
Tak akan ada yang namanya bahagia jika saja tidak ada juga duka. Detik ini, sambil membantu Mbak Nana menyiapkan sarapan untuk anak-anak nya Nayla kembali bersyukur.
Berbagai hal telah dia lewati.
Jalan makadam penuh bebatuan, jalan liku penuh tikungan, tanjakan dan turunan dalam sesi kehidupan Nayla amat terasa mengejutkan.
Dan kini Nayla pun menyadari, bahwa dia kuat berdiri dikaki nya sendiri.
Kadang perempuan bernetra hitam itu bangga pada dirinya sendiri. Karena masih bisa tersenyum bahagia hingga detik ini setelah berbagai lara menghantamnya dari segala sisi.
"Mbak, aku kamar mandi bentar ya. Perutku agak sakit. Oh iya, sarapan sudah siap.
Panggil anak-anak ya, biar segera makan dan berangkat sekolah."
"Jangan-jangan mbak Nayla mau melahirkan?" Ucap mbak Nana menebak.
"Masak sih mbak.?"
Hari ini, pagi-pagi sekali Reyhan sudah harus berangkat ke kantornya.
Ada hal penting yang harus segera dia bahas dengan tangan kanannya, Bima.
Meskipun begitu,
Reyhan tetap menjadi suami siaga yang selalu stand by untuk istrinya. Melalui ponsel, Reyhan mendapat kabar aktifitas Nayla dirumah dari mbak Nana.
"Tadi pagi Mbak Nayla sakit perut mas."
Begitu isi pesan yang dia baca dari mbak Nana yang Reyhan baca tiga jam setelah pesan itu dikirim.
Awalnya dia masih cukup tenang karena kata dokter, hari perkiraan lahir calon buah hatinya masih tujuh hari kedepan terhitung dari hari ini.
Namun ternyata,
Dia salah.
Rasa tenangnya seketika luntur saat tak lama kemudian pesan baru masuk dari nomor mbk Nana dia baca.
"Mas Reyhan segera ke rumah sakit ya, Mbk Nayla udah pecah ketuban"
"Baik mbak, titip Nayla ya. Saya segera kesana"
Dan detik itu juga
Reyhan membatalkan jadwal meeting demi segera mengemudikan mobil kearah rumah sakit.
Mengemudikan mobil layaknya pembalap dunia, hanya ada Nayla di dalam kepalanya.
Langkahnya tegas, setengah berlari Reyhan
__ADS_1
menuju resepsionis, guna mengetahui informasi ruang bersalin sang istri.
Didepan ruangan ada mama Riana dn Mbak Nana yang sibuk mondar mandir kebingungan.
"Nayla gimana Ma?"
Dengan santainya mama Riana menjawab, "Tenang, masuklah dan banyak-banyak berdoa ya Rey,
Temani istrimu melahirkan."
Wajar saja,
sebagai seorang ibu , dan sebagai seseorang yang pernah melahirkan seorang anak,
Mama Riana adalah manusia paling tenang di antara yang lainnya.
Reyhan mengangguk. Tapi sungguh, kakinya terasa sangat lemas akibat perasaan nerveous.
Reyhan memaksa berjalan masuk, meski kini keringat dingin mulai keluar di kening.
"Nay..."
Nayla berada di atas ranjang di sebuah kamar bersalin. Perempuan itu tengah menjalani berbagai pemeriksaan dari bidan, mulai dari tekanan darah, suhu tubuh, denyut nadi bayi dan detak jantungnya guna memantau kondisi tubuh Nayla.
Ketika Reyhan datang, sang bidan sedang memeriksa bagian dalam Nayla dengan cara memasukkan jari de dalam jalan sang janin.
"Bunda sudah pembukaan delapan pak, sebentar lagi dedeknya keluar." Ucap sang bidan memberi keterangan pada Reyhan.
"Mas sakit" Rintih Nayla memegang erat tangan Reyhan.
Reyhan membelai rambut Nayla, dan meniup dahi Nayla yang sudah bercucuran keringat. "Sabar ya, tenang. Ada aku disini."
Selang beberapa menit setelah tenang, Nayla kembali mengalami kontraksi yang jauh lebih hebat dari sebelumnya. "Mas sakit, aku udah ga kuat"
Rintihnya yang kali ini disertai isak tangis.
"Kamu harus kuat Nayla, demi anak kita."
Nafas Nayla yang mulai ngos-ngosan membuat Reyhan kepalang bingung. Lelaki itu tidak tega mendengar rintihan yang keluar dari mulut Nayla.
Sampai tanpa sadar bulir bening keluar dari matanya.
Bidan mulai membantu persalinan Nayla. Lagi-lagi sang bidan memeriksa bagian dalam Nayla. "Wah, kepala dedeknya sudah kelihatan bunda."
Nayla mulai mengejan sesuai instruksi bidan.
"Reeeey, pegang tangan ku..."
"Reeeeyhaaaaaann"
__ADS_1
Setiap nama sang suami keluar dri mulut Nayla, setiap itu pula kuku panjang Nayla berhadil mencakar lengan Reyhan.
Terasa sakit memang, tapi apa pantas Reyhan mengeluh di situasi ini?
Sedangkan tersangkanya pun juga tengah merintih kesakitan antara hidup dan mati demi memberinya keturunan.
"Sabaar sayang, sabaar. Nayla pasti kuat kan?" Diciumnya kening Nayla,
Lalu dipandanginya wajah cantik sang istri.
Betapa Reyhan sangat bersyukur bisa menemani Nayla disini. Reyhan berjanji akan selalu mencintai Nayla di atas segalanya.
"Maaaaass... huhh, huuhh..."
"Ayoo bundaa, sekali lagi..." Ucap bidan setelah melihat posisi bayi.
Nayla menarik nafas dalam, sampai rasanya paru paru perempuan itu sudah penuh terisi oksigen. Perempuan itu akan mengeluarkan seluruh sisa tenaganya dalam satu tarikan nafas.
"Bismillahirohmanirrahim.... Massssss"
"Alhamdulillah" bertepatan dengan suara tangis bayi yang nyaring. "Wah, si Jagoan udah keluar nih. Bayinya laki-laki. Lengkap dan sehat."
Dokter meletakkan bayi itu tepat didada Nayla.
"Alhamdulillah" Ucap Reyhan mencium kening Nayla. Sambil menangis haru.
Nayla mengusap bocah kecil yang tidur di dadanya dengan nyaman. Bocah kecil berlumuran darah itu, merintih seolah mengadu bagaimana perjalanan sulit yang baru saja dia lewati untuk sampai di dada ternyaman milik bundanya.
Namun, tak berselang lama, Nayla menutup matanya yang langsung seketika membuat Reyhan panik bukan main. "Nay..."
"Nayla..."
"Nay... dokter, istri saya kenapa dok. Naylaa.. hey"
Dokter mengecek mata Nay. Lalu melihat denyut nadi di tangan Nayla.
"Suster, pasien butuh oksigen."
"Mohon maaf, Pak Reyhan bisa tunggu diluar dulu ya. Ibu Nayla butuh penanganan."
"Nayla kenapa dokter?"
"Mohon maaf, bapak tunggu diluar ya"
Luruh seluruh kekuatan di dalam tubuh Reyhan. Seakan dunianya berhenti berputar.
Dia ingin menggantikan seluruh rasa sakit yang dirasakan Nayla.
Melihat perjuangan Nayla melahirkan anaknya kembali membuat Reyhan menyadari. Betapa wanita itu sangat berarti bagi Reyhan.
__ADS_1
"Selamat kan istri saya Tuhan, apapun boleh kau ambil. tapi jangan Nayla.."
Reyhan pun keluar dari kamar rawat Nayla dengan lutut yang lemas.