
Disini Nayla sekarang. Di depan sebuah gedung kantor yang menjulang tinggi. Sebuah kantor yang membebaskan Nayla keluar masuk tanpa laporan bahkan pemeriksaan terlebih dahulu. Setelah dia memarkirkan mobilnya ditempat para petinggi perusahaan, Nayla berjalan tergesa-gesa untuk segera keruangan direktur utama.
Dari pengamatan Nayla, kantor "Deka Group Compeny" ini terlihat masih sama dari terakhir kali Nayla kesini. Letak beberapa bunga dibagian sudut ruangan, hingga hiasan dinding yang dulu Nayla beli bersama mama dan papanya juga masih tertata rapi ditempatnya. Pun dengan dekorasi interiornya.
Nayla berjalan melewati lobby utama. Semua karyawan mengangguk hormat kepada Tuan Putri satu-satunya pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
"Mbak Sinta, Papa ada kan?" Tanya Nayla menghampiri salah satu karyawan senior yang ada disitu.
"Ada Non, silahkan naik keatas." Jawab karyawan itu seraya berjalan memencetkan tombol lift untuk Nayla.
Nayla tersenyum ramah. "Terimakasih Mbak.."
Jawab nya sambil menutup pintu lift yang membawanya kelantai atas ruangan pribadi sang Papa.
Ting
Pintu terbuka dilantai lima belas. Lantai tertinggi yang hanya berisi ruangan pribadi Direktur Utama dan beberapa sekretarisnya didepan pintu masuk.
Nayla merapikan pakaiannya sebentar. Bagaimanapun Nayla tidak boleh bertemu dengan Sang Papa dalam keadaan yang berantakan seperti ini. Atau Nayla ingin diintrogasi oleh Papanya dengan sedetail mungkin tanpa bisa lolos dengan mudah? Nayla tidak akan membiarkan itu terjadi.
Setelah dirasa yakin dengan penampilannya yang sedikit lebih rapi, Nayla melangkahkan kakinya agar segera bertemu dengan Zeko.
"Haloo mbak Wulan... Apa Papa ada didalam?" Tanya Nayla dengan sopan. Bagaimanapun Nayla harus memastikan dahulu kepada sekretaris apakah di ruangan itu, Papanya sedang sendirian atau sedang bersama klien penting.
Sekretaris perempuan bernama Wulan itu sedikit terkejut melihat Nayla yang tiba-tiba datang ke kantor. "Selamat Sore Nona Nayla...." Sapanya sambil tersenyum.
"Pak Zeko masih ada meeting. Silahkan Nona tunggu diruangannya.."
"Baiklah.. Terimakasih Mbakk..."
Ucap Nayla berlalu pergi memasuki ruangan Pak Zeko. Sesampai didalam, Nayla mendaratkan bokongnya disofa berwarna abu-abu sambil menyenderkan punggungnya kebelakang.
Rasanya, sudah lama Nayla tidak bermain kekantor ini. Ya walaupun keberadaannya dulu hanya mengganggu pekerjaan, tapi kenyataannya Papanya itu masih membuka pintu lebar untuk Nayla.
__ADS_1
Nayla masih ingat dengan dunia kecilnya. Yang penuh kebahagiaan karena mendapat kasih sayang berlimpah dari orang tuanya. Mengingat Nayla adalah anak tunggal.
Meski tidak bisa dipungkiri kalau saat kecil dulu, Nayla juga merasakan kesepian yang teramat dalam saat orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya masing masing.
Hingga Nayla beranjak dewasa, ternyata rasa kesepian itu masih setia menemani hari-hari Nayla. Nayla merasa tidak memiliki teman berbagi dirumah. Kecuali Mama Riana, yang sesekali menyempatkan diri untuk berbincang dengan gadis kecilnya.
Nayla juga merasa jika boneka-boneka mahal yang memenuhi ruangan kamarnya saat itu juga tidak ada gunanya. Mereka tidak bisa berbicara layaknya manusia.
Tapi ternyata, kesepian yang Nayla rasakan dulu jauh lebih baik dari masalah yang menyerang Nayla saat ini.
Menjadi dewasa memang rumit.
Ucap gadis batin Nayla.
Nayla tersenyum hambar menertawai dirinya sendiri. Bayangan Satya menikah dengan Nina besok lusa, dan bayangan Reyhan dengan perempuan cantik direstoran tadi tiba-tiba terputar dengan bergantian secara otomatis didalam pikirannya.
Rasa sesak kembali memenuhi dadanya sekilas.
Apa Nayla tidak pantas mendapatkan satu saja laki-laki yang benar-benar akan selalu ada untuk Nayla?
Lagi-lagi air mata Nayla jatuh begitu saja.
Menjadi kaya memang tidak selalu membuat orang bahagia. Buat apa dikelilingi barang mewah kalau kenyataannya dia hanya merasa hidup sendirian? Buat apa memiliki harta berlimpah kalau ketenangan hati saja tidak tercukupi.?
Semua menjadi sia-sia, jika waktu kebersamaan mereka tersingkirkan begitu saja.
Bunyi pintu dibuka kembali menyadarkan Nayla dari lamunannya. Segera dia menghapus air matanya sebelum siap bertemu orang dibalik pintu.
"Papaa....." Panggil Nayla dengan senyum mengembang di pipi. Sengaja menutupi kesedihannya didepan Pak Zeko.
"Hay sayang, Tumben banget ke kantor Papa?" Tanya Pak Zeko sambil mendekat kearah Nayla, sebelum ikut mendaratkan bokongnya disofa.
"Tunggu, ada apa dengan keningmu Nay? Kenapa bisa memar begini?"
__ADS_1
Nayla meraba keningnya dengan tangannya. Ini yang ditakutkan Nayla sedari tadi. Nayla tidak bisa menutupi memar akibat kecelakaan tadi.
"Ooh... ini. Tadi Nayla kepentok meja Pa waktu makan..." Jawabnya Asal.
Jawaban Nayla membuat kening Pak Zeko mengkerut sempurna.
"Kok bisa? Ya Tuhann Nay, kamu itu sudah gede, bukan anak kecil lagi... Bisa-bisa nya kepentok meja?" Ucap Pak Zeko dengan nada khawatir.
"Sebentar tunggu sini...."
"Eehh Pa.... gak usah Pa.. Nayla gak papa kok.." Kata Nayla meyakinkan.
"Ini juga Nayla mau pulang. Papa tenang dong.. Kan Nayla udah gede Pa..." Nayla nyengir.
"Kamu yakin?"
Nayla menganggukkan kepala membenarkan.
"Oiyaa Pa... sebenarnya, Ada yang mau Nayla tanyakan sama Papa langsung.. Makanya Nayla bela-bela in kesini."
"Apa..?"
Nayla menarik nafas dalam.
"Pa, sebenernya siapa Reyhan? Kenapa bisa Papa begitu percaya padanya?"
Pak Zeko terkekeh sebelum menjawab pertanyaan Nayla.
"Reyhan kan suami kamu Nay... Jelas aja Papa percaya.. Gak salah pilih kan Papa?."
Jawaban Pak Zeko sukses membuat Nayla mendengus kesal. Bukan jawaban seperti itu yang Nayla harapkan.
"Pa, ayolahhh... Nayla perlu tahu" Ucapnya memelas membuat Pak Zeko bingung.
__ADS_1
"Nayla penasaran, alasan apa yang membuat Reyhan menyetujui pernikahannya dengan Nayla?"