
Halo, ❣️
Pada kangen ya? Ada kesibukan didunia nyata yang bikin konsentrasi ku berantakan.. 😢
Jadi, maapin eike yaa guys baru bisa lanjut sekarang
*****
Sesuai anjuran dokter tadi,
kini Reyhan membawa Nayla ke tempat dokter Obgyn. Awalnya Nayla merasa heran, tapi setelah Reyhan menjelaskan tujuan mereka disana untuk mengecek kondisi rahimnya,
maka yang sekarang perempuan itu lakukan hanya diam, dan menuruti apa saja yang sang suami katakan.
"Siapa?" Tanya Nayla. Sedikit memicingkan mata curiga sesaat setelah Reyhan kembali menghampirinya di kursi antrian.
"Dokter Elsa." Jawab Reyhan. Lelaki itu kembali duduk tepat sebelah kanan Nayla. Kembali merangkul kan tangan kirinya ke bahu perempuan itu.
"Trus, ngomongin apa? Kok menjauh gitu?" Menyipitkan kan mata curiga, setelah sang suami berbicara serius dengan dokter melalui sambungan telefon dan sedikit menjauh darinya, yang pasti obrolannya tidak bisa Nayla dengar.
Dan cukup membuat perempuan bermanik mata hitam itu penasaran.
"Enggak." Menyisipkan anak rambut dikening Nayla kebelakang telinga perempuan itu dengan tangan kanannya. Sambil mengulas senyum. "Cuma minta antrian kamu dicepetin." Alibinya.
Padahal bukan itu,
Reyhan sengaja menghubungi dokter Elsa untuk meminta tolong agar tidak memberi tahu perihal kehamilan Nayla, jika saja janin yang dikandung istrinya itu dalam kondisi yang buruk atau tidak dapat diselamatkan.
Biar kan saja Nayla menjalani perawatan medis apapun tanpa tahu penyebabnya.
Reyhan tidak ingin,
melihat wajah istrinya yang pasti akan dirundung murung tak bertepi.
Reyhan tidak bisa melihat kesedihan Nayla lagi.
Dia adalah seorang suami. Sudah kewajibannya melindungi istri yang dia sayangi.
Walau begitu,
Reyhan masih berharap calon anaknya kuat. Sekuat dia dan Nayla melewati masalah pekik yang hampir saja mengguncangkan bahtera rumah tangganya.
Masalah beberapa waktu yang lalu, yang cukup menguras emosi dan kesabarannya.
"Bener?" Tanya Nayla memastikan, setelah melihat wajah Reyhan yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Tentu saja sayang." Reyhan memasang senyum sebaik mungkin, agar Nayla mempercayai apa yang lelaki ucapkan. Lantas, dia itu melanjutkan kalimatnya. "Kan, kamu harus segera pulang Nay, kamu butuh waktu istirahat yang baik."
Setelah beberapa detik bergelut dengan pikirannya sendiri, akhirnya perempuan itu memilih percaya, dan menyudahi obrolannya.
Nayla menganggukkan kepala, dengan senyum manis terpancar apik di bibirnya yang sensual. "Yasudah, terimakasih ya. Sudah baik memikirkan kondisi ku."
Digenggamnya tangan Reyhan yang sempat merapikan anak rambutnya tadi, kemudian Nayla cium punggung tangan suaminya. "Aku mencintaimu Reyhan, maafkan aku."
Baru saja Reyhan ingin menjawab,
__ADS_1
Seorang perawat keluar dan nama Nayla dipanggilnya. Yang seketika membuat pasangan suami istri itu berdiri dan melangkah masuk ke ruang dokter Obgyn.
Membaringkan diri di ranjang pemeriksaan, didampingi sang suami yang berdiri disampingnya membuat hati Nayla menghangat. Merasa dicintai.
Cinta yang begitu bisa Nayla rasakan meski Reyhan jarang mengatakannya. Cinta yang nyata, dibuktikan dengan setiap tindakannya, bukan sekedar bualan semata.
Reyhan,
Malaikatnya, pelindung raganya dan pemilik hati nya.
Sepanjang pemeriksaannya, Reyhan tidak henti-hentinya berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa. Meminta kekuatan untuk janin didalam rahim Nayla.
Dia diam. Menundukkan wajah dengan mata terpejam. Berbicara dari hati nya yang paling dalam, kepada Tuhan penguasa alam.
Tuhan pengendali seluruh kehidupan. Meminta dengan sungguh meski tanpa bersujud dan bersimpuh.
Hanya satu, kesehatan dan keselamatan wanita cantik yang tangannya sedang Reyhan genggam, beserta kehidupan lain yang mulai tumbuh didalam tubuhnya.
Setelah semua selesai,
Dokter Elsa menjelaskan kondisi perut Nayla yang cukup kuat sehingga membuat Reyhan tersenyum senang.
"Secara keseluruhan,
kondisi kedua nya masih cukup baik pak. Meski dia sempat memberontak dengan membuat ibu Nayla merasakan mual, tapi dia cukup kuat.
Untuk sekarang, hanya butuh waktu istirahat yang cukup. Nanti saya resep-kan vitamin untuk diminum ibu Nayla. Untuk memperkuat dia di dalam sana."
Tertegun,
"Maksudnya ini apa sih dok?"
Keheranan. Sejak mendengar penjelasan yang keluar dari mulut sang dokter jujur Nayla tidak mengerti arah pembicaraannya. Kata demi kata yang mengarah ke kehamilannya membuat sudut hati Nayla menyangkal demi melindungi diri dari rasa kecewa.
Tapi,
ternyata tanpa bisa dia cegah, rasa keingintahuannya menuntun mulutnya untuk langsung bertanya. Meski tanpa persetujuan dari bagian tubuh manapun.
Yang pasti,
Reyhan tampak lebih antusias dari dirinya, dan binar bahagia benar-benar Nayla lihat di wajah suaminya.
Mengulas wajah teduhnya, Dokter Elsa menatap Reyhan, yang seketika membuat Reyhan paham bahwa perempuan itu mempersilahkan Reyhan mengatakan kebenarannya sendiri kepada Nayla.
Disentuhnya dagu Nayla dengan telunjuk tangannya, yang seketika memaksa Nayla mengalihkan padangan bingung dari dokter Elsa, ke Reyhan. "Apa?"
"Nay..." Sejenak menjeda, sambil memberi senyum yang selalu membuat istrinya merasa aman, Reyhan meraih jari jemari Nayla dan membawanya mengusap perut itu. "Sayang, disini ada calon anak kita."
Dengan ekspresi menggelitik setengah menggoda, Reyhan mengamati wajah Nayla yang membulatkan mata sempurna. Kaget.
"Iya, disini. Diperut kamu ada calon anak kita. Kamu hamil sayang.." Mungkin perempuan itu masih belum percaya, sehingga dengan spontan Reyhan memperjelas pernyataannya. "Disini Nay, diperut kamu.."
Mendadak linglung, perasaan bahagia yang membuncah membuat Nayla diam membeku dengan mata yang mulai terlapisi cairan kristal bening. "Benarkah?"
Reyhan membalasnya dengan anggukan, yang seketika membuat perempuan bernetra mata hitam itu memeluk suaminya erat. Dan tanpa bisa ia kendalikan lagi,
__ADS_1
tangis nya pecah dibalik tubuh sang suami.
"Terimakasih Rey.."
"Sama-sama sayang. Terimakasih sudah kuat untuk aku."
Tangis bahagia. Yang sudah mereka nantikan jauh-jauh hari.
Segala perasaannya tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Rasa syukurnya tiada henti dia ucapkan.
Tuhan memang adil.
Menghadirkan pelangi setelah badai agar manusia tahu tidak akan ada keindahan sebelum kesusahan.
Semakin besar ujian yang dihadapi, maka akan semakin terasa bahagia kita dapatkan.
Terimakasih. Terimakasih Tuhan.
Sampai mereka melupakan keberadaan dokter Elsa yang ikut terharu melihat perjuangan Reyhan dan Nayla.
"Selamat ya Ibu Nayla."
Melepas pelukan, lantas Nayla mengusap sisa-sisa air mata yang membuat pipinya basah. "Terimakasih dokter"
"Semoga kandungannya sehat dan kuat. Ibunya juga." Sekali lagi memberi ucapan selamat.
Menjelaskan beberapa hal yang mesti Nayla perhatikan dalam menjaga kandungannya, seperti dianjurkan untuk istirahat lebih banyak, dan menghindari pekerjaan yang berat. Selain itu,
Nayla diharuskan untuk menjaga pola makanan yang bergizi, dan larangan keras,
terlalu banyak pikiran.
Sebelum kembali pulang,
Reyhan menebus obat dan vitamin sesuai anjuran dan resep dari dokter Elsa.
Senyum merekah dan bahagia tidak pernah absen dari bibir nya.
Seperti masuk dalam dunia yang baru,
Secercah harapan dan semangat menjadi sang pelindung kian memuncak. Ada satu lagi tanggung jawab yang harus Reyhan pastikan selalu dalam keadaan baik-baik saja.
Buah cintanya dengan sang istri.
Sore itu sesampainya dirumah,
Reyhan sengaja menyuruh Nayla untuk duduk dan berdiam diri didalam kamar.
"Jangan banyak bergerak. Kalau butuh apa apa bilang sama aku..."
"Iya-iya." Jawab Nayla dengan dongkol. Pasalnya sudah puluhan kali kalimat semacam itu dia dengar dari orang yang sama. Bahkan hanya untuk mengambil air minum saja diatas meja nakas, dia mendapatkan sikap protes dari sang suami. Meski lelaki itu tidak menunjukkannya secara langsung.
Tapi, tetap saja Nayla dapat merasakannya. Sebagai perempuan, dia bisa merasakannya.
Tahu sendiri kan, bagaimana perempuan menggunakan feeling-nya?
__ADS_1
Membuat dirinya seperti tahanan dengan fasilitas VVIP. Menyenangkan, tapi juga membosankan.