Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Keripik Yang Malang


__ADS_3

Sambil membolak-balikkan buku novelnya, Nayla mengunyah makanan ringan keripik kentang rasa balado yang baru saja dibeli dikantin kampus. Sebulan telah berlalu dari sejak hari pernikahan Nina dan Satya, semua berjalan normal termasuk hubungannya dengan Reyhan yang semakin hari semakin baik. Pun dengan Satya yang masih sesekali Nayla temui dikampus. Berbanding terbalik dengan Nina, sahabatnya itu lebih memilih menunda terlebih dulu kuliahnya dan lebih fokus mengurus kehamilannya. Nayla rasa Nina memilih pilihan yang tepat.


"Aku kangen sama Nina..." Suara sendu dari gadis cantik disampingnya memecah fikiran Nayla. Padahal novel yang dia baca lagi seru-serunya. Tapi, apa yang dirasakan Sari, nyatanya juga dirasakan oleh Nayla.


"Aku juga Sar..." Jawab Nayla yang juga merindukan kebersamaan mereka bertiga. "Yaudah sih, kapan-kapan kita main bertiga"


Sari menghela nafas lelah. "Sekalipun bisa, gak bakal sama kayak dulu Nay..", Sari memasukkan keripik kentang itu kedalam mulutnya sebelum melanjutkan berbicara.


"Nina kan lagi hamil muda.. harus ekstra hati-hati dia..."


Nayla hanya manggut-manggut membenarkan. Toh seandainya dia ada diposisi Nina yaitu sedang hamil anak Reyhan, dia juga pasti akan menjaga kandungannya dengan hati-hati.


"Kalo kamu hamil.. kamu juga bakal nunda kuliah gak Nay?"


Nayla mengkerutkan dahinya. Harus menjawab apa ya? Bahkan Nayla belum memikirkan masalah kehamilan. Dan nyatanya sampai sekarang Nayla belum hamil juga kok.


"Gak tau Sar..."


Jawabnya singkat. Entah, sesuatu yang perlu disyukuri karena kenyataannya Nayla belum siap, atau memang ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan dengan masalah kesehatannya. Intinya Nayla hanya ingin menikmati waktu awal-awal pernikahannya dengan bahagia. Tanpa dipusingkan dengan kecemasan-kecemasan yang belum tentu benar adanya.


Jika Tuhan sudah mempercayainya kelak, Nayla yakin, Tuhan pasti akan menitipkan malaikat kecil itu diwaktu yang tepat. Tidak datang terlalu cepat, pun tidak hadir dengan terlambat. Setidaknya, kapanpun Tuhan akan menitipkannya, Nayla akan tetap mensyukurinya.


Suasana lenggang sementara, hanya menyisakan bunyi keripik yang dikoyak habis oleh gigi-gigi dua gadis itu.


Keripik kentang yang malang.


Sedangkan Nayla dan Sari melanjutkan kesibukannya masuk didunia novel yang masing-masing mereka baca.

__ADS_1


"Boleh gabung nggak nih...?"


Suara laki-laki yang sangat familiar khas dengan nadanya mengalihkan pandangan Nayla dan Sari dari novelnya. Dia tidak sendian, ada Satya dan juga Andi disampingnya.


Nayla tersenyum mempersilahkan. "Bolehh kok.. duduk aja kali" Jawaban itu keluar mulus begitu saja dari mulutnya. Dan seketika membuat ketiga laki-laki itu menarik kursi lalu mendaratkan bokongnya masing-masing disana.


Suasana masih sama seperti dulu. Pun ke akraban diantara mereka tidak berubah meskipun levelnya turun satu tingkat. Itu dikarenakan tidak adanya Nina disana. Dan lagi, ada hubungan Nayla dan Satya yang tak lagi sama.


Tapi masih ada sedikit perbedaan lagi yang lebih mencolok, kalau dulu Satya selalu memilih tempat duduk disamping Nayla, kali ini tidak. Dia memilih tempat yang agak jauh, tetapi masih dalam satu meja yang sama. Berlima.


Meskipun begitu, sering kali Nayla pergoki Satya menatapnya dalam tatapan yang tidak mampu Nayla artikan.


"Satya, gimana kabar Nina..?"


Sari bertanya memulai pembicaraan diantara mereka. Pertanyaan yang tepat sesuai dengan keadaan hati kedua gadis itu yang tengah merindukan Nina.


Jawabnya takut-takut. "Kapan-kapan kalian main gihh keapartemen.. pintunya terbuka lebar buat kalian, dia juga pasti seneng banget.."


Jawaban Satya menciptakan kelegaan tersendiri dihati Nayla. Mungkin saja rasa cinta yang dulu Nayla jaga hanya untuk laki-laki itu sekarang sudah habis tak bersisa. Ya, itu adalah kemungkinan yang persentase benarnya sangat besar.


Sekarang Nayla tahu, kecemasan dihari pernikahan mereka bukan karena Nayla yang belum merelakan Satya, tapi sudah tepatkan mereka semua mempercayakan Nina pada laki-laki itu? Atau, membantu Nina mewujudkan pernikahan itu adalah keputusan yang salah?


Nayla hanya belum yakin, Nina berada dipelukan orang yang tepat.


"Dijaga baik-baik ya Nina nya, kandungannya juga..." Kali ini Nayla menimpali.


"Nina itu berharga buat kita.. ya kan Sar?"

__ADS_1


"He eh. " Jawab Sari membenarkan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Nayla kembali menyesap jus jambu biji didepannya. Dan lagi-lagi, dia memergoki Satya tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit Nayla artikan.


"Andi kenapa diam aja.?" Tanya Sari lagi, mengalihkan topik. Sungguh, sangat menguntungkan Nayla dari kecanggungan yang Satya ciptakan.


Sontak saja pertanyaannya dibalas tatapan bingung dari Andi. "Emang gue harus ngomong apa?"


Sari terkekeh. "Ya kan biasanya lo nglawak?" Ledeknya dengan tangan masih memegang novel.


"Enak aja... Joan tuh yang biasanya nglawak.."


Seketika semua tertawa ditengah gerutuan yang keluar mulus tanpa hambatan dari mulut Joan.


"Yaelah, gue lagi gue lagi..."


***


Terimakasih like nya ya manteman 😘


Oiyaa, sambil nunggu novel ini update, bisa tuh dibaca juga novel ku yang satunya...


judulnya TERPAKSA MENIKAH !


gak kalah seru gaes...


Syukur-syukur mau ninggalin jejak hehe 😂😂

__ADS_1


__ADS_2