Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Dunia itu Sempit


__ADS_3

Lama mamatut dirinya di depan cermin. Nayla mengoles beberapa krim perawatan wajahnya, sebelum tidur. Hal yang sudah biasa ia lakukan.


Meskipun sering kali, perawatannya terbuang sia-sia karena terkadang, Reyhan menyapu habis apapun yang ada diwajahnya dengan bibirnya yang yang memabukkan itu.


Rentetan peristiwa hari ini terputar otomatis dikepalanya. Seperti putaran film yang menunggu giliran sesuai adegan per adegan.


"Jangan lama-lama deh, sini..."


Gadis itu memicingkan bola matanya. Dia tahu apa yang selanjutnya akan terjadi, jika ia segera beranjak memenuhi panggilan suaminya dari atas ranjang.


Semuanya pasti tidak akan berakhir mulus. Apalagi untuk krim malam yang baru saja mulai bekerja diwajahnya.


Memilih mengabaikannya, Nayla masih asik memijit pelan wajahnya agar krim tadi meresap sempurna dan merata. Memulasnya dengan lembut dan telaten, berharap mendapat hasil yang maksimal, sesuai yang dia inginkan.


Ah, begitulah wanita. Terkadang cantik itu memang harus diusahakan agar ia jelas terlihat keberadaannya. Meskipun sebenarnya, semua wanita diseluruh penjuru dunia ini sudah cantik. Ada yang cantik dengan kulit putih dan mata sipitnya, ada juga yang cantik dengan kulit sawo matang dan mata belonya. Cantik itu relatif, tergantung siapa yang menilainya.


Ingat, semua perempuan itu cantik sekalipun warna kulit, bentuk hidung, rahang wajah dan garis pipi nya berbeda. Semua cantik dan perbedaan itu lah yang membuatnya semakin unik. Mereka cantik alami meskipun ada beberapa orang yang tidak bisa melihatnya.


Dan itulah tugas perawatan yang sebenarnya, agar kecantikan itu sendiri lebih terpancar, jelas.


"Mengabaikan suami itu dosa loh Nay..."


Seakan belum menyerah, lelaki diatas ranjang itu masih berusaha membujuk. Membuat Nayla menatapnya tajam sambil menghela nafas sebal.


Sedangkan, sekarang lelaki itu sedang duduk. Dengan posisi punggungnya yang menyandar pada kepala ranjang. Kemudian tangannya memainkan ponsel.


Tanpa menoleh sedikitpun pada istrinya yang mendengus kesal.

__ADS_1


"Dunia itu sempit ya Rey..."


Lelaki itu tak merubah posisinya. "Tergantung kamu melihatnya dari mana?"


Lenggang sementara, sampai gadis itu menyelesaikan kegiatannya. Kemudian dia beranjak mendekati sang suami.


Merangkah diatas kasur, lalu merebahkan dirinya setelah dirasa suasana cukup aman.


"Bantal yang nyaman..." Gumamnya saat kepala gadis itu dia letakkan diatas paha suaminya.


Membuatnya mendapat cubitan keras dihidung.


"Nakal banget sih... sakit tau Rey..."


Gadis itu memberenggut. Bukan membuat Reyhan takut malah membuatnya semakin gemas. "Kamu bilang tadi dunia sempit kan? kamu melihatnya dari sebelah mana?"


"Alma... aku nggak nyangka banget kamu kenal sama Alma.."


Reyhan berhenti memainkan ponselnya, lalu menaruh benda pipih kesayangan umat itu diatas nakas. Tanpa sedikitpun tubuhnya bergeser. Sekarang jari jemarinya tengah asik menyusuri helai demi helai rambut istrinya. Ternyata Nayla masih penasaran.


"Kamu masih kepikiran ya?"


"Hu um..." Jawab Nayla jujur.


Nayla masih memandang aneh pertemuan suaminya dengan Alma tadi. Jika sebelumnya Alma tampak sangat bersemangat bercerita dengannya, berbeda saat setelah Reyhan datang.


Alma sedikit murung, apalagi saat Nayla mengenalkan Reyhan sebagai suaminya. Gadis itu malah enggan berbasa-basi dengan Nayla dan lebih memilih pergi dengan alasan yang sulit diterima.

__ADS_1


Aku pergi dulu kak Nay, disini panas banget! Berjalan keluar sambil menatap sinis ke arah Reyhan.


Alasan macam apa itu?


"Dia pelanggan ditoko buku... kita satu kampus yang sama.. meskipun beda semester." Aku Reyhan berniat menenangkan istrinya. "Jadi wajar kan kalau kita kenal.."


Bukannya Reyhan sengaja ingin berbohong tentang Alma yang menaruh hati padanya. Hanya saja, menurut lelaki itu, apa pentingnya sih memberitahu hal seperti itu pada Nayla?


Reyhan tidak ingin membuat Nayla cemas. Reyhan takut istrinya meragukan kesetiaannya. Sedangkan Reyhan, berani sumpah demi apapun


Reyhan hanya menaruh hati pada istrinya, yaitu Nayla.


"Tapi sepertinya, Alma menyukai mu Rey..."


"Tau dari mana?" Tanyanya.


"Ya kamu lihat sendiri kan tadi?"


"Aku gak tau tuh..." Reyhan membungkuk kan punggungnya. Hingga sekarang, wajahnya berhasil memangkas jarak dengan wajah sang istri yang masih berada diatas pahanya.


"Sekalipun benar jika dia menyukaiku, aku tidak peduli. Aku hanya menyukai Nayla. Apalagi..."


Cup


Reyhan menghentikan kalimatnya dan mencium sekilas bibir Nayla yang tetap saja berwarna merah ranum. Serangan yang tiba-tiba jauh dari perkiraan Nayla.


"Aku hanya menyukai Nayla..."

__ADS_1


__ADS_2