
"Aku akan menghapusnya, tapi
duduklah di sampingku, dan lihat dulu video nya."
Alibi lagi.
Nayla tahu, itu hanya akal-akalan Satya, supaya setelah melihat video itu, Nayla jadi tergoda,
Kembali mengingat-ingat kenangan indah mereka saat dulu,
dan yang paling berbahaya adalah, kembali memancing hasrat keduanya.
Untuk apa? Jelas, agar Nayla kembali ke pada Satya dengan sukarela.
Jangan harap !
"Aku tidak ingin melihatnya, aku tahu seperti apa video itu karena aku adalah pemerannya. Bukankah begitu?"
Nayla malu mengatakan ini, tapi itulah kenyataannya. "Kenapa kamu terus-terus an menyiksaku Satya?"
"Aku ingin kembali memiliki mu Nayla,"
"Tolong, hapus Satya. Dan mari membahas perasaan kita. Aku mohon." Ucapnya dengan tatapan sendu ke arah Satya, yang sontak membuat lelaki itu tidak bisa menolaknya.
Apalagi, ucapan Nayla setelahnya. Semakin membuat Satya tidak bisa menolak perempuan itu.
"Jangan membuatku semakin ketakutan setiap berada didekat mu."
Deg
Jantung Satya mencelos. Nayla baru saja mengakui langsung ketakutannya didepan Satya.
Ketakutan perempuan itu yang sudah sejak lama mengusik jiwa Satya.
Dan,
tanpa banyak bicara lagi, Satya benar-benar menghapus video itu.
Lenyap, hilang selamanya.
Bahkan demi kepercayaan Nayla, Satya mengatur ulang laptopnya itu ke awal, kembali seperti pertama kali saat dia membelinya.
Air terjun kelegaan menyirami seluruh hati Nayla, dingin dan damai menyelimuti kalbunya.
Dia lega,
tujuan utamanya terlaksana dengan baik. Reyhan, tidak perlu melihat video itu.
Tapi,
masalah belum selesai sampai disini,
Nayla harus bisa membuat Satya melepasnya dengan ikhlas, agar kedepannya, batu besar penghambat jalannya tidak ada lagi.
Agar masalah Satya benar-benar tuntas, sampai ke akar-akarnya.
"Kembali kepada ku ya Nay," Satya memohon. "Please."
Nayla menoleh lagi kearah Satya, ucapan lembut Satya seperti itu menggetarkan hatinya. Tapi, itu tidak menjadi alasan Nayla untuk meng-iyakan.
Nayla kembali berfikir keras.
Perihal apa yang bisa membuat Satya kembali berfikir jernih, yang bisa membuat Satya tahu jalan mereka sudah berbeda,
Yang bisa membuat Satya berhenti atas kemauannya sendiri.
"Nay, kembali ya"
"Aku tidak bisa Satya." Menjawab spontan, yang seketika membuat Satya mengalihkan pandangan matanya sinis, dan mengerang marah.
Nayla lupa,
Satya tidak bisa menerima penolakan.
Dan sejurus kemudian, Nayla meralat kata-katanya. "Maksud ku, kita.
__ADS_1
Kita tidak bisa kembali seperti dulu." Begitu lebih baik, setidaknya mampu membuat Satya kembali menoleh menghadap dirinya.
"Satya, dengar,
dulu...
aku tidak kurang usaha. Aku memperjuangkan kamu sekuat yang aku bisa. Dihadapan papa, dan juga dihadapan semua orang." Nayla menarik nafasnya dalam, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku mengatakan semua yang tidak disukai papa, bukan untuk membatasi pergaulan kamu. Justru, agar kamu tahu, hal apa saja yang tidak bisa ditoleransi keluargaku. Agar kamu kedepannya lebih berhati-hati. Agar kamu diterima dengan baik oleh mereka. Tapi, apa yang kamu lakukan?"
Mendesah frustasi, Satya kembali mengerang saat mendengar jawaban Nayla yang seolah menyudutkannya. "Jadi, kamu menyalahkan aku?" Kemudian, lelaki itu membuang nafas kasar.
"Bukan, tidak begitu." Jawab Nayla cepat. "Aku tidak menyalahkan kamu. Sama sekali enggak. Aku cuma mau kamu belajar dari pengalaman itu"
"Nay.." Memanggil dengan suara rendah, "Aku sudah berjanji untuk tidak melakukan itu lagi, jadi tolong.
Kembali ya Nay?"
Ingat, jangan menolak secara langsung.
Gadis itu mencoba merangkai kata yang terbaik, tentu saja yang bisa diterima dengan baik oleh manusia didepannya ini. Manusia dengan emosi yang meledak-ledak.
"Bagaimana dengan mama? Mama kamu. Bagaimana kamu menjelaskan semua kepadanya? setelah dia memiliki harapan yang besar kepada kamu dan Nina."
Tepat sasaran.
Pertanyaan Nayla mampu membuat Satya bungkam seketika.
Nayla ingat betul, bagaimana Satya begitu menghormati mama-nya. Bagaimana Satya sangat menjaga perasaannya. Menjaga nama baiknya, dan bagaimana Satya berusaha mewujudkan harapan sang mama.
"Kamu yakin, sanggup membuat mama kamu kembali kecewa?"
Pertanyaan Nayla membuat Satya kembali berfikir,
Apapun yang Nayla katakan memang benar, Satya tidak akan pernah sanggup membuat mamanya kembali kecewa.
Satya ingat,
Dulu, saat ia mengatakan kepada keluarganya bahwa ia menghamili Nina, sang mama adalah satu-satunya orang yang menangis.
Bukan menangis karena bahagia menerima kenyataan Satya akan segera menikah, tapi
justru menangis karena kecewa. Dan itu,
Begitu pula dengan sang mama,
perempuan itu merasa gagal mendidik Satya. Sampai-sampai perbuatan Satya menghancurkan perempuan lain.
Satya juga jadi ingat,
Pesan sang mama dihari pernikahannya dengan Nina.
"Jaga istrimu baik-baik. Sama halnya kamu menjaga mama. Jaga nama baik mama.
Cuma itu yang sekarang mama minta. Jadilah anak yang baik, yang mampu menghormati perempuan."
Mengingat itu, kembali hati Satya berdenyut sakit. Benar, dia sudah mengecewakan mama.
Dan Satya tidak ingin itu terulang lagi.
Kepalanya terasa sangat berat, dengan wajah yang mendadak merah menahan tangis. "Tapi aku mencintai kamu Nay. Aku,... aku tidak mencintai Nina."
Nayla kembali mengulas senyum. Di usapnya lengan Satya sambil mengatakan sesuatu. "Kamu yakin, tidak mencintai Nina sedikitpun?"
Dengan menatap lawan bicaranya intens, Nayla kembali melanjutkan kalimatnya.
"Aku tidak percaya kalau kamu tidak mencintai Nina. Aku mengenal kamu cukup lama Satya.
Kalau kamu tidak mencintai Nina, kamu tidak akan bertahan selama ini."
"Tapi Nay..."
"Jangan terus-terusan menyangkal, coba tanyakan kepada hati kamu yang paling dalam. Apa benar kamu tidak mencintai Nina, dan bayi kamu?"
Deg.
Seketika, Satya membuang muka.
__ADS_1
Bayi kamu?
Bayi? Mendengar kata itu saja sudah membuat hati Satya kembali merasakan sakit penuh sesal. Dia sudah menelantarkan bayi-nya. Satya bahkan sudah mengusir perempuan yang sedang mengandung anaknya.
Dimana Nina sekarang?
"Kamu, mencintai Nina kan?"
Melihat Satya yang tidak menyangkal, membuat Nayla kembali mengulas senyum penuh kelegaan. "Lepaskan aku Satya,
kejar, dan cari Nina. Bawa dia kembali ke sisi mu dengan cara yang baik. Jangan membuat mama kamu kembali merasakan kekecewaan."
Seketika, Satya kembali menatap Nayla.
Perempuan yang dulu ia cintai itu benar, Kata-kata nya membuat Satya sadar akan perasaannya saat ini.
"Kamu benar Nay.." Apa saja yang Nayla ucapkan baru saja memang benar. Dan Satya mengakui itu.
Satya mengakui, bahwa perasaan cinta nya kepada Nina perlahan mulai tumbuh.
Subur dan berkembang dengan ganasnya.
Selama ini,
Selama menjalin rumah tangga dengan Nina, banyak kebahagiaan yang Satya rasakan. Meskipun terkadang emosinya masih melonjak naik, tapi,
Nina masih menerimanya dengan baik.
Memberinya maaf berkali-kali dan menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan semestinya.
Satya sangat tahu itu,
hanya saja, dulu ego nya yang tinggi membuat lelaki itu tidak bisa menghargai Nina. Satya terlalu fokus dengan tujuannya membalas semua ucapan Zeko, yang pernah menyakiti hati nya.
Satya tidak benar-benar menginginkan Nayla kembali karena perasaan cintanya, Satya hanya tidak mau kalah dari papa Nayla.
Pak Zeko, yang sudah memaki-nya dengan mengatakan bahwa dia tidak pantas untuk Nayla. Satya benci kata-kata itu.
Karena itu pula,
tekad membawa Nayla kembali ke sisinya semakin besar, meski dengan cara yang tidak benar sekalipun.
Perasaan cinta kepada Nayla tidak Satya ragukan lagi. Mengingat betapa baiknya perempuan itu.
Mengingat kegiatan rutinnya setiap bulan Nayla bersama dua sahabatnya, membuat Satya begitu mengagumi sosok Nayla.
Dan, itu pula yang membuat Satya sangat menghargai Nayla.
Tapi itu dulu,
nyatanya, Satya baru menyadari sekarang.
Nina perlahan berhasil menggeser posisi Nayla yang sudah lama bertahta dihatinya.
Nina?
dimana perempuan itu sekarang.
"Aku minta maaf ya Satya, aku minta maaf harus mengatakan ini.
Aku sudah tidak mencintai kamu lagi. Dan aku juga yakin, dihati mu, perasaan cinta untuk ku juga sudah mulai pudar.
Aku tidak tahu apa yang membuat kamu begitu mempunyai ambisi memiliki ku kembali.
Tapi apapun itu, aku meminta maaf. Mungkin sudah menyakiti kamu, tanpa aku sadari."
Satya mengangguk, lantas dia menjawab ucapan Nayla.
"Gak papa." Berniat meminta maaf juga, Satya meragu. Sebelum akhirnya, dia membulatkan tekat. "Aku juga minta maaf ke kamu,
sebenarnya... kejadian dihotel Nuansa saat itu,"
Perkataannya sengaja Satya hentikan, karena ia mulai ragu untuk mengakui perbuatannya. Satya takut, Nayla gadis baik itu semakin membencinya.
Dan tingkah aneh Satya itu sukses membuat Nayla penasaran. "Kenapa?"
__ADS_1
"Saat di hotel nuansa itu, aku...." Menarik nafasnya dalam, Lantas Satya memejamkan mata.
"Aku sengaja memberi kamu obat perangsang."