Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Detak Jantung


__ADS_3

***


Hari menjelang siang. Panas matahari mulai terasa teriknya menembus sela-sela gorden sebuah apartemen mewah.


Apartemen yang didominasi dengan warna hitam dan putih yang tidak terlalu luas ini menandakan bahwa pemiliknya seorang laki-laki. Hanya ada satu kamar didalamnya yang disampingnya terdapat kamar mandi lengkap dengan fasilitasnya. Dapur kecil tanpa sekat dan Sofa tamu berwarna abu serta tivi yang lumayan besar akan langsung menyapa saat kita melangkah memasukinya.


Satya mengerjab membuka matanya perlahan. Badannya terasa sangat lemas. Seketika dia berlari kekamar mandi saat merasa perutnya diaduk kencang...


Hueeekkk...


Cairan putih kental keluar dari mulutnya efek mabuknya kemarin. Dia minum terlalu banyak rupanya, sampai dia lupa apa yang terjadi padanya.


Satya melangkah ke dapur mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya.


"Ahh.. kenapa sofa nya berantakan sekali sihh" Gumamnya saat mendapati sofa ruang tamu yang biasanya rapi. Baju dan celana nya berserakan disana. Dia juga baru sadar kalau dia hanya pakai boxer saat ini.


Satya melewati ruang tamu nya begitu saja menuju dapur. Rasa lapar membuatnya berjalan sedikit cepat. Untung ada banyak stok mi instan untuk jaga jaga keadaan darurat seperti ini.


Satya menyalakan alat listrik pemanas air yang memang sudah tersedia disana. Membuka bungkus mie instan itu dengan cepat dan memasakannya hingga matang. Tangannya sudab sangat lihai melakukannya karena itu memang sudah kebiasaanya.


Kriiiinggg.......


Bunyi telfon masuk menyadarkan Satya bahwa dia melupakan ponselnya sejak semalam. Buru buru dia mencari dimana ponselnya.


Ada panggilan masuk dari Nayla..


Haloooo.. Nay, ada apa?


Satya, kamu dimana? sejak kemarin aku mengirimkan pesan kamu tidak membalasnya.


Aku juga sudah menelfonmu berkali-kali. Tapi kau mengabaikannya.


Sekarang aku dikampus nyari in kamu dikantin... kamu juga gak ada?


Satya memijat dahinya. Rasa pusing masih menjalar dikepalanya. Mana apartemennya berantakan banget. Hadehhh, Satya lupa apa yang terjadi. Terakhir dia ingat sedang bersama Nina.


Sebanyak itukah dia minum,? batinnya.


Satyaa?


Suara Nayla diseberang sana menyadarkan Satya dari lamunannya.


Kamu tidak apa-apa kan?


Satya menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Nayla.


Maaf ya Nay, semalem aku sedikit gak enak badan. Trus langsung tidur.


Tadi pagi bangunnya juga kesiangan. Jadi ga berangkat kuliah deh...


Absenn hehe


Kamu sakit? Kamu gak papa kan?


Nanti pulang kuliah aku ke apartemen kamu ya?


Bolehh dong Sayang.. Ada kamu aku pasti cepet sembuh..


Satya menjawab dengan senyum merekah dibibirnya. Nayla perempuan yang amat dicintainya itu, terlihat begitu peduli bukan?


Bukan hanya Nay yang merasa Satya sangat mencintainya, bagitu pula Satya. Semua sikap manis dan manja Nayla membuat Satya merasa dibutuhkan oleh wanitanya itu.

__ADS_1


Yaudah ya, sampai ketemu nanti Satya, aku lega karena ternyata kamu baik baik saja..


Muaaahh


Tut..


Ciuman jarak jauh mengakhiri panggilan telfon mereka. Lagi lagi Nayla tanpa malu menunjukkan kalau dia sangat mencintai Satya. Seolah satya lupa, bahwa dia sudah kehilangan restu dari papa Nayla.


Satya terlarut dalam kebahagiaannya sampai tak terasa sudah mie instan habis dilahapnya.


Sementara itu diwaktu yang sama, Nayla meneguk habis jus jeruk yang tinggal setengahnya. Ditemani Sari yang duduk disamping nya.


Kantin sekolah sangat ramai apalagi jam istirahat seperti ini. Tapi Nayla merasa sepi karena kali ini dia hanya berdua dengan Sari.


"Nina kenapa gak ikut kita kekantin?" Tanya Nayla pada Sari tanpa mengalihkan pandangannya pada ponsel kesayangannya.


Ibu jari nya menyentuh layar menggesekkan naik turun melihat video-video durasi pendek yang muncul di feed instagramnya.


"Katanya tugas yang semalem ku antar kerumahnya itu dia belum selesai.. kelupaan kali..."


Jawab Sari dengan tangan sibuk memasukkan makanan ke mulutnya.


"Maklum, kemaren waktu ku antar kerumah kan ga ketemu langsung sama dia, ketemunya malah sama alma.. "


Nayla tak menjawab. Hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Tatapannya masih asik melihat layar ponsel.


Senyumnya merekah ketika dia tahu followersnya bertambah banyak setelah dia baru saja meng-upload foto dirinya berdandan tipis dengan make up ala ala korea.


Bukan hanya itu, berbagai komentar yang sebagian besar memuji kecantikannya membuat senyumnya kian melebar.


Hari ini tak begitu cerah. Matahari sedikit menurunkan terik sinarnya. Padahal baru jam dua siang tapi seperti menjelang sore saja dikarenakan langit sedang mendung.


Seperti mimik wajah Nina, yang tidak menampakkan raut seperti biasanya.


Nayla, Sari, dan Nina berjalan melewati ruang-ruang kampus menuju gerbang keluar.


"Emang kamu mau kemana Nay, sok sok an dandan lagi..." Celoteh Sari ketika didapatinya Nayla membuka cermin kotak kesayangannya. Padahal mereka bertiga lagi berjalan tapi Nayla masih sempat-sempatnya memoles wajahnya dengan sedikit make up dan tak lupa lipgloss warna merah bata yang tergores tipis dibibirnya.


"Aku mau ke apartemen Satya.. katanya dia lagi gak enak badan.."


Jawab Nayla tanpa menghentikan aktifitas make upnya. Tangannya masih sibuk memegang cermin dan memainkan alat-alatnya dengan lihai.


"Uhuukkkkk uhuukkk..."


"Kenapa Nin?" Tanya Sari saat Nina tiba-tiba tersedak setelah mendengar ucapan Nayla.


"Eh gak papa kok.. aku pengen cepet nyampek rumah trus rebahan. Capek banget rasanya..."


Jawab Nina sedikit kikuk.


Bukan itu alasan sebenarnya. Nina merasa hatinya sedikit nyeri ketika dia ingat apa yang sudah terjadi. Sesuatu itu menyakiti hati Satya yang tanpa Nayla sendiri ketahui. Sesuatu yang membuat Satya kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dan tanpa sadar, membuat satya melukai Nina juga.


Lenggang sementara. Mereka berjalan bersama sampai melewati pintu gerbang. Terlihat Nina dan Sari masuk sebuah mobil yang tak lain mobil Nina dengan pak supir yang sudah siap menunggunya sedari tadi. Sari memang akan pergi kerumah Nina hari ini.


Sementara Nayla juga masuk kedalam taksi yang sudah dipesannya.


Didalam taksi, Nayla tak henti-hentinya memandang wajahnya didalam cermin. Memastikan dengan benar bahwa dia sudah cantik dan siap bertemu Satya.


Perasaan bahagia memenuhi ruang hatinya.


Entah, hari ini Nayla merasa bersemangat sekali untuk menemui kekasihnya itu.

__ADS_1


"Berhenti bentar diwarung bakso itu dulu pak..."


Ucapnya pada sang sopir ketika matanya menangkap warung bakso tak jauh dari apartemen Satya dan di susul oleh anggukan kepala oleh pak Sopir sebagai tanda mengerti.


Nayla membeli tiga bungkus Bakso yang biasa dia makan bersama Satya. Itu bakso kesukaannya. Satu porsi untuk nya dan dua porsi untuk Satya.


Nayla tersenyum tatkala mengingat Satya yang selalu habis dua porsi dalam sekali makan diwarung bakso ini.


Seenak itu ya? hihi


Beberapa menit kemudian, sampailah Nayla diapartemen Satya. Seperti biasa, Nayla langsung masuk begitu saja karena sidik jarinya sudah terdaftar di pintu apartemennya.


Nayla melinguk kesana kemari mencari keberadaan Satya tapi batang hidungnya pun tak terlihat.


Hanya pintu kamar mandi yang tertutup dan terdengar suara gemercik air dari dalam.


"Satya pasti lagi mandi..."


Nayla melenggang menuju dapur, mengambil dua mangkok serta menyiapkan bakso yang baru saja dibelinya.


Tiba-tiba, tangan yang kekar memeluknya dari belakang.


Pelukan itu terasa hangat meski sedikit basah oleh air yang belum sepenuhnya kering.


"Satya..." Nayla tersenyum. Merasakan kenyamanan yang menjalar kesetiap bagian tubuhnya.


"Jangan begini...." Tangan bergerak menggenggam tangan Satya dan berusaha melepaskan diri dengan pelan.


"Nanti kebablasann..." Katanya menggingit bibir bagian bawah karena jujur Nayla sangat malu.


"Sebentar saja Nay..." Jawab Satya dengan semakin mengeratkan pelukannya. Suaranya sangat tenang terdengar ditelinga Nayla.


"Aku kangen kamu...." Bisiknya didekat telinga Nayla. Membuat bulu kuduk Nayla berdiri. Geli...


"Lagian gak akan kebablasan kok....." Ucap Satya sambil memutar tubuh Nayla. Membuat Nayla dan dirinya kini berhadap-hadapan.


"Kecuali kamu yang minta..." Ledeknya sambil mencubit ujung hidung Nayla.


Nayla semakin menggigit bibir bawahnya. Wajahnya merah menahan malu. Mirip kepiting rebus.


"Gak lucu tau..." Jawabnya ketus ketika melihat jelas wajah Satya yang menahan tawanya. Menjengkelkan sekali.


Tapi...


Sumpah demi apa. Nayla menelan kasar ludahnya. Ini kali pertama dia secara sadar melihat Satya bertelanjang dada dengan hanya lilitan handuk dibawah pusarnya.


Tangannya kekar, Ada roti sobek dibagian perutnya.


Ditambah lagi tubuhnya yang sedikit basah habis mandi membuat otak kotor Nayla berkelana memutar ulang kejadian dihotel Nuansa.


"Maluu ya? Sini aku peluk.. sembunyikan saja wajah malu mu itu didadaku..." Titah Satya sambil tiba-tiba meraih pucuk kepala Nayla untuk dibenamkan didadanya.


Pipi kiri Nayla secara langsung bersentuhan dengan dada bidang Satya yang masih basah. Lagi lagi pikiran kotor Nayla berkelana.


Nayla merasa bahagia kali ini. Mendengar langsung detak jantung laki laki yang dicintainya dengan sedekat ini dan tanpa kain penghalang sedikitpun.


Apalagi tangan Satya terulur mengeratkan pelukan dengan menekan punggung Nayla.


"Biarkan waktu berhenti sebentar sajaa..."


"Aku... takut Nay kehilanganmu..."

__ADS_1


__ADS_2