Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Terlambat Ke Kampus


__ADS_3

Kata orang,


masa-masa SMA adalah masa-masa yang paling bahagia. Ada tangis dan senyum di setiap momen yang kita alami saat SMA. Memang ada benarnya sih kata-kata itu. Tapi kalau kamu mau cari masa-masa paling komplit dalam hidupmu, cobalah rasakan dan nikmati dengan seksama masa-masa kuliahmu.


Hari ini sinar mentari sangat terik. Posisi pagi sudah tergeser diganti oleh panasnya siang.


Nayla berjalan gontai menuju ruangan dosen pembimbingnya. Tapi diurungkannya niat itu dan malah putar balik menuju kantin.


Nyalinya belum terkumpul seratus persen menghadapi omelan dosen galaknya.


Tadi pagi, dia benar-benar terlambat datang kekampus. Tau gara-garanya siapa?


Reyhan memang gila..! Runtuknya dalam hati.


Rencana mengambil mata kuliahan yang diajarkan langsung oleh dosen pembimbingnya harus rela Nayla tinggalkan karena keterlambatannya. Padahal, Nayla sudah berusaha mati-matian untuk bersikap baik dan sopan demi menjalin hubungan baik dengan beliau, walaupun Dosen PA nya sangat menyebalkan tapi tak apa, Nayla tetap berusaha menjaga nama baiknya dengan mengikuti mata kuliah tepat waktu. Dan semua sia-sia, tercoreng sudah nama baiknya gara-gara ketidakhadirannya tadi pagi.


"Aelahh Nay, kamu gak ngikut matkul pak Hasan malah enak-enakan nongkrong dikantin?"


Cibir Sari berjalan mendekat kearah Nayla yang duduk disudut kantin, sendirian.


Nayla hanya menggeleng lemah. Tenaganya sudah habis tadi pagi ia gunakan untuk berlari dari gerbang sampai ke kelasnya. Tapi semua sia-sia. Nayla tetap terlambat sepuluh menit lamanya.


"Tuh muka kenapa juga kusut begitu Nay?"


Nayla memainkan sedotan digelas minumannya dengan malas. Badannya masih terasa remuk akibat aktifitasnya semalam. Duh jadi merah seperti tomat rebus kan pipi Nayla.


"Sial banget aku tuh hari ini tau nggak? Sudah kemaren malam tidur telat, tadi pagi juga telat...Arrgghhh"


"Memang semalem ngapain aja sampek tidur telat?"


Nayla hampir tersedak mendengar pertanyaan Sari.

__ADS_1


Siaaal


Nayla salah bicara kan? Duh dijawab apa nih kalau sudah begini, gak mungkin kan Nayla jawab dengan sejujurnya semalam ngapain saja?


"Oohh.. anu, itu semalam aku bantuin Reyhan ngerjain tugas..."


Jawab Nayla asal. Semoga saja Sari yang masih polos itu percaya.


"Tugas bikin anak ya? Haha...." Nina meledek dengan pernyataan yang sarkas. Sumpah demi apa, pipi Nayla rasanya panas banget guys...


"Apa an sih Nin..."


Astaga Nin.. gak usah diperjelas dong.. Lihat tuh si Sari, muka bingungnya campur sama meledek...


Bener-bener sial... ini semua gara-gara Reyhan itu...


Nayla mengumpat di dalam hati dengan muka masam.Tapi Nina tak peduli, karena gak akan mungkin Nayla memusuhinya cuma gara-gara ledekan yang mungkin memang ada benarnya.


"Trus aku harus gimana dong ngadepin tuh dosen?"


"Sudah lah, isi dulu tenaga kamu.. habis itu kumpulin nyali buat ke ruangannya...


Cari muka sono...."


Ucap Nina sambil menyeruput minumannya.


"Bener tuh, minta maaf sambil minta bimbingan soal langkah mu kedepan.."


Nayla pasrah. Tapi setelah difikir-fikir, mungkin saran Nina sama Sari ada benarnya.


Lagian pak Hasan bukannya temenan sama Reyhan kan?. Mungkin dia tidak akan galak lagi sekarang setelah aku menjadi istrinya Reyhan.

__ADS_1


Haha, ada untungnya juga


Mereka memesan makanan. Setelah beberapa menit berlalu tanpa obrolan, akhirnya makanan sudah disajikan dimeja tempatnya.


"Nay..."


Panggil Satya yang entah sudah sejak kapan berdiri disampingnya.


Pun dengan Nina dan Sari. Mereka juga tidak tahu kapan tepatnya laki-laki itu berdiri disitu.


"Eh, hay Satya... ada apa?" Tanya Nayla tanpa basa-basi.


Kalau Satya cuma berdiri dan tidak ikut duduk, itu berarti dia tidak akan lama menganggu gadis-gadis itu menikmati makan siangnya.


"Aku mau bicara soal kemaren Nay... jam tiga aku tunggu diparkiran ya.."


"Oke... kamu gak ikutan duduk?"


Tawar Nayla.


"Nggak usah Nay, aku masih ada tugas... duluan ya, byee..."


Pamit Satya dengan berlalu pergi. Meski terkesan cuek, tapi dari nada bicara dan tatapan matanya yang begitu mendamba, semua orang tahu Satya sedang terluka. Luka yang sebenarnya dia sendiri penciptanya.


Nayla kemudian menatap kedua sahabatnya itu bergantian setelah Satya menjauh. Memastikan bahwa mereka tahu Nayla memperlakukan Satya dengan batas wajar.


"Nin, aku cuma butuh kamu percaya sama aku...


Aku janji akan buat Satya tanggungjawab,


Sebelum kehamilanmu tersebar sampai ketelinga Om Teguh dan Tante Dewi.

__ADS_1


Tetap rahasiakan pernikahan ku ya..."


"Iya Nay, aku percaya...."


__ADS_2