Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Sama-sama Berjuang


__ADS_3

Sudah lebih dari satu jam.


Sudah berpuluh-puluh kali, Linda mengusapkan minyak kayu putih dileher Nayla.


Tapi Nayla tak kunjung sadar.


Linda merasa iba, dan juga khawatir. Tapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain membantu Nayla kembali sadarkan diri dengan memberi pijatan kecil di pelipis boss perempuannya.


Waktu hampir menunjukkan pukul sepuluh malam.


Perlahan, Nayla membuka matanya, membuat Linda bernafas lega.


"Ibu sudah sadar?" Diambilnya teh hangat yang sudah ia siapkan diatas meja. "Minum dulu bu? perlu ke rumah sakit?"


Nayla menggeleng. Dia menerima teh hangat itu, dan berusaha meminumnya.


"Ponsel ku, dimana Lin?" Suaranya bergetar. Terlihat jelas bahwa ia sedang ketakutan.


"Ada, itu.." Linda menunjuk pada meja nakas,


"Tolong ambilkan.." Ucapnya pelan. Wajahnya meremang merah, menahan tangisnya. "Dan, tolong tinggalkan aku sendiri Lin.."


Menyerahkan ponsel kepada Nayla, Linda merasa cemas sesuatu akan terjadi lagi pada perempuan itu. "Tapi bu,.."


"Tidak apa-apa Lin.." Nayla menangis. "Aku baik-baik saja.."


"Baik. Selamat malam bu"


Linda keluar, meninggalkan Nayla sendiri di dalam kamarnya.


Hal yang akan Linda lakukan adalah, memberi tahu semua ini kepada Reyhan.


Linda berharap, ada titik terang ia harus melakukan apa.


Atau setidaknya, jika terjadi sesuatu lagi pada Nayla, minimal Linda sudah memberi tahu dulu kepada Reyhan. Sebagai bentuk pertanggung jawabannya.


Sementara,


Nayla tergugu. Dipandanginya ponsel yang ia genggam kuat. Apa yang harus ia lakukan, Nayla juga belum tahu.


Ditengah rasa paniknya, ia memberanikan diri untuk kembali membuka pesan dari Satya.


banyak panggilan masuk dari lelaki itu yang tidak terjawab, dan satu pesan yang cukup memporak-porandakan seutas ketenangan yang mati-mati an Nayla bangun.


Jangan bermain-main dengan ku Nay.


Sebagai seseorang yang mengenal siapa Satya, Nayla tahu laki-laki itu tidak sedang bercanda. Apalagi, hanya menggertaknya saja.


Maka,


sekarang Nayla putuskan untuk segera menghubungi Satya.


"Sayang. Kamu menghubungiku akhirnya". Begitu suara pertama yang Nayla dengar.


Aku kangen Nay.


Lama Nayla diam. Keduanya saling diam.


Nayla larut dalam tangisnya. Ia tidak menyangka Satya akan melakukan ini kepadanya.


Dulu,


Satya bahkan tidak membiarkan Nayla dalam posisi yang sulit. Jangan kan membuat Nayla menangis,


Satya benar-benar menjaga air mata Nayla agar setetes pun tidak jatuh sia-sia.


Tapi sekarang?


Semua air mata yang jatuh, lelaki itu lah penyebabnya.


Nayla tidak sanggup membayangkan,


bagaimana kalau sampai Reyhan melihat video itu? Gambar setengah telanjang yang Satya kirimkan kepadanya saja sebegitu menjijikkan bagi Nayla.


Bagaimana dengan Reyhan?

__ADS_1


Pernikahan yang ia bangun. Rumah tangga yang awalnya tidak mudah. Hubungannya dengan Reyhan, yang tidak Nayla sangka akan seindah ini.


Bisakah Nayla kehilangan semuanya begitu saja?


"Jangan." Hiks... terisak karena ketakutan, sampai bibirnya kaku mengatakan kata lain selain itu. "To-tolong jangan" Nayla memohon.


Berharap Satya masih memiliki sedikit saja rasa simpati kepadanya.


"Keadaannya sudah berbeda Satya. Aku dan kamu.


kita hanya masa lalu, yang tidak mungkin bisa merajut cerita bersama-sama lagi. Jadi berhentilah.


Aku mohon.


Berhenti menggangguku, berhenti terobsesi kepadaku.


Tolong, berhentilah.."


"Kalau begitu, kembalilah. Temui aku!"


Jawaban penuh penekanan yang Nayla dengar. Membuat nyalinya menciut seketika.


"Ak-aku..."


"Temui aku. Aku akan menghapus videonya didepan mu. Atau, aku akan menyebarkannya?"


"Aku, tidak bisa menemuimu, Satya." Masih sambil menangis, dan dengan suara bergetar. "Tolong, jangan sampai Reyhan tahu, aku mohon."


"Aku hanya memintamu menemuiku. Lalu kembali kepadaku. Kenapa sulit sekali"


Satya tertawa sinis, dan Nayla bisa mendengarnya meskipun samar-samar. Disana, sebenarnya Satya sangat menyadari bahwa Reyhan sudah berhasil menggeser posisinya dihati Nayla. Maka,


selanjutnya yang Satya lakukan adalah mengancam Nayla dengan dalih, Reyhan.


"Aku tunggu sampai besok malam. Masih hafal apartemen ku kan?


Kamu pulang, temui aku di apartemen.! atau Reyhan adalah orang pertama yang akan kuberi tahu."


"Aku tidak bisa, Kenapa kamu tidak mengerti juga..."


Sambungan telefon dimatikan saat mulut Nayla sedang menganga untuk memohon sekali lagi.


Tapi sepertinya,


Satya tidak memberi kan kesempatan itu.


Jantungnya berdegub kencang, dengan tubuh yang bergetar hebat.


Diacak-acak rambutnya, dan pusing dikepala kembali datang. Apalagi, mendadak perutnya ikut kram.


Hanya sampai besok malam.


Oh, apakah Nayla harus kembali ke Indonesia saat ini juga?


Diraihnya teh hangat yang tadi Linda berikan, pelan-pelan ia minum kembali. Agar rasa pusing dan kram diperut sedikit mereda.


Setelahnya dengan langkah gontai,


Nayla menuju almari,


Membuka kopernya dan memasukkan bajunya kedalam koper itu.


Sudah, tidak ada waktu lagi untuk berfikir.!


Bergerak cepat dan seperti terburu-buru, hingga Nayla memasukkan bajunya sembarangan dan sangat berantakan.


Perempuan itu sudah tidak peduli lagi dengan etika kerapian yang selama ini ia terapkan. Tidak ada waktu lagi,


sebelum Linda tau dan melaporkannya pada Reyhan, maka kopernya harus siap.


Jalannya buntu, tidak ada ketenangan lagi yang Nayla dapatkan.


Difikirannya,


ia harus segera pulang. Menemui Satya, dan menyelesaikan masalah nya sendiri tanpa melibatkan Reyhan.

__ADS_1


Reyhan tidak boleh tahu soal video itu.


Bukan Nayla egois. Bukan Nayla sengaja ingin menyembunyikannya. Tapi,


Perasaan Reyhan lebih penting.! Dan bagi Nayla, termasuk harga mati.


Perempuan itu,


sambil memasukkan bajunya ke koper, ia juga sedang membalikkan keadaan.


Bagiamana jika, Nayla yang melihat video Reyhan dengan wanita lain?


Bagaimana kalau, Reyhan yang menjadi pemeran dalam videonya? Oh,


Nayla tidak akan sanggup. Dia sama sekali tidak bisa membayangkannya. Disisi lain,


Tentu saja ia malu, pada Reyhan suaminya.


"Reyhan," hikss.. "Maaf..." Ucapnya lirih.


Koper sudah selesai Nayla siapkan.


Ia keluar menuju kamar, menghampiri Linda dikamarnya.


Ragu-ragu ia ketuk pintu kamar sang asisten rumah tangga. Hanya berselang dua menit, gadis itu sudah menampakkan dirinya.


"Lin, boleh pinjam ponsel mu kan?" Sedikit kikuk. Takut Linda curiga. "Itu, eh aku mau benerin akun diponsel ku... Mau aku ganti, biar ga ada yang ganggu lagi.."


Linda hanya diam, membuat Nayla sedikit panik. "Aku butuh satu ponsel lagi, untuk autentifikasi. Gak papa ya? Bentar aja..."


Menampilkan wajah sedihnya memohon.


Linda tersenyum tipis, sebelum mengangguk setuju. Ia yang awalnya curiga langsung mempercayai mengingat alasannya yang masuk akal. "Boleh bu, perlu Linda bantuin?" Sambil menyerahkan ponselnya ke Nayla.


"Eh?" Gelagapan. "Nggak. Eng-enggak usah Lin.. aku bisa kok.. Aku bawa ke kamar ya, nanti tak kembalikan.."


"Iya bu, silahkan.."


Nayla melangkah ke lantai atas, dan kembali ke kamarnya. Begitu juga Linda, yang kembali menutup pintu kamarnya tanpa rasa curiga sedikitpun.


Cepat-cepat Nayla kembali ke kamarnya. Membuka ponsel Linda, dan segera ia menyelesaikan urusannya dengan ponsel itu.


Sungguh, tangan perempuan itu bergetar.


Beribu kali ia mengucapkan kata maaf untuk Reyhan dari hati nya.


Ia sadar.


Dan terlampau menyadari, Reyhan lelaki sempurna yang begitu sederhana.


Ia lelaki hangat, penuh kasih sayang dan sangat berwibawa.


Reyhan adalah suami idaman. Nayla sadar itu !


Sedangkan ia, datang kepada lelaki itu dengan segudang kekurangan. Segudang noda hitam yang kelam atas dosa-dosa nya di masa lalu.


Lantas, bagaimana mungkin saat ini Nayla tidak berjuang untuk menjaga perasaan suaminya itu?


Nayla tahu,


diukur dari kebaikan, ia tidak pantas bersanding dengan Reyhan.


Tapi, Nayla ingin berjuang. Ia ingin ikut memperjuangkan Reyhan, selama


Lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu, masih mau mempertahankannya sebagai istri.


Nayla tidak ingin mengecewakan Reyhan lagi. apapun yang terjadi.


Setelah urusannya selesai,


buru-buru ia kembali ke kamar Linda untuk menyerahkan ponsel nya.


dan malam ini,


Nayla terjaga hingga pagi menjelang.

__ADS_1


Memikirkan, keputusannya ke depan.


__ADS_2