
"Beneran nih kita jadi pulang kerumah Papa kamu?"
Reyhan bertanya sambil menggoda Nayla.
Sepulangnya dari toko buku tadi, Reyhan mendapati Nayla tengah duduk sendirian dikursi belakang. Sesekali Nayla tersenyum.
Entahlah, Reyhan tidak tau apa yang membuat istrinya itu seperti orang gila. Ups.. maaf
Tapi aneh kan? Duduk sendiri, dan senyum-senyum sendiri?
Coba kalau orang lain yang melihatnya? Pasti sudah takut. Lari kabur lah...
"Gak mau disini lebih lama lagi? Sepertinya kamu betah deh disini.. Orang tadi aku lihat kamu senyum-senyum sendiri..."
Seru Reyhan lagi mengejek Nayla. Lihatlah istrinya itu....
Sok sibuk. Sok cuek. Sok gak mau denger apa yang Reyhan katakan. Padahal sangat jelas dari ekpresi wajahnya dia tengah menahan kesal.
Dan ini yang membuat Reyhan semakin suka menggodanya.
Saat ini mereka tengah berdua dikamar. Nayla duduk diranjang tidurnya. Sambil memainkan ponselnya.
Jujur, Nayla memang kesal banget sama suaminya itu. Bukan hanya karena dia yang selalu menggodanya.
Ada sesuatu yang lain yang membuat Nayla hari ini tidak nyaman.
Sedangkan Reyhan tampak sibuk berkutat dengan laptopnya.
Bukan bekerja sih. Reyhan menyicil tugas skripsinya.
Jangan lupa.
Reyhan masih kuliah. Dan tinggal beberapa bulan lagi dia akan diwisuda. Meskipun Reyhan sangat sibuk.
Tapi masih sempat-sempat saja menggoda Nayla kan?
__ADS_1
"Diam kamu... Aishh
Kenapa kamu jadi cerewet begini sih Reyhan.? Perasaan dulu kamu pendiem deh sebelum menikah. Mana sopan banget lagi.."
Nayla menjawab tak mau kalah. Tangannya masih sibuk membuka akun instagramnya lewat ponsel.
"Aku cerewet juga sama istri sendiri kok.. Masalah emang?"
Jawab Reyhan sambil tersenyum menyeringai.
"Lagian kenapa pulang kalau kenyataannya dirumah juga masih sibuk sama laptopnya ?"
Protes Nayla yang tanpa sadar malah membuat Reyhan tertawa puas.
Menyebalkan?
Reyhan memang menyebalkan. Kalau memang pekerjaannya belum selesai kenapa harus pulang sih? Mana sedari tadi menggoda Nayla terus... Astagaa
"Haha, maksudnya kamu gak suka aku abaikan begini? Maunya diperhatikan terus ya?"
"Bukan gitu... Kalau kamu ditoko buku kan paling tidak aku aman gak ada yang godain terus. Lagian kamu juga untungkan, bisa lihat cewek-cewek cantik yang sedang beli buku?"
Seru Nayla dengan asal.
Reyhan tersenyum menyeringai. Lagi-lagi dia dibuat gemas oleh tingkah laku istrinya itu.
Mati-matian dia menahan hawa nafsunya. Kalau seperti ini terus, mana kuat?
"Oh, jadi maksudnya sekarang kamu cemburu?"
Reyhan berjalan medekati Nayla. Mengedipkan sebelah matanya menggoda Nayla. Membuat Nayla meloto kearahnya.
"Apa? Cemburu? Mana ada?"
Nayla berusaha mengelak. Menolak membenarkan tuduhan yang diberikan kepadanya itu.
__ADS_1
Nayla kan hanya berkata iseng saja tadi. Lagian mana ada Nayla cemburu? Mustahil secepat itu kan Nayla jatuh cinta?
Kini Reyhan sudah duduk ditepi ranjang disamping Nayla. Reyhan sengaja duduk didekat Nayla tanpa menaikkan tubuh sepenuhnya dengan kaki yang masih menggantung.
Dia memandangi Nayla dengan seksama. Sedangkan yang dipadangi merasa kikuk. Salah tingkah sendiri.
"Kamu cantik.."
Dua kata yang seketika mampu membuat kedua pipi Nayla merah bersemu. Tangan Reyhan membelai rambut Nayla yang menutupi sebagian wajahnya. Menyelipkannya dibelakang telinga.
"Kamu istriku kan? boleh aku cium?"
Duh,
Jantung Nayla berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Laki-laki yang sudah berhak atas tubuhnya itu kenapa harus bertanya dulu sih?
Ya, dan tanpa sadar Nayla mengangguk.
Reyhan mencium bibir Nayla sekilas. Kemudian mencium lagi. Mencium semakin lama dan memberanikan diri memainkan bibirnya sendiri dibibir Nayla. Menggigit kecil disana. Lembut. Membuat Nayla meleguh nikmat.
Reyhan yang memabukkan !
Tok Tok Tok...
"Mas Rey makan malam..."
Seketika Reyhan melepaskan ciumannya dengan Nayla.
"Astaga, Mbak Nana lagi kan.! Mengganggu kesenangan.." Reyhan bergumam lirih membuat Nayla terkekeh geli.
"Sabaar..."
Ucap Nayla sambil mengusap lengan atas Reyhan.
"Yaudah yuk makan. Trus kita pulang.."
__ADS_1
Ajak Reyhan pada akhirnya dengan wajah lesu.