Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Perempuan Asing


__ADS_3

Seperti roda yang berputar, seperti itu lah hidup mengajarkan kepada kita tentang waktu yang terus berjalan.


Ada kalanya pemeran berada diatas, diujung puncak kesejahteraan. Tapi tak jarang juga berada dibawah, didasar jurang penuh kesedihan.


Tetapi, semua akan berlalu seiring berjalannya waktu. Kesedihan, kesejahteraan, kebahagiaan, kecemasan, duka, suka, lara dan cita, semuanya tidak ada yang kekal abadi selamanya.


Hanya sementara.


Tergantung, bagaimana sang pemeran mengusahakan kejayaannya.


"Beberapa pemegang jabatan penting di Antara Mulia sudah siap diruang meeting pak." Ucap Bima, Sambil duduk di samping Reyhan.


"Apa pesanku sudah tersampaikan?"


"Sudah pak. Sudah saya katakan kepada mereka bahwa ini adalah pertemuan pribadi. Meskipun bisa mempengaruhi perusaan mereka dimasa depan."


Reyhan mengulas senyumnya. "Terimakasih, Bim.." Diusapnya lengan atas Bima, sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras lelaki itu selama ini.


"Sama-sama pak."


"Setelah semua ini selesai, aku ingin kembali seperti dulu." Bekerja keras sebagai karyawan biasa, tanpa ikut campur kinerja perusahaannya. "Aku akan kembali menyerahkan sepenuhnya kepada kamu."


Iya, seperti itu lah dulu.


Segalanya tentang perusahaan, sudah di handle Bima secara keseluruhan. Tanpa ikut campur Reyhan sedikitpun.


Sedangkan, setiap harinya Reyhan akan bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaannya sendiri. Sambil memantau kenyamanan di perusahaan itu.


Disisi lain,


Reyhan masih ingin fokus mengurus toko bukunya, tanpa dipusingkan dengan masalah-masalah perusahaan yang tanpa dirinya pun, bisa terselesaikan karena ada Bima dan anak buahnya yang mengurusnya.


"Terimakasih Bim.."


Bima,


Direktur Utama GMT Group, yang tertera di dokumen resmi perusahaan. Yang semua orang ketahui sebagai pemilik tunggal perusahaan raksasa itu.


Yang disegani semua koleganya, yang tampil di muka umum sebagai wajah GMT Group.


Yang foto-nya terpampang di setiap banner yang membawa nama GMT Group.


Iya, dia adalah..


Bima Sedayu Mahen,


Direktur Utama General Media Tech. Group.


Tanpa orang-orang ketahui, bahwa Bima memikul tanggung jawab yang besar menyangkut kejayaan GMT Group terhadap Reyhan.


Pendiri, dan pemilik asli perusahaan itu.


"Sama-sama pak." Jawab Bima sopan, sesaat setelah mobil berhenti di depan pintu masuk perusahaan.


***


Aku berangkat.


Pesan yang baru saja Nayla ketik, sudah muncul laporan terkirim.


Dengan menaiki taksi online yang ia pesan, Nayla menuju apartemen Satya seorang diri.


Meski ia sedikit takut, tapi tidak ada jalan lain selain maju dan menghadapinya. Apalagi, mundur.


Semua rencana yang ia susun semalam sudah dipersiapkan dengan matang. Memakai baju yang sesederhana mungkin agar Satya tidak mencurigai dirinya.

__ADS_1


Pun dengan tatanan rambut yang dibuat seadanya mungkin.


Mobil taksi berhenti didepan gerbang masuk lobby apartemen, Nayla turun dengan perasaan takut yang tidak bisa ia sirnakan.


Perasaan takut yang masih menyelimuti hatinya, meski ia yakin dirinya akan baik-baik saja.


Perasaan takut yang ternyata hanya sementara, karena


kenyataannya,


apa yang ia bicarakan dengan Reyhan semalam membuat keberanian naik hampir seratus persen. Pun dengan ketenangan yang tiba-tiba kembali merangkul jiwa rapuh milik Nayla.


Kembali menguatkan, tanpa diminta.


Masih hafal dengan lantai tempat apartemen itu berada, Nayla berjalan cepat tanpa bertanya. Meski langkah kakinya berat, dia paksa agar tidak terlambat.


Ibu jari ia tempelkan di sensor buka kunci. Sesaat pintu terbuka,


pemandangan pertama yang Nayla lihat adalah,


ruang tamu yang sangat berantakan.


"Astaga.." gumam Nayla kecil.


Botol minuman bekas berceceran dimana-mana. Kacang dan berbagai bungkus makanan ringan juga tergeletak disembarang tempat.


Bukan hanya itu,


ada juga beberapa jaket yang tergeletak disana, dan yang paling mencengangkan, ada juga tas kecil yang Nayla yakini itu adalah milik seorang perempuan.


Tapi, ada satu yang memfokuskan pandangan Nayla. Yaitu seseorang yang tertidur lelap di kursi sofa, bercampur dengan botol-botol bekas itu.


"Jo..." panggil Nayla, yang tidak mendapat respon apapun dari orang itu. Lantas Nayla mendekat, digerak-gerakkannya tubuh lelaki itu dengan keras untuk membangunkan. "Joaan.."


Joan terusik. Perlahan mata lelaki itu terbuka sipit. Sambil menguap, Joan mencaci sebal "Siapa sih? ganggu orang tidur aja."


Seketika mata lelaki itu membelalak lebar. Joan tidak salah dengar kan?


Membuka mata pertama, pandangannya masih kabur, mungkin efek mabuknya semalam yang terlalu berlebihan.


"Nayla?" Bagaimana mungkin dia ada disini. Lantas Joan segera duduk.


Joan menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir rasa pusing sisa semalam, kemudian ia amati lagi perempuan didepannya itu dengan seksama. "Nayla..."


Seolah paham dengan situasi yang terjadi, Joan seketika panik. Bergantian ia amati pintu kamar Satya, kemudian ia kembali amati Nayla. "Ngapain di sini Nay?"


"Satya mana? Dia yang suruh aku kesini Jo..."


Hah? Yang benar saja?


Joan gak habis pikir,


Mana mungkin Satya menyuruh Nayla kesini sedangkan lelaki itu sedang berzina ria didalam kamarnya?


Tapi, kenapa juga Nayla berada disini kalau tidak disuruh dengan pemilik apartemen itu?


Ya Tuhan,


"Satya dikamar ya?" Tanya Nayla seketika mengikut arah pandang mata Joan, yang tak henti-hentinya melihat Nayla dan kamar itu secara bergantian.


Joan hanya menyengir kaku. Lelaki itu tidak tahu harus menjawab apa.


Jawaban iya atau tidak, sama-sama membunuh Satya.


"Kalian habis ngapain sih? berantakan banget.!" Protes Nayla sembari berjalan ke arah pintu kamar Satya. Sesekali kaki nya menyingkirkan botol minuman yang menghalangi langkah perempuan bernetra hitam itu.

__ADS_1


Sesampainya didepan kamar, tanpa basa-basi lagi Nayla segera mengetuk pintu kamar itu.


Ketukan pertama, gagal. Tidak ada jawaban dari dalam kamarnya.


Lantas, Nayla mengetuk lagi dengan lebih keras, diikut bibirnya yang reflek memanggil nama lelaki itu agar mendapat sahutan. "Satyaa..."


"Siapa sih?" Suara perempuan berteriak dari dalam, membuat dahi Nayla berkerut penasaran.


Nayla menoleh kebelakang, mendapati Joan yang kembali melempar senyum kaku penuh kebingungan kepada Nayla.


Masih disofa tempatnya tadi.


"Siapa, Jo?"


Perempuan mana yang tidur dikamar Satya? Sementara, Nayla tahu bukan Nina pemilik suara itu.


Sumpah,


Nayla bertanya seperti itu bukan karena cemburu dan ingin marah. Dia hanya penasaran saja. Penasaran dengan perbuatan Satya yang mungkin selama ini tidak pernah ia ketahui.


Nayla justru sangat senang, karena situasi ini menguntungkannya.


"Jo.. siapa?"


Joan baru membuka mulut ingin menjawab, tapi pintu kamar yang tadi Nayla ketuk tiba-tiba terbuka. Membuat Nayla seketika menoleh.


Asing.


Seorang perempuan asing, yang sama sekali tidak Nayla kenali.


Cantik, seksi, berpakaian minim, dengan kerah leher yang rendah, membuat belahan dada nya yang besar


terlihat sangat jelas.


dan dengan rambut yang berantakan.


Perempuan itu sama, menatap Nayla dari kepala dan turun ke kaki, lalu kembali lagi ke atas,


menatap Nayla dengan tatapan sinis. Salah satu alisnya terangkat, menambah kesan tidak suka dengan kehadiran Nayla semakin ketara di wajah liarnya.


"Siapa, Mau..?" Suara parau milik Satya , yang terdengar dari dalam kamar.


Melihat perempuan didepannya bingung memberi jawaban atas pertanyaan Satya, Nayla tersenyum tipis.


Nayla yakin, perempuan yang entah siapa ini, juga sama dengan dirinya. Sama sekali tidak saling mengenali.


Merasa bingung karena memang tidak mengenali Nayla, Maureen mengintip Joan yang berada dibalik punggung perempuan didepannya,


Yang semakin membuat Maureen tidak mengerti saat melihat Joan hanya mengedikkan bahu, dan mengangkat kedua tangannya seolah tidak mau ikut campur.


Bukan hanya itu, Joan juga terlihat memakai jaketnya, hendak meninggalkan apartemen Satya.


"Mau, siapa?" Tanya Satya lagi, dengan agak keras.


Karena Nayla tahu,


perempuan didepannya itu kebingungan, Nayla berinisiatif menjawab langsung pertanyaan Satya.


"Nay-la," Berteriak dan sedikit menekankan setiap suku katanya.


Membuat Maureen membelalakkan matanya lebar. Tercengang.


Siapa?


Jadi, ini perempuan yang digilai Satya?

__ADS_1


"Aku Nayla, Satyaa..."


__ADS_2