
Tidak ada yang salah, sekalipun cinta tumbuh subur dan berkembang dengan baik, semua akan sia-sia jika Tuhan tidak menakdirkan untuk bersama. Itu juga berlaku untuk raja iblis dan ratu malaikat. Sekalipun dalam dunia nyata mereka berada dalam dimensi warna yang berbeda, mereka tetap bisa bersatu jika garis tangan sudah menuliskannya seperti itu.
Nayla memutus lamunannya, tersenyum manis saat mendapati tangan kekar merengkuh tubuhnya dalam dekapan hangat. Gesekan kulit yang bertemu kulit tanpa terhalang benang sehelai pun menambah kehangatan semakin terasa dibawah selimutnya.
"Rey..."
"Hem" Tetap menjawab suara lembut itu sekalipun matanya masih terpejam. Suara yang selalu Reyhan rindukan.
"Boleh nggak sih aku serakah?"
"Dalam hal?"
Nayla menggerakkan tubuhnya. Mencari posisi yang lebih nyaman agar tangannya mampu menjangkau sebuah kepala yang tengah mengendus lehernya dari belakang. "Memiliki kamu... aku ingin memiliki kamu sendirian. Tanpa harus berbagi"
Reyhan semakin mengeratkan pelukannya. "Kenapa tidak?" Menikmati sentuhan tangan dikepalanya yang membangkitkan lagi sedikit gairahnya.
"Nay, aku memang milikmu... aku tidak ingin dimiliki selain kamu"
"Tapi... aku tidak percaya diri Rey"
Aku dengan masa lalu ku yang buruk dan kamu dengan segala hal baikmu, apa aku pantas?
"Kamu pantas..." Jawab Reyhan dibalik punggungnya seolah bisa mendengar suara batin Nayla. "Perlu ku tunjukkan buktinya?"
"A-pa?"
__ADS_1
Reyhan mengubah posisi Nayla menjadi telentang, lalu dia merangkak naik ke atasnya dengan satu tangan mengunci tangan istrinya diatas kepala. Kemudian, tersenyum menyeringai menatap dalam mata gadis itu sampai netra mereka bertemu.
"Ka-kamu mau apa?" Bola mata Nayla membulat dan nafasnya tercekat. Ditatap Reyhan dengan setajam ini membuatnya mati kutu. Sekalipun hal selanjutnya sudah sering mereka lakukan. Apalagi, dengan posisi seintim ini.
"Mau nunjukin bukti, kalau hanya Nayla yang pantas"
Detik selanjutnya, bibir Reyhan bertemu dengan bibir ranum milik Nayla. Reyhan menciumnya dengan lembut dan penuh hasrat.
Seakan tak menolak, Nayla membuka sedikit mulutnya. Mempermudah benda tak bertulang itu melesat masuk mengabsen seisi rongga mulut Nayla. Setelah sebelumnya Reyhan menggigit kecil bibir bawahnya.
Tangannya melepaskan tangan Nayla setelah dirasa aman gadis itu tidak akan memberontak. Lalu turun mengusap leher Nayla. Reyhan benar-benar membuat istrinya lupa bagaimana caranya bernafas dengan baik. Dan Nayla merasa pusing hingga begitu menikmati sentuhan lembut darinya, sebelum akhirnya Reyhan menghentikan ciumannya.
"Rey"
Ditatap dengan tajam dan sedekat ini membuat Nayla merasakan hembusan nafas suaminya yang tersenggal sama seperti hembusan nafanya. Lalu tiba-tiba pipinya memanas, mungkin sudah merah merona.
Istrinya itu mengangguk malu-malu. Membuatnya berkali-kali lipat diserang api gairah yang sempat hampir padam. Suatu kekuatan tersendiri melihat Nayla bersemu seperti itu.
Reyhan menjatuhkan bibirnya dileher Nayla. Membuat jilatan-jilatan yang memaksa gadisnya mendongak tanpa diperintah. Menikmati aroma tubuh yang selalu Reyhan rindukan dalam diam.
Tangannya bergerak menyikap selimut yang menghalangi pandangan matanya dari dua gundukan indah yang sedang mengeras menantang. Seputih kapas dan semulus sutra, Reyhan tidak habis pikir mengapa gundukan itu selalu pas berada dalam genggamannya.
Menuruti instingnya dalam bergumul, dia meremas gundukan itu dengan pelan. Memberi sensasi sakit tapi menagihkan. Memilin bulatan kecil puncak gundukan itu. Membuat gadis dibawahnya menggeliat kegelian dan mengerang kenikmatan.
"Rey"
__ADS_1
"Aku mulai ya?"
Untuk kesekian kalinya, olahraga malam itu Reyhan mulai dengan cara yang berbeda. Lubang milik Nayla selalu berhasil menghimpit batang milik Reyhan.
Masih sesempit pertama kali Reyhan memasukinya. Dan selalu membuat Reyhan mau lagi, dan lagi..
Gerakan paling primitif dan terkenal sejak zaman dahulu kala, membawa mereka berdua terbang kepuncak nirwana. Menembus langit ketujuh tanpa aba-aba. Melepaskan segala benih-benih dengan meleguh keras.
"Hanya Nayla yang aku mau, Reyhan sayang Nayla.."
Ucapnya sesaat setelah mereka mencapai kepuasan bersama membuat hati Nayla berdesir merasakan ketenangan. Reyhan menjatuhkan diri di lehernya. Hembusan nafasnya terasa hangat menyentuh kulit Nayla. Dengan miliknya yang belum dilepas dari milik sang istri.
"Rasanya, aku mau lagi dan lagi, terus seperti ini Nay"
"Tapi aku capek." Cegah Nayla dengan sedikit mendorong tubuh Reyhan kesamping. Membuatnya sekali lagi menggeram saat dengan terpaksa, tubuh mereka terlepas dari penyatuan.
Reyhan tekekeh sambil kembali keposisi semula. Dia kembali memeluk tubuh Nayla dari belakang, menarik keatas tubunnya sendiri hingga mampu menjangkau puncak kepala gadisnya agar dapat mencium aroma khas rambut indah milik istrinya.
"Terimakasih Nayla.."
***
Hay hay... happy reading manteman..
Maaf ya, sedikit dulu.. lagi ada kesibukan lain didunia nyata...
__ADS_1
Nih, untuk mengurangi rasa kangen kalian sama Nayla dan Reyhan, tak kasih yang romantis-romantis aja dulu yaa... 😘