Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Gelang Persahabatan


__ADS_3

"Aku seperti biasa aja, Nasi goreng" Ucap Nina datar.


Pendengaran Nayla menangkap suara Nina yang tidak seperti biasanya. Saat ini suara Nina terkesan dingin dan tidak bersahabat.


Nina kenapa ya? Nina berbeda dari sebelumnya...


"Aku juga nasi goreng aja Nay, pagi-pagi enah tuh kayaknya sarapan Nasi Goreng.." Ucap Sari memecah keheningan diantara Nayla dan Nina. Sari sadar, ucapan datar dan dingin Nina membuat Nayla diam terpaku mengkerutkan dahinya.


Dan ini yang tidak pernah Sari inginkan, ketika diantara ketiganya ada perseteruan yang bisa membuat renggangnya ikatan persahabatan.


"Oke.. aku pesenin bentar... kayak nya aku juga Nasi Goreng aja deh.. biar sama kayak kalian .. Hehe.." Ucap Nayla dengan ceria sebelum akhirnya berdiri melangkah memesan makanannya.


"Pakek dukun mana sih lo Sat, bisa dapatin Nayla.." Ucap Joan memandang kepergian Nayla.


"Enakk aja.. gue mah murni. Anti dukun-dukun. Secara, Nayla pasti juga tau lah, gimana cintanya gue ke dia.." Jawab Satya penuh kepercayaan dirinya.


Satya tidak tahu, perkataannya yang terang-terangan mengakui rasa cintanya pada Nayla membuat hati salah satu perempuan disitu merasa disayat habis oleh pisau tak terlihat.


Tega banget sih kamu Sat.. sampai-sampai kamu lupa apa yang sudah kamu lakukan kepada ku...


Hatinya menangis pilu, tanpa isakan tangis dan air mata dari wajah cantiknya.


Lenggang sementara, sampai Nayla kembali ke kursinya, duduk disebelah Satya.


"Oh iya Sat, nanti pulang ngampus ada waktu nggak? kita jalan-jalan ke danau kota yukkk.. ada yang mau aku omongin..." Kata Nayla memecah keheningan diantara lima temannya.


"Ada kok tuan putri... Oke nanti pulang ngampus tunggu diparkiran ya.." Jawab Satya.


Joan dan Andi sudah tak merasa heran, atas sikap Satya kepada Nayla. Satya memang selalu memperlakukan Nayla dengan lembut penuh kasih sayang. Dimanapun mereka berada.


Huuuueeeekkk.....


Nina merasa perutnya mual ketika Nasi goreng tepat disajikan dimejanya. Dengan spontan dia berlari kearah kamar mandi terdekat.


Tangannya menutup mulut agar cairan itu tidak keluar disembarangan tempat.


"Nina kenapa?" Tanya Sari menatap heran mata Nayla. Detik berikutnya Sari berlari menyusul Nina ke kamar mandi setelah berhasil menguasai keterkejutannya.


Sedangkan Nayla tidak gegabah. Dia menuju salah satu toko yang menjual obat-obatan yang memang sudah tersedia dikantinnya.


"Minyak angin atau minyak kayu putihnya Bu... itu temen saya kasian masuk angin."


Katanya sambil menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan kepada ibu ibu yang menjaga stand toko obat dikantin lantai dua.


"Ini Neng,. dua puluh empat ribu.." Jawab sang ibu sambil menyerahkan sebotol minyak ke Nayla.


"Sisanya ambil aja bu.." Ucap Nayla sembari berlari menyusul Sari.


Sesampainya ditoilet, terlihat sari tengah berdiri disebelah kanan memijit tengkuk leher belakang Nina. Suaranya melengking. Omelan-omelan ciri khas Sari memekik indra pendengaran Nayla yang baru saja sampai.


"Kamu jangan ngomel-ngomel mulu... kasian Nina. Gak segera sembuh yang ada malah tambah sakit dia.." Ucap Nayla kepada Sari sambil membuka botol minyak kayu putih. Nayla membantu Sari memijit leher belakang Nina sebelah kiri dengan minyak ditangannya.


Matanya berhenti disalah satu titik ketika pandangannya menangkap warna merah ranum dileher Nina yang samar-samar mulai menghilang.


Nayla tidak bodoh. Nayla tau jelas, pasti itu bekas ciuman.

__ADS_1


"Nin, kamu punya pacar?" Tanya Nayla spontan sembari menutup kembali leher Nina dengan rambutnya yang tergerai.


"Apa an sih kamu Nay, nggak ada kok.." jawab Nina sembari membersihkan mulutnya.


"Perutku mual banget, kayaknya masuk angin deh.. Tuh Nasi gorengnya nggak bisa makan aku Nay, seriuss.." Nina mencoba mencari topik pembahasan lain untuk mengalihkan pandangan.


"Sudah nggak selera makan aku..."


"Yaudahh deh.. kita anterin kamu ke Ruang Kesehatan lantai tiga yaa.." Ucap Sari sembari meraih tas Nina. "Sini biar tas nya aku yang bawa in.."


"Lain kali kalau sakit bilang dong Nin... jangan bikin kita khawatir.." Kata Nayla sambil melakukan hal sama dengan yang Sari lakukan. Nayla meraih buku-buku yang sedari tadi ada digenggaman Nina.


Nina berjalan patuh menuruti keinginan sahabat-sahabatnya meninggalkan tiga piring nasi goreng yang sama sekali belum tersentuh.


Satu hal yang Nina sadari ketika berjalan menuju lantai tiga , kebaikan Nayla membuat Nina merasa bersalah sendiri.


Iya kan? Nayla masih saja baik padahal aku sudah bicara ketus tadi padanya. Tidak seharusnya aku memperlakukan sahabatku seperti tadi..


Mata Nina berkaca-kaca, hatinya berucap penuh syukur dipertemukan dengan dua orang yang saat ini berjalan disisinya.


Bibir nya bergetar sebelum akhirnya berucap lirih kepada Nayla..


"Maafin aku ya Nay..."


Nayla menoleh kearah Nina lalu tersenyum seolah mengerti kemana arah bicara Nina.


"Gak papa kok.." Tangannya terulur menggenggam tangan Nina. Sebelum akhirnya menyadari sesuatu.


"Oiyaa, gelang persahabatan kamu mana Nin..?"


***


Nina membuang nafasnya kasar. Kedua tangannya sudah berkacak pinggang menghadapi kekacauan didepannya.


Kamarnya sudah sangat berantakan seperti kapal pecah. Buku- buku yang biasanya tertata rapi diraknya, sekarang sudah berserakan seperti sampah yang dituang dari tempatnya. Dua bantal yang biasanya setia berjejer rapi ditempat tidur kini sudah melenceng jauh dari tempat biasanya. Sedangkan barang yang sedari tadi dicarinya tak kunjung menampakkan muka.


"Dimana sihh.. Ya Ampun kok gak ada ya?"


Nina menghela nafas frustasi. Tangannya mengusap kasar rambutnya.


"Biiik......"


Panggilnya setengah berteriak kepada asisten rumah tangga yang orang tua mereka pekerjakan dan dijawab suara terikan pula yang samar-samar terdengar. Nina berniat meminta bantuannya untuk merapikan kembali kamar pribadinya.


"Nyari apa sih kak?" Tanya Alma yang tidak sengaja lewat didepan kamar sang kakak dan melihat pemandangan mengerikan didalamnya. "Berantakan banget"


"Itu, kakak nyari gelang yang..... hueeeekkkk..."


Rasa mual kembali mengganggu aktifitas Nina. Sontak saja dia langsung berlari menuju wastafel dikamar mandinya.


"Alma.. bantuin kakak ambik minyak kayu putih ditas warna abu-abu ya.. Duh perutku ga enak banget sejak tadi."


Alma berjalan masuk kedalam.. langkahnya pelan menghindari barang-barang yang berserakan.


"Kakak sakit ya? Alma anterin kedokter yukk kak..?"

__ADS_1


Tanyanya sambil mencari minyak kayu putih yang dimaksud.


"Gakk usah, kakak cuma masuk angin dari tadi pagi.. ntar juga sembuh sendiri Al..."


Jawab Nina sambil membersihkan mulutnya didepan cermin.


"Mana gelangnya belum ketemu lagi...itukan gelang berharga, ya Ampun kok bisa aku ceroboh kayak gini, " gumamnya dengan suara yang hampir tak dapat ditangkap oleh indra pendengaran manusia lainnya.


Itu memang bukan gelang berlian atau emas. Itu adalah gelang sederhana dari benang tiga warna. Ditengahnya ada ukiran dari kayu dengan inisial huruf " N*S*N ".


Meskipun harganya tak seberapa, tapi itu berharga untuk Nayla, Sari dan Nina. Itu gelang persahabatan mereka bertiga yang secara khusus Nayla pesankan lewat aplikasi online.


***


Sementara di lain tempat diwaktu yang sama, Nayla duduk sendian dibangku sebuah taman dipusat kota. Dia menunggu Satya yang tak kunjung kembali dari kamar mandi.


Matanya menatap nanar air gemercik sebuah danau yang berwarna hijau. Fikirannya mencoba merangkai kata-kata yang baik untuk disampaikannya pada laki-laki itu nanti.


Sesekali dia melihat ponselnya. Membuka sebual folder yang berisi foto-foto manis dirinya sendiri. Potretnya dengan senyum ceria sedang memegang buket bunga mengingatkannya saat itu. Saat dimana Satya memberi sebuket bunga dan liontin berinisial namanya. Senyum tipis terukir dibibirnya sembari tangannya terulur meraba lehernya sendiri. Mengusap pelan kalung yang melingkar disana.


"Biar semua orang tau, Nayla adalah milik Satya."


Kata manis itu terngiang dikepalanya. Membuat manik bernetra hitam itu berkaca-kaca. Nayla segera mengusap pelan pipinya tatkala air mata itu lolos jatuh tanpa disuruh.


Cup


Kecupan singkat mendarat di pipi kanannya mampu membuat Nayla terkejut sepersekian detik sebelum akhirnya dia tahu, Satya adalah pelakunya.


"Berani sekali sih kamu?" Celotehnya sambil menoleh kebelakang. Benar saja, disana ada Satya sedang tersenyum lebar memamerkan deretan gigi-giginya.


Menyebalkan.


"Cium pacar sendiri gak papa dong..." Jawabnya sembari berjalan menghampiri Nayla lalu duduk disebelahnya.


"Sudah jangan cemberut Nay,. kamu menggodaku kalau seperti itu.." Satya terkekeh meledek Nayla tanpa rasa berdosa.


"Dari mana sih, lama banget..." Ucap Nayla ketus.


"Aku dari kamar mandi Sayang.. perutku lagi gak enak banget tadi, pingin muntah tapi ga ada apa-apa yang mau dikeluarin..." Ucapnya.


"Sudah kangen ya?" Ledeknya lagi seraya mengedipkan sebelah matanya pada Nayla.


Oh Tuhan...


bagaimana mungkin laki-laki yang selalu memperlakukanku dengan baik ini tega membohongiku?


Suara hati Nayla.


"Satyaaa....." Panggil Nayla lirih dengan degup jantung yang berpacu cepat.


Wajahnya muram.. ketakutan menjalar ditubuhnya. Dia takut kata-katanya nanti akan menyakiti hati laki-laki yang dicintainya itu.


Tangan Nayla terulur kedepan menggenggam tangan Satya. Seolah menyuruh Satya untuk tenang.


"Jujurlah, apa yang sebenarnya terjadi antara dirimu dan Papa?"

__ADS_1


__ADS_2