Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Kabar Baik Tapi Menyakitkan


__ADS_3

Aku ingin melepaskan kepedihan secara perlahan


Tentang semua kesakitan yang terasingkan


Mengubah kaki rindu menjadi kebahagiaan


Hingga sebuah lengkungan senyuman


Tampak sempurna menghiasi wajah meski dibawah sinar yang temaram


Aku ingin, melepasmu dengan senyuman


Segalanya sudah ku upayakan,


Agar kita tetap hidup berdampingan


Mesti tak lagi menggunakan perasaan..


Percayalah,


Aku sangat ingin melepasmu sesegera mungkin


Menutup buku biru cerita lama


Lalu membuka buku baru tanpamu..


-N.A.D-


****


Weekend telah usai. Pun dengan bulan madu singkat ala Reyhan juga sudah berakhir.


Suasana tadi pagi dirumah ini sedikit menggelitik, bagi perempuan cantik bernama Nayla.


Dia yang dari dulu sudah terbiasa dengan kesepian, sekarang harus menghadapi drama yang menggelikan.


Bagaimana sibuknya penghuni rumah ini menata ulang persiapannya semalam, demi lancarnya kegiatan anak-anak itu hari ini. Ada juga sikecil pengacau. Yang kerjaannya cuma memecah fokus kakak-kakaknya. Ah menggemaskan sekali bukan.?


Nayla seperti mendapatkan dunia barunya dirumah Reyhan. Dunia yang belum pernah ia miliki sebelumnya.


Rasa kesepian yang sedari dulu setia menemani harinya seketika terasa musnah. Diganti dengan rasa bahagia yang membuncah.


"Naaayy ...."


Nina berjalan cepat dengan wajah bahagia menghampiri sahabatnya yang tengah duduk santai didekat pintu masuk kampus. Lalu dia memeluk Nayla erat.


"Terimakasih ya Nay... berkatmu akhirnya Satya mau bertanggung jawab."


Ucapnya lagi dengan wajah berbinar.


"Benarkah?" Ucap Nayla memastikan.


Nayla tersenyum lebar menampilkan wajah ayunya. Harusnya dia bahagia bukan? Akhirnya permasalahan Satya selesai.


"Iyaa... Sekali lagi terimakasih ya Nay?"


Sekali lagi Nina meraih tubuh Nayla dan memeluknya sebentar.


"Apa kamu tahu? Kemarin dia dan kedua orang tuanya datang kerumahku Nay, dan.... dia melamarku."


Nayla hanya tersenyum. Senyum yang dipaksakan muncul mengiringi kebahagian sahabatnya.


Jantungnya berdetak cepat diiringi rasa sesak didadanya. Seharusnya Nayla bahagia bukan?

__ADS_1


Tapi... jauh dilubuk hatinya, dia merasakan nyeri yang hampir tak tertahankan.


"Aku ikut bahagia untukmu Nin,..."


Setetes bulir air mata jatuh tanpa bisa Nayla cegah. Hatinya benar-benar masih merasakan sakit yang tak seharusnya dia rasakan lagi.


Nayla merutuki dirinya sendiri.


"Nay kok kamu nangis? Kalau kamu tidak menginginkan ini, aku bisa munduurrr kok..." Ucap Nina merasa bersalah.


"Ahh tidak tidak... Aku bukan menangis karena sedih, tapi.. aku turut berbahagia untukmu.. Akhirnya, usaha kita tidak sia-sia Nin..."


Ucap Nayla berbohong. Terpaksa berbohong karena untuk sekarang, rasanya akan terlalu jahat bukan jika Nayla mengakuinya.? Meskipun bukan itu alasannya, tapi Nayla enggan merusak momen bahagia yang Nina rasakan.


"Benarkah?"


"Tentu saja benar..."


Lagi-lagi Nayla terpaksa berbohong.


Ketauhilah, melupakan itu mudah, tetapi mengikhlaskan-nya itu yang sulit. Saat ini Nayla masih berproses. Proses yang juga membutuhkan waktu. Butuh waktu untuk sembuh, lalu kemudian benar-benar kembali tumbuh. Proses melupakan tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru. Harus nikmati dengan pelan pelan, agar selanjutnya dia bisa menerima, kemudian sanggup mengikhlaskan.


Nayla percaya, suatu saat akan ada masa dimana dia bisa hidup berdampingan dengan damai yang sebenar-benarnya damai. Damai yang tidak akan tersisa rasa sedikitpun melihat mantan kekasihnya hidup bahagia dengan sahabat baiknya.


Kalau kalian bertanya, sebenarnya bagaimana perasaan Nayla? Tentu saja, Nayla bahagia mendengar kabar baik ini. Kabar yang bisa membawa kebaikan untuk banyak orang. Dengan pernikahan mereka, masa depan Nina terselamatkan.


Ah setidaknya nama baiknya juga terselamatkan, kan?


Nayla juga tulus kok saat dia membantu Nina membujuk Satya saat itu. Sangat tulus malahan.


Tapi, entah kenapa, kabar baik ini juga terasa menyakitkan untuk Nayla. Meskipun ada banyak campur tangannya dalam hal ini.


Bukan kah dia sendiri yang meminta Satya bertanggung jawab terhadap Nina? Lantas kenapa kini Nayla justru merasakan sakit juga?


Deg,


Secepat itu?


***


Suara burung bernyanyi mengembalikan kesadaran pasangan suami istri dari tidurnya. Apalagi terik matahari yang seakan menyengat mereka membuatnya tak bisa berlama-lama diatas kasur. Nayla segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dengan tubuhnya yang masih telanjang akibat aktifitas panas semalam. Yah meskipun tubuhnya masih terasa lemas dan remuk.


Hari ini hari minggu. Enam hari sudah berlalu semenjak kabar baik yang sedikit menyakitinya itu terdengar di telinganya. Nayla pikir dia berhasil merahasiakan rasa gelisahnya dari sang Suami. Dan dugaannya diperkuat saat hubungannya dengan sang suami baik-baik saja, tanpa satu pun pertanyaan darinya.


Setelah dia selesai dengan urusannya dikamar mandi, Nayla segera keluar menghampiri Reyhan yang masih terlelap diranjang.


"Reyhan banguunn..."


Nayla menggoyang-goyangkan tubuh Reyhan agar suaminya itu segera bangun.


"Kau sudah rapi? mau kemana?" Tanya Reyhan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Mengumpulkan nyawa yang belum sepenuhnya menyatu dengan tubuhnya sendiri.


"Hari kamu free kan? Kita jalan-jalan ya? Aku bosen dirumah.."


Belum sempat menjawab pertanyaan Nayla, ponsel Reyhan berdering menandakan ada telfon masuk. Reyhan meraih ponselnya dari atas nakas. Dan kemudian mengangkatnya.


Haloo bimm..


Jam berapa? Oh baik lah.. aku bersiap-siap.


Tunggu dua puluh menit lagi...


Nayla memberenggut. Sudah sejak kepulangannya dari pantai kala itu, Reyhan terus-terusan ditelfon oleh seseorang yang Nayla sendiri tidak tau siapa. Dan karena si penelfon itu pula, Reyhan jadi jarang dirumah. Selalu pergi pagi dan pulang hampir tengah malam. Bahkan mereka hanya sempat menginap semalam saja dirumah Reyhan. Iya, rumah yang banyak penghuninya dan membuat Nayla selalu rindu itu.

__ADS_1


"Maaf yaa...."


Kata Reyhan sambil berlalu kekamar mandi membersihkan dirinya. Tak butuh waktu lama, Reyhan segera memakai pakaian yang rapi.


Cuma maaf doang?


"Kamu mau kemana lagi sih Rey? Haa, sebenarnya apa yang kamu lakuin diluar?"


Tanya Nayla dengan kesal.


"Nay, percayalaah...."


"Bagaimana aku bisa percaya? Sudah seminggu ini kau selalu sibuk sendiri tanpa kejelasan.. Selalu keluar pagi dan pulang larut malam.. Dengan pakaian yang..." Mata Nayla memandang penampilan Reyhan dengan perasaan kesal."Mau bertemu siapa kamu sampai serapi ini?"


Reyhan menghela nafanya panjang. Sabaarr...


Dia sendiri sebenarnya menyadari kesibukannya. Hanya saja, belum ada waktu yang tepat untuk menjelaskannya pada Nayla.


Dan sekarang waktunya tidak banyak, Reyhan harus segera pergi untuk menyelesaikan urusannya itu.


"Maaf ya..."


Reyhan menarik tubuh Nayla dalam pelukannya. "Aku gak punya banyak waktu sekarang, tapi tolong percayalah, aku akan menjelaskan padamu nanti."


Dia memegang dagu Nayla lalu mendongakkan keatas agar mata mereka bertemu. Kemudian Reyhan menyatukan bibir mereka. Menyesapnya dengan lembut, seolah meyakinkan Nayla bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Aku harus segera pergi sekarang..." Ucap Reyhan setelah melepas penyatuan bibir mereka. Lalu Reyhan mengambil kunci mobil lama milik Nayla. Sebelum benar-benar pergi keluar pintu kamar, Reyhan menghampiri istrinya lagi untuk mencium keningnya.


"Kalau kamu bosen dirumah, kamu boleh keluar sama sahabatmu itu...


Pakai mobil baru ya, sama kartu kredit kemaren.. kamu boleh pakai sepuasnya..."


Ucapnya dengan mengedipkan mata kirinya. "Aku mencintaimu, Nay..."


Omong kosong. Rutuk Nayla dalam hati.


Tepat hilangnya Reyhan dari balik pintu, Nayla meneteskan air matanya. Dia merasa seperti diabaikan oleh Reyhan. Tak hanya itu, sebuah ketakutan tersendiri tatkala dia mengingat beberapa tulisan dimajalah online terkait penyebab perubahan sifat pasangan yang sempat Nayla baca saat Nayla sedang kesepian akhir-akhir ini.


Apa Reyhan punya wanita lain?


Atau bisa saja sebelum menikahi Nayla, dia memiliki kekasih dan masih menjalin hubungan sampai sekarang?


Berbagai pikiran seperti itu begitu mudah muncul didalam otak Nayla, mengingat bagaimana awal pernikahan mereka terjadi. Bahkan sampai sekarang pun, Nayla belum mengerti alasan apa yang membuat Reyhan menyetujui pernikahan dengannya sesuai permintaan Papa.


Reyhan masih begitu misterius baginya.


"Kamu kemana sih Rey? perasaan ku sedang tidak baik karena Satya akan menikah dengan Nina, aku ingin ditemani kamu, tapi kamu malah gak ada waktu buat aku?"


"Kamu pikir aku masih mau memikirkan Satya.? Enggak, tapi ya gimana? Aku ingin menyibukkan diri bersamamu Rey..."


Setelah lelah menangis diatas tempat tidur akibat perdebatan kecil mereka, kini Nayla bangkit. Nayla harus menyibukkan dirinya sendiri tanpa Reyhan agar tidak berlarut-larut dalam kegelisahan.


Nayla meraih ponselnya lalu menelfon seseorang.


Kamu dimana?


Aku jemput sekarang, kita belanja hari ini, tenaaang, aku yang traktir sepuasmuuu... pantang pulang sebelum kenyang..!


Nayla menutup ponselnya lalu berjalan kearah cermin. Menatap pantulan dirinya didepan cermin kemudian dia tersenyum menyeringai.


Baiklah Reyhan.. kau sendirikan yang memintaku memakai kartu kredit itu sesukaku? Tenanglah, aku akan memanfaatkannya dengan baik...


Kamu bisa menikmati waktu sepuasmu dengan wanita lain diluar sana, dan biarkan aku yang menghabiskan uangmu disini...

__ADS_1


__ADS_2