
Panik.
Bima menghampiri Reyhan dengan wajah panik. Sembari memegang beberapa kertas dan juga laptopnya.
"Kenapa Bim..?" Menyesap minuman hangat, dari teh bercampur krimer dan madu. Reyhan masih tenang. Bijaksana seperti pembawaannya.
"Menurut laporan dari tim pengawas rahasia kita, saham Deka Group sedang dalam kondisi yang buruk pak.." Menyerahkan lembaran laporan. "Nilai sahamnya merosot jatuh,"
Reyhan menghela nafas. Ia sudah memprediksinya. Jauh-jauh hari saat dia diam-diam mulai menyelidiki masalah yang dihadapi sang istri.
Reyhan sudah tahu bakal seperti ini.
"Beberapa pemilik saham berniat melepaskan sahamnya. Bahkan, hampir semuanya." Bima menyalakan laptopnya. Membuka beberapa file dan menunjukkan nya pada Reyhan. "Ini adalah efek dari beredarnya foto ibu Nayla, sedang berada di hotel Nuansa, bersama seorang laki-laki."
Memburu.
Deru nafas Reyhan memburu saat matanya melihat langsung foto itu. Foto Nayla, memakai gaun berwarna biru navy sedang dipeluk seorang lelaki dari belakang.
Didepan pintu masuk sebuah hotel.
Sehingga tulisan Hotel Nuansa terlihat jelas menjadi baground foto itu.
Reyhan tahu, lelaki yang memeluk Nayla itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Satya.
Sebenarnya, foto Nayla tidak akan mempengaruhi citra buruk perusahaan papanya, jika saja latar dimana foto itu di ambil bukan didepan hotel.
Sayangnya, tulisan besar Hotel Nuansa terpampang nyata didalam foto itu, dan di tambah lagi judul berita yang beredar, menggiring opini masyarakat menjadi semakin runyam.
-Putri Semata Wayang, Deka Group tengah dipeluk mesra seorang lelaki didepan hotel Nuansa. Selanjutnya, apa yang terjadi?-
Tangan Reyhan mengepal erat, "Kau ingin bermain-main dengan ku, Satya.."
Gumamnya yang didengar langsung oleh Bima.
Marah. Jelas saja Reyhan marah. Sekalipun, ia tidak tahu atas dasar apa kemarahannya. Apa ia sangat cemburu? Apa Reyhan tidak rela melihat Nayla dipeluk lelaki lain? Atau, karena Reyhan tidak terima sesuatu yang menjadi miliknya disentuh lelaki lain?
Oh, andai saja ia bisa memutar waktu.
Reyhan pasti akan mengambil hati Nayla lebih dulu, sebelum Satya yang mendahuluinya.
Bukan menyesali. Bukan Reyhan tidak bisa menerima masa lalu Nayla. Hanya saja,
kalau dia tahu akan seperti ini kejadiannya, Reyhan lebih memilih mencegahnya. Jika saja, ia memiliki kesempatan.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, memberi suntikan dana dan menghapus berita itu, tapi tidak berpengaruh banyak untuk membantu Deka Group. Mengingat berita itu, sudah sampai di telinga petinggi perusahaan Deka Group"
"Aku tau Bim, Yasudah,
tidak ada jalan lain, ikuti saja permainan pembuat berita itu. Dan lagi, mulai sekarang tolong perketat media sosialnya, batasi semua postingannya."
"Dan satu lagi pak.."
"Apa?"
Bima kembali membuka sebuah file, dan menunjukkannya pada Reyhan.
"Saya rasa, itu adalah sebuah nada ancaman"
__ADS_1
Otak Reyhan berfikir keras saat membaca tulisan-nya. Seakan, sebelumnya ia pernah diberi peringatan oleh seseorang terkait nada ancaman itu.
-Mau tahu video-nya?-
Video.
Video? Seperti pernah mendengarnya. Tapi kapan?
Video.
Oh, Reyhan ingat.
Ia hampir melupakan flashdisk yang Nina berikan, sesaat sebelum pesawatnya lepas landas. Flashdisk yang Nina gadang-gadang bisa mempengaruhi masa depan hubungan pernikahan Reyhan dan Nayla.
Flashdisk itu. Reyhan belum sempat melihatnya. Flashdisk itu, ya, dimana flashdisk itu.?
Itu pasti video yang sama.
Tapi, video apa?
"Sayangnya, kami belum bisa mengetahui video seperti apa yang sedang dijadikan senjata sebagai ancaman ini. Meskipun, opini masyarakat sudah menebak kalau ini adalah video tindak asusila."
"Hubungi pak Bagas. Saya harus kembali ke hotel dulu" Mencari dan menemukan flashdisk itu.
Ya, Reyhan harus mencari dan menemukannya. Dia harus tahu video apa yang dimaksud si Satya, agar ia bisa menentukan langkah yang akan diambil selanjutnya.
"Tapi pak?" Bima menahannya. Saat Reyhan mulai beranjak.
"Apa lagi Bim?" Jengkel.
"Dua puluh menit lagi, meeting bersama Tuan Wong Fai terkait kerjasama kita akan dimulai,"
Reyhan tidak yakin, bisa mengikuti meeting ini dengan lancar dan fokus. Sebelum, ia menemukan solusi dari masalah ini.
Dering ponsel berbunyi. Nama yang tertera membuat Reyhan menarik nafas panjang, guna men-stabilkan emosinya.
Papa Zeko memanggilnya. "Halo pa"
***
Satya menyeringai lebar. Didalam sebuah ruangan kecil dengan dinding bercat hitam, yang entah berada di daerah mana. Hanya ada sebuah ranjang tidur beserta pelengkapnya, dan meja kerja beserta dokumen-dokumen penting didalamnya.
Satya sedang berada di sebuah tempat. Tempatnya melarikan diri. Sebuah tempat rahasia, yang bahkan tak seorang pun mengetahuinya.
Termasuk, Nayla sekalipun.
Ibu jari tangan kanannya menyatu dengan ujung jari telunjuk. Memegang sebuah foto tepat didepan wajahnya. "Salahmu sendiri, sudah menikahkan Nayla dengan lelaki lain."
Seringaian itu semakin lebar, saat ia melirik sekilas ponselnya. Dan sebuah nama yang memang ia tunggu tertera dilayar yang berkedip.
"Halo, Tuan Zeko yang terhormat"
"Kurang ajar ya kamu, Satya!" Suara geraman yang memekik telinganya, mampu membuat Satya menjauhkan ponsel sambil menyipitkan mata.
"Berani-beraninya kamu mengusik keluarga saya." Bahkan, dalam jangka yang jauhpun, suara lelaki paruh baya dibalik seberang ponselnya itu, masih sanggup Satya dengar.
Betapa Satya sangat senang mendengar nada frustasi yang terselip disuara itu. "Hahaha"
__ADS_1
Keberhasilan dari rencananya, sudah tercium.
"Tarik berita tak bermutu itu. Atau kamu sendiri yang menanggung resikonya." Ancamnya yang semakin membuat Satya tertantang melawan.
"Kamu pikir, semudah itukah Tuan Zeko?"
"Apa mau mu ha?" Teriakan lagi yang Satya dengar.
"Oh my God, kecilkan suara mu itu." Satya menjeda kalimatnya, sebelum ia melanjutkan. "Ingat, umurmu sudah tua, bagaimana bisa kau berteriak-teriak seperti itu."
"Benar-benar, kurang ajar kamu, Satya!"
Satya semakin senang mendengar suara Zeko, yang kalah telak. "Itu benar Tuan, aku menjadi kurang ajar sejak kau berani memisahkan aku dengan putri kesayanganmu. Aku memang manusia yang kurang ajar."
Pak Zeko menggeram marah. "Apa mau mu?" Suara rendah, tapi penuh penekanan.
"Apa tuan Zeko benar-benar ingin tahu? Oke baiklah, aku punya penawaran spesial. Bagaimana jika, nama baik perusahaan mu, kamu tukar dengan Nayla?"
"Apa maksudmu?"
"Berikan Nayla kepada saya, dan perusahaanmu akan kembali bersih." Senyum licik tersungging di bibir Satya.
"Jangan mimpi, Satyaa..."
Dan senyuman licik itu, kian melebar. "Terserah, aku tidak peduli. Aku kehilangan Nayla, dan kamu akan kehilangan perusahaanmu. Kita impas, Tuan.."
"Satyaaa..." Berteriak lagi, marah.
"Maaf Tuan Zeko, aku tidak punya waktu meladenimu. Pikirkan baik-baik, jika kamu menyetujuinya."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Satya mematikan panggilan itu sepihak. Ia sangat puas.
Mampu menggoncang Deka Group, yang selama ini menjadi kebanggaan dari lelaki bernama Zeko.
Satya bersumpah, ia tidak akan melepaskan Zeko dan keluarganya berbahagia dengan mudah. Setelah dengan tega, membuat Nayla meninggalkannya.
Sementara,
Dengan amarah yang masih memuncak, Zeko dibuat pening dengan banyaknya pemegang saham yang berniat ingin melepaskan sahamnya. Tubuhnya, tiba-tiba terasa lemas.
Dengan dibantu Dendi sang sekretaris, Zeko kembali duduk dikursi kebesarannya.
"Minum dulu Tuan.."
"Terimakasih Den, tolong, tinggalkan aku sendiri disini. Aku tidak apa-apa.."
"Baik." Kemudian sekretarisnya pergi. Meninggalkan ruangan sang direktur utama.
Lelaki paruh baya itu kembali tidak percaya, bagaimana mungkin Nayla seperti itu? Sungguh, Zeko sangat tidak percaya dengan opini yang digiring Satya demi menjatuhkan citra baik perusahaannya.
Zeko kembali meneguk air putih ditangannya, sampai habis tak bersisa.
Setelah hatinya cukup tenang, Zeko kembali mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Dia harus menghubungi Nayla. Dan memastikan kebenaran foto itu dari mulut putrinya sendiri.
Dahinya berkerut, saat panggilan pertama tidak tersambung. Lantas, tanpa putus asa,
lelaki itu kembali memanggil melalui ponsel, dan sampai beberapa kali masih saja tidak tersambung.
__ADS_1
Kepalanya semakin pening, sesaat sebelum nama Reyhan terlintas dipikirannya. Ya, dia kembali menyalakan ponsel, mencari kontak menantunya.
"Halo, pa"