
"Aku membohongimu apa, Satya?"
"Makanya kamu lihat sampai selesai.!"
Dengan tangan yang bergetar, Nina mulai meraih laptop yang sempat ia taruh disampingnya untuk kembali melihat foto-foto Nayla dan suaminya. Ia kembali menuruti kemauan Satya.
"Setelah ini, tolong sudah cukup Satya. Aku gak mau tau lagi apapun soal Nayla. Termasuk kehidupannya. Aku gak ta-..."
Apapun yang akan ia katakan, kalimatnya terhenti saat foto terakhir ia buka.
"Masih mau ngomong kamu gak tau? Siapa lelaki itu Nin?" Suara Satya menggema.
Foto yang Nina lihat adalah, foto dirinya disebuah cafe, bersama Reyhan tempo hari. Foto itu seakan menampar sangkalannya hari ini.
"Sat-ya.. Aku bener-bener gak tau. Foto itu..."
"Apa?" Mendelik tajam, Satya benar-benar merasa jengkel terhadap istrinya yang masih saja memilih tutup mulut. "Jangan kamu pikir aku bodoh ya Nin. Kamu tau kan siapa dia?"
"Nggak. Foto itu, di-dia nolongin aku waktu nunggu jemputan kamu. Kamu inget kan waktu aku keluar sama Alma tempo hari?" Jawabnya spontan.
Satya hanya diam. Memang benar tempo hari istrinya itu meminta ijin kepadanya untuk keluar bersama Alma. Setelahnya, entah apa yang terjadi tiba-tiba ia meminta Satya menjemputnya.
"Perut aku sedikit kram saat aku hendak berjalan keluar. Lalu dia menolongku. Itu saja." Membela diri, ia meneruskan kalimatnya.
"Kamu gak percaya sama aku?"
Lelaki itu memalingkan muka. Ia mengambil nafas panjang.
"Kamu gak lagi bohongin aku lagi kan? Kalau sampai kamu bohong, aku bener-bener bakalan marah sama kamu Nin."
"Lagian, kenapa sih selalu Nayla, yang kamu pikirin? Aku ini istri kamu."
Lelaki itu berdiri. Memunguti pakaiannya dan memakainya kembali. Tanpa berniat menjawab pertanyaan Nina. Suasana hatinya sedang buruk.
Fikirannya kacau karena terbagi-bagi. Antara harus mempercayai Nina, atau tidak. Lelaki itu meragu.
Selain itu, ia tidak bisa tenang karena ada laki-laki lain disamping Nayla.
"Satyaa.. kenapa selalu Nayla? Tidak bisakah kau melupakannya ? Jika bukan aku, tolong, setidaknya lupakan Nayla, demi anak kita.. Biarkan Nayla mencari kebahagiaannya sendiri Satya"
Salah.
Harusnya Nina diam dan membiarkan saja apa yang akan lelaki itu lakukan. Harusnya di suasana hatinya yang buruk, lelaki itu jangan ditekan. Nina salah, ia sangat bersalah karena sudah membantah sekaligus menekan Satya disituasi yang buruk seperti ini.
"Satya, tolong...
Aku gak mau anakku kehilangan ayahnya. Aku gak mau ia merasakan tumbuh besar tanpa ayah. Dia darah dagingmu juga. Kenapa kau tidak pernah memikirkan itu? Kenapa?"
Merasakan sikap Nina yang semakin tak tau diri, Satya menoleh. Lalu lelaki itu membungkuk. Mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri yang masih duduk diranjang, dengan selimut melilit tubuhnya. Ia bisikkan kata-kata yang membuat dunia istrinya runtuh, seketika.
__ADS_1
"Karena aku, mencintai Nay-la.."
Tangis wanita itu pecah. Hatinya sangat sakit.
"Lima bulan lebih kita menikah, hampir enam bulan kita hidup bersama. Dan selama itu aku menyerahkan hati dan tubuhku untukmu dengan sukarela. Kenapa masih Nayla yang ada dihatimu Sat? Kenapa?"
"Karena cinta tidak bisa dipaksakan Nin. Bagiku kau hanyalah seorang istri. Dan sudah seharusnya bukan, tubuhmu itu kau serahkan kepadaku?" Jawabnya tanpa rasa kasihan sama sekali.
"Ka-kalau begitu, kamu tau kan cinta tidak bisa dipaksa? Lantas kenapa kamu memaksakan cinta Nayla untukmu. Harusnya kamu sadar bahwa cintanya bukan untukmu lagi, dan jangan memaksanya.
Sat, tolong disini ada aku yang mencintaimu. Tolong lepaskan saja Nayla.. Aku janji akan menggantikannya.."
Eh apa? Menggantikan Nayla?
"Cih, jangan mimpi kamu.! Kamu itu tidak ada apa-apanya dibanding Nayla... Harusnya kamu sadar diri.."
Didepannya, Nina masih sesenggukan menangis. Tangisannya terdengar begitu pilu. Ia usap perutnya. Berharap, nyawa lain didalam sana tidak pernah mendengar apapun yang ayahnya katakan.
"Satya, aku benci mengakui ini. Tapi karena mu, aku akan mengatakannya."
Ia hapus air yang membasahi wajahnya dengan kasar, sekalipun ia tahu itu percuma. Ia berdiri turun dari ranjangnya dengan selimut yang masih setia melindungi tubuhnya.
Ia dekatkan wajahnya diwajah sang suami. Dan dengan keras ia katakan.
"Aku benci Nayla..."
Plaakk
Sebenarnya, ia merasa bersalah. Ikut merasakan nyeri atas apa yang baru saja ia lakukan. Tapi menurutnya, Nina pantas mendapatkan tamparan itu. Sehingga perasaan bersalah itu menguap begitu saja.
Meringis kesakitan, Nina tetap tak gentar. Sambil mengusap darah dimulut dengan salah satu tangannya, ia tertawa hambar.
"Kamu pikir, tamparan kamu bisa membuat ku berhenti membenci Nayla?"
Tidak !
Salah. Nina justru semakin membenci Nayla.
"Kamu tidak seharusnya mengatakan itu Nin, setelah apa yang Nayla lakukan untukmu..!" Mendesis marah, Satya mengucapkannya dengan suara tenang.
"Memang apa yang ia lakukan untukku? Menggodamu? Merebutmu dari ku? Menghantuimu setiap hari sampai kamu sendiri tidak bisa melupakannya? Iya kan? Itu kan yang ia lakukan untukku?"
Plakk..
Tamparan kedua yang tak kalah keras mendarat sempurnya dipipinya. Sakit yang tadi belum reda, sekarang Satya menambahkan lagi racun kedalamnya.
Tanpa mengucap sepatah kata apapun, lelaki itu berjalan keluar sambil membawa laptopnya. Ia banting pintu kamar dengan keras. Sampai dentuman itu memekik telinga Nina.
Ia meninggalkan Nina yang merosot tak berdaya ditempatnya berdiri tadi. Mengabaikan Nina yang masih larut dalam tangisan tragisnya. Tangisan yang terdengar begitu pilu. Meratapi nasip hidupnya yang seperti ini.
__ADS_1
Keterlaluan.!
***
Dilain tempat..
Dengan kantuk yang mulai menyerang, ia masih setia menunggu suaminya pulang. Berkali-kali ia menguap, berkali-kali itu juga Nayla semakin melebarkan matanya. Ia bertekad akan menunggu Reyhan. Apalagi, lelaki itu sudah memberi kabar sedang dalam perjalanan.
Entah karena apa, malam ini ia sangat merindukan Reyhan. Ia ingin menghirup aroma wangi tubuh suaminya. Ia ingin bermanja, ia ingin menikmati waktunya bersama-sama, berdua.
Senyumnya melebar, saat bunyi mesin mobil sayup-sayup ia dengar. Ia yakin, itu pasti mobil suaminya.
Nayla beranjak dari ranjang. Ia berdiri didepan pintu dengan wajah yang cemerlang dan mata yang berbinar, demi menyambut Reyhan pulang.
Eh? Demi apa?
Ya Ampun, dadanya berdebar tak karuan.
Gadis itu berlari memeluk Reyhan saat pintu kamarnya terbuka. Ia peluk erat suaminya. Ia nikmati aroma wangi tubuh suaminya, yang menenangkan.
"Kenapa?" Tumben, main peluk-peluk gini.
"Aku kangen." Banget.
Masih ditempatnya tadi, Reyhan balas pelukan itu dengan tak kalah eratnya. Meskipun agak heran, tapi lelaki itu merasa senang. Ia merasa dibutuhkan. Rasa lelahnya hari ini, hilang begitu saja.
"Kangen apa? Kangen olahraga malam?"
Nayla mendongak. Bibirnya mengerucut gemas saat ia mendapati Reyhan yang tekekeh karena menggodanya. Lalu ia memukul pelan lengan suaminya. "Ih Reyhan.. mulai deh.."
"Gak papa, Aku juga kangen kok. Kangen olahraga malam sama kamu.." Godanya lagi.
Semakin mengerucutkan bibirnya, ia berpaling. Melepaskan pelukannya, lalu ia mengambil alih tas yang Reyhan bawa. Ia berjalan menaruh tas itu ketempat biasanya dan meninggalkan Reyhan yang tertawa keras dibelakang pintu.
"Aku gak jadi kangem kamu."
"Eh jangan gitu dong.." Lelaki itu menyusul istrinya. Didepan almari baju, ia peluk Nayla dari belakang. Lalu ia tenggelamkan wajahnya diceruk leher sang istri.
"Ambilin handuk ku tolong..." Ucapnya manja.
Hembusan nafas hangat Nayla rasakan dilehernya. Membuatnya sadar tidak sadar, bulu kuduknya merinding kegelian.
Mulutnya bungkam, seakan semua kata yang akan ia keluarkan, tertelan begitu saja.
Nayla menikmati ini, menikmati setiap sentuhan ringan suaminya.
"Aku mandi dulu ya, tunggu aku dikasur... Setelah itu, aku akan menyerahkan tubuhku untukmu.." Katanya lagi.
Lelaki itu menggigit leher belakang sang istri, sebelum akhirnya ia lepas pelukannya dan segera membersihkan diri.
__ADS_1
Meninggalkan Nayla dengan pipi merah nya didepan almari.