Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Balada Berbelanja


__ADS_3

Hai gaes...


Yang baru datang, trus bacanya sudah nyampek sini, langsung loncat aja ke bab 112 ya...


percaya deh sama author.. dari pada bingung


Soalnya novel ini sedang direvisi.. terimakasih 😘


***


Hari ini, Nayla dan Reyhan sedang berbelanja kebutuhan pokok disalah satu swalayan yang tak jauh dari rumahnya. Sudah hampir satu bulan Nayla tinggal dirumah suaminya. Dan sampai sekarang dia belum meminta Reyhan untuk tinggal kembali dirumah Papa.


Katanya, rumah Reyhan membawa energi positif yang bisa membuat dirinya lebih bersemangat. Dan lebih betah tentunya.


Nayla mendorong troli yang penuh barang belanjaan dengan santai. Sesekali matanya awas menengok kekanan dan kekiri saat melewati deretan rak makanan. Memastikan tidak ada barang kebutuhan yang kelupaan dibeli. Meskipun Nayla sudah membawa catatan, tapi tetep aja kan kadang ada yang nyelempit kelupaan.?


Karena biasanya, tugas belanja seperti ini diserahkan ke Mbak Nana. Tapi hari ini Nayla mengambil alih, sekalian membeli kebutuhannya sendiri.


Disampingnya ada Reyhan yang berjalan dengan menggendong Naura.


Naura kecil yang sejak tadi merengek nggak mau jauh dari Nayla barang satu meter pun. Kecuali kalau dia lagi sekolah, saat itulah Nayla bebas dari rantai yang diikat dikakinya oleh bocah kecilnya.


Entahlah, semakin hari bocah itu semakin manja, apalagi kalau berurusan dengan Nayla. Duduk minta dipangku, makan minta disuapin, tidur siangpun minta Nayla temani.


Astaga.. Reyhan merasa dirinya mulai tersingkir.


"Naura, minta jajan apa sayang?" Tanya Nayla dengan sabar. Tangan istrinya itu mengusap pucuk kepala Naura, membuat bocah kecil itu senyum lebar menampilkan gigi-giginya.


Reyhan menggelengkan kepalanya. Tuh, sudah tau kan kenapa Naura maunya sama Nayla terus? Nayla memang kelewatan menunjukkan kasih sayangnya.


"Coklat sama es krim boleh?"


Ya Tuhan, Naura bertanya dengan wajah penuh pengharapan serta memakai senjata andalan dengan membulatkan mata belonya? Bagaimana mungkin dua orang dewasa disampingnya ini bisa menolak?


Jangan kan Nayla, mbak-mbak penjual makanan ringan ditoko sebelah pun kalau sudah lihat bentukan Naura yang seperti ini juga pasti langsung luluh, ya meskipun pada akhirnya menambah catatan bon atas nama mbak Nana sih.


"Boleh..." Jawab Nayla menyetujui.


"Tapi gak boleh banyak-banyak ya... Nanti sakit gigi nya kalau kebanyakan makan coklat" Sanggah Reyhan menambahkan.


Dan dibalas anggukan cepat dari bocah kecil itu sambil tersenyum kesenangan.


"Terimakasih Om Rey, terimakasih bunda..."


"Kok bunda..?"


Reyhan menatap Nayla dengan sorot meminta penjelasan, lalu bergantian menatap Naura dengan sorot mata yang sama. Nayla hanya mengedik kan bahunya acuh, dan sialnya, gadis kecil dalam gendongannya pun enggan menjawab dan malah asik memeluk boneka kecil ditangannya.


Sejauh apa sebenarnya hubungan dua wanita beda usia ini?


"Aku juga mau beliin anak-anak yang lain makanan ringan ya Rey..? Boleh kan?"


Reyhan tersenyum mendengarnya. Bukan hanya paras Nayla yang cantik, tapi hatinya... dia juga memiliki hati yang baik. Meskipun masih sedikit manja, tapi dia memiliki jiwa sosial yang tinggi.


Nayla itu pelangi. Dan Reyhan bukanlah lelaki yang buta warna sampai tidak bisa melihat keindahannya.


"Hm tentu boleh dong..."


"Secukupnya saja, jangan banyak-banyak..." Tangannya mengambil beberapa kripik kentang, mie kremes, dan beberapa roti. "Takut uangnya habis kalau dihambur-hamburin.. kebutuhan yang lebih penting juga masih banyak."


"Gak papa, orang gak setiap hari juga..."


Jawab Reyhan santai. Sangat santai seperti tanpa beban, tanpa takut kalau kehabisan uang.


Terkadang Nayla juga heran, bagaimana bisa Reyhan laki-laki sederhana pemilik toko buku ini sanggup menghidupi delapan anak, seorang diri?


Ya meskipun Nayla dengar, toko buku nya sudah membuka cabang dimana-mana, tapi tetep aja loh pengeluaran anak-anak itu banyak. Belum lagi, kartu kredit tanpa batas yang Reyhan serahkan kepada Nayla.


Sebenarnya berapa banyak sih penghasilannya ditoko buku?


"Beli yang agak banyak sekalian Nay, kamu lupa akhir pekan kita mau jalan-jalan?" Katanya mengingatkan.

__ADS_1


"Kasian kalau mereka ga ada cemilan didalam mobil. Sekalian biar kita gak usah bolak-balik belanja"


Nayla menatap suaminya ragu.


"Reyhan, kamu gak takut kalau uang kamu habis? Ini udah banyak banget lo.." Tanya Nayla setengah berbisik.


Reyhan tergelak. Nayla lupa bahwa suaminya adalah lelaki misterius dengan segala ketelitian yang begitu detail. Masalah seperti ini sudah pasti Reyhan pikirkan sebelumnya.


"Kalau habis buat kalian mah gak papa... Uang bisa dicari lagi Nay, asalkan kalian bahagia..."


Sampailah mereka didepan kasir. Antrian yang panjang membuatnya harus lebih bersabar.


Nayla mengedarkan pandangannya ke beberapa arah.


Tanpa sengaja, matanya bersitatap dengan mata seorang laki-laki yang juga tengah berbelanja bersama seseorang perempuan yang sangat Nayla kenal.


Satya....


Nafasnya tercekat ditenggorokan, pun dengan jantung Nayla serasa mau berhenti seketika.


Ini bukan waktu yang tepat.


Segera Nayla alihkan pandangannya. Mengalihkan pandangannya kesembarang arah. Kemana saja asal tidak menatap mata laki-laki itu. Pun dengan wajahnya yang dia palingkan. Jangan sampai Satya menyadari keberadaannya disini. Karena menurutnya, belum saatnya Satya tau bahwa kini, Nayla sudah tidak sendiri lagi.


"Kamu kenapa?" Reyhan bertanya saat menyadari gelagat aneh sang istri. Mengedarkan pandangannya kesegala tempat mencari penyebab dari sikap Nayla yang mendadak aneh.


"Rey sstt... ada Satya sama Nina.."


Reyhan mendelik sebentar, sebelum ia mampu menguasai dirinya lagi.


"Kau jangan seperti ini Nay, jangan lari dari masalah, kamu harus menghadapinya.."


Nayla menggelengkan kepalanya. "Belum saatnya Reyhan...plissh."


Otak cerdas Reyhan seketika berfungsi saat dia melirik dan melihat bahwa laki-laki yang tengah menjadi objek obrolannya dengan sang istri sedang berjalan mendekat.


"Apa yang harus aku lakukan? Atau, siapa aku?"


"Orang kepercayaan Papa."


"Nay...."


Suara bariton dari laki-laki yang sangat familiar di indra pendengaran Nayla terdengar tepat sesaat setelah Nayla menjawab pertanyaan sang suami.


Nayla dan Reyhan menoleh secara bersamaan kesumber suara. Benar saja, Satya dengan senyum ramahnya masih seperti dulu, sudah berdiri tak jauh dari tempat Nayla.


Parahnya, laki-laki itu meninggalkan Nina sediri dibelakang dengan kereta dorong berisi barang belanjaannya.


"Satya, kamu disini juga? sama siapa?" Tanya Nayla tanpa basa-basi.


"Sama,.." Satya memutar kepalanya melihat kebelakang sebelum melanjutkan kalimatnya. "Ninaa.."


"Kok Nina ditinggal sih.." Nayla mencebik kesal dengan sikap Satya.


Sementara Nina, sekarang sudah berdiri disamping Satya setelah lelah berjalan dengan pelan, dan perut yang sedikit membuncit serta mendorong troli sendirian.


"Kamu sendiri sama siapa Nay.."


"Sama... Reyhan... yang jemput aku ke kampus kemaren.."


Reyhan tersenyum sebentar kearah Satya. Sebelum ia lebih tertarik kembali memainkan pipi Naura yang gembul, meskipun gadis kecil dalam gendongannya itu tengah menyimak dengan bingung obrolan Nayla dan kedua temannya. Sambil sesekali mengerjabkan matanya.


Mengabaikan tatapan Satya yang penuh selidik kearahnya.


"Aku kangen sama kamu Nay..."


Satu kalimat yang mampu membuat rahang Reyhan mengeras lalu mendelik tengan tatapan tajamnya kearah Satya. Jujur, Reyhan tidak terima ada laki-laki lain yang mengatakan itu untuk Nayla.


Nayla adalah miliknya, dia tidak mengizinkan orang lain untuk menyentuh Nayla lebih dalam lagi. "Maaf, kalau ngomong dijaga mas.."


Pun dengan Satya yang kini semakin menatap penuh curiga kearahnya. "Lo ngomong apa barusan?"

__ADS_1


"Kalau ngomong dijaga..."


"Heh, siapa elo..?"


Reyhan menyeringai dengan nafas yang naik turun menahan emosinya.


"Satya, udah..." Melihat ketegangan diantara dua laki-laki itu membuat Nina merasa takut.


"Diem lo Nin, jangan ikut campur..."


Seketika Nina diam. Matanya terasa panas meskipun tidak ada air mata disana.


Percayalah, hatinya seperti ditusuk pisau tajam yang transparan. Sakit.


Selama menikah, baru kali ini Satya membentaknya seperti ini. Dan hati perempuan yang tengah hamil itu semakin sakit saat dia menyadari, Satya membentaknya lagi-lagi demi Nayla.


"Kok kamu bentak Nina sih?" Nayla tak kalah meninggikan suaranya. "Kasar banget jadi laki-laki.."


Satya baru akan menjawab, sebelum akhirnya dia mengurungkan niatnya karena ditegur ibu-ibu yang ikut mengantri dibelakang Nayla.


"Mas, jangan ngobrol disini... Antri dibelakang sana...


Enak aja mau nyrobottt.."


"Brengsek.."


Ucapnya lirih kearah Reyhan sebelum akhirnya dia berjalan kebelakang ikut antrian.


"Nay, kamu gak papa.." Tanya Reyhan khawatir.


Nayla menggeleng. Lalu dia menatap Naura yang juga sedikit ketakutan. Tangannya mengusap pipi Naura yang gembul.


"Gak papa sayang.. Yukk, mana tadi coklatnya, kita suruh om Rey bayar dulu yaa.."


Gadis kecil itu mengangguk. Sebelum akhirnya Reyhan menyerahkan Naura pada Nayla.


Setelah membayar, Nayla menggendong Naura berjalan didepan. Sedangkan dibelakang ada Reyhan yang sibuk mententeng plastik berisi barang belanjaannya tadi.


Nayla berjalan cepat agar Satya tidak mengejarnya lagi.


"Barangnya taruh belakang aja ya Rey, Naura biar didepan sama aku... Kayaknya dia ngantuk.."


"Iya..."


"Yaudah ayoo, cepetan.."


***


Haloo readers...


Mohon maaf nih ya, kalau si Reyhan jarang menggoda Nayla.. karena jujur saja


sejak awal aku ingin menegaskan sosok Reyhan yang tidak terlalu banyak bicara.


Reyhan adalah sosok laki-laki yang lebih suka menunjukkan perasaannya dengan perbuatan, bukan dengan perkataan. Reyhan hanya akan bicara pada Nayla, jika dia merasa ucapannya dibutuhkan oleh gadis itu, Makanya jarang banget kan Reyhan dan Nayla saling mengejek?


Reyhan berusaha, apa saja yang keluar dari mulutnya adalah sesuatu yang membuat Nayla bahagia.


Disisi lain, sosok Reyhan ini terbiasa menyelesaikan masalahnya sendiri, tanpa ada orang lain yang ikut campur tangan. Jangan kan untuk ikut campur, Reyhan sebisa mungkin menyelesaikan masalahnya, sebelum sampai ketelinga orang-orang.


Karena itulah,


Reyhan itu misterius.


Jangan bosen ya, salam sayang ❤️


Oiya satu lagi, buat pendatang baru... episode 57 sampao 111 gak usah dibaca ya..


dari pada kalian bingung,.. karena sudah tak jadikan satu di episode ini dan episode-episode sebelumnya...


Tapi kalau penasaran boleh dibaca, kalau sudah bingung langsung loncat .. okk 😀

__ADS_1


__ADS_2