
"Naaay..."
Suara teriakan seorang perempuan mengalihkan pembicaraan mereka. Sontak saja Nayla dan Satya menoleh secara bersamaan.
Terlihat didepan pintu dua orang wanita sedang berjalan kearahnya dengan setengah berlari.
"Ninaa" Jawab Nayla. "Haaaay... sinii sinii...."
Nayla mempersilahkan Nina dan sang adik duduk semeja bersama dirinya dan Satya.
"Haay kak Nay..." Sapa Alma.
"Hay. Almaa..." Jawab Nayla ramah. "Kok kamu lebih cantik dari kakak mu sihh? Hahaa.." Ucap Nayla meledek Nina.
"Kita putus sebagai sahabat Nay" Jawab Nina diiringi tawa mereka semua.
"Pesen makanan dulu gihh... Ngobrolnya nanti sambil makan" Ucap Satya sambil menyodorkan buku menu kepada gadisnya, Nayla.
"Kamu mau makan apa sayang?" Tanyanya pada Nayla. Satya mendekatkan kursinya kesamping Nayla.
Tanpa mereka sadari. Ada sepasang manik mata bernetra hitam sedang memperhatikan Satya. Lebih tepatnya mengagumi sosok tampan itu.
"Aku mau ini aja Satya..." Jawab Nayla menunjuk sebuah menu makanan.
"Minumnya ini..." Kata Nayla lagi. Terlihat jelas bagaimana manjanya Nayla pada Satya.
Sedangkan Satya sama sekali tidak terganggu karenanya.
"Nina sama Alma mau makan apa?" Tanya Nayla mengalihkan pandangan menatap mereka secara bergantian.
"Nasii goreeng???" Ucap Nay meledek Nina ketika melihat nya lama berfikir.
"Hehee, iyaaa, aku nasi goreng aja..." Jawab Nina sambil meringiss. Nayla hafal bangett ya makanan kesukaan Nina?
"Alma??" Tanya Nayla beralih menatap Alma.
"Alma sama in aja sama kak Nina dehh kakk..." Jawabnya singkat. Tetapi matanya menatap dalam ke arah Satya. Dan itu membuat Nayla tidak nyaman.
Bukan hanya Nayla, Nina juga tidak nyaman dengan sikap adiknya itu.
Satya berdiri memesann makanan sekalian dia mau pergi ke kamar mandi. Tapi lagi lagi Nayla menangkap mata Alma yang menatap kepergian Satya.
"Itu pacar kak Nay yaa? Ganteng bangeet. " Katanya memuji Satya tanpa rasa sungkan. Alma beralih menatap Nayla.
Dilihatnya raut wajah Nayla yang terlihat jelas ada rasa ketidaknyamanan.
Aduhh.. keceplosan kan. Batin alma ketika melihat raut wajah Nayla tidak bersahabat.
"Cocok sama kak Nay yang cantik.." Alma berusahan mencairkan suasana.
Alma tersenyum manis kearah Nayla.
Mau bagaimanapun, Alma menganggap Nayla seperti kakaknya sendiri karena dia sudah mengenalnya lama.
Nayla membalas dengan senyum tipis. Nay sudah paham memang begitu sikap Alma. Sedikit genit dan suka ceplas ceplos kalau ngomong. Nay sudah terbiasa.
Tapi kenapa melihat Alma menatap Satya membuat Nayla sedikit kehilangan nafsu makannya..? Bahkan Alma dengan entengnya memuji wajah tampan Satya didepan Nayla.
Nayla masih memandangi Alma yang sedang memainkan ponselnya.
__ADS_1
Alma, gadis itu sangat mempesona. Berani berpakaian minim dan seksi yang sedikit terbuka dibagian dadanya. Riasan wajahnya juga sedikit lebih dewasa. Dia sangat pandai memainkan keahlian make up nya.
Berbanding terbalik dengan sang kakak. Nina yang justru menyukai riasan natural seperti dirinya.
Satya kembali ke meja makan dengan wajah cemas dan langkah gontai. Pikirannya kacau. Rasa kehilangan Nayla muncul lagi setelah tadi menerima telfon dari seseorang ketika dia didalam toilet.
"Kau berani sekali mengabaikan ancaman ku Satya?
Jauhi Nayla. Atau aku yang akan membuat nya membencimu."
Kata kata itu kembali terngiang dikepalanya. Satya meraih kursi dan duduk kembali disamping Nayla.
Benarkan apa yang dikatakan Satya? Papa Nay bukan orang sembarang. Satya bahkan tidak melihatnya ada dimana. Tapi dia tau apa yang sedang bersama siapa putrinya.
"Ada apa?" Tanya Nayla yang menghentikan kegiatan makannya.
"Kau terlihat sangat cemas?" Katanya lagi. Tangannya meraih tangan Satya. Menggenggamnya erat mengisyaratkan bahwa dia akan selalu baik baik saja.
Belum sempat Satya menjawab, ponsel Nayla berdering.
Nayla meraih ponselnya yang ada didalam Tas.
"Papa nelfon. Bentar aku angkat dulu..."
Nina memandang Satya yang gelagapan. Wajah nya semakin memperlihatkan rasa khawatir saat dia tau Nayla mendapat telfon dari papanya. Nina tau, ada sesuatu yang terjadi antara Satya dan Papa Nayla.
Nayla kembali setelah bicara dengan papanya ditelfon. Dengan langkah buru-buru Nayla meraih tasnya.
"Aku harus pulang sekarang.. Papa nyuruh pulang..."
"Kuantar Nay..."
"Byeee..." Nayla mencium pipi Satya sekilas.
Detik selanjutnya, dia berlalu pergi...
***
"Kamu mau kemana?" Sergah Nina ketika melihat Satya berdiri hendak pergi dengan wajah yang muram. "Makanannya aja belum dimakan, trus kamu mau suruh kita berdua menghabiskan?"
Nina tau.Ada sesuatu antara Satya dan papa Nayla. Sebagai sahabat, Nina ingin membantu Satya agar hubungannya dengan Nayla kembali baik. Bukan seperti ini.
"Duduklah, dimakan dulu pesananmu, baru kau boleh pergi..."
Satya masih diam. Menuruti saja apa kata Nina. Lenggang sementara.
Sampai lagi lagi dering ponsel memecah suasana.
"Aku angkat telfon dulu ya kak..." Alma berdiri memegang ponselnya lalu berjalan menjauh mencari tempat yang tenang.
"Kalau kamu ada masalah sama Nayla.. kamu bisa cerita ke aku kok..
kali aja aku bisa bantu..." Ucap Nina tanpa melihat Satya yang tengah memasukkan sendok demi sendok makanan kemulutnya dengan malas.
"Aku tau kamu ada masalah kan sama Nayla?" Nina masih meneruskan kata-katanya. Membuat Satya menarik nafas dalam dalam.
"Lebih tepatnya, masalahmu itu sama om Zeko..." Nina berkata lirih dan sangat pelan. Tapi telinga Satya mampu mendengarnya.
Satya mengerjab. Matanya terbelalak menatap Nina. Seketika Satya menghentikan aktifitas memakannya. Bagaimana gadis itu bisa tau?
__ADS_1
"Iya kan Sat?" Tanya Nina meyakinkan.
"Oke.. setelah makan, aku temani kamu bercerita hari ini. Kau boleh membawa aku pergi kemanapun ditempat yang menurut mu paling nyaman dan kau boleh menjadi dirimu sendiri ketika bersama ku.. tapi ingat
Kau tidak boleh berbohong sedikitpun. Ceritakan apa masalahmu yang sebenarnya." Nina meneruskan ucapannya.
"Aku akan membantumu semampuku...Aku sahabatnya"
Nina meneruskan aktifitas memakannya. Matanya sesekali melirik kearah Satya. Lelaki itu masih saja diam. Tapi raut wajahnya jelas terlihat nyata sedang dalam keterkejutan.
"Kalau kamu diam aja.. aku anggap kamu mau yaaaa..."
Nina mengakhiri kata-katanya dengan senyum manis yang ditunjukkan untuk Satya. Pacar sahabatnya.
Kemudian dia meneruskan menghabiskan makanan dimeja makannya.
Satya mulai terbuka hatinya. Kenyataan nya dia memang sedang membutuhkan teman untuk berbagi masalahnya.
"Nin...." Panggil Satya dengan suara lirih dan bergetar. Menahan perasaan kacau didadanya.
Sonta membuat Nina kembali memandangnya lekat.
Terlihat Satya dengan raut wajah penuh tekanan. Matanya juga berkaca-kaca.
Tapi jelas dia menahan air matanya agar tidak jatuh.
***
"Maaa.. mamaaa.."
Nayla berjalan masuk kedalam rumahnya dengan langkah cepat. Dia panik memikirkan kata-kata sang Papa.
"Pulang sekarang Nay.. atau Papa akan memaksamu pulang."
Pikiran Nayla kacau. Langkah semakin terburu buru menelusuri setiap ruangan dirumahnya.
Kaki nya berhenti melangkah ketika mendapati sang Mama didapur berdiri membelakanginya.
"Maaa...." panggil Nayla lirih. Takut membuat mamanya kaget.
"Ehh tuan putri sudah pulang... Mau bantuin mama bikin makan malam?" Jawab Riana setelah membalikkan badan. Lalu dia tersenyum.
"Papa mana Ma.?" Tanya Nayla pada sang Mama. Nay tidak mengerti, kesalahan apa yang sudah dia lakukan sampai nada bicara papanya ditelfon tadi terlihat marah?
"Papa belum pulang sayang..." Jawab Riana tenang. Seulas senyuman masih tersisa dibibirnya.
"Kenapa nyariin Papa..? kenapa ga nyariin mama saja?"
"Tadi Papa nelfon.. nyuruh Nayla pulang..." Ucap Nayla dengan wajah sedikit muram. Papanya itu, mengganggu saja kencannya dengan Satya.
"Ohh. itu... Mungkin papa nyuruh kamu siap siap kali..
soal nya kamu mau diajak datang ke acara pesta ulangtahun anaknya temen bisnis papa..."
Nayla mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti. Haaaah dia sudah berpikir macam macam
takut papanya marah. Ternyata mau diajak ke Pesta.
"Yaudah deh ma.. Nayla istirahat sebentar dikamar dulu ya..." Jawabnya sembari berjalan meninggalkan sang Mama.
__ADS_1
"Nay kira tadi papa marah, soalnya papa kayak maksa gituu maa..." Kata kata Nayla sambil setengah berteriak sesaat sebelum dia hilang dibalik pintu kamar.