
Disini Nayla sekarang.
Duduk sendiri dibangku taman belakang yang jauh lebih sederhana dari pada taman dirumahnya.
Dari jarak beberapa meter darinya, ada sekitar empat anak yang sedang bermain saling berbagi. Termasuk Naura yang paling mungil.
Matanya menerawang jauh.
Sungguh tidak pernah menyangka dia menikahi laki-laki yang begitu misterius. Penuh teka-teki.
Pelan tapi pasti.
Nayla sudah mulai mencoba menerima kondisi dimana dia harus paham bahwa laki-laki yang sudah mengikatnya diatas kata pernikahan itu sudah mengambil alih tanggungjawab dari delapan anak yang entah datangnya dari mana.
Reyhan bilang, mereka adalah sumber kebahagiannya saat Nayla belum disisinya.
Dan Nayla hanya bisa mempercayainya saja.
Memang jelas terlihat dengan mata kepala Nayla sendiri. Disini, mereka saling melindungi. Saling berbagi, dan saling memahami.
Meski tanpa disuruh, mereka terlihat patuh.
Tanpa niat membantah ataupun menyanggah. Nayla kagum.
"Jadi kakak yang dipaksa nikah sama Kak Rey..?"
Suara seorang perempuan memaksa Nayla menegok kebelakang.
Cewek itu.. ya, dia adalah salah satu dari banyak orang yang ada dimeja ruang makan.
Dia yang.. mengusap lembut pipi Naura tadi.
__ADS_1
"Aku Jeni..."
Dia menyapa Nayla dengan tersenyum seraya mengulurkan tangan. Berjalan melingkar hingga dia menjangkau tempat duduk disamping Nayla.
Tentu saja, dengan senang hati Nayla membalas uluran tangan Jeni.
"Kak Nayla gak usah takut. Kak Nayla kan sekarang istrinya Kak Rey, jadi kami pasti menghormati Kakak disini..."
Nayla mengulas senyumnya lagi. Lebih manis dari yang biasanya.
Meskipun gadis remaja itu tak melihat. Karena nyatanya, pandangan Jeni juga menerwang jauh kedepan.
Benar yang Reyhan bilang, jangan lihat rumah ini dari luarnya. Nayla hanya belum saja merasakan kehangatannya.
Sepertinya Nayla mulai enggan pergi dari rumah ini.
Benarkah secepat itu?
"Terimakasih Jen..."
"Emm....."
Nayla bingung harus menjawabnya bagaimana. Ucapan terimakasih itu sebenarnya spontan saja Nayla katakan. Tanpa tujuan dan tanpa alasan.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
Nayla bertanya iseng. Siapa tahu dia bisa mengorek informasi dari gadis remaja ini.
Jeni namanya. Dia gadis yang cantik. Dan sepertinya dia anak yang paling besar disini.
"Tentang? Kak Reyhan? Tentu boleh... Tapi kita harus buat perjanjian dulu.."
__ADS_1
Dahi Nayla berkerut. Apa maksud dari perjanjian disini? Dan memangnya harus ada perjanjian ya? Gunanya?
"Janji aja.. setelah Kak Nay tau tentang Kak Rey. Kak Nay harus selalu disisi Kak Rey.
Jeni tau mungkin pernikahan ini karena dipaksa. Tapi Jeni kenal kak Rey.
Dia tidak akan mungkin bermain-main dengan sesuatu yang sakral seperti pernikahan.!"
Jeni. Satu lagi yang Nayla tangkap.
Dia gadis remaja yang sudah dewasa.
Dia gadis yang begitu menghormati Reyhan. Dan sepertinya, Jeni juga begitu menyayangi Reyhan.
"Emm baiklahh.. sepertinya aku tertarik.."
Nayla menjawab dengan yakin. Dengan tangan yang meraih pundak Jeni agar gadis remaja itu menatapnya.
"Terimakasih kak..."
Dengan tersenyum lebar gadis itu menjawab. "Jadi apa yang ingin kakak tanyakan?"
Nayla berbinar. Ini adalah kesempatan emas baginya. Untuk mengenal Reyhan lebih jauh lagi.
Jujur diakui, Nayla mulai tertarik dengan sosok suaminya yang.. Misterius menurutnya.
"Emmm.. apa ya?"
Berpura-pura berpikir dulu. Padahal jelas, intinya dia akan bertanya seputar Reyhan. Tentunya dengan segala kehidupannya.
Dan dengan sabarnya, Jeni menunggu pertanyaan Nayla.
__ADS_1
Duduk disamping Nayla. Menatap Nayla polos dengan kaki diayun-ayunkan kedepan kebelakang.
"Siapa Reyhan sebenarnya? emm Maksud aku, siapa Reyhan bagi kalian.?"