Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Mobil Baru


__ADS_3

Nayla keluar dari ruangan dosennya dengan muka kusut setelah mendengar omelan dosen galaknya.


Bersahabat dikit kek.. ya Tuhan, sial banget dapat Dosen PA model begitu.


Jangan mentang-mentang kamu istrinya Reyhan, jadi seenaknya ya Nay...


Bedakan antara dikampus sama dirumah...


Cihh.. kaku sekali kan dia. Dah lah, yang penting sekarang semua sudah berhasil Nayla lewati. Minta maaf ke dosen galak itu sudah sukses. Ah leganya...


Nayla berjalan santai keluar kampus. Sudah tidak sabar bertemu suaminya yang menyebalkan itu. Tapi apa Reyhan sudah pulang ya?


Baiklah, ku telfon saja dia....


Suara batin Nayla sambil tangannya merogoh saku mengambil gawai.


"Astagaa, aku lupa kalau ada janji sama Satya.."


Nayla bergumam sambil menepok jidatnya sendiri mendapati satu pesan singkat dari Satya yang menyatakan bahwa dia masih menunggu Nayla diparkiran.


Mau tidak mau, Nayla putar balik menuju parkiran. Harus melewati jalan yang lumayan jauh sih mengingat kampusnya yang memiliki area besar dan luas. Tapi tidak masalah kok, Nayla sudah memikirkan rencananya matang-matang. Kalaupun hari ini belum berhasil, Nayla sudah punya rencana cadangan untuk membuat Satya bertanggung jawab.


Mau tau rencanya? Rahasia dong...


Tapi ingat, Satya tidak bisa di paksa ya!


"Satya... sudah nunggu lama ya?"


"Gak papa kok Nay... yuk masuk mobil ku dulu?"


Satya membuka pintu mobilnya mempersilahkan Nayla masuk disamping kursi kemudi.


"Mau kemana?" Tanya Nayla ragu.


"Satya, eee bisa nggak kita ngobrolnya disini saja?


"Kenapa? kamu takut Nay sama aku?" Tanya Satya menelisik.


Nayla ragu untuk masuk mobil dan mengikuti Satya membawanya pergi bersama atau mengurungkan niatnya. Entah, sejak kapan Nayla jadi punya perasaan takut begini sama Satya? Padahal Satya tidak mungkin secara sengaja akan bersikap macam-macam pada dirinya. Dan Nayla tahu itu.


Tapi keadaannya kan sudah berbeda? ya Kan? Nayla sudah menikah sekarang. Bagaimana kalau Reyhan tau?


"Nay, percaya sama aku kali ini saja... Aku gak bakal ngecewain kamu kali ini..." Pinta Satya tulus.


"Baiklah..."


Nayla masuk kemobil. Duduk disamping kemudi yang dikendalikan laki-laki itu. Matanya menatap keluar jendela. Mengingatkan Nayla saat dulu.


Hampir setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama sepulang kuliah.


Entah nonton film, cari makan, atau sekedar nongkrong dikafe bareng temen-temennya. Sampai tak terasa, mereka sudah sampai ditempat yang dituju.


Sudahlah, lupakan. Semua sudah selesai.


"Aku cuma mengajakmu makan, jangan murung begitu dong Nay...


aku tahu kamu pasti merasa gak enak kan sama Nina? aku yakin dia pasti mengerti kok..."


Ucap Satya sambil membuka buku menu ketika melihat Nayla tampak tidak bersemangat.


"Kamu mau makan apa?"


"Terserah kamu aja deh Sat... Oiyaa, jadi gimana?" Tanya Nayla to the point.


"Aku bakal tanggungjawab sama Nina, tapi...."


Satya sengaja menggantungkan ucapannya, sengaja membuat Nayla penasaran.


"Tapi apa?"


"Kamu tahu kan Nay, yang aku cintai itu kamu.... Aku sama sekali gak pernah mencintai Nina. Dan kamu juga harus tahu Nay, seandainya aku menikahi Nina, itu pun juga karena kamu."


Masa bodoh sama alasan yang mendasari kamu Satya, maaf


Tapi aku ingin kamu bertanggungjawab sama sahabat yang sudah ku anggap seperti kakak sendiri.


"Jadi intinya, kamu mau kan nikahin Nina kan?"

__ADS_1


"Sesuai permintaanmu Nay, tapi dengan satu syarat..."


Nayla mengkerutkan dahinya sampai membentuk lipatan.


Mencoba menenangkan diri. Sabar, menghadapi Satya memang harus seperti ini. Menambah stok sabar sampai batas maksimal. Bayangkan,


Dia yang harus bertanggungjawab, kenapa harus menunggu Nayla membujuknya sih? Dan, apa itu syarat? Memang dia masih pantas ya memberi syarat, padahal, ini kan memang tanggung jawabnya, iya kan?


"Syarat? Apa?"


Mencoba menampilkan senyum yang terlihat sangat tulus, padahal dalam hati


Nayla sudah sangat jengkel menghadapi Satya.


"Berjanjilah, kau akan menungguku sampai anak itu lahir. Aku juga berjanji, akan kembali kepadamu Nayla....


Aku akan langsung menceraikan Nina, sebulan setelah anak itu lahir. Dan kita akan menikah"


Nayla mendelik tak percaya.


Apa? sudah gila ya Satya?


Memang siapa yang ingin kembali kepadanya sih? Apa tampang Nayla terlihat setega itu menghianati Nina sahabatnya? Lagian sampai kapan pun, Papa Nayla juga tidak akan merestui hubungan mereka kan,? terlebih Nayla kan sudah menikah, bahkan dengan laki-laki pilihan papanya sendiri"


"Bukankah kamu bilang akan melakukan apapun agar aku menikahi Nina? Kalau kamu tidak mau, kita bisa batalkan rencana itu Nay...."


Kita? kamu aja kali.... huh Sabaaaar


Nayla menarik nafasnya dalam setelah bergelut dengan hatinya sendiri. Perang batin ternyata menguras emosi juga ya?


Ingat Nayla, Satya bukan laki-laki yang bisa dengan mudah dipaksa. Ya beginilah menghadapi Satya, dengan memberi penawaran adalah cara yang tepat.


"Baiklahh.. memang apalagi yang bisa aku lakukan Satya, untuk sekarang,


bagiku yang paling penting adalah masa depan Nina..."


Jawab Nayla pasrah.


Obrolan terhenti saat makanan datang. Nayla dan Satya menghabiskan makanan mereka masing-masing dengan lahap.


Sesaat, nafas yang Nayla hirup terasa sangat sesak. Seperti ikut mencekik dalam setiap tarikan yang dia lakukan.


Perasaan kalut menghampiri relung jiwanya. Padahal Nayla sendiri tidak tahu menahu apa yang mendasari kegelisahannya.


Sambil mondar-mandir dibelakang pintu kamar, sesekali matanya melirik pada jam diujung dinding. Rasa cemas mampu mengusik ketenangan hatinya tatkala hari sudah malam dan suaminya entah kemana tanpa kabar.


Kok Reyhan belum pulang sih..!


Nayla mengambil gawai dari saku celananya. Sekali lagi, berharap suaminya mau mengangkat panggilan yang entah sudah keberapa kalinya. Tapi nihil, Reyhan tetap tidak menjawabnya.


Seketika air matanya meleleh tanpa bisa dicegah. Perasaan bersalah menghampirinya bersamaan dengan ketakutan yang mengancam hubungannya dengan Reyhan.


Reyhan kemana? Apa dia marah karena aku jalan berdua sama Satya? Tapi kan....Reyhan gak tau


Ahh, kenapa juga aku nangisin Reyhan?


Cekleeekk....


Pintu kamar terbuka dan sosok Reyhan sudah berdiri disana dengan senyum mengembang sempurna.


Nayla yang sedari tadi memang menunggu, langsung memeluk erat suaminya. Menangis tersedu-sedu didalam dekapan sambil menumpahkan ketakutannya.


"Nay, kenapa?"


Reyhan membalas pelukan istrinya dengan satu tangan. Sedangkan tangan lainnya, ia gunakan untuk menutup pintu secara perlahan.


Takut kalau ada yang liat kemesraan mereka, hihi


"Maafin aku ya Rey.. Aku, ngaku salah, karena udah lancang jalan berdua sama,.... sama Satya, tapi kan..."


Sesaat dahi Reyhan berkerut.


"Oh, jadi kamu tadi selingkuh?" Tanya Reyhan santai. Tapi justru membuat Nayla semakin mempererat pelukannya.


"Enggak Rey, sumpah....hikss.. jangan salah paham dulu dong..."


Nayla semakin terisak dalam pelukan suaminya. Sementara Reyhan, terkekeh geli. Ide nakalnya mulai muncul untuk mengerjai Nayla. Tapi perasaan cintanya, seakan tidak tega melihat tuan putri menangis sesegukan.

__ADS_1


Dan dengan kejadian ini pula, Reyhan semakin yakin. Sedikit demi sedikit namanya akan terukir sempurna dihati Nayla.


Tapi tetap saja, meskipun Reyhan senang, dia juga harus mengontrol harapannya agar tidak terlalu tinggi.


Karena, bukankah, kekecewaan tersakit adalah disebabkan karena harapannya sendiri yang terlalu tinggi kan?


"Nay, sayang.... Udah jangan nangis...


Aku maafin kamu"


"Beneran?"


Ucap gadis itu dengan mata berbinar. Mengingatkan Reyhan pada sosok Naura ketika mendapatkan lolipop hasil merampok ditoko sebelah.


"Tapi kamu harus dihukum..."


Reyhan melepas pelukan Nayla kemudian berjalan kearah ranjang. Seringai tipis muncul dibibirnya tanpa bisa dia cegah.


"Sini kamu..."


Nayla menurut. Dia yang memang sudah sedari tadi merasa bersalah, mau tidak mau pasrah saja menerima hukuman dari Reyhan. Yang dia sendiri belum tahu, hukuman seperti apa yang akan dia terima.


Cup


Reyhan mencium sekilas bibir Nayla. Menyibakkan beberapa helai rambut yang menutup sebagian wajahnya.


"Sebelum menerima hukumanmu, aku ingin membuatmu senang terlebih dahulu. Karena mungkin, hukuman ini menyakitkan..."


"Rey, katanya sudah memaafkan.."


Wajah Nayla pucat pasi. Dia yang notabene nya belum mengenal seluk beluk Reyhan sepenuhnya malah memikirkan hal-hal diluar nalar. Seperti KDRT misalnya. Ih, amit-amit


"Aku punya sesuatu untukmu... Taraaa..."


Sebuah kunci mobil yang Nayla tahu milik brand mer**des benz tergantung tepat didepan wajah Nayla. Nayla mengkerutkan dahi bingung. Matanya menyipit seolah mencari keyakiyan tersendiri.


Apa ini? Apa Reyhan membelikan aku mobil? Tapi memang dia punya uang?


"Hey, kenapa bengong.. kamu gak suka ya?"


"Maksudnya apa sih Rey? kamu beli in aku mobil?" Tanya Nayla bingung.


"Boleh aku mengumpat? Dasar bodoh! "


Reyhan menyentil kening Nayla keras. Sukses membuat gadia cantik itu menjerit kesakitan sambil mengusap-usapkan tangannya dikening bekas sentilan Reyhan.


"Sakit tau...!"


"Ya iyalah aku beliin kamu mobil, masak beliin gantungan kunci? Kenapa kau bodoh sekali malam ini? Belum juga menerima hukuman, sudah membuatku jengkel saja...."


Reyhan mengeluarkan semua surat-surat dari dalam tasnya. Surat bukti pembelian, bukti kepemilikan dan lain-lain. Menyerahkan pada Nayla. Nayla semakin tidak percaya, nama dirinya lah yang ada didalam buku kepemilikan itu. Bukan nama Reyhan.


Senyumnya mengembang sempurna meskipun matanya masih memerah.


"Yukkk.. lihat mobilnyaa dulu..."


Reyhan menarik tangan Nayla tanpa aba-aba. Membawa Nayla kehalaman rumahnya.


"Wahhhh..." Ucap Nayla penuh kekaguman.


Sebuah mobil keluaran terbaru Mer**des Benz, CLS-Class berwarna merah terparkir disamping mobil lamanya. Membuat Nayla senang bukan kepalang. Terlebih mobil impian Nayla sejak dulu adalah dari brand itu.


"Kamu suka?" Tanya Reyhan singkat.


"Sukaa.. Reyhan, terimakasih..."


"Harganya mahal, jadi kamu harus menebusnya mahal pula...."


Ya yaa, Nayla tidak bodoh. Mobil keluaran terbaru yang sedang terparkir dihalaman rumahnya itu harganya hampir dua milyar. Bayangkan... Nayla memang anak orang kaya, tapi bahkan harga mobil milik papa nya tidak sampai semahal itu, apalagi mobil lama miliknya.


Tapi Reyhan dapat uang dari mana?


"Terimakasih...."


Cup.. cup.. cup...


Nayla mencium beberapa kali diarea wajah Reyhan. Untung saja, Papa dan Mama sudah tidur.

__ADS_1


__ADS_2