
Ketika kau melakukan sesuatu yang mulia dan indah
Tapi tak seorang pun memperhatikan, Jangan bersedih.
Karena matahari pun tampil cantik setiap pagi meski sebagian besar penontonnya masih tidur. John Lennon
***
Hari sudah berganti. Mentari mulai beranjak dari tempat peraduannya.
Sinarnya telah mulai menembus dedaunan dan menerobos masuk kesela-sela gorden kamar Nayla. Membias membentuk sorotan yang indah.
"Selamat Pagi...."
Kelopak mata yang tadi masih menguncup seketika mekar merekah. Dari balik pintu, Reyhan berjalan dengan senyum penuh pesonanya membawa nampan berisi sarapan ditangannya.
Nayla menyecap dalam pandang dengannya.
Pagi yang indah dengan pemandangan yang mengagumkan...
"Selamat Pagi juga Rey, maaf aku terlambat bangun ya?"
Melihat pagi adalah salah satu anugerah yang Tuhan berikan kepada kita. Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita memperbaiki kesalahan-kesalahan hari kemarin di hari ini.
Begitu pula dengan Reyhan.
"Ayo bangun.. Bersihkan dirimu dikamar mandi lalu segera makanlah sarapanmu..
Hari ini aku harus kekampus bertemu dosen pembimbing..."
Reyhan berucap sambil menyiapkan beberapa baju yang semalam sempat dibawanya dari rumah.
__ADS_1
Untung saja, tadi pagi dia sudah minta bantuan perempuan yang dia kenal bi Sri itu untuk menyetrika pakaiannya. Jadi sekarang dia tidak tergesa-gesa.
Nayla diam mematung seakan tidak mengerti. Sebelumnya setiap pagi dia sarapan bareng sama Mama dan Papanya dibawah. Tapi hari ini, kenapa Reyhan repot-repot membawanya ke kamar?
Ah sudahlah... Nayla sedang malas berpikir.
Dia segera beranjak kekamar mandi untuk membersihkan diri. Lalu meraih nampan yang terletak dinakas samping tempat tidurnya.
"Rey, kamu gak makan?"
Nayla bertanya sambil duduk disofa kecil dalam kamar. Sedangkan suaminya masih saja sibuk memasukkan laptop dan buku-buku kedalam tas.
"Aku sudah makan tadi dibawah sama Mama dan Papa. Kamu aja yang bangunnya terlambat..."
Reyhan menjawab asal.
"Yaudah sih gak usah marah-marah. Salah sendiri kamu gak bangunin aku..."
Jiwa usil Reyhan terbangun seketika mengetahui tingkah absurd Nayla yang mengira Reyhan sedang marah. Reyhan menyeringai.
"Cihh, istri macam apa kamu ini Nay.. Bukannya melayani suami, malah suami yang melayani istri. Kesan pertama yang buruk.
Lihat saja, selesai ini aku akan menghukummu..."
Percayalah. Reyhan hanya bercanda saja sebenarnya. Reyhan tau siapa wanita yang sudah dia nikahi.
Anak semata wayang dari pengusaha terkenal dikotanya. Tidak heran kalau dia adalah perempuan manja.
Perempuan yang segala sesuatunya dia terima dalam keadaan siap.
"Apa?"
__ADS_1
Nayla mencebikkan bibirnya mendengar kata hukuman yang keluar dari mulut Reyhan.
Sedikit menyesal membenarkan kata-kata sang suami.
Bener juga ya, kenapa Nayla memberi kesan pertama yang buruk begini sih?
Ya Ampun.. suaminya itu benar-benar ada ada sajaa...
Kenapa juga dia mengatakan akan menghukum Nayla.
Memangnya terlambat bangun merupakan kesalahan yang besar ya?
Reyhan sudah selesai bersiap. Dia menghampiri dan duduk disebelah Nayla yang hampir menghabiskan sarapannya. Tinggal beberapa gigit lagi roti dalam piring itu habis tak bersisa.
"Suapi aku Nay..."
Seketika Nayla mengalihkan pandangannya. Dari Reyhan ke roti yang dia pegang. Lalu menatap Reyhan lagi.
"Aku ambilkan dibawah dulu ya, ini tinggal bekas gigitanku...."
"Tidak perlu, aku memang menginginkan bekasmu..."
Nayla bersemu dengan bibir yang menahan senyumnya. Reyhan begitu sederhana,
Tapi kenapa dia selalu berhasil membuat Nayla bahagia dengan hal-hal yang sederhana seperti itu?
"Kamu yakin?" Nayla bertanya dengan kikuk.
Reyhan tergelak. Tertawa sangat puas. Nayla terbegitu menggemaskan. Mengingatkan Reyhan pada bocah kecilnya.
Naura versi dewasa !
__ADS_1
"Kamu tidak mau? Akan aku gandakan..."