku sudah tak mampu ku kendalikan lagi. Aku benar-benar marah kali ini memikirkan mungkin ini akhir cintaku.


"Truss kamu gimana hah? Kamu mau mau aja gitu? Sialaaaan.. Cewek murahann.." Umpatku didepan wajahnya.


Saat itu yang kulihat hanya tangisnya. Tangis yang belum pernah kudengar sebelumnya.


Lalu aku memilih pergi. Takut menyakitinya lebih dalam lagi. Karena benar, aku sudah kalah dari egoku sendiri.


#Flashback Off


Arrrgghh....


Satya mengusap keras kepalanya mengingat betapa bodohnya dia saat itu.


Tangannya kembali merai botol minuman Ja*k Dan**l dimeja ruang tamunya. Tenaganya lemah terlalu banyak cairan haram yang sudah masuk ke tubuhnya. Sejak lima hari yang lalu. Satya enggan pergi dari apartemennya.

__ADS_1


__ADS_2