
Nayla melihat dirinya dalam pantulan cermin untuk memastikan penampilannya yang hampir sempurna. Sesekali dia memutar badan, menatap lekukan tubuhnya dibalik balutan dress yang melekat pas dibagian atas tubuhnya sampai pinggang. kemudian menjuntai kebawah sampai batas lutut.
"Sempurna" gumamnya dengan suara kecil. Blouse brokat jenis prada berwarna merah maron menambah aura bersinar dikulitnya. Nayla yang pada dasarnya memiliki kulit putih semakin terlihat anggun.
Reyhan memutar gagang pintu kamar mandi, berjalan ke arah almari pakaian. Sejenak berhenti saat matanya menangkap sosok didepan meja rias tengah berdiri memandangi dirinya sendiri. "Udah selesai dandannya?"
Nayla memicingkan sebelah matanya. "Hem... kamu udah selesai mandinya?"
"Yee, ditanya malah balik nanya.."
Sontak gadis itu terkekeh. "Udah sana cepetan pakai bajunya. Lama banget.."
Reyhan mencebik kan bibirnya. Mengabaikan ocehan sang istri dan segera meraih kemeja batik dengan corak berwarna senada dengan blouse milik Nayla. Gadis itu sudah menyiapkan kemeja miliknya sejak semalam.
Hanya butuh sepuluh menit lamanya, Reyhan sudah siap dengan segala persiapannya. Sedangkan Nayla masih sibuk menata rambut panjangnya.
"Digerai aja rambutnya. biar menutupi bahu kamu yang sedikit terbuka itu." Komentar nya dengan sedikit kesal.
Kemaren saat membeli baju, lelaki itu sudah mewanti-wanti sang istri agar memilih baju yang sedikit tertutup. Nyatanya, saat dibutik Nayla merengek menjatuhkan pilihan pada blouse yang kini tengah dipakainya.
"Udah dong jangan cemberut gitu." Nayla berusaha membela dirinya. "Kalau istrinya kelihatan cantik, kan kamu yang seneng"
"Aku gak suka kalau istriku di..."
"Dilihat laki-laki dengan tatapan mata liar.. gitu kan? Nayla udah tau kok... makanya nanti disana Nayla digandeng terus ya, jangan dilepas.." Seru Nayla sambil berjalan kearah suaminya. Tersenyum manis sambil melingkarkan tangannya dilengan sang suami.
"Ayo...."
Senyum manis yang Nayla tunjukkan mampu meluluh lantahkan perasaan Reyhan. Rasanya lelaki itu ingin berjingkrak kesenangan setiap melihat cinta dimata sang istri. Tapi tidak akan, mana mungkin seorang laki-laki bersikap seperti itu.? Memalukan saja...
Ini pertama kalinya Reyhan membawa sang istri menuju kampusnya. Jika saja Reyhan belum menikah, mungkin dia akan menghadiri acara wisudanya tanpa seorangpun. Lelaki itu sudah terbiasa dengan kesendirian.
Tapi sekarang sudah berbeda, ada Nayla. Seorang istri yang pantas dia banggakan.
Nayla yang begitu cantik dengan riasan natural dan Reyhan yang begitu tampan dengan mata tajamnya, menjadikan mereka pasangan yang paling serasi disini.
Nayla berjalan anggun disamping suaminya. Berjalan memasuki aula yang akan menjadi tempat acara itu berlangsung.
"Kamu gak punya temen ya?"
Bisiknya disamping telinga sang suami. Pasalnya sejak mereka sampai tadi, belum ada satupun seseorang yang menyapa Reyhan.
Reyhan baru akan menyanggah sesaat sebelum dua orang laki-laki menghampiri mereka.
"Well... Reyhan bawa cewek broo..." Kalimat pertama dari seorang laki-laki itu. "Nemu dimana boss, cantik banget *****..."
Reyhan mendesah gelisah, menatap laki-laki itu dengan sorot mata kesal. "Bisa diem gak?"
"Oke-oke, tapi kenalin dulu dong..."
"Apa pentingnya..." Membalikkan badan, Reyhan bermaksud menggandeng Nayla meninggalkan dua laki-laki itu.
Namun laki-laki satunya menghalangi jalan mereka. "E.. ee.. e..gak bisa gitu dong.. "
Reyhan menghela nafasnya kasar. Ia tahu tidak akan mudah lepas dari ocehan-ocehan tidak berguna dari kedua temannya itu, kecuali menuruti saja apa maunya.
"Nay..."
"Iya.."
Bahkan Reyhan tetap memanggil Nayla dengan suara lembut. Membuat dua lelaki itu terperangah tak percaya saat menangkap tangan Reyhan mengelus punggung tangan Nayla yang tengah melingkar dilengannya.
"Kenalin, nih Rangga sama Toni.." Kata Reyhan mengenalkan kedua temannya dengan terpaksa. "Mereka preman kampus, musuh besarku..."
__ADS_1
Kemudian matanya beralih ke dua lelaki didepannya. "Dan ini istri gue, Nayla..."
What? Istri?
Rangga dan Toni memelototkan matanya tak percaya dengan bibir yang membulat sempurna. Reyhan si kutu buku?
"Jangan pegang-pegang" Gerammnya saat tangan Toni ingin menyentuh tangan Nayla.
"Gue mau pastiin, ini manusia apa bukan ya?" Sambil menggeleng pelan, lelaki bernama Toni itu melanjutkan kalimatnya.
"Kalau dia manusia, kok bisa sih bikin seorang Reyhan si kutu buku melirik cewek? bukannya lo gak minat sama sesama manusia ya?"
Sontak saja, pernyataan itu membuat Nayla tersenyum simpul saat tanpa canggung Reyhan menonyor kepala Toni.
"Ngomong apa lo barusan?"
"Ini gila gak sih men?" Rangga menimpali. "Beneran lo istrinya? Selama ini gak ada tuh perempuan yang bisa deket sama manusia kutub satu ini? Kok lo bisa sih? Pakek dukun mana?"
"Bener kata Rangga.." Sela Toni membenarkan. "Dia kan kutu buku.. pinter juga ternyata ngerayu cewek."
Habis sudah kesabaran Reyhan menghadapi dua makhluk didepannya. Rangga dan Toni memang teman yang paling dekat dengannya dikampus. Tapi mereka paling suka menggodanya.
"Udah ya, gue mau masuk aja. Paling males emang kalau sama kalian.."
Reyhan membawa Nayla pergi, tanpa penghalang lagi. Meninggalkan Rangga dan Toni dengan tawanya yang keras. Ya meskipun mereka masih shock mendengar salah satu temannya yang paling anti sama perempuan itu tiba-tiba sudah menikah. Mana gak kabar-kabar lagi.
Dan satu sisi lagi berhasil Nayla lihat dari diri suaminya. Ternyata Reyhan bukan hanya pandai dalam merebut hatinya, dia lelaki yang pandai pula memposisikan diri. Mengatur sikap dengan siapa dirinya berhadapan.
Sikap Reyhan menghadapi dua lelaki tadi, sangat berbeda dengan sikap Reyhan saat bersama nya, dan berbeda lagi saat Reyhan bersama papa Zeko. Lalu, berbeda pula saat Reyhan bersama anak-anaknya. Suamiku memang pandai.
"Nayla kira gak punya temen.." Kalimatnya terhenti tepat dengan kekehan yang keluar dari mulutnya.
"Ada, tapi ya gitu..." Balas Reyhan ikutan tersenyum. "Tapi kamu tenang aja, mereka tadi baik kok... walaupun sedikit gesrek.."
Lenggang sementara. Nayla dan Reyhan larut dalam pikirannya masing-masing. Duduk di kursi yang sudah disiapkan untuk para mahasiswa dan tamu-tamunya dan mengikuti acara demi acara sampai selesai.
"Habis ini kita kencan ya?"
***
Cinta itu ibarat warna. Semuanya indah
Apalagi jika pemiliknya mampu memadukannya menjadi degradasi yang menakjubkan.
Sekalipun itu warna hitam.
Cinta adalah suatu ketenangan. Bahkan hanya melihatnya tersenyum dari jauh saja, kau juga mampu merasakan tenangnya.
Nayla masih memandang takjub laki-laki disampingnya yang tengah memegang kemudi. Lelaki yang belum pernah Nayla kenal sebelumnya. Lelaki yang tiba-tiba Papa kenalkan kepadanya sebagai calon suami. Lelaki yang sekarang, sudah menggeser nama Satya dihatinya. Dia yang sudah berjanji akan selalu siap mendengarkan cerita versi Nayla.
Hari ini, ada banyak hal yang Nayla mengerti hanya dalam masuk ke salah satu dunia Reyhan. Dunia kampusnya.
Dia adalah lelaki yang waktunya habis untuk membaca buku. Lelaki yang meskipun memperlakukan teman perempuannya dengan lembut tetapi tidak akan membiarkan mereka menyentuh bagian terluar dari hatinya. Reyhan, lelaki dengan julukan manusia kutup yang tidak mungkin tertarik dengan sesama manusia.
Lantas, sudah berhasilkah Nayla masuk ke hatinya?
"Rey"
"Hum" Menjawab tanpa melihat. Karena pandangannya fokus dengan jalanan didepan. "Ada apa?"
"Eh, gak jadi deh. " Niat hati bertanya adakah Nayla dihatinya. Tapi diurungkan, Nayla terlalu malu. Masih tidak yakin jika dirinya pantas masuk kedalam menyentuh hati sang suami. Ya, meskipun Reyhan sering mengatakan kalau dia mencintai Nayla, tapi, benar Nayla sehebat itu?
"Kalau ada yang mengganjal itu diutarakan, jangan diterka-terka sendiri"
__ADS_1
Nayla terkekeh "Nggak kok, aku cuma mau ngucapin, selamat ya, atas predikat Cum Laude -nya. Suamiku hebat. Nayla bisa nggak ya, ikutin jejak kamu?"
"Bisa lah, asal kamu banyak-banyakin membaca.."
"Tapi aku gak bisa jadi kutu buku kayak kamu?"
Reyhan melirik wajah sang istri yang terlihat menahan senyum. Memaksa Reyhan untuk tersenyum juga.
"Kamu ini mengejek atau memuji sih?"
Nayla tergelak. Tertawa keras membenarkan semua pilihan dari pertanyaan itu. Mengejek dan memuji itu, beda tipis.
Begini saja rasanya sudah sangat menyenangkan. Perasaan yang tidak Nayla mengerti adalah, kenapa hanya disamping Reyhan seperti ini saja mampu membuat dirinya merasa sangat tenang?
Usapan tangan Nayla rasakan menyentuh puncak kepalanya. Mengacak-acak rambut yang tadi sudah ditata dengan rapi. Tapi hal itu lantas tidak menghentikan tawa Nayla.
"Aku minta hadiah"
"Hadiah?" Tanya Nayla dengan gugup. Seketika otaknya berpikir keras. Kiranya apa yang pantas Nayla berikan sebagai hadiah? Nayla saja tidak tahu barang-barang kesukaan Reyhan. Sepatu? Atau Pakaian?
"Reyhan minta hadiah apa?"
Mobil berwarna merah itu berhenti didepan toko buku miliknya. Dari dalam, terlihat beberapa orang yang memandang dalam tatapan kagum pada mobil miliknya. Ah benar, mobil yang Reyhan berikan ini memang sangat bagus.
Nayla mengerjab saat sebuah tangan menggenggam erat tangannya. Masih berada didalam mobil.
"Hadiahnya, aku mau kamu..."
"A-aku?"
"Iya, aku mau kamu selalu ada disisi ku seperti ini Nayla, sekalipun mungkin masih ada nama orang lain dihatimu,
Aku mau kamu bertahan, berjuang bersama ku mempertahankan pernikahan ini..."
Nayla tersenyum. "Iyaa..."
Reyhan mendengus kesal. "Jangan cuma iyaa iyaa.. Kamu harus ingat, ada aku
Tugasku adalah memastikan bahwa kau hidup dengan layak, hidup dengan mudah, dan hidup dengan bahagia... Sedangkan tugasmu adalah, membantu tugasku dengan cara tersenyum.. Aku mau senyum seperti ini yang akan selalu menghiasi wajah cantik mu."
Mata gadis itu berkaca-kaca. Sudah menggenang diujung pelupuk. Hanya dalam satu kedipan mungkin pipinya akan basah. Dia terharu, diperlakukan dengan segitu baiknya.
"Terimakasih Reyhan..."
Dan dengan sekilas mata, kini bibir lelaki itu sudah menyentuh bibirnya. Mengecupnya dengan lembut dan dalam. Ciuman yang memabukkan untuk keduanya. Hingga beberapa menit lamanya.
Sebelum akhirnya, Reyhan melepaskan ciumannya dengan nenyatukan dahi mereka.
"Aku mencintai mu, Nayla...."
Hembusan nafas yang tersenggal itu menerpa kulit Nayla. Membuatnya diam mematung.
"Ayo turun...."
Dibalas anggukan kepala oleh gadis itu.
Keduanya melangkah beriringan melewati pintu masuk Toko Buku. Disana ada Jeni yang tengah duduk dimeja kasir dengan tangan sibuk membolak balik sebuah buku. Reyhan berjalan menghampiri nya.
Sementara, mata Nayla menangkap satu sosok perempuan yang familiar. Sosok yang dia kenal.
"Alma.."
***
__ADS_1
Ini part paling panjang deh kayaknya dari karyaku.. 😀
Jangan lupa like ya.. vote juga boleh.. 😘😘