
"Jadi Dini tadi siapa..?"
Nayla masih berdecak kesal meninggalkan Reyhan dibelakangnya. Berjalan masuk sambil menghentak-hentakkan kakinya. Perasaan jengkel masih memenuhi dadanya. Dan hanya dibalas gelengan tidak percaya oleh Reyhan.
Padahal, sepulang dari Pantai tadi, mereka sudah berkeliling pusat kota tanpa sedetikpun Nayla berhenti membahas Dini. Sudah puluhan kali Nayla menyebut nama itu, dan sepertinya akan mencapai angka ratusan jika masih diteruskan dirumah.
Reyhan terkekeh menghadapi kecemburuan istrinya membuat Nayla balik badan dan memukul lengan suaminya. "Reyhan, siapa Dini?"
"Kan tadi sudah tak jelasin..." Jawab Reyhan mendaratkan bokongnya disofa ruang keluarga.
"Dini cuma patner kerja kok.."
"Tadi penjelasanmu belum detail.." Nayla ikut duduk disamping Reyhan. "Kamu kan kerja ditoko buku milik kamu sendiri? trus apa hubungannya sama Dini?" Memicingkan sebelah matanya mengintimidasi.
Tanpa mereka sadari, ada laki-laki paruh baya yang sedang menguping pembicaraan mereka tak jauh dari tempat Nayla dan Reyhan duduk.
"Aku beli saham direstoran Sadewa sekalian sama hotelnya...." Ucap Reyhan memberi penjelasan.
"Trus sebelumnya, Dini itu yang punya saham paling tinggi Nay... jadi mau tidak mau ya aku harus berurusan langsung dengan dia.."
"Jadi kamu berhasil Rey beli saham ditempat itu?" Tanya pak Zeko dengan tiba-tiba sudah berdiri disamping Nayla.
Reyhan tersenyum canggung. Sebenarnya dia enggan memberi tahu masalah seperti ini kepada mertuanya itu. Reyhan tidak ingin ada perubahan sikap Pak Zeko kepadanya, yang mungkin saja bisa terjadi jika laki-laki paruh baya itu tau siapa Reyhan sebenarnya.
Reyhan sudah nyaman diterima sebagai dirinya yang sekarang.
Sementara Nayla memutar bola matanya jengah. Niatnya menuntut penjelasan dari Reyhan harus diurungkan sementara waktu melihat sang Papa malah tertarik dengan obrolan mereka.
"Wahh, hebaatt kamu.." Puji papa mertua kepadanya sambil tangan menepuk-nepuk pundak Reyhan. "Berapa persen sahammu disana Rey?"
Reyhan kebingungan menjawabnya, haruskah dia jujur.?
"E.. anu pa, empat puluh persen" jawabnya kikuk.
"Wahh, bener-bener mantu idaman..
Kamu tau Rey, Papa aja udah ngincer tempat itu sejak awal dibangun, dan baru dapat lima persen, lah kamu bisa-bisanya dapat empat puluh persen?" Puji pak Zeko bangga.
Siapa juga yang tidak bangga, Restoran Sadewa sekaligus Hotel Sadewa memang tempat yang paling bagus untuk berinvestasi jangka panjang, seperti membeli saham misalnya.
Tempatnya yang pas dipadukan dengan suasana romantis yang mendukung membuat Sadewa banyak diminati oleh semua penjuru negri. Terlebih untuk pasangan yang baru menikah, segala hal tentang pantai sadewa sangat cocok untuk bulan madu.
Mungkin bagi gadis seperti Nayla, itu tidak begitu penting. Tapi bagi laki-laki yang setiap hari harus bergelut didunia bisnis, tentu saja itu menjadi angin segar bagi Pak Zeko. Akhirnya, Sadewa yang menjadi incaran para lawan bisnisnya sudah jatuh ketangan anak mantunya sendiri dalam jumlah yang fantastis.
"Tapi saham aku bukan yang paling tinggi kok Pa, soalnya punya Dini juga empat puluh persen.."
"Tapi kok bisa sih, si Dini itu ngasih empat puluh persen ke kamu?" Ucap pak Zeko masih tidak percaya. "Padahal itu perempuan susah banget dikadalin..."
Pak Zeko terkekeh geli meninggalkan Reyhan menuju dapur.
__ADS_1
Sementara Reyhan kembali menelan salivanya harus berurusan lagi dengan singa betinanya. Perempuan dan laki-laki itu memang berbeda.
Kalau ada yang bilang perempuan lebih mengedepankan perasaan dari pada logika, Reyhan adalah orang pertama yang membenarkannya. Lihatlah Nayla sekarang... Astaga, perempuan itu sebenarnya tidak benar-benar butuh penjelasan dari Reyhan lo, dia hanya.. hanya perasaan nyamannya saja yang terganggu.
"Ngapain sih beli saham disitu? Mau sering-sering ketemu Dini ya kamu?" Nayla melingkarkan kedua tangannya didepan dada.
"Iya kan, kamu mau ketemu Dini? Hemm.. dia cantik sih memang.. aku mah apa, cuma robekan kertas kalau dibanding sama dia.."
Ucap Nayla dengan kesal. Sementara Reyhan masih diam sambil terkekeh senang menikmati ceramah amatiran dari sang istri.
Sambil berdiri, Reyhan menggandeng tangan Nayla menuju kamarnya.
"Sudah cantik, kayaknya juga pekerja keras.. Ya, yaa... aku mah apaaa..."
Ocehan Nayla masih terdengar jelas memekik indra pendengaran Reyhan. Bahkan sampai masuk kedalam kamar pun, Nayla masih membahas masalah Dini.
"Dini kayaknya memang jauh lebih baik. Dia sepertinya wanita yang berkelas.." Ucapnya lagi tanpa rasa lelah.
"Kamu kenapa gak nikahin aj......auuw..."
Belum sampai Nayla menyelesaikan pertanyaannya, dia memekik kaget saat tiba-tiba Reyhan membantingnya telentang diatas ranjang dengan kaki menggantung ke lantai.
Dalam hitungan detik, kini Reyhan sudah menindih Nayla. Mengungkung Nayla dibawahnya.
Reyhan mencium bibir Nayla sekilas.
"Kenapa istriku cerewet sekali sih.." Ucap Reyhan dengan gemasnya.
"Mau ku makan habis saja nih bibir, biar cerewetnya pindah ke aku.."
"Eh... ap.."
Lagi-lagi Reyhan tidak memberi kesempatan pada Nayla untuk menyelesaikan ucapannya. Reyhan melahap dengan gemas bibir Nayla sampai dia hampir kehabisan nafas.
Hari menunjukkan pukul empat sore. Ciuman yang tadinya lembut itu kini semakin menuntut. Dan akhirnya, terjadilah apa yang seharusnya terjadi...
Pembahasan perihal Dini, berakhir dengan hubungan panas pasangan suami istri itu diatas ranjang. Desahan dari keduanya menjadi melodi tersendiri yang paling romantis bagi mereka. Ahh.. nikmatnyaaaa...
(Jangan dibayangkan, tolong...)
***
Diufuk timur, mentari mulai menampakkan diri dengan malu-malu. Kabut tipis menyelimuti suasana pagi yang begitu sendu. Seperti berjalan seiringan dengan perasaan Nayla yang sedang terbelenggu.
Gadis itu sedang duduk termenung dibalkon lantai dua. Hari ini, perasaannya sedang buruk. Sebenarnya bukan masalah penting, namun entah kenapa hal itu masih saja mengganggunya.
Ting
Bunyi ponsel dalam genggamannya membuyarkan lamunan Nayla. Kemudian dia beralih membaca pesan masuk digawainya.
__ADS_1
Terimakasih untuk mu Nay, kamu memang sahabat terbaikku...
Nayla tersenyum masam melihat foto sahabatnya yang juga tersenyum manis kearah kamera, dalam riasan make up ala pengantin pada umunya dan balutan kebaya berwarna putih. Nina tampak anggun dan cantik natural. Ingin rasanya memeluk Nina di moment seperti ini.
Hari ini adalah hari pernikahan Nina dan Satya. Sesuai kesepakatan tiga gadis yang sudah bersahabat lama, Nayla tidak akan menghadiri pernikahan itu. Bukan Nayla takut sakit hati melihat mantan kekasih harus menikah dengan sahabat yang sudah Nay anggap sendiri seperti kakak. Hanya saja, Nayla takut menjadi pengacau fikiran Satya. Semua tau betul, dihati Satya, namanya masih terukir dengan sangat jelas.
"Kamu kenapa?" Tanya Reyhan menghampiri Nayla dengan membawa nampan berisi teh hangat, dan roti tawar dengan selai strowberry. Khusus dia bikin sendiri untuk istrinya tercinta.
Tangannya membelai lembut pipi Nayla. "Kalau ada apa-apa itu cerita.." Kemudian Reyhan duduk dikursi samping Nayla.
"Aku gak papa kok Rey..." Jawab Nayla tenang. "Hari ini, Nina menikah. Dan aku gak bisa dateng kesana.."
Reyhan baru akan menjawab saat lagi-lagi ponsel Nayla berbunyi. Dia menatap Reyhan sebentar sebelum membuka ponselnya. Laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu tetap santai, meraih gelasnya dan menyesap hangat teh didepannya.
Nayla...
hari ini aku akan menikahi Nina sesuai permintaanmu. Kamu tahu betul siapa yang sebenarnya aku cintai Nay
Ku mohon
bertahanlah sampai bayi itu lahir, dan aku akan kembali padamu
Aku mencintaimu, Nayla
Nayla menghembuskan nafasnya berat. Dia begitu muak membaca pesan masuk yang baru saja Satya kirim untuknya. Apa Satya sudah benar-benar gila? Siapa juga yang ingin kembali bersamanya?
Lantas, dia juga berfikir. Apa yang sebenarnya membuat Nayla merasa terusik dengan pernikahan itu? Sedangkan, Nayla sendiri tidak pernah menginginkan kembali menjalin hubungan dengan Satya.
Lakukan peranmu menjadi suami dengan baik, Satya. Kau harus ingat, Nina adalah sahabat yang sudah kuanggap seperti kakak ku sendiri.
Nayla melempar asal ponselnya ke meja setelah mengirim balasan singkat. Lagi-lagi hatinya merasa kacau.
"Kamu sakit hati?" Tanya Reyhan yang memang sudah tahu siapa laki-laki yang akan menikah dengan Nina. Dan langsung dibalas gelengan keras dari Nayla.
Nayla memang sudah tidak sakit hati, tapi Nayla sendiri tidak tahu apa yang membuat perasaannya sedikit kacau.
"Kamu cuma bikin teh satu gelas ya? Buat aku mana?" Tanya Nayla mencoba mengalihkan pembicaraan. Berharap pembahasan tentang Nina dan Satya segera berakhir. Syukur-syukur jika Reyhan mengajaknya jalan-jalan lagi, lumayan menyibukkan diri membuat Nayla melupakan semuanya.
Reyhan tersenyum. "Aku memang sengaja membuat tehnya satu gelas saja, biar kita bisa berbagi.."
Hati Nayla menghangat mendengarkannya. Reyhan selalu membuatnya bahagia dengan hal-hal sederhana. Dan semua hal yang Reyhan lakukan sukses membuat Nayla merasa berharga.
Dipandanginya wajah tampan sang Suami. Bagaimana mungkin Nayla bisa menukar Reyhan hanya untuk kembali kepada Satya? Itu hal konyol yang tidak akan pernah Nayla lakukan.
"Alaahh, gombal..." Jawab Nayla dengan pipi merah malu.
"Nggak kok.." Sanggah Reyhan sambil mendongakkan wajah keatas. "Kamu lihat langit itu? Dulu, aku pikir hidup sendiri saja dengan menatap langit seperti ini sudah sangat menyenangkan, ternyata berbagi hal dengan mu jauh lebih membuatku bahagia..."
Lalu Reyhan mendekatkan kursinya ke arah Nayla. "Aku tidak pernah memaksamu untuk memberi tahu semua rahasia kepadaku, aku yakin kamu sendiri ingin punya privasi... Tapi kamu harus ingat, ada aku Nay,
__ADS_1
aku yang akan selalu siap mendengarkan ceritamu.."