Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Di Kebun Binatang


__ADS_3

Pagi menjelang, hari ini Nayla bangun lebih awal karena dia ingin membantu Mbak Nana dan asisten rumah tangga Papa mertuanya memasak. Lebih tepatnya, Nayla ingin belajar memasak bersama mereka.


Tadi saat dia membuka mata, lelaki yang menyandang status sebagai suaminya itu tengah tertidur lelap sambil memeluknya. Dan dengan gerakan hati-hati Nayla beranjak. Meskipun dia tidak berhasil, karena pada akhirnya Reyhan tetap bangun akibat dari gerakan Nayla yang sangat perlahan tersebut. Alhasil, sebelum turun dari ranjang Nayla harus di introgasi dengan pertanyaan-pertanyaan konyol sang suami. Tidak lupa, Nayla juga harus menuruti permintaan aneh suaminya itu.


"Tinggal balado telur puyuh nya saja kan mbak? Kalau gitu, makanan yang sudah jadi biar Nayla tata dimeja makan dulu ya?"


Ucap Nayla pada Mbak Nana, sambil berjalan menjauh membawa ikan goreng ke meja makan.


Disusul Mbak Indah dibelakangnya yang juga sedang membawa sepiring tumis capcay ditangan kanannya, dan tempe goreng ditangan kirinya. Perempuan itu juga menaruhnya diataa meja makan.


"Mbak Indah sudah lama kerja disini?"


Perempuan muda itu tersenyum."Baru tiga bulan Non, dulu ibu yang kerja disini.. karena nenek sedang sakit jadi saya yang disuruh ibu buat gantiin sementara."


"Oh begitu..." Nayla menjawab singkat.


"Iya, tapi dulu waktu kecil, saya sering diajak ibu kesini. Beruntungnya, Tuan Adma orang yang baik."


"Berarti ibunya sudah lama kerja disini?"


"Ya sudah Non, sejak Mas Danu masih anak-anak. Sejak Mas Reyhan masih bayi. Dulu ibu yang membantu Nyonya merawat Mas Danu."


Nayla ber-Oh ria sebelum melanjutkan pertanyaannya.


"Mbak Indah seumuran ya sama Mas Danu?" Tanya Nayla menebak.


"Iya Non, selisih beberapa bulan saja..."


Oh pantas saja, Mbak Indah memang masih terlihat muda. Perawakannya tidak terlalu tinggi dan memiliki kulit kuning langsat yang bersih dan terawat. Tapi raut wajahnya sangat teduh, dan tatapan matanya sangat tenang. Sejak kemaren, dia juga sangat ramah kepada Nayla. Karena itulah hari ini Nayla berani banyak bertanya.


Tak berselah lama, Jeni keluar dari kamarnya menggandeng Naura. Gadis kecil itu nampak tak bersemangat.


Mungkin efek bangun tidur dan belum mencuci muka.


"Selamat pagi sayang..." Sapa Nayla pada si kecil. "Naura kok gak semangat sih, belum mandi ya?"


Gadis kecil itu mengangguk dengan mata yang hanya setengahnya saja yang terbuka. Tanpa melihat Nayla yang tengah tersenyum menyapanya dia tetap berjalan ke arah kamar mandi. Sudah menjadi kebiasaan Jeni, setiap pagi dihari libur seperti ini dia yang akan membantu Naura mandi. Tapi terkadang juga Rista sih. Ah pokoknya tergantung siapa yang punya waktu luang.

__ADS_1


"Mandi yang bersih ya sayang.. setelah itu kita sarapan bareng.."


Naura mengangguk lagi menyetujui perintah Nayla. Sedangkan Nayla melanjutkan aktifitasnya semula.


Perempuan itu tengah sibuk berkutat di dapur bersama dua asisten rumah tangga yang sudah Nayla anggap seperti keluarganya sendiri. Sampai satu-persatu penghuni rumah keluar dari kamarnya dan sudah siap dimeja makan tempatnya masing-masing.


Pagi itu mereka makan dengan damai. Menikmati setiap menu masakan yang semakin lezat. Bukan.


Bukan karena menunya yang istimewa, itu menu biasa seperti hari-hari lainnya. Hanya saja, suasana hangat dirumah itu menambah sugesti sendiri bagi kelezatan makanan yang sudah disajikan.


***


"Pamit dulu sama kakek..."


Perintah Reyhan pada anak-anaknya. Dan satu persatu dari mereka mulai bersalaman mencium tangan kakeknya.


Rencananya, sepulang dari rumah kakek Reyhan akan mengajak mereka pergi ke kebun binatang. Sambil berwisata, Reyhan berniat menunjukkan langsung pada anak-anaknya berbagai jenis dan macam hewan yang biasa mereka lihat ditelevisi.


Letaknya juga tidak jauh dari rumah kakek. Hanya butuh waktu kurang lebih satu jam saja.


"Jadi anak yang pinter ya, jangan nakal... Harus patuh sama Om Rey..."


Sisanya, malu. Malu-malu tapi tetep mau. Hahaha


Yaiyalah, sudah besar masih dapat uang saku..


"Da-daaahh kakek.." Salam perpisahan yang serentak mereka ucapkan saat mobil mulai melaju pelan meninggalkan halaman luas rumah sang kakek. Tangannya melambai-lambai dari dalam mobil, saat siluet lelaki paruh baya yang berdiri di pelataran rumahnya tadi sudah tidak lagi terlihat.


Didalam mobil, mereka sibuk membahas uang saku. Sikecil memamerkan uang saku mereka kepada Mbak Nana dan Pak Man. Sementara si remaja, lebih memilih diam. Sesekali terbawa suasana hingga ikut tersenyum melihat tingkah lucu adik-adiknya.


"Ingat ya, gak boleh pisah dari Om Rey.. pokoknya kalau kalian mau pergi kemanapun, harus ditemani sama Om Rey, Kak Nay, Mbak Nana atau Pak Man. Pilih salah satu.. oke"


"Iya Om..." Jawab sikecil dengan antusias.


"Jeni, Rista, Angga sama Roni, bantuin mengawasi mereka ya..."


Pinta Reyhan pada si remaja. Sekalian mengajarkan arti persaudaraan, Reyhan juga ingin mengajarkan arti tanggung jawab.

__ADS_1


"Iya Kak..." Jawabnya serentak.


Sejumlah protokol keamanan diterapkan selama berada didalam area kebun binatang. Seperti tidak boleh memberi makan sembarangan pada hewan-hewan disana.


Menurut yang Reyhan tahu, didalam kebun hutan ini ada kurang lebih seratus dua puluh empat spesies hewan dan lebih dari dua ribu spesimen.


Di kebun binatang ini juga terdapat "Pusat Primata Schmutzer". Tempat yang menampilkan berbagai macam primata dengan suasana yang berbeda dan terdapat museum primata untuk menambah pengetahuan anak-anak. Pertama kali masuk, mereka harus menaiki tangga, kemudian dari atas mereka dapat melihat gorila dengan ukuran sebesar manusia. Primata lain yang ada disini antara lain siamang, simpai, kera putih, dan berbagai jenis lainnya.


"Woy, Can sinii.. lihat tuh.. Besar bangeett keranya.." Panggil Janu pada Candra yang tengah sibuk mengamati kera putih.


"Itu bukan kera Nu, itu mah gorila... Iya kan Bang?" Celetuk Janu mencari pembelaan pada Roni yang tengah mengawasinya.


"Iya... Ih kok tau sih Janu.?"


"Sama aja Nu, gorila kan juga kera.. Kera besar.."


Celotehnya saat mereka berada di "Dunia Orang Utan".


Disini tadi, mereka memasuki terowongan panjang dan gelap yang dibuat menyerupai goa, dimana antara tiap-tiap bagian dipisahkan oleh tali-tali yang menyerupai akar pohon. Pada sisi-sisi terowongan di bagian tertentu akan nampak kaca tebal sehingga kita dapat melihat orang utan yang berada di luar.


Setelah keluar dari terowongan, mereka berjalan diantara pohon melewati jembatan gantung. Di bagian lain, terdapat taman bali. Tempat ini dibuat menyerupai suasana bali. Ada juga tempat bermain untuk anak seperti ayunan, batang pohon yang dapat dipanjat, bergelantung di tali atau bermain pasir.


"Hati-hati ya sayang, ayo.. pegangan sama Abang-abang kalian.." Seru Nayla mengingatkan.


Bukan hanya itu, bahkan ada tempat lain seperti bawah laut. Saat memasuki tempat itu, mereka akan melihat berbagai macam jenis ikan diatasnya, yang hanya dibatasi oleh kaca tebal. Hampir mirip rumah kaca.


Anak-anak itu begitu berantusias, melihat ikan-ikan besar secara langsung sedang berenang diatas kepalanya. Celotehnya kesana-kemari mengagumi keindahan alam laut yang tersaji apik tengah mereka nikmati bersama.


Hingga tak terasa, semua tempat dikebun binatang sudah mereka kunjungi. Dan kini, mereka tengah bersiap pulang setelah tadi sudah menikmati makan siangnya direstoran yang di bangun untuk pengunjung di dalam kebun binatang.


***


Halo... Terimakasih ya masih sabar menunggu, dan maaf author lama update...


Soalnya author lagi merevisi novel ini bebb.. Lagi merapikan novelnya biar lebih enak gitu buat dibaca.


Dan sampai sekarang belum selesai..

__ADS_1


😭


__ADS_2