Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Meet Up Bertiga


__ADS_3

"Cukup untuk mendengar semua pembicaraan kalian."


Ya Tuhan, apa Satya mendengarnya? Tolong, jangan sekarang Tuhan.


Mendadak wajah Nayla pucat pasi. Hatinya bergemuruh ketakutan. Pun dengan nafasnya yang tiba-tiba terasa mengganjal saat dihirup. Sedangkan, Sari hanya menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Kenapa?" Tanya Andi saat melihat perubahan wajah Nayla. "Kok wajahnya takut gitu?"


Nayla melihat Satya. Lelaki itu tengah memberinya tatapan menyelidik penuh curiga. "En-enggak kok..."


"Memang apa yang kalian dengar?" Tanya Sari memastikan. Dia jadi tidak tega dan merasa bersalah ketika melihat wajah Nayla yang mirip seperti maling ketangkap basah.


"Memangnya apa yang kalian bicarakan?" Kali ini Satya menyahut setelah lama dia mengamati ekspresi Nayla. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah Nayla. Wajah yang bisa Satya lihat dengan jelas, tengah menyembunyikan kegugupannya.


Seketika semua mata menatap Satya. Pun dengan Nayla. Aura marah jelas Nayla lihat terpancar dari wajah lelaki yang duduk tepat didepannya. Dibalik meja, Nayla menautkan jari-jari nya dan sesekali meremas tangannya sendiri.


"Apa yang kamu sembunyiin dari aku Nay,?"


Sumpah demi apapun, Nayla takut. Satya adalah lelaki yang nekat. Mungkin jika saja Nayla tidak menyembunyikan status pernikahannya, situasi tidak akan lebih mudah dari ini. Lelaki itu bisa menggila.


"Nay.. kamu gak lupa kan sama perjanjian kita? Aku udah nurutin kemauan kamu, dan aku harap, kamu juga pegang kata-kata kamu sendiri."


Semua mata memandang dua insan itu penuh pertanyaan. Memang perjanjian apa yang terjadi di antara Nayla dan Satya?


Selama ini, memang tidak ada yang benar-benar tahu apa alasan Satya sampai dengan mudah menyerah dan memilih bertanggung jawab pada Nina, kecuali Nayla. Apalagi Andi dan Joan, itu sebabnya mereka sempat menaruh curiga pada gadis itu. Meskipun sekarang, kecurigaan itu mereka buang jauh-jauh.


"Perjanjian? Perjanjian apa?"


"Sudah deh Jo, lo ga usah ikut campur. Ini antara gue dan Nayla." Bentak Satya tegas.


"Satya..." Ucap Nayla takut-takut. "Se-sebenarnya...." Nayla baru akan meneruskan kalimatnya saat Sari menyela.


"Lo jangan lebai deh Sat... Ya jelas aja kita gak mau kalian dengar obrolan kita..


Orang dari tadi kita membahas masalah kita sebagai cewek kok..


Ya kali kita berbagi masalah seperti itu sama kalian-kalian, memangnya kalian siapa? Udah deh.. kalau cuma bikin suasana jadi gak enak, mending kalian cabut aja dari meja ini"


Ucapnya dengan nada kesal. Sari yakin mereka sama sekali tidak mendengar obrolan yang sebenarnya saat melihat sikap Satya saat ini. Percayalah, lelaki itu tidak akan setenang ini jika dia benar-benar mendengarnya.


"Eh jangan gitu dong... udah Pe-We nihh Sar. Tega banget ngusir kita." Joan menyela.


Sementara itu Satya hanya menyeringai. Kemudian tersenyum hambar.


Dan kamu pikir gue percaya gitu aja?


"Habisnya, bikin kita kehilangan selera makan saja.."


Mata Satya masih terus mengamati ekspresi wajah Nayla yang mulai berangsur tenang. Sampai Andi menepuk pundaknya sambil mengatakan sesuatu yang sukses mengalihkan topik obrolan mereka selanjutnya.


"Oh iya.. gue mau bilang, sepertinya bulan depan gue bakalan pindah dari kota ini.. Itu artinya, gue juga akan keluar dari kampus ini..."


***


"Nay, tolong.. Jangan membuat ku gelisah seperti ini. Tolong jangan ingkari kesepakatan itu... aku tidak tahu apa aku masih bisa menahan diri jika saja kau mengingkarinya"

__ADS_1


"Satya, tolong jangan kamu hancurkan persahabatan aku dengan Nina. Aku sudah mempertahankannya sejauh ini... Tolong jangan lagi Sat..."


"Aku tidak berniat menghancurkannya. Dia sendiri yang waktu itu datang padaku Nay.."


"Dan aku juga tidak berniat mengingkarinya.. Aku tau siapa Nina, Sat.. aku lebih mengenalnya dari pada kamu...Tapi masalah ini bukan hanya menyangkut kita bertiga.. Tolong jangan lagi..."


***


Semenjak kejadian itu, entah kenapa Nayla merasa semua mengalir begitu saja. Tenang dan damai. Pun dengan Satya, menurut Nayla sekarang lelaki itu lebih banyak diam. Tidak berbicara jika tidak penting. Dan yang paling penting, Satya tidak lagi membuat kekacauan.


Satya tidak lagi mengintimidasi Nayla dengan pertanyaan-pertanyaan seputar hubungan mereka kedepannya.


Entah Satya yang sudah pasrah dan menyerah, atau mungkin Nayla yang lengah. Benar, mungkin saja perempuan itu tidak tahu, bahwa salah satu tanda tsunami mendekat adalah air laut yang surut.


"Hay Nin... wah bumil makin cantik aja nihh..." Ucap Nayla menggoda Nina.


Lama tak berjumpa, tiga perempuan cantik yang bersahabat itu sedang melepas rindu disebuah restoran barbeque yang cukup terkenal di kota.


"Masak.? Aku kangen banget sama kamu Nay..." Jawab Nina sesaat setelah duduk di kursinya. "Sari mana?"


"Ahh, dia tadi masih ada acara.. katanya lima belas menit lagi juga sampai sini..."


Nayla merasa gemas sendiri dengan perut Nina yang sudah lumayan besar. Tangannya terasa gatal ingin mengusap sesuatu dibalik baju ibu hamil yang Nina kenakan. "Haloo sayang.. dapat salam dari aunty.."


"Perutku besar banget ya Nay.." Perempuan hamil itu mengusap perutnya. "Kamu mau usap-usap kayak gini?"


Nayla berbinar. "Memangnya boleh.?"


"Boleh dong.. sini tangan kamu..." Nina mengarahkan tangan kanan Nayla keatas perutnya.


"Kamu sudah isi belum?"


Nayla menggeleng lemah.


"Sabar, berarti belum rezeki...Banyakin berusaha ya? Jangan lupa berdoa" Ucap Nina memberi semangat sambil mengusap bahu Nayla.


"Oiya Nin.. bagaimana hubungan mu dengan Satya? dia baik kan sama kamu?"


Nina tersenyum. "Dia baik kok..."


Dan senyumnya semakin lebar saat matanya menatap langit-langit plafon direstoran itu.


"Dia baik banget Nay.. dia.. memperlakukan aku dengan lembut. Kelihatannya dia sayang banget sama anaknya... dia sering ngusap-usap perut aku kayak gini trus ngajakin ngomong baby-nya.. lucu banget tau nggak sih"


Nayla menghela nafas dengan lega. Jujur Nayla ikut bahagia mendengar Nina hidup dengan baik bersama Satya. Tidak ada sedikitpun rasa nyeri lagi disudut hatinya.


"Nay.."


"Iya Nin.."


"Mungkin nggak sih, Satya bisa benar-benar menerima aku dan anak ini seratus persen, dan melupakan kamu?"


Nayla diam. Pikirannya berjalan mencoba mencari dan memastikan kondisi dihatinya atas pertanyaan Nina. Apakah masih ada rasa atau sudah tak bersisa. Tapi, setitik pun, rasa itu ternyata sudah hilang. Benar-benar hilang. Karena Nayla tidak merasakan apapun saat mendengar wanita lain menginginkan Satya.


"Tentu bisaa..." Jawabnya enteng.

__ADS_1


"Kamu yakin?"


"Aku yakin Nin.." Jawab Nayla. "Memang perlakuan Satya kepada kamu tidak membuatmu yakin?"


"Dari perlakuannya.." Nina menghentikan ucapannya. Sekelebat bayangan Satya setiap harinya berkeliaran di kepala. Satya yang setiap malam memeluknya ke alam mimpi. Satya yang setiap pagi menyambutnya dengan kecupan. Satya yang menyentuhnya dengan lembut. Satya yang rela repot-repot mencari bakwan jagung tengah malam hanya untuk menuruti ngidamnya Nina. Satya yang selalu tersenyum sebelum mencium kepala Nina. Dan Satya yang jarang sekali marah padanya. Tentu saja itu membuatnya yakin dong..?


"Dari perlakuannya aku yakin sih Nay... dia lembut banget. Jarang marah. Ya meskipun pernah sesekali..."Lalu dia menatap Nayla. "Tapi aku belum mendengar perkataan cinta langsung dari mulutnya. Dan itu membuatku takut..."


Maaf Nay,


jika ucapanku terkesan menyakitimu, terkesan memaksamu lebih menjauh lagi dari Satya...


Satya pernah menyentuhku dengan kasar, dan itu karena kamu Nayla.. Segala sesuatu yang Satya dengar tentang kamu, selalu berujung dengan perlakuan buruknya padaku. Ya meskipun setelahnya dia selalu meminta maaf, sambil menangis didepan perutku.


Apalagi Satya dengan tegas mengatakan bahwa hatinya milik mu, itu membuat ku sakit Nay...


"Kalau dia memperlakukanmu dengan lembut, kemungkinan besar dia sudah mencintaimu.. Aku yakin..."


"Begitu ya..?" Tanya Nina dan Nayla hanya menganggukkan kepala.


"Nay... Sepertinya menyembunyikan status pernikahan kamu dihadapan Satya itu merupakan ide yang tepat deh..."


Nina jadi ingat tragedi saat berbelanja. Satya bisa kehilangan kendali hanya karena melihat Nayla dengan pria lain. Lantas bagaimana kalau Satya mengetahui tentang status Nayla saat ini? Semarah apa ya dia?


"Satya bisa tenang, dan bisa fokus sama bayi kita, kalau tidak dibayang-bayangi sama masalah diantara kalian."


Nayla tersenyum sumringah. "Makanya, jangan beritahu dia kalau waktunya belum tiba.."


Obrolan mereka berhenti saat satu lagi perempuan muda dan cantik yang mereka tunggu tiba-tiba muncul dan langsung menyambar kursi kosong.


"Oh my God.. banyak makanan gini nih aku suka..."


Nayla dan Nina kompak menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jadi kamu semangat kesini cuma karena disini banyak makanan?" Sungut Nina. "Bukan karena kangen sama aku? Sia-sia dong aku bela-belain kesini buat ketemu kamu?"


Sontak Nayla terkekeh. Sedangkan Sari wajahnya memerah malu. "Eh ibu hamil.. Ya Tuhan aku kangen banget sama kamu.."


Sari memeluk Nina. "Tambah cantik aja sih Nin, anaknya cewek ya?"


"Alah nggak usah ngrayu..."


"Seriuss.. ya kan Nay? Nina tambah cantik kan?" Ucap Sari mencoba mencari pembelaan.


"Iya, Emang kamu tambah cantik tau Nin.. Mungkin benar kali anaknya cewek.. udah USG?"


Nina tersenyum. Kemudian dia menggeleng. "Belum, Satya bilang dia nggak mau lihat jenis kelamin bayi nya.. biar jadi kejutan.."


"Ah, romantis kali..." Sahut Sari.


Lalu satu persatu dari mereka mulai memanggang daging. Memasukkan beberapa bahan mentah yang mereka pilih kedalam alat pemanggang. Mengolesnya dengan bumbu-bumbu yang sudah disediakan


Tak lupa, Nayla juga mengabadikan momen mereka bertiga dengan ponselnya. Bukan hanya satu. Banyak gaya yang kompak mereka praktekkan. Foto mereka bertiga memenuhi memori ponsel masing-masing perempuan itu.


"Oiya Nin... Kamu nanti pulang sama siapa? Aku anter ya?" Tawar Sari.

__ADS_1


"Nggak usah Sar.. Nanti Satya yang jemput, sekalian kita mau ke dokter , periksa kandungan..."


__ADS_2