
"Aww..."
Pekik Sari saat Nayla mencubit lengannya. Gak sakit sih, pura pura aja.
Sari kan memang gitu?
"Rey, kenalin...
Ini Sari dan ini Nina.. mereka sahabat baikku"
Ucap Nayla memperkenalkan Sari dan Nina pada Reyhan.
Reyhan menjabat tangan mereka satu persatu sebagai tandal awal perkenalan mereka.
Senyum indah terpancar dari wajah Reyhan menyambut sahabat dari seorang perempuan yanv kini sudah menjadi istrinya.
Sial.. tampan banget. Sari
Nay.. nay.. beruntung banget ya kamu, ninggalin Satya malah dapat yang lebih tampan gini. Mana sopan banget pula. Nina
"Kedepannya, aku harap kalian bertiga bisa mengenal dengan baik."
Ucap Nayla dengan tangan kanan yang masih setia melingkar dilengan kiri Reyhan.
Sedangkan bibirnya tersenyum dipaksa semakin lebar kearah Sari dan Nina.
Sari memeluk Nayla sekilas.
Semoga bahagia Nay. Kau sudah melakukan hal terbaik untuk menjaga persahabatan diantara kita.
Begitu suara batin Sari.
Detik berikutnya. Gantian Nina yang memeluk Nayla.
"Nay, terimakasih ya..
Semoga kebahagiaan menyertaimu."
Nayla mengusap pelan punggung Nina. Setengah berbisik Nayla berucap karena Nay tidak ingin membuat Reyhan merasa tidak nyaman.
"Jaga Satya. Aku sudah melepaskannya untukmu. Perjuangkan. Karena dia milikmu sekarang.
Aku lebih memilih persahabatan kita Nin."
Kembali Nayla melingkarkan tangannya dilengan Reyhan setelah dia melepaskan pelukannya dengan Nina.
Reyhan masih berdiri ditempatnya. Wajahnya penuh wibawa.
Dia terlihat sangat santai.
Dan senyum itu terukir jelas masih menghiasi wajah tampannya. Sungguh, benar-benar karya Tuhan yang sangat indah.
Suara musik masih terdengar riuh dari grub band ternama yang sudah disewa Zeko untuk memeriahkan pesta pernikahan putrinya.
Gemerlap lampu yang terang masih menghiasi sudut ruangan yang memang disediakan untuk para tamu sekedar berdansa dengan pasangannya masing-masing.
Hingga acara itu selesai tepat pukul sembilan malam.
Menyisakan sepasang pengantin yang menahan lelah disekujur tubuhnya.
Reyhan menggandeng tangan Nayla menuju kamarnya. Kamar dengan fasilitas VVIP telah dihias sedemikian rupa cantiknya menyambut sepasang sejoli yang mereka pikir tengah dimabuk cinta.
Tanpa Reyhan sadari. Sebenarnya gelenyar aneh sedari tadi menjalar disekujur tubuhnya. Apalagi saat tangannya secara langsung menggenggam tangan perempuan yang sudah SAH menjadi istrinya itu.
Tapi malam ini. Reyhan tidak mau egois. Dia ingin memperlakukan Nayla sebaik mungkin tanpa harus memaksa atau menyakitinya.
Jantung Nayla berdegup semakin kencang ketika salah satu tangan Reyhan menempelkan sebuah kartu untuk membuka kamarnya.
Apa mungkin malam ini?
Ting
__ADS_1
Pintu terbuka. Pandangan Nayla menatap takjub bunga mawar yang bertebaran diatas tempat tidurnya.
Oh astaga. Ulah siapa sih ini. Memalukan sekali.
Seketika pipinya memerah bersemu.
Sayangnya, fokus Reyhan bukan pada apa yang terpampang nyata didepannya. Reyhan mencari kesana kemari. Kiranya sesuatu yang bisa dia gunakan untuk mengambil air.
Dan ya, Reyhan menemukannya. Sebuah mangkok plastik berukuran lumayan besar ada didalam kamar mandi nya.
Reyhan berjalan menuntun Nayla untuk duduk ditepi ranjangnya.
"Tunggulah disini..."
Nayla menatap punggung Reyhan yang berjalan pergi kekamar mandi.
Beberapa menit. Reyhan terdengar kembali dengan membawa mangkok berisi air.
Eh apa ini? Apa dia mau menyiramku?
Batin Nayla tatkala Reyhan berdiri didepannya dengan senyum yang mempesona.
"Rey, ngapain?"
Nayla terkejut karena kini Reyhan duduk jongkok didepannya. Seperti seorang berlutut didepan Nayla.
"Duduklah.. Jangan bergerak"
Titahnya seraya membuka sepatu hak tinggi yang terpasang sempurna dikaki Nayla.
Benar. Bagian belakang kakinya memerah. Pantas saja Nayla mengeluh sedari tadi.
Reyhan dengan telaten membasuh kaki Nayla. Mengusapnya pelan. Membersihkannya dengan sangat lembut. Membuat Nayla terbuai karenanya.
"Rey.. Terimakasih"
Nayla merasa begitu dihargai. Meskipun Reyhan sudah tau Nayla tidak suci lagi tapi lihatlah, Reyhan benar-benar memperlakukan Nayla begitu lembut dan istimewa.
Nayla menyesali dirinya sendiri yang belum sepenuhnya melupakan Satya dan mencintai Reyhan yang jelas jelas kini telah SAH menjadi suaminya.
"Rey.. Maafkan aku."
Reyhan tersenyum mendongakkan wajahnya menatap Nayla. Setelah memastikan kaki Nayla benar-benar bersih dan sedikit lebih baik dari sebelumnya.
Detik berikutnya Reyhan berdiri. Dia juga mengajak Nayla berdiri.
Tangannya kirinya megusap halus pipi Nayla sebentar. Lalu menengadah seperti seorang berdoa. Sedangkan tangan kanannya diletakkan tepat diatas kepala Nayla bagian depan. Tepat diubun-ubunnya.
Reyhan menunduk memejamkan matanya dengan khusyuk.
Tanpa disadari Nayla spontan ikut memejamkan matanya.
Reyhan mulai membacakan sebuah doa dimana samar-samar terdengar di indra pendengaran Nayla.
"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."
"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya."
Nayla membuka matanya setelah sebuah kecupan hangat mendarat dikeningnya.
Kecupan itu tertahan beberapa detik sebelum akhirnya air mata Nayla jatuh lolos membasahi pipinya yang putih.
"Kenapa menangis?"
Reyhan menghapus air mata yang membasahi pipinya. Membuat Nayla semakin merasa bersalah atas perasaannya.
"Rey.. maafkan aku. Aku mungkin belum mencintaimu. Tapi Aku berjanji akan berusaha untuk itu."
Permintaan maaf tulus dari hati Nayla ucapkan. Dia merasa berdosa kepada suaminya.
"Tidak apa-apa. Sekarang pergilah mandi dan segeralah istirahat. Aku tau kamu capek."
__ADS_1
"Rey.."
"Apa lagi?"
"Ehh anu.. itu..."
Ucap Nayla terbata-bata. Sungguh dia sangat canggung saat ini.
"Jangan takut. Aku tidak akan meminta hak ku malam ini. Aku akan menunggumu sampai kau mencintaiku."
Aduh.. bukan itu
Rey, lihat dong. Kamar mandi nya itu transparan. Hanya bagian bawah saja yang tidak terlihat. Bagaiaman aku bisa mandi dengan tenang?
Tolong keluarlah sebentar.
Sayangnya. Nayla tidak punya nyali untuk mengatakan itu. Dia terlalu segan dengan laki-laki yang memperlakukannya seperti wanita dengan bagaimana semestinya.
"ehh.. anu.. aku lagi gak pingin mandi..."
Jawabnya kikuk.
"Males"
"Buahahahaha.. lucu banget sih"
Reyhan sudah tidak bisa menyembunyikan tawanya. Gadis didepannya itu begitu menggemaskan dalam keadaan bingung begitu.
"Mandi sana. Bau tau seharian gak mandi"
Goda Reyhan.
"Tapi Rey..."
"Iya iya. Aku keluar sebentar. Kamu mandi dulu.
Kalau sudah selesai telfon aku ya."
Gitu dong. Pekaaa
"Terimakasih"
***
Malam semakin larut. Reyhan terbangun dari tidurnya.
Dia menoleh kesamping. Ada gadis cantik yang tidur disampingnya.
Ah lupa. Aku sudah berstatus suami sekarang.
Reyhan mencari ponselnya. Tanpa sengaja matanya menangkap belahan dada Nayla yang terlihat jelas karena baju tidurnya menyingkap.
Astagaa . Sial
Gelenyar aneh kembali menjalar ditubuhnya. Buru-buru dia turun dari ranjang. Mengambil handphone yang berada diatas nakas samping posisi Nayla tidur.
Dia membuka ponselnya. Ada banyak pesan dari Hasan yang sengaja hari ini dia suruh segera pulang dari pesta pernikahannya hanya untuk menjaga anak-anak asuhnya dirumah.
Weh pak suami
Pak Suami lagi apa? Buahahaha
Istrinya cantik banget pak suami satu ini haha
Selamat menikmati malam pertama mu hahahaha
tenang, bocah-bocahmu aman dalam pengawasanku*
Reyhan tersenyum masam.
Seketika tergambar jelas bagaimana wajah Hasan saat mengetikkan pesan itu kepadanya.
__ADS_1
Menyebalkan!