Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Berdarah


__ADS_3

Ssiiiiiitttttt.... braaakkkkkk


Suara decitan rem mobil yang sangat keras mengalihkan pemandangan semua orang ditaman bermain milik sekolahan itu.


Siang yang sangat terik itu, mereka melihat pemandangan yang mengenaskan dengan mata terbelalak dan mulut menganga.


Seorang bocah terbaring tak berdaya ditengah jalan dengan darah yang terus mengalir dari ujung kepalanya. Matanya terpejam hanya sesekali tangannya yang masih sedikit bergerak. Bajunya penuh noda merah. Seketika tubuhnya tampak pucat membiru seperti tanpa darah.


"Nauraaaa...."


Reyhan berlari dari ujung pintu gerbang sekolah dengan tubuh yang gemetar menghampiri bocah kecil itu. Air mata nya lolos membahasi pipinya yang meremang tatkala tangannya meraih gadis kecilnya yang tergeletak lemas tak berdaya.


Tak peduli dengan kerumunan orang yang merasa iba, Reyhan memeluk erat bocah itu. Mendekapnya dengan penuh perasaan bersalah.


"Om.. Rey.... Na..U..ra.. akan... ber..temu.. Mama.. dan Papa ya..." Naura berucap dengan pelan. Tersenyum manis kearah Reyhan sebelum akhirnya dia menutup rapat kedua bola matanya.


Bagai belati tak terlihat, perasaan Reyhan ikut tergores dengan apa yang dilihatnya.


"Nauraa.... kuat sayaang"


Perasaan iba memenuhi hati Reyhan membuatnya kembali meluncurkan air matanya. Dengan penuh rasa kasih sayang Reyhan mencium puncak kepala Naura yang sudah penuh dengan darah.


"Tolong.. panggilkan ambulan.." Titahnya pada kerumunan orang disana.


Tangannya mengusap kasar air mata yang jatuh tanpa disuruh. Betapa malang nasip bocah kecil ini? Baru beberapa tahun dia sembuh dari trauma nya, kini dia mengalami lagi sesuatu yang membuat jiwanya terguncang.


Baru saja kehidupan dan senyum manisnya tertata rapi, kini dia harus mengalami sesuatu yang membuat ingatan kesedihan terkuak kembali.


Pikirannya kacau. Menembus jauh kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dengan gadis kecilnya. Otaknya tidak bisa berfikir dengan baik sekarang. Hanya tangisan dan penyesalan yang ada didalam dirinya.


Reyhan, seorang laki-laki kuat dalam menantang dunia, tapi lemah dengan kesunyian hidup bocah-bocah tak berdosa.


Perasaannya semakin gelisah ketika sadar sesuatu yang ditunggunya tak kunjung datang. Reyhan berdiri, Menggendong tubuh Naura dengan sangat hati hati.


Dia akan berlari... Yaa, dia akan berlari mencari pertolongan terdekat.


Namun niatnya diurungkan ketika ada seseorang menepuk pundak Reyhan pelan.


"Bawa masuk ke mobilku.. cepat."


Reyhan menoleh kebelakang. Dilihatnya sekilas laki laki yang sudah cukup berumur itu. Berbaju rapi dan setelan jas warna hitam senada dengan dasinya. Yang wajahnya, tidak asing lagi.


"Ayoo cepatt..." Bentaknya lagi seraya berjalan kearah mobil warna hitam yang mewah tersebut.


Reyhan mematung duduk dikursi penumpang. Tangannya masih mendekap erat tubuh gadis kecil yang tak sadarkan diri itu.


Bibirnya tak mampu berkata-kata lagi. Bahkan sekedar bertanya pada malaikan penolongnya yang tak lain pemilik tumpangan ini. Matanya menatap kosong kearah jendela.


Tapi air matanya masih saja jatuh menetes menggambarkan perasaannya saat ini.


Padahal sudah banyak kali tanggannya yang kekar mengusap pipinya sendiri dengan kasar.


Reyhan tidak ingin terlihat lemah. Tapi mau bagaimana lagi, perasaannya memang mudah tersentuh apalagi dengan keadaan bocah kecil yang rapuh tanpa kehadiran orang tua yang utuh.


Mobil berhenti tepat didepan pintu masuk rumah sakit ternama dikotanya.

__ADS_1


Para dokter sudah menunggu kedatangan salah satu orang pemilik saham terbanyak dirumah sakit tempat mereka bekerja setelah menerima telfon dari atasannya itu.


Pintu dibuka,


Reyhan segera membawa lari Naura masuk ke ruang Unit Gawat Darurat. Tak peduli sudah ada suster dan ranjang dorongnya yang siap membawa Naura


"Tolong.. selamat kan dia Dok..."


Ucap Reyhan dengan mulut bergetar. Menatap penuh harap manik mata seorang perempuan yang memakai blezert warna putih tersebut sebelum dia berjalan masuk keruangan dimana Naura terbaring lemah tak berdaya disana.


Reyhan membalikkan badannya. Menoleh kepada seorang laki-laki yang nenjadi malaikat penyelamatnya hari ini.


"Terimakasih pak..."


Ucap reyhan tulus. "Suatu saat, saya pasti akan membalas kebaikkanmu.."


Lelaki itu tersenyum melihat ketulusan yang terpancar dari raut muka Reyhan.


"Panggil saja aku om Zeko." Katanya sambil menepuk pundak reyhan lembut.


"Kebetulan, aku mau menjenguk temanku dirumah sakit ini juga. Bersabarlah..."


Detik berikutnya, Reyhan hanya duduk pasrah dengan muka merahnya dan memandang Om Zeko yang melenggang pergi.


Tadi di lain tempat,


Hasan sama panikknya. Bocah kecil kesayangannya itu kini terbaring lemah tak berdaya diruang UGD.


Sampai-sampai Hasan mengakhiri kelasnya begitu saja hari ini setelah mendapat telfon dari sahabatnya.


Bagai tertembak pistol, perasaan hasan sakit membayangkan rasa sakit yang dialami bocah kecilnya saat ini. Hanya saja, Hasan masih sanggup menahan air matanya agar tak menetes tanpa diminta.


Langkah kaki nya berjalan cepat masuk rumah sakit menuju ruang UGD. Raut wajah cemas tak dapat lagi disembunyikan walaupun seutas senyum masih setia bersarang dibibirnya tatkala berpapasan dengan orang lain meski tak dikenalnya.


"Han..."


Panggilnya ketika dilihatnya seorang duduk pasrah dikursi samping pintu masuk sebuah ruangan. Hasan jelas mengenali sosok itu.


"Bagaimana Naura?"


Tanya Hasan spontan membuat Reyhan menatap kosong kearahnya.


Bibir Reyhan sudah tidak sanggup lagi berkata.


Dia masih duduk pasrah dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


Namun kepalanya menggeleng sebagai jawaban pertanyaannya.


Hasan memandang lekat sahabat karibnya itu. Bajunya nampak lusuh senada dengan rambutnya yang acak-acakan. Matanya merah berkaca-kaca pertanda sudah banyak butiran bening transparan yang lolos jatuh dari sudut matanya.


Hasan tidak heran lagi.. Memang begitulah Reyhan. Hatinya terlalu lembut dan mudah tersentuh apalagi berhubungan dengan anak-anak asuhnya.


"Aku carikan kamu minum dulu..."


Hasan melenggang pergi. Sekarang cuma itu satu-satunya yang bisa dia lakukan. Setidaknya setelah meminum, Hasan berharap, Reyhan tampak lebih sedikit tenang.

__ADS_1


***


Disuatu bangku disudut taman yang rindang, Nina duduk berhadapan dengan Satya dengan sebotol wine dimeja yang hanya tinggal setengah saja.


Nina memandang iba laki laki yang dulu sempat membuat hatinya bergetar itu. Jauh sebelum dia tau bahwa yang diinginkan Satya adalah Nayla, bukan dirinya.


Dengan bersusah payah, Nina mengubur perasaannya dalam-dalam saat dia tau Nayla menerima pernyataan cinta Satya. Bahkan Nina sudah bertekad, dia akan bahagia melihat Satya bahagia. Lagi pula, bukankah persahabatan jauh lebih penting diatas perasaan cinta?


Akan tampak sangat konyol bukan jika saja persahabatan mereka bertiga hancur hanya karena Satya? Laki laki yang jelas lebih memilih Nayla dari pada dirinya.


Toh dia merasa ini juga bukan salah Nayla. Karena diantara mereka, tidak ada yang benar-benar tahu bahwa Nina sempat menginginkan Satya.


Tapi lihatlah sekarang? Laki laki yang direlakannya bahagia dengan sahabatnya sendiri justru terkulai lemah terlihat frustasi penuh keputus asaan. Tak henti-hentinya dia memandangi Satya penuh rasa khawatir tatkala tangan laki-laki itu terus saja menuang wine ke dalam gelasnya, meneguknya lagi dan lagi, dengan mulut yang sudah tak terkontrol kemana arah bicaranya.


"Apa kau akan seperti ini terus?"


Tanya Nina kesal ketika mendapati Satya semakin mabuk hilang kendali akan dirinya sendiri karena minuman beralkohol itu setelah dia menceritakan semua masalahnya tadi.


Detik ini Nina tau, inilah diri Satya yang sesungguhnya. Seorang begundal pemabuk berat yang sudah rela berubah mati-matian menjadi lebih baik demi membuktikan rasa cintanya pada Nayla, Sahabatnya sendiri.


Kau beruntung sekali Nay.... batinnya.


"Ha ha haa..." Satya tertawa riang. Tetapi bukan rasa senang yang berhasil ditangkap telinga Nina dari Satya.


"Aku sudah kehilangan diaa Nin... kehilangan dia.. haahhaahaa."


Benarkan? itu adalah tawa yang melambangkan putus asa.


Laki laki yang sempat dicintainya itu diambang kehancurannya. Tapi lagi lagi Nina tidak bisa menyalahkan Nayla. Ini murni salah Satya sendiri.


"Sudahh.. aku antar kamu pulang." Nayla merebut gelas berisi minuman haram itu dari tangan Satya.


"Kau masih punya masa depan Satya.." Nina berkata dengan bibir yang bergetar menahan dirinya.


"Jangan kau sakiti dirimu sendiri, Kau ada aku... Aku yang mencintaimu.."Katanya lirih sampai tak ada satu daun telingapun yang mampu menangkap suaranya.


Nina meraih lengan Satya. Menuntunnya berjalan perlahan kearah mobilnya.


Mengambil alih benda pipih dari dalam saku baku Satya.


Berat? Sungguh, Tenaga Nina tak sebanding dengan berat tubuh Satya.


Nafasnya tersenggal-senggal penuh kelegaan tatkala dia berhasil membawa Satya kemobilnya.


Nina mengambil alih kemudi dan perlahan mobil berjalan meninggalkan taman menuju apartemen Satya yang tak jauh dari sini.


Nina memandang fokus kearah jalanan. Telinganya panas mendengar racauan-racauan yang terdengar dari belakang kursi kemudinya.


Sumpah, Nina tidak rela melihat Satya seputus asa ini. Tapi, Siapa yang harus disalahkan kalau kenyataannya ini akibat ulah bodohnya sendiri??


Tak terasa bulir bening ikut mengalir dari sudut manik matanya.


Sampai diapartemen Satya, Nina meminta tolong seorang satpam untuk membantunya membawa Satya masuk sampai ke kamarnya.


Nina membaringkan Satya diatas sofa didalam apartemennya. Membiarkan Satpam yang membantunya tadi pergi setelah mengucapkan kata terimakasih.

__ADS_1


Meninggalkan Nina dan Satya berdua diruang apartemen termasuk mewah ini.


__ADS_2