Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Jalan Hidup yang Dramatis


__ADS_3

Sementara itu dihari yang sama ditempat yang berbeda,


Reyhan melangkah masuk kedalam rumah sakit diikuti Jeni dibelakangnya. Kabar baik dari sahabatnya membuatnya sangat bahagia.


"Naura sudah sadar Han, dia mencarimu... cepat kesini."


Langkahnya dipercepat tak sabar ingin memeluk gadis kecilnya. Naura adalah anak asuhnya yang paling kecil saat ini. Ditambah lagi, Naura adalah anak asuh yang ditemuinya dalam keadaan paling menyedihkan.


Itulah kenapa Reyhan merasa bahwa Naura berbeda dari yang lainnya. Trauma yang pernah dialami Naura membuat Reyhan sedikit lebih memperhatikannya.


Saat ini Reyhan sengaja mengajak Jeni.


Jeni akan membantunya menjaga Naura ketika dia sibuk atau tiba-tiba ada urusan yang harus pergi keluar rumah sakit.


Ditambah lagi, nanti malam dia harus datang kesebuah alamat yang sudah dikirim kan seseorang untuk memenuhi janjinya.


Ceklekk..


Reyhan memutar gagang pintu secara pelan. Dia tidak.ingin membangunkan Naura jika saja Naura sedang tidur didalam.


Tangan kanannya terulur mendorong pintu dengan perlahan. Sedangkan tangan kirinya memengang tas warna hitam yang didalamnya terisi laptop dan segala sesuatu yang bisa dikerjakan dirumah sakit.


Sementara Jeni dibelakang Reyhan membawa bekal makanan yang dibawanya dari rumah. Serta tangan satunya, membawa tas kertas berisi keperluan Naura selama dirumah sakit.


Reyhan melangkah masuk dengan hati hati. Mengedarkan pandangannya kesebuah ranjang dengan sprei warna biru muda polos.


Disana ada Naura yang sedang terbaring dengan tangannya menggenggam sebuah boneka teddy bear berwarna pink kesayangannya. Disebelahnya ada Hasan sedang duduk menghadap Naura dan membelakangi pintu. Tangan Hasan terulur membelai puncak kepala Naura yang terikat perban.


"Om Rey..."


Tangis Naura pecah tatkala manik matanya menangkap sosok yang sudah ditunggunya ada didepan pintu. Tangannya melepas boneka itu dari pelukannya seraya berubah merentang pertanda dia ingin dipeluk oleh Reyhan.


Ya, disaat seperti ini,


Saat dirinya merasa ketakutan pada sebuah keadaan, yang Naura butuhkan adalah sosok Reyhan. Hanya Reyhan.


Pelukan dari sang penyelamat hidupnya akan membawa suasana damai direlung hati Naura yang paling dalam, seperti waktu dulu.


Reyhan berjalan semakin cepat menghampiri Naura. Sekuat mungkin dia menahan air matanya agar tidak jatuh dihadapan Gadis Kecilnya itu.


Reyhan memeluk Naura dengan erat.


"Naura takut Om..." Suara nya terdengar parau ditelinga Reyhan. Tangisannya pecah didalam pelukan Reyhan.


" Mama.. Papaa..."


Naura memanggil mama dan papanya ditengah tangisannya membuat hati Reyhan serasa disayat-sayat pisau tajam yang tak dapat dilihat.


"Ma.. ma... hikss..." Naura semakin menangis membuat Reyhan hanya bisa mengusap punggung gadis kecil itu.


"Pa.. pa..hikss.."


"Jangan tinggalin Naura sendiri, Naura tidak punya siapa-siapa"


Kaos polos warna hitam yang Reyhan kenakan sudah basah akibat air mata suci gadis kecil yang belum berdosa ini. Reyhan merasakan apa yang dirasakan Naura. Rasa sakit yang masih membekas dihatinya seakan dibuka paksa untuk diingat kembali.

__ADS_1


Sementara itu, disudut ruangan terlihat air mata Jeni lolos jatuh melihat pemandangan itu. Jeni sendiri tau bagaimana masa lalu Naura. Tak sedikitpun Jeni merasa iri pada adik kecilnya itu yang mendapat kasih sayang dari Reyhan juga Hasan dengan berlimpah. Jeni pun menyayangi Naura dan menganggap naura seperti adiknya sendiri.


"Naura kan ada Om Reyhan..." Jawab Reyhan mencoba menenangkan gadis kecil di pelukannya itu. Mengusap halus punggung kecil Naura.


"Om Rey gak kemana-mana.. Om Rey akan bersama Naura teruss..."


Hikss... hikss...


Tangisan yang terdengar lirih dengan suara yang tercekat tertahan di rongga mulut, tapi justru itu sangat terasa memilukan.


Naura gadis kecil ini bukan tipe anak yang akan mengeraskan suara tangisannya. Dia justru akan menahan suara tangisannya dengan sungguh-sungguh meski air mata nya jatuh deras sekalipun. Hanya akan ada isakan-isakan kesedihan yang jelas terasa menyakitkan.


"Naura,.."


Suara Jeni memanggil Naura membuat Naura sedikit mengendorkan pelukannya ditubuh Reyhan. Mata yang bening itu melirik kearah sumber suara sebelum akhirnya bibir kecil menjawab panggilan namanya.


"Kak Jeni..."


***


Hari mulai sore. Keadaan lebih tenang sekarang. Senyum yang perlahan terukir kembali diwajah cantik bocah kecil itu membuat ruangan rumahsakit ini lebih berwarna dari sebelumnya.


Reyhan duduk disofa kecil yang memang sudah disediakan bersama Hasan disampingnya. Matanya fokus kearah layar laptop yang menampilkan gambar berlembar-lembar kertas putih dengan tulisan hitam pada umumnya. Sedangkan jemari-jemari tangannya sibuk berebut memencet tombol keypad laptop dibawahnya.


Hasan sendiri fokus memainkan game digawainya sambil sesekali membantu Reyhan menyelesaikan skripsinya.


Sedangkan diranjang dengan warna sprei biru muda polos dan selimut motif bergaris dengan warna abu abu dan putih itu, ada gadis kecil sedang tertidur lelap ditemani Jeni sang kakak yang duduk disampingnya.


"Jadi kemaren gimana ceritanya Han,?" Tanya Hasan tanpa mengalihkan pandangannya menatap gawai ditangannya.


"Dia nyuruh aku nikahin anaknya sebagai ganti darah yang dia berikan ke Naura..." Jawab Reyhan terlihat tenang dan santai.


"Haaaah.. serius? kok bisa? Gilaa ya itu orang. Dia kira pernikahan tinggal membalikkan telapak tangan?"


"Sepertinya dia orang baik sih San.. orang kaya kayaknya.."


"Emang ada apa sama anaknya?" Bisik Hasan lirih. Hasan berpikir mungkin anaknya berbeda dari anak anak normal pada umumnya.


"Husss.. gak boleh suudzon." Jawab Reyhan tenang.


"Nanti malam aku disuruh kerumahnyaa.."


"What?"


Hasan masih tak habis pikir tentang jalan hidup Reyhan yang menurutnya begitu dramatis.


Mulutnya menganga tak bisa berkata-kata. Bayangkan saja..


Seorang laki-laki dari keluarga yang cukup kaya rela mempertaruhkan hidupnya dengan hidup lepas dari keluarga berbekal toko buku?


Belum lagi aksinya mengasuh bocah-bocah terlantar dengan menolak berbagai sumbangan dari orang lain dan hanya mengandalkan hasil dari toko bukunya?


Mana ada?


Tapi ketidakmungkinan yang selalu dipertanyakan oleh akal sehat Hasan seakan-akan dipatahkan telak dengan kehadiran Reyhan disampingnya.

__ADS_1


Belum sampai disitu...


Sekarang? Reyhan malah harus menikah dengan seseorang yang bahkan belum diketahui seperti apa rupanya hanya karena balas budi telah menyelamatkan salah satu anak asuhnya.


Padahal pernikahan adalah ikatan suci yang harus dijaga sampai mati bukan?


Tapi lihat, kenapa malah Hasan yang memikirkan mati-matian? Dia saja yang menjalani nampak tenang seperti air mengalir mengikuti kemana arah hidup membawanya pergi..


Hadehh pusing..!


"Kenapa harus bingung.? Aku punya Tuhan.. dan aku percaya, perbuatan baik pasti akan berakhir dengan baik juga."


Jawaban seperti itu yang pasti akan terlontar dari mulut Reyhan atas pertanyaan yang sangat ingin Hasan ajukan.


Santai banget ya kamu?


***


Nayla berjalan masuk kerumahnya. Berjalan santai melewati ruang keluarga. Disana terlihat mama Riana duduk dikursi panjang dengan televisi menyala.


"Maa...." Nayla memanggil mamanya dengan wajah lesu. Berjalan mendekan dan duduk disamping Riana.


"Papa kenapa sih Ma?"


Tanyanya pada Riana sembari menyambar kripik kentang yang memang sudah tersedia dimeja.


"Papa?"


Riana mengkerutkan dahinya. Merasa aneh dengan pertanyaan putri semata wayangnya.


"Iya papa... Papa kayak aneh gitu Ma. Gampang marah, dan selalu nyuruh aku pulang kalau tau aku lagi sama Satya." Nayla menghela nafas.


Riana tampak sedang berpikir. Dirinya sendiri tidak tahu masalah ini.


Yang dia tahu, suaminya itu setuju saja terhadap hubungan Nayla dan Satya.


"Mungkin itu perasaanmu saja Nay,.."


Jawabnya menenangkan kegundahan putrinya.


"Tapi Ma, kata Papa malam ini ada yang mau datang kerumah dan ketemu sama Nayla.."


"Siaaapa?" Tanya Riana mulai tertarik dengan ocehan sang putri.


"Nayla juga gak tahu Ma. Papa cuma bilang, nyuruh Nay pulang soal nya nanti malam ada yang mau ketemu sama Nayla.. Emang Papa gak cerita ke Mama?"


"Enggak tuh" Jawab Sang ibu sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dan menyipitkan kedua bola matanya.


"Tuh kan Papa aneh.." Ujar Nayla dengan menarik nafas kasar dan menjatuhkan tubuhnya disofa.


Memang aneh, itu yang dirasakan juga oleh Riana. Apa yang sebenarnya terjadi?


Tidak biasa-biasanya Zeko menyuruh putrinya pulang apalagi untuk bertemu seseorang.


Memang siapa orang itu?

__ADS_1


__ADS_2