Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Lupa Punya Suami


__ADS_3

Pagi menjelang. Sinar matahari menerobos masuk kekamar melalui sela sela gorden yang menjuntai indah.


Detik jam terus berlalu ketika sepasang mata mengerjab pelan. Seorang perempuan menggeliat melemaskan otot-otot tubuhnya yang kaku.


Lalu tersadar, ada tangan kekar yang sedang berada diatas perutnya. Merengkuh tubuhnya tanpa sengaja.


"Aaaaa"


Nayla menjerit ketika mendapati seorang laki-laki berada disatu ranjang dengannya.


Sontak membuat Reyhan terbangun karena suara memekik telinganya.


"Ada apa Nay?"


Tanya Reyhan dengan bingung.


Nayla terlihat mengehembuskan nafasnya pelan saat menyadari sesuatu.


"Hehe, tidak apa apa...maaf"


Astagaa, aku bahkan lupa kalau aku sudah menikah.


Malunyaaa....


"Lantas kenapa berteriak ?" Ucap Reyhan sambil memegangi kepalanya.


Kepalanya terasa pusing. Semalam Reyhan tidak bisa tidur merasakan hawa panas ditubuhnya setelah tanpa sengaja dia melihat setitik keindahan dari tubuh Nayla.


Sampai sekitar menjelang pagi, baru saja dia bisa memejamkan matanya.


Dan sialnya. Pagi pagi begini dia harus bangun karena suara melengking dari gadis yang sudah menjadi istrinya itu.


"Kau pusing. Sebentar aku ambilkan minum."


Nayla segera bergegas mengambil minum yang berada diatas meja sofa agak jauh dari tempat tidurnya.

__ADS_1


Dan kembali keranjang tidur menyerahkan segelas air putih untuk Reyhan.


"Minum lah.. Maaf aku mengagetkan mu ya?"


Menyodorkan segelas air putih untuk Reyhan dan langsung diteguknya habis tak bersisa untuk mengurangi rasa pusingnya.


Reyhan menarik nafasnya dalam lalu membuangnya pelan untuk mengusir perasaan yang entah seperti apa. Ketika masih tergambar jelas sesuatu semalam yang tak seharusnya dia lihat melintas begitu saja difikirannya.


"Ayo katakan, ada apa kau berteriak?"


Tanya Reyhan dengan pelan. Sembari menetralkan lagi sesuatu yang bergejolak didalam hatinya.


Reyhan memandang lekat wajah istrinya. Bahkan bangun tidur begini dia terlihat sangat cantik.


Seutas senyum tipis tersimpul diwajah Reyhan.


Dia Istriku?


"Kenapa kau memandangiku?"


Nayla mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia malu mengakui kalau dia hampir saja lupa kalau sudah menikah dan memiliki suami.


"Jangan menatap ku begitu, aku malu Rey.."


Masih mencoba mengalihkan topik.


"Kalau begitu cepat katakan...!"


Apa yang harus aku katakan?


Apa aku harus bilang kalau aku lupa sudah menikah. Dia pasti ingin menertawakanku kan.!


Kenapa sulit sekali sih mengelabuhi manusia ini.


"Apa? Kenapa mata kamu melihat keatas? Kamu mau membohongiku ya?"

__ADS_1


Reyhan masih menunggu Nayla menjawabnya dengan senyum menyeringai.


"Aku... ee. itu Rey, Aku itu lupa......"


Ucap Nayla dengan terbata.


"Sudah ah.. aku mau mandi"


Nayla turun dari ranjang berjalan beberapa langkah kekamar mandi sebelum suara Reyhan menghentikan langkahnya.


"Lupa kenapa? Kamu tidak mau mengatakan?


Yaudah sana mandilah.. Mandi yang lama yaa.... Jangan harap aku akan keluar dari kamar ini."


Ucapnya sambil menyeringai.


Deg


Ohh ya Tuhan.. kamar mandinya kan transparan begitu...


Astagaaa.. seperti memakan buah simalakama ini namanya kan? Gimana ya?


Aku ke kamar mandi tapi malu... Kalau kembali ke Reyhan nanti ujung-ujungnya juga malu kan?


Seharusnya aku abaikan saja dia. Dia kan suamiku.. Tapi. aku benar-benar malu


"Rey.. jangan begitu dong... hehe"


Nayla akhirnya memilih kembali dan lebih baik mengatakan saja kalau dia lupa sudah menikah dan memiliki suami.


Nayla menaiki lagi tempat tidurnya demi membujuk Reyhan yang malah mengabaikannya.


"Rey.... Oh ayolahhh, kita berdamai saja ya?"


Reyhan terlihat meringkuk membelakanginya. Tepat menghadap kearah kamar mandi.

__ADS_1


"Kenapa? Bukannya kau mau mandi?"


Tersenyum menyeringai.


__ADS_2