Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Ke-egoisan


__ADS_3

"Siapkan dirimu dan mari kita bertarung."


Satya memutus sambungan telefon nya dengan sepihak. Sebuah senyum sinis menyungging di bibirnya. Senyum licik terlihat jelas menghiasi wajah sadisnya.


Di samping lelaki itu ada Maureen yang tengah bergelayut manja pada lengan Satya. Mengabaikan keberadaan Nina diruang tamu apartemen yang tengah menangis sesenggukan.


"Sepenting itu ya Nayla?" Maureen bertanya dengan manja. Ia rapatkan tubuhnya pada Satya.


"Kalau Nayla kembali, lantas mau dikemanakan aku?"


"Emb." Satya membelai tulang rahang perempuan cantik disampingnya. Mendongakkan dagunya lalu mencium lembut bibir Maureen. Perempuan itu sudah setengah telanjang. "Kamu tetap menjadi Maureen ku. Aku membutuhkan tubuhmu Mau. Tubuhmu, yang seksi ini, membuatku candu."


Ah,


sebenarnya Maureen cukup kecewa dengan jawaban Satya. Hanya tubuh.


Iya, hanya tubuh Maureen yang Satya butuhkan. Bukan hati nya.


Sayangnya, Maureen tidak cukup percaya diri mengharap lebih dari ini. Satya berani membayar mahal demi membawanya pulang ke apartemen-nya beberapa hari saja sudah membuat Maureen senang bukan main.


Lebih dari itu, dia sadar diri, pekerjaannya sebagai wanita malam memaksa Maureen mengubur dalam-dalam perasaan cinta nya kepada Satya. Sekalipun belum pernah ia ungkapkan dengan sungguh-sungguh.


"Satya. Aku pusing mendengar istri cengeng mu itu. Bisa kah kau, menyuruhnya diam?" Di dalam kamar yang biasa Nina tempati tidur bersama suaminya, Maureen membelai dada bidang Satya yang telanjang. Wanita itu kecewa dengan jawaban Satya, dan ingin melampiaskannya kepada Nina, istri sah dari lelaki yang sedang ia gauli.


Tak lupa, perempuan itu mengecup bibir Satya dan sampai sesekali tanpa sadar, Satya mengeluarkan erangan. "Tentu Mau, untuk mu apapun itu."


Satya beranjak dari ranjang menghampiri Nina diruang tamu.


Sedikit menekan perut buncitnya, perempuan yang tengah hamil itu duduk di sofa dengan menekuk lututnya, kemudian wajahnya ia sembunyikan diantara lutut itu. Membuat Nina tidak sadar bahwa ada Satya yang sudah berdiri didekatnya.


Jujur, sebenarnya


hati Satya ikut teriris melihat Nina se-menyedihkan itu. Gadis itu, dulu adalah teman baiknya. Teman yang ia kenal karena Nayla.


Bahkan, gadis itu adalah orang yang juga mendukung hubungan Satya dan Nayla.


Tapi, lihatlah sekarang?


Satya bahkan tidak habis pikir, kenapa sekarang ia bisa setega itu kepada Nina? Bagaimanapun, Nina ada disini dan menjadi istrinya adalah juga karena kecerobohannya sendiri.


Sebelum, keegoisan kembali datang, dan menjadikan Satya sebagai lelaki biadab lagi.


"Nin.. hentikan tangisan mu itu.!"


Tangisan Nina seketika berhenti diiringi dengan kepalanya yang mendongak. Kedua bola matanya memerah menatap Satya memohon. Begitupun dengan hidungnya yang juga memerah karena menangis. Wajahnya sembab penuh air mata.


"Jangan cengeng. Buang wajahmu yang menyedihkan itu dari hadapan ku." Mengeram marah, ia paling-kan wajahnya menatap ke sembarang arah. Satya tidak bisa melihat wajah Nina yang seperti itu. Tapi lelaki itu juga tidak bisa memberi simpati.


Nina adalah salah satu penyebab dia kehilangan Nayla. Begitulah jiwa egoisnya berkata.


"Itu tempat tidurku Satya." Melirik kamar yang ditempati Maureen dengan air mata yang jatuh lagi. Meski ia sudah menahannya dengan sekuat hati. "Bisakah kau menyuruhnya pergi dari sini?"

__ADS_1


Satya naik pitam mendengar permintaan konyol Nina. "Jangan berlebihan kamu. Kamu pikir membawanya sampai sini mudah? Asal kamu tau ya, aku harus membayar mahal agar Maureen bisa ku bawa kesini. Bukan seperti kamu yang bisa aku bawa kesini dengan mudah."


Sakit.


Seperti dikoyak habis dengan belati, Nina berdiri dari posisi semula dengan hati yang hancur. Rasanya Nina ingin berteriak dengan lantang.


"Aku ini istri sah mu. Bagaimana bisa kamu samakan aku dengan wanita murahan itu?" Sayangnya, Nina enggan membuang tenaganya untuk berteriak. Dia berucap lirih dan penuh penekanan.


Plaak. !


Tamparan keras mendarat diwajahnya, sampai sudut bibir perempuan itu berdarah.


Sakit bekas ditampar belum ada apa-apa nya, dibanding sakit hati yang ia rasakan.


"Jaga bicara mu ya Nin. Aku bisa membunuhmu kalau sampai Maureen marah karena mendengar perkataan mu itu"


Nina seka ujung bibirnya dengan ibu jari. Menghapus darah itu dengan kasar.


Sebelum bibirnya menyeringai putus asa. "Tapi itu kenyataannya."


"DIAM !"


Pelototan mata Satya yang terasa menikam, ia abaikan. Nafas lelaki itu sama naik turunnya dengan nafas Nina. Sama-sama menahan amarah.


"Kalau kamu masih mau menangis, keluar saja dari apartemen ku."


Oh,


"Setidak berharga itu ya, aku di mata kamu." Lagi-lagi air matanya mengalir dengan deras, tanpa permisi yang ia setujui.


Oke,


seakan masih ada sisa kekuatan, tidak masalah jika Satya benar-benar tidak menganggapnya ada. Tapi...


"Apa, setidak berharga itu juga, anak kamu yang sedang aku kandung? Apa tidak apa-apa jika aku membawanya pergi? Bahkan, apa tidak apa-apa juga kalau sampai aku menggugurkannya?"


Sudut hati Satya mencelos. Ada perasaan marah dan tidak rela saat Nina melayangkan pertanyaan itu.


Benar, Satya tidak rela kehilangan bayi nya. Sebagai seorang ayah, ada sebagian sudut di hatinya yang merasakan sayang kepada bayi itu.


Melihat raut wajah Satya yang gusar karena pertanyaannya, membuat Nina sedikit berharap masih ada sisa hati untuk janin itu dari ayah kandungnya.


Ayo, katakan kalau kamu tidak mau kehilangan anak kita. Katakan Satya .


Sekali saja. Tolong katakan


Dan aku akan bertahan di sampingmu, apapun yang terjadi.


"Satya..." Tiba-tiba Maureen menghampiri lelaki itu, "Aku pusing, bisakah kau menyuruh istrimu itu pergi saja dari sini?"


Wanita itu kembali bergelayut manja di lengan Satya, dan juga, mencium sekilas pipi kiri Satya sambil melirik sinis kearah Nina.

__ADS_1


Ciuman Maureen membuat Satya lupa diri. Jiwa brandal nya kembali datang mengalahkan rasa simpati yang tadi sempat hadir. "Kau dengar Nin, aku hanya menyuruhmu diam. Tapi kau terlalu banyak bicara. Jadi jangan salahkan aku. Sekarang,


Keluar dari apartemen ku.!"


Dengan sekuat hati, Nina tak bergerak sedikitpun. "Jawab dulu, apa tidak apa-apa jika aku menggugurkan bayi ini?"


"Terserah. Bukannya dulu aku sudah menyuruhmu untuk menggugurkannya? Kamu saja yang terlalu berharap lebih. Kamu yang keras kepala."


Habis sudah kekuatan dihati Nina. "Satya, andai saja ada rasa sayang dihati kamu untuk anak ini. Andaikan sedikit saja rasa sayang itu ada, aku pasti akan bertahan disisi mu sesakit apapun itu. Andai saja Sat.."


Tanpa bertanya lagi, dan tanpa ingin mendengar apapun lagi, Nina masuk kedalam kamar dengan air mata yang mengalir deras. Mengambil tas kecil yang perlu ia bawa.


Ia akan pergi, meninggalkan Satya untuk selama-lama nya. Andai saja, ada rasa sayang dihati Satya untuk anak yang ia kandung, Nina pasti memilih bertahan. Sesakit apapun ia akan bertahan meski rasa sayang dihati Satya untuk anaknya hanya secuil jari kelingking.


"Aku pergi..." Pamit Nina didepan Satya dan Maureen sebelum ia benar-benar membuka pintu. "Nikmatilah waktu mu dengan wanita murahan ini."


"Apa kamu bilang?" Maureen marah. Merasa tidak terima dengan ucapan Nina meskipun ada sebagian hatinya yang membenarkan.


"Satyaaa.." Perempuan itu merajuk. Mencari pembelaan kepada lelaki yang sedang ia kuasai itu dengan menghentak-hentakkan kakinya.


"Ninaa.. PERGI !" Perintah Satya memohon. Perasaannya antara malas dengan perdebatan dua perempuan itu, dan takut kalau ia lepas kendali lalu menyakiti Nina lebih dari ini.


"Dia memang murahan." Ucap Nina tanpa takut.


Plak.. Lagi-lagi Satya menamparnya. Tapi Nina tidak gentar. Harga dirinya sudah habis didepan Maureen saat Satya menyuruhnya pergi. Jadi tidak ada harga diri yang harus ia pertahankan lagi. "Terimakasih untuk tamparan ini Satya. Dan satu lagi,


Sekarang, aku bersyukur.


Nayla, perempuan yang aku anggap adik itu, tidak jadi menikah dengan kamu. Sehingga dia juga tidak perlu merasakan semua ini."


Emosi dihati Satya kian memuncak mendengar ucapan Nina itu. Berani-berani nya Nina mengatakan itu.


"Kita sama-sama tahu kan, sebaik apa Nayla. Dan aku rasa,


kamu tidak pantas mendapatkan perempuan sebaik Nayla."


Plaak. Tamparan ketiga.


"PERGI !"


Satya seret tangan Nina keluar dari apartemennya dengan kasar. Setelah Nina keluar, ia banting pintu apartemen itu dengan keras.


Meninggalkan Nina yang berdiri mematung didepan pintu.


*****


Hay guys...


mau nggak sih, aku update cepet? kalau mau, bisa minta tolong nggak, jangan pelit like yaa...


karena like kalian itu semangat ku ❣️

__ADS_1


Dan Terimakasih yang masih setia teruss sama novel ini, love banget aku tuh sama kalian 😘


__ADS_2