
Merenung.
Menunggu Reyhan pulang, perempuan bersurai hitam itu menatap pantulan dirinya dicermin. Sambil sesekali berbicara sendiri dengan bayangannya.
Jujur, ia bingung.
Obat terlaknat yang tidak sengaja ia minum.
Satya yang mulai mencurigai hubungannya dengan Reyhan.
Dan,
Foto Reyhan sedang duduk disalah satu cafe, bersama Nina.
Bagian mana yang harus gadis itu pikirkan terlebih dahulu? Otaknya terlalu sempit jika ia harus memikirkan masalahnya sekaligus secara bersamaan.
Baiklah,
Lupakan masalah obat terlaknat itu karena Reyhan sendiri sudah menjamin akan mencari pelakunya. Reyhan sendiri yang akan turun tangan menyelesaikan masalah itu. Meskipun Nayla tidak tahu seperti apa cara yang Reyhan lakukan.
Lalu, masalah kedua,
Bagaimana caranya agar ia bisa menghindari Satya? Bagaimana caranya membuat Satya menyerah? Bagaimana membuat Satya berhenti mencurigai hubungannya dengan Reyhan? Ah, bagaimana ya caranya membuat Satya berhenti mengejar dirinya?
Belum lagi masalah ketiga, ada urusan apa diantara Reyhan dan Nina?
"Apa seharusnya aku jujur saja?
Mengakui didepan Satya, bahwa Reyhan adalah suamiku. Laki-laki yang sudah Papa pilihkan untuk menikah denganku.
Iya, seharusnya aku jujur saja bukan? Lagian dengan aku jujur, Satya sudah berjanji akan memberi tahu dari mana ia mendapatkan foto Reyhan dan Nina."
Bukankah begitu terlihat lebih mudah?
"Tapi..."
Nayla berfikir lagi. Sambil duduk didepan cermin, ia tatap langit-langit kamar dengan lamat-lamat.
"Tapi, apa yang akan Satya lakukan setelah aku mengakui status Reyhan,?
Sangat tidak mungkin lelaki itu akan menyerah. Tidak mungkin juga dia akan diam dan berlapang dada, menerima begitu saja.
Kemungkinannya, dia bisa menggila. Lalu, terang-terangan menyakiti Nina."
Tidak mau. Nayla tidak mau itu terjadi.
Satya adalah lelaki penuh ambisi yang bisa menghalalkan segala cara, hanya untuk mencapai keinginannya. Apalagi, saat ia merasa kalah.
Ya, Nayla tahu betul itu.
Mengakui Reyhan didepan Satya sama sekali bukan menjadi masalah untuk Nayla, tapi bagaimana kalau setelahnya Satya benar-benar akan menggila? Itu yang menjadi permasalahannya.
Bukan hanya keselamatan dirinya saja yang terancam, tapi Nina dan bayinya juga.
Papa Zeko, Mama Riana, Reyhan, dan semuanya bahkan bisa terkena imbasnya.
Rasanya, Nayla seperti terpaku ditempat. Tidak memiliki akses untuk balik berjalan mundur, tapi tidak bisa pula menerobos maju.
Diam semakin runyam.
Acuh membuatnya terbunuh.
Sementara untuk bergerak, jalan didepan hampir rusak.
Apa perlu Nayla membicarakan masalah Satya dengan Reyhan?
__ADS_1
Apa harus, Nayla bertanya langsung kepada Reyhan perihal fotonya dicafe bersama Nina?
Argh...
Dia remas rambutnya sendiri didepan cermin. Logika nya sedang perang batin dengan naluri dan komplotan instingnya.
Dia tidak ingin melibatkan suaminya lagi. Sudah cukup, Reyhan terlibat sejauh ini.
Tapi, Nayla sendiri tidak tau apa yang akan ia lakukan.
Satu yang pasti,
seandainya kejadian antara dirinya, Satya dan Nina terulang kembali dengan melibatkan Reyhan, kali ini ia berjanji tidak akan melepaskan dan menyerahkan suaminya itu dengan sukarela.
Tidak akan. Tidak lagi.
Dan tidak pernah.
Pintu kamar terbuka saat Nayla tengah bingung-bingungnya. Bahkan suara mobil yang biasanya samar-samar terdengar, kali ini lolos begitu saja.
Nayla terpaku, mendapati sosok yang sedari tadi bergelanyut manja dipikirannya.
Reyhan, apa yang harus aku lakukan Rey?
Nayla tarik bibirnya membentuk sebuah senyuman yang ia paksakan. Dengan langkah berat, ia hampiri sang suami.
"Sudah pulang?"
Mencari rasa aman, tubuh yang setiap malam mendekapnya dalam tidur itu, dia peluk.
Rasanya masih sama, nyaman dan teramat nyaman. Sementara, lelaki itu diam ditempat. Membiarkan Nayla memeluknya dengan bebas, sampai puas.
"Belum..." Jawab Reyhan mengejek. Sudah ada didepan mata masih saja diberi pertanyaan konyol. Kalau bukan Nayla, mana ada?
Nayla tersenyum, sambil menenggelamkan wajahnya didada sang suami. "Mau makan dibawah? Atau dikamar aja?"
"Reyhan..." Nayla lepas pelukannya. Perempuan itu menjauhkan kepalanya sampai menjangkau wajah tampan sang suami tanpa memundurkan langkahnya. "Aku bertanya serius, dijawab serius dong.."
Reyhan terkekeh.
Diusapnya kepala Nayla dengan sayang. "Makan dibawah aja lah, aku mandi dulu bentar." Menyerahkan tas ke sang istri, seperti hari-hari biasanya. Lalu berjalan kearah kamar mandi dengan handuk ditangan kirinya.
"Kamu sudah makan belum?"
"Belum." Karena tidak ada selera makan.
"Yasudah, tungguin bentar ya, kita makan bareng..." Ucapnya sebelum menutup pintu.
Nayla bernafas lega. Untung saja kali ini ia bisa berperan dengan baik dalam menyembunyikan kegelisahannya.
***
"Mau makan tempe dulu apa ikannya dulu?"
Melirik bingung, Nayla amati sajian dengan suasana berbeda yang ada di atas meja.
Tempe goreng, ikan lele goreng, sambal tomat dengan beberapa helai daun kemangi yang ditumbuk sedikit hancur. Ada kubis mentah, ada timun, ada kacang panjang mentah. Sesuai permintaan Reyhan pada bi Sriya tadi siang.
"Eh, dibikinin beneran ya?" Ucapnya sesaat sampai dimeja makan.Reyhan antusias menatap menu makanan yang ia rindukan.
"Makasih ya Bi..." Ucapnya sedikit berteriak kepada bibi yang ada didapur, tak jauh dari tempatnya sekarang.
"Jadi mau makan yang mana dulu Reyhan?" Ulang Nayla.
"Tempe-nya dulu aja, jadi rindu masa kecil..." Reyhan mengalihkan kembali pandangannya.
__ADS_1
Nayla letakkan beberapa tempe ke piring sang suami. Tak lupa, ia dekatkan sambal tomatnya juga.
"Kamu coba, ini enak banget lo Nay..."
Nayla menerima suapan dari suaminya. Sementara, Reyhan menikmati menu pesanannya, Nayla lebih memilih menu lain, menu tumis kangkung dengan saos udang.
"Enak nggak?" Tanyanya saat suapan tempe dan sambal tomat berhasil masuk kemulut istrinya.
"Enak" Jawab Nayla singkat.
Setelah itu, mereka berdua fokus menghabiskan makan malamnya.
Hening. Seperti biasa, makan tanpa berbicara. Sampai segala sesuatu diatas piring lelaki itu, tandas tak tersisa.
Reyhan meminum air putih, lalu mengambil tisu untuk mengusap bibirnya.
Sementara Nayla, makanan dipiringnya masih ada beberapa suapan lagi. Malam ini, ia tidak terlalu memiliki selera makan. Tapi, demi menutupi rasa kegelisahannya Nayla terpaksa duduk menemani Reyhan makan malam, agar segalanya terlihat baik-baik saja.
Dan berhasilkah ia menyembunyikan masalah ini dari Reyhan?
"Kenapa?"
Nayla lirik suaminya yang menatap wajahnya dalam senyuman. Senyuman khas Reyhan, dengan lesung pipi tercetak sempurna.
"Gak papa.. malam ini kayaknya kamu beda aja gitu.." Lebih banyak diam.
"Masak?"
"He'eh" Reyhan usap kepala Nayla. "Cepetan dihabisin makanannya. Aku tungguin..."
Nayla mengangguk dan segera ia habiskan makanannya.
Sambil menunggu Nayla, Reyhan meringankan beban bi Sriya dengan menaruh piring dan beberapa barang yang kotor ketempat cucian. Sekalian ia mencuci tangannya.
"Udah?" Melihat piring Nayla. Bersih, hanya menyisakan tulang ikan.
Perempuan itu mengangguk. Ia minum air putih didepannya sampai tandas tak bersisa dalam sekali tegukan, saat Reyhan kembali menaruh piring bekasnya ke dalam tempat cucian.
"Yaudah, yuk sikat gigi..." Reyhan kembali menghampiri istrinya. Saat ia hendak melangkah pergi, Nayla menahan lengannya.
"Rey-han..."
Ya?
Tidak menjawab, Reyhan hanya menatap istrinya dengan kening berkerut.
"Aku... A-ada yang aku mau omongin sama kamu.."
Lelaki itu menoleh kebeberapa arah. "Disini?"
Melihat keraguan dimata sang istri, Reyhan memberi tawaran. "Di kamar aja bagaimana? Atau dibalkon lantai dua?"
"Yaudah, dibalkon aja deh..."
Reyhan raih jemari sang istri. Ia menggandengnya menaiki tangga.
Hening.
Nayla larut dalam pikirannya sendiri. Apa ia harus bertanya langsung kepada Reyhan?
Sampai mereka sampai dibalkon lantai dua.
Suasana malam yang tenang. Dibawah gemerlap bintang yang bertebaran dan sinar rembulan yang terang. Belum lagi, semilir angin malam yang menambah kedamaian.
Mereka duduk berdampingan, disebuah kursi yang memang disediakan disana. Lelaki itu sengaja mendekatkan kursinya kesamping sang istri. Ia tidak ingin jauh-jauh dari Nayla selagi memiliki kesempatan untuk berdekatan.
__ADS_1
Nayla tarik nafasnya panjang, menikmati udara malam yang melegakan. Rasanya, sudah lama gadis itu tidak duduk disini berdua bersama Papa Zeko.
"Nay, apa ada sesuatu yang mengganggumu?"