Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Khumaira Nur Jeni


__ADS_3

Disini Nayla sekarang.


Duduk sendiri dibangku taman belakang yang jauh lebih sederhana dari pada taman dirumahnya.


Dari jarak beberapa meter darinya, ada sekitar empat anak yang sedang bermain saling berbagi. Termasuk Naura yang paling mungil.


Matanya menerawang jauh.


Sungguh tidak pernah menyangka dia menikahi laki-laki yang begitu misterius. Penuh teka-teki.


Pelan tapi pasti.


Nayla sudah mulai mencoba menerima kondisi dimana dia harus paham bahwa laki-laki yang sudah mengikatnya diatas kata pernikahan itu sudah mengambil alih tanggungjawab dari delapan anak yang entah datangnya dari mana.


Reyhan bilang, mereka adalah sumber kebahagiannya saat Nayla belum disisinya.


Dan Nayla hanya bisa mempercayainya saja.


Memang jelas terlihat dengan mata kepala Nayla sendiri. Disini, mereka saling melindungi. Saling berbagi, dan saling memahami.


Meski tanpa disuruh, mereka terlihat patuh.


Tanpa niat membantah ataupun menyanggah. Nayla kagum.


"Jadi kakak yang dipaksa nikah sama Kak Rey..?"


Suara seorang perempuan memaksa Nayla menegok kebelakang.


Cewek itu.. ya, dia adalah salah satu dari banyak orang yang ada dimeja ruang makan.


Dia yang.. mengusap lembut pipi Naura tadi.


"Aku Jeni..."


Dia menyapa Nayla dengan tersenyum seraya mengulurkan tangan. Berjalan melingkar hingga dia menjangkau tempat duduk disamping Nayla.


Tentu saja, dengan senang hati Nayla membalas uluran tangan Jeni.


"Kak Nayla gak usah takut. Kak Nayla kan sekarang istrinya Kak Rey, jadi kami pasti menghormati Kakak disini..."


Nayla mengulas senyumnya lagi. Lebih manis dari yang biasanya.


Meskipun gadis remaja itu tak melihat. Karena nyatanya, pandangan Jeni juga menerwang jauh kedepan.


Benar yang Reyhan bilang, jangan lihat rumah ini dari luarnya. Nayla hanya belum saja merasakan kehangatannya.


Sepertinya Nayla mulai enggan pergi dari rumah ini.


Benarkah secepat itu?


"Terimakasih Jen..."


"Untuk?"


"Emm....."


Nayla bingung harus menjawabnya bagaimana. Ucapan terimakasih itu sebenarnya spontan saja Nayla katakan. Tanpa tujuan dan tanpa alasan.


"Boleh aku tanya sesuatu?"


Nayla bertanya iseng. Siapa tahu dia bisa mengorek informasi dari gadis remaja ini.


Jeni namanya. Dia gadis yang cantik. Dan sepertinya dia anak yang paling besar disini.


"Tentang? Kak Reyhan? Tentu boleh... Tapi kita harus buat perjanjian dulu.."


Dahi Nayla berkerut. Apa maksud dari perjanjian disini? Dan memangnya harus ada perjanjian ya? Gunanya?


"Janji aja.. setelah Kak Nay tau tentang Kak Rey. Kak Nay harus selalu disisi Kak Rey.


Jeni tau mungkin pernikahan ini karena dipaksa. Tapi Jeni kenal kak Rey.


Dia tidak akan mungkin bermain-main dengan sesuatu yang sakral seperti pernikahan.!"

__ADS_1


Jeni. Satu lagi yang Nayla tangkap.


Dia gadis remaja yang sudah dewasa.


Dia gadis yang begitu menghormati Reyhan. Dan sepertinya, Jeni juga begitu menyayangi Reyhan.


"Emm baiklahh.. sepertinya aku tertarik.."


Nayla menjawab dengan yakin. Dengan tangan yang meraih pundak Jeni agar gadis remaja itu menatapnya.


"Terimakasih kak..."


Dengan tersenyum lebar gadis itu menjawab. "Jadi apa yang ingin kakak tanyakan?"


Nayla berbinar. Ini adalah kesempatan emas baginya. Untuk mengenal Reyhan lebih jauh lagi.


Jujur diakui, Nayla mulai tertarik dengan sosok suaminya yang.. Misterius menurutnya.


"Emmm.. apa ya?"


Berpura-pura berpikir dulu. Padahal jelas, intinya dia akan bertanya seputar Reyhan. Tentunya dengan segala kehidupannya.


Dan dengan sabarnya, Jeni menunggu pertanyaan Nayla.


Duduk disamping Nayla. Menatap Nayla polos dengan kaki diayun-ayunkan kedepan kebelakang.


"Siapa Reyhan sebenarnya? emm Maksud aku, siapa Reyhan bagi kalian.?"


***


#Flashback ON


-Khumaira Nur Jeni-


"Cuma segini? hah?"


Plaaaakkk Plaaakkkkk


Bandot tua itu menampar ku lagi. Bersamaan dengan air mataku yang kian deras.


Tapi ada bagian yang lebih sakit dari pada pipi bekas tamparan. Yaitu hati.


Masih membekas, sampai saat ini.


Diruang gelap dan sangat pengap. Dimana bocah remaja yang baru berusia tiga belas tahun terbiasa disekap. Sudah dua tahun lamanya.


Bocah itu aku. Mereka biasa memanggilku Rara.


Aku ingin pergi dari sini. Tapi aku tidak punya tempat lain.


Keluarga? aku hidup sebatangkara. Lupa kapan tepatnya, tapi mereka sudah meninggalkan ku semua.


Selama itu aku masih berusaha bersyukur. Setidaknya bandot tua itu tidak melampiaskan nafsunya padaku.


Dia bilang asalkan setoranku sesuai target, maka aku aman.


Memang benar, setauku, uang hasil kami meminta-minta itulah yang setiap harinya dia gunakan untuk membayar wanita malam.


Kami? ya, karena aku tidak sendirian disitu.


Dan karena alasan itulah, aku jadi lebih bersemangat mencarikan bandot tua itu uang setiap harinya. Tentu dari hasil meminta-minta.


Aku melakukan itu setiap hari agar lolos dari hukuman. Apalagi kalau bukan kekerasan dan pelecehan.


Ditempat itu aku tidak sendirian. Ada sekitar sebelas anak. Laki-laki dan perempuan.


Mereka bernasib sama dengan ku.


Sama-sama menyandang gelar pengemis. Ulah siapa lagi kalau bukan bandot tua bernama Dirman.


Lebih tepatnya Bang Dirman.


"Ampun Bang..."

__ADS_1


Jawabku sambil merintih. Dengan tangan gemetar aku berusaha mengusap darah dipipiku.


Tapi si Dirman lebih dulu menyentuhnya.


Dia mengusap darah itu dengan lembut.


"Bersiaplah menggantikan wanita malamku manis. Ini hukuman!"


Jderrrrr


Jantungku serasa melemah. Tekanan darahku serasa sangat rendah.


Aku lemas. Lunglai seketika.


Apa ini akhir hidupku?


Apa hukuman itu harus dibayar dengan tubuhku?


Aku tau apa maksud dari kata menggantikan wanita itu. Melayaninya.


Melayani nafsu bejatnya.


Umurku memang baru tiga belas tahun saat itu. Tapi aku dipaksa tahu bahasa-bahasa sarkas yang tak seharus nya diucapkan.


Bahasa-bahasa yang pada umumnya hanya boleh dimengerti oleh orang dewasa.


Aku adalah satu-satunya perempuan yang sama sekali belum disentuh Bang Dirman disitu.


"Ra.. maafin kakak ya, kakak gak bisa bantuin kamu.."


Salah satu kakak perempuan mendekatiku setelah Bang Dirman pergi.


"Kak, Rara gak mau melayani Bang Dirman"


Aku menangis sesenggukan diatas tikar yang sudah lusuh. Sedangkan Kakak perempuan itu mengusap punggungku penuh iba.


Bergidik ngeri membayangkan apa yang akan dilakukan Bang Dirman itu kepadaku nanti.


"Sabar ya Ra, maafin kakak gak bisa bantu apa-apa..


Oh iya, kamu aku tinggal gak pp kan? Kakak mau beli makan dulu"


Dia mulai berdiri dan berjalan meninggalkanku.


Aku mengerjab. Memutar otak dengan cepat. Aku rasa ini kesempatannku kabur.


"Kak, boleh nggak kalau Rara saja yang beli makan,? Rara pingin nglupain masalah ini sejenak.."


Aku berucap dengan wajah sendu.


"Kamu yakin?"


Aku mengangguk yakin. Dan syukurlah, dia sama sekali tidak mencurigaiku. Dia menyerahkan uang dari Bang Dirman untuk jatah makan malam kami kepadaku.


Dengan tubuh lemas. Aku berjalan keluar.


Entah, langkah ku yang pintar ini tiba-tiba membawa ku ke terminal.


Dengan cepat aku berusaha mencari tiket yang sekiranya cukup. Dan sialnya, uang itu sama sekali tidak cukup untuk kabur ku keluar kota.


Waktu ku tidak lama, sedangkan anak buah Bang Dirman sudah terlihat di ujung sedang mencariku.


Bergerak cepat atau tertangkap.!


Beruntung, aku bertemu seorang laki-laki yang mau membantuku.


Tanpa bertanya siapa, dan tanpa bertanya kenapa.


Laki-laki itu menyerahkan jaketnya padaku. Sebagai bentuk penyamaranku. Dia membayar dua kursi dan kami duduk bersebelahan dengan posisi aku didekat jendela. Dia menyuruhku berpura-pura tidur dengan wajah yang tersembunyi.


Aku berhasil, aku lolos.. Meninggalkan tempat terlaknat itu.!


Sampai saat ini, aku berada disini sekarang..!

__ADS_1


#Flashback Off


__ADS_2