
Hari menjelang sore. Seorang gadis nampak berjalan dengan langkah gontai.
Raut wajahnya seperti menanggung beban yang berat. Matanya sembab namun sudah tidak ada lagi air mata yang mampu tumpah dipipinya.
Bajunya kaos berwarna putih dengan lengan pendek. Memakai celana jeans warna hitam dengan sepatu senada dengan celananya. Rambutnya dikuncir ekor kuda menambah kesan jenjang dilehernya.
Dari jauh saja, sudah sangat jelas dia gadis yang cantik dengan porsi tubuh yang pas.
Siapa lagi kalau bukan Nayla.
Nayla merogoh tas nya. Mengambil benda pipih yang setia menemaninya.
Ragu dia ingin menelfon seseorang.
Sebelum pikirannya kembali memutar kejadian satu jam yang lalu dimana dia memergoki sang pacar sedang berusaha meniduri seorang perempuan diapartemennya sendiri. Perempuan itu tak lain adalah sahabatnya sendiri.
Dan yang lebih parah lagi. Nayla sempat melihat satu buah tespek dengan tanda dua garis disana. Hatinya sangat sakit. Untung saja, Nayla sempat menampar Satya tadi. Setidaknya itu mengurangi beberapa persen rasa sakitnya ini.
Tapi tetap saja, dia enggan mendengar penjelasan apapun karena Nayla lebih percaya dengan apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Meskipun Satya dan Nina sempat mengejarnya tadi.
"Haloo Pa..." Suaranya dibuat senormal mungkin karena dia tidak ingin Sang Papa curiga.
"Ada apa Nay?" Jawab Zeko diseberang telefon.
Nayla menarik nafas dalam dalam. Ragu mengatakan tentang keputusannya.
Hinggaa....
"Pa.. Nayla sudah setuju dengan pernikahan itu.."
Jawabnya dengan meneteskan air mata.
Sebenarnya Nayla tidak menyukai perjodohan seperti ini. Jikapun bukan dengan Satya, setidaknya laki-laki yang menikah dengannya nanti adalah laki-laki pilihannya sendiri.
Namun itu sudah tidak berlaku sekarang. Nayla harus menjaga tiga hati sekaligus saat ini. Hati Sang Papa yang sangat dia sayangi. Lalu hati Nina, sahabat yang menemaninya selama ini.
Dan satu lagi, tentu saja hati bayi kecil yang ada didalam perut Nina.
"Secepat itu Nay?" Pertanyaan Papa diseberang sana dengan sangat heran.
"Lebih cepat lebih baik Pa, Nay percaya sama Papa..." Jawab Nay singkat tapi mampu meyakinkan sang Papa.
Nayla meneruskan langkahnya menyusuri jalan dipusat kota. Setelah dia menelfon sang Papa, Nay berencana harus bertemu dulu dengan laki-laki itu sebelum pernikahan mereka dilaksanakan.
Tapi bagaimana caranya?
Tidak ada nomer telfon. Nayla bahkan hanya sekali bertemu dengan laki-laki itu.
Tiba tiba....
"Kakaaakk"
Teriakan gadis kecil yang familiar ditelinga Nayla mempu membuatnya menatap kanan kiri mencari-cari sumber suara.
__ADS_1
"Kakak.. disini..." Teriaknya lagi.
Nayla menatap seberang jalan dan menemukan dimana bocah kecil yang memanggilnya itu.
Dia sedang berdiri didepan sebuah toko dengan tangan melambai-lambai kearahnya membuat senyum Nayla melebar.
Dengan cepat dia mengusap wajahnya. merapikan penampilannya sebelum berjalan menyebrangi jalan menghampiri gadis kecil itu.
Nayla tidak ingin untuk ketiga kalinya, gadis kecil itu memergoki Nayla dalam keadaan kacau.
Gadis kecil itu berlari meraih pelukan Nayla saat Nayla sudah berada didepannya.
"Hay Naura Sayang...." Sapa Nayla sambil meraih pelukan dari tangan kecil yang masih lembut.
Ah lucunyaa dia..
"Naura sudah sembuh?" Tanya Nayla sambil merenggangkan pelukannya.
Menatap manik yang mirip dengan manik matanya.
"Kok Naura ada disini?"
Tanyanya lagi saat Nayla menyadari keberadaannya sekarang. Didepan sebuah toko buku yang lumayan terkenal dengan pemiliknya yang tampan.
Hanya saja, selama ini Nayla tidak terlalu peduli. Toh dia punya Satya dulu. Lagian Nayla tidak pernah bertemu pemiliknya sebelumnya.
"Ini tokonya Om nya Naura.."
Jawab gadis kecil dalam gendongan Nayla. Nayla melihat kursi kosong didekat pintu masuk toko sebelum Nayla memutuskan untuk duduk istirahat sebentar dengan Naura disana.
Omnya Naura? Apa itu pak Hasan? suara gadis batin Nayla sebelum akhirnya dia bertanya langsung pada Naura.
"Naura..."
Suara panggilan seorang laki-laki yang berasal dari belakang Nayla mampu mengalihkan perhatian Naura dari pertanyaan yang Nayla ajukan. Dengan mata berbinar, gadis kecil didepan Nayla itu tersenyum lebar kearah seseorang dibelakang Nayla.
"Om Rey... hihi nyariin Naura ya"
Jawab Naura dengan suara cemprengnya. Gadis kecil dihadapannya itu tampak sangat bahagia dilihat dari pandangan Nayla.
Dengan cepat, Naura turun dari pangkuan Nayla.
Kemudian Naura memegang tangan Nayla.
"Itu lo kak omnya Naura..."
Katanya dengan senyum yang masih terpancar dari bibir mungilnya. Seketika Nayla memutar badan, lalu terkejut melihat laki-laki itu lagi.
"Kamu...."
Kata Nayla dengan mata membulat sempurna. Betapa terkejutnya dia mendapati laki-laki itu didepannya.
Laki-laki yang dibencinya itu. Meskipun hati kecil Nayla sadar, laki-laki bernama Reyhan itu tidak bersalah. Tapi sayang, karena keegoisannya dia menyalahkan Reyhan sepihak atas apa yang dia alami sekarang.
Wajah Nayla mendadak pias. Membiarkan Naura berjalan kearah Reyhan.
__ADS_1
Tidak menduga gadis kecil yang selalu menghiburnya itu ternyata mengenal Reyhan.
Sementara Reyhan hanya mengangguk sopan. Bukan karena takut, melainkan Reyhan menghormati Nayla sebagai seorang wanita yang merupakan anak dari seseorang yang sudah menyelamatkan Naura.
"Terimakasih..." Ucap Reyhan sopan kepada Nayla. Membuat Nayla mengkerutkan dahinya.
Tapi Reyhan mengabaikan ekpresi wajah Nayla. Reyhan lebih fokus ke gadis kecilnya.
"Naura kenal nak?"
Tanya Reyhan pada Naura sembari meraih tubuh gadis kecil itu kedalam gendongannya.
"Kakak temennya Om Hasan Om..." Jawab Naura singkat.
Jujur, Nayla memandang senang interaksi yang ditunjukkan diantara Reyhan dan Naura.
Bukan terlihat seperti seorang Om dan keponakannya. Lebih tepatnya seperti Papa dan anaknya.
Mengingatkan Nayla pada sang Papa. Tayangan masa kecilnya melintas begitu saja dikepalanya.
Kelembutan yang ditunjukkan Reyhan kepada Naura mengingatkannya pada kelembutan Papanya saat Nayla kecil.
Hati Nayla seperti mendapat siraman ditengah padang pasir. Sebelum keegoisan menguasainya lagi.
"Kebetulan sekali. Ada yang mau aku bicarakan. Bisa kita bicara berdua?"
Ucapnya pada Reyhan dengan ketus. Anehnya justru dibalas dengan ucapan yang masih saja sopan oleh Reyhan membuat Nayla mengalihkan pandangannya. Sedikit terkagum dengan sikap sopan Reyhan.
Ingat, sedikit.
"Naura sayang, kamu masuk dulu ya. Main sama kak Jeni..."
Katanya sembari menurunkan gadis kecil itu dari gendongannya. Membiarkan Naura berpamitan sebentar pada Nayla sebelum akhirnya Naura berlalu pergi.
"Mari.. kita bicara saja di bangku sana"
Reyhan masih tersenyum sopan. Sepersekian detik, Nayla terpesona dengan senyum ramah yang tercipata dari bibir sensual Reyhan.
Nayla berjalan mengekor mengikuti langkah kaki Reyhan menuju sebuah bangku ditaman kecil depan toko bukunya.
Sedikit gambaran, jadi didepan toko buku Reyhan sebelah, ada taman kecil yang sengaja Reyhan buat. Didalam taman itu juga ada beberapa bangku yang dibangun menyatu dengan mejanya. Tujuannya, tentu saja untuk memberi kenyamanan untuk pelanggannya yang ingin membaca buku.
Reyhan memang orang yang teliti. Dia menyiapkan hal sedetail ini demi menunjang usahanya.
Lihat saja, Toko Buku Reyhan termasuk toko buku paling rame dikota ini.
Bukan hanya terkenal dengan pemiliknya yang tampan dan maskulin. Tetapi juga tempatnya yang nyaman dan macam-macam bukunya yang lengkap.
Tidak sedikit orang yang tahu, bahwa Reyhan memiliki panti Asuhan pribadi yang seratus persen dibiayai dari hasil penjualan toko bukunya. Dan kebanyakan dari mereka yang sudah mengetahui rumor ini, akan dengan senang hati membeli buku ditokonya Reyhan.
Itung-itung sekalian sedekah. Itu yang menjadi pemikiran sebagian orang.
Sayangnya dulu, Nayla tidak terlalu peduli dengan rumor-rumor tersebut.
Bisa jadi sebenarnya Nayla sudah pernah mendengarnya. Tapi dianggap saja seperti angin lewat.
__ADS_1
Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.
Karena jujur saja, hal itu tidak ada pengaruhnya untuk hidup Nayla. Dulu....