Reyhan, Suamiku

Reyhan, Suamiku
Jalan Ninja


__ADS_3

Diluar, langit mulai gelap. Terpaan angin laut semakin dingin. Matahari sudah bergeser, menyembunyikan sinarnya dan memberi kesempatan kepada bulan untuk kembali berperan.


Nayla menyalakan televisi. Melihat acara yang sama sekali tidak ia mengerti.


Entah bahasanya, entah jalan ceritanya. Yang Nayla pahami hanya garis besar kesimpulan, bahwa program televisi yang sedang Nayla tonton itu adalah acara tentang bagaimana cara belajar make up untuk para wanita remaja. Nayla bisa menyimpulkan itu saat ia membaca judul acara,


Things about Girl.


"Program acara yang berkelas" gumamnya pelan.


Perempuan itu bosan. Seharian penuh tanpa kesibukan. Hanya tidur, beranjak bangun dan merapikan kopernya, lalu kembali tidur setelah sebelumnya sudah membersihkan diri.


Nayla ingin menghubungi Reyhan, menanyakan kabar kepulangan. Tapi sayang, sejak kemarin ia tidak mendapatkan akses jaringan barang sebentar pun.


Udara dingin yang berhasil masuk melalui celah bajunya, membuat Nayla beranjak mengambil selimut dari atas ranjang. Kemudian, membawanya kembali ke sofa didepan televisi yang menyala.


"Nah, begini lebih hangat." Menutupi seluruh tubuh dengan benda tebal bernama selimut, menyisakan kepalanya saja.


Suara alunan televisi, dan dentuman detik jam yang mengalun seakan saling bersahutan, menyisakan Nayla yang diam dalam kebisingan.


Sayup-sayup matanya ingin terpejam, saat rasa kantuk kembali datang, dan kian menyerang.


Kunci otomatis pintu masuk berbunyi, mengusir rasa kantuknya tanpa permisi.


Nayla membuka matanya lebar, seolah mendapat suplay kekuatan baru.


Kepalanya mendongak,


Dan benar saja, Reyhan dengan senyum manisnya berjalan mendekat.


"Sudah pulang?"


"Sudah.." Lelaki itu berhenti. Berdiri disamping sofa yang menjadi sandaran kepala Nayla. Ya, Reyhan berdiri dengan paha tepat di atas puncak kepala Nayla.


Otak ke-lelakiannya bekerja tanpa aba-aba. Posisi Nayla yang mendongak membuat gairahnya bangkit seketika.


Lehernya yang jenjang semakin tertarik panjang, pun bagian dada nya yang kenyal dan berisi itu semakin tegak menantang. Mengikuti posisi tubuh Nayla yang mendongak menatap Reyhan.


Ini telalu seksi. Ah bukan. Ini menggemaskan.


Reyhan membungkuk. Berusaha memberi kecupan singkat dikening istrinya. Niat hati, hanya kecupan singkat.


Sayangnya, sang hasrat tidak mengizinkan kecupan singkat itu berakhir begitu saja di kening.


Lehernya yang menggoda, mau tidak mau memaksa Reyhan menyusuri tempat itu dengan bibirnya.


Manis. semanis madu. Dan selalu membuat candu untuk berlama-lama bermain di area itu.


Hembusan nafas hangat menerpa kulit tipis milik Nayla, saat bibir Reyhan menjelajahi lehernya. Dia wanita normal, paham dengan situasi yang terjadi. Tubuhnya tidak menolak, pun dengan hati nya yang seakan membuka pintu lebar-lebar. Menyambutnya.


Memejamkan mata adalah jalan ninja. Saat semua rasa bergejolak, membahana dalam diri Nayla. Jantungnya berdetak lebih cepat, seperti habis lari maraton berkilo-kilo meter. Bersamaan dengan tubuhnya yang mulai menghangat.


Hatinya berbunga-bunga. Rasa bahagia yang membuncah setiap Reyhan menyentuhnya.

__ADS_1


Perasaan macam apa ini. Takut, tapi menginginkan. Kadang sakit, tapi lebih banyak menikmati. Ingin berhenti, tapi masih mau lagi. Nayla terbuai, mulai terlena dengan sentuhan-sentuhan intim suaminya.


Kedua tangan Reyhan yang berada tepat disamping kedua telinga Nayla, memangku tubuhnya sendiri agar tidak jatuh, dan menimpa tubuh sang istri.


"Ihh, gelii ..." Nayla bergidik. Bulu bulu halusnya berdiri. Dan tubuhnya mulai terpancing. Rangsangan yang Reyhan berikan terlalu ekstrim, apalagi, kini semua bagian leher Nayla sudah disapu habis oleh bibir sang suami. "Di ranjang aja ya.."


"Aku mau nya disini"


"Tapi, kamu belum mandi..."


"Bodo amat, nanti setelah ini baru mandi bareng.."


"Ta-tap....." Apapun yang ingin Nayla katakan, semua terhenti saat Reyhan sudah mencium bibirnya dengan lembut. Mem*gutnya dalam-dalam. Berbagi air liur.


Apa menurutmu menjijikkan? TIDAK. Cinta membuat segalanya menjadi nikmat. Dan indah.


Hawa dingin yang sejak tadi menyerang, tiba-tiba hilang saat Reyhan mulai ikut menaiki sofa, dan menggagahi istrinya. Ruangan itu berubah panas. Ditambah tubuh Nayla dan Reyhan yang juga memanas. Gairah yang tersulut api ternyata mampu menjadi penghangat alami.


Semua terbukti, saat Reyhan berhasil menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, menanggalkan semua baju Nayla dan membuangnya ke sembarang arah. Namun tubuh Nayla sama sekali tak merasa kedinginan.


Tau begini, kenapa Reyhan gak pulang sejak tadi sih.?


Bahkan, keringat mulai bercucuran, saat tangan nakal Reyhan mulai memainkan titik-titik sensitif.


Menyelinap, membelai dengan halus hutan yang rimba dibawah sana. Sedangkan, bibirnya meminta jatah bagian atas. Memberi sensasi berbeda di bukit kembar milik Nayla. Memberi kecupan, memberi gigitan, memberi tanda, dan bukti kepemilikan di semua tempat.


"Ah.. pelan-pelan Rey..."


"Tentu saja.. suami-ku"


Lelaki itu menyeringai, saat hutan yang rimba sudah mulai kebanjiran. "Aku mulai sekarang ya?"


Reyhan melepas celananya. Merentangkan paha Nayla dan pelan-pelan, memasukkan kelelakiannya ke dalam sarang. Semakin dalam, mencari tempat yang paling nyaman.


Masih sempit. Dan berkedut. Surga dunia memang se-enak ini, lantas bagaimana dengan surga akhirat? Pasti lebih lagi bukan?


Kedua insan itu, sama-sama menyelami kenikmatan dunia.


Bukan lagi hanya suara televisi dan dentuman jam yang bersahutan. Ada suara lain, suara yang tertahan. Tapi menggiurkan. Didamba semua orang.


"Aku mencintaimu, Nayla..." Ucapnya disela-sela penyatuan mereka.


Keduanya berpacu dengan waktu. Gerakan yang primitif masih mendominasi aktifitas mereka. Peluh membanjiri kening Nayla dan Reyhan.


"Rey, ah.. pelan-pelan..."


"Sebentar lagi.... ah..." Reyhan ambruk diatas Nayla. Bersamaan dengan sang istri yang juga mencapai kenikmatan.


"Terimakasih..." Mengeratkan pelukannya yang posesif pada sang istri. "Tetaplah di sisi ku, Nay..."


Deru nafas keduanya masih memburu. Gejolak dan rasa nikmat belum mereda. Perlahan, Nayla membuka matanya yang sejak tadi sengaja ia pejamkan. "Kamu curang.." Sambil memukul bahu Reyhan pelan.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Kamu masih pakai baju. Sedangkan, kau lihat aku?"


Seakan mendapat ide untuk menjahili sang istri, Reyhan tersenyum licik. Ia menjauhkan wajahnya sejengkal. Untuk melihat tubuh Nayla yang telanjang.


"Reyhan, apa an sih.. jangan dilihat !" Nayla memukulnya lagi.


"Kan tadi kamu yang nyuruh"


"Ya nggak gitu juga dong.." Memberenggut sebal. "Coba pindah, aku sesek nafasnya kamu tindihin begini."


"Aku masih capek sayang." Reyhan memiringkan tubuh Nayla, lalu dia berbaring disebelahnya. Sofa yang sempit membuatnya memeluk Nayla dengan sangat erat. Benar-benar bedempetan. Atau, dia yang akan terjengkang kebelakang.


"Uluhh, baru juga sekali doang, masak udah capek?"


"Jadi? kamu mau berapa kali lagi?"


Eh?


Apa?


Enggak begitu maksud nya !


"Astaga, Reyhaan..."


"Apa?"


Banyak sanggahan yang ingin Nayla katakan untuk menyangkal pemikiran sang suami. Tapi, Nayla lebih memilih diam. Menyembunyikan wajah merahnya didada bidang suami yang tengah merengkuhnya.


Iya, lebih baik diam. Atau, Reyhan akan salah mengartikan lagi?


Diam adalah emas. Itu peribahasa yang tepat untuk sekarang.


"Oh iya Nay, jaket yang aku pakai waktu berangkat ke sini kemaren, dimana?"


"Kenapa?"


"Itu, disakunya ada flashdisk. Aku mau memeriksa isi nya nanti malam."


"Yaahh, Baju kita yang kemarin ya? tadi tak kasih petugas laundry. Katanya besok pagi baru dikembalikan."


"Serius?" Duh, padahal tadi Reyhan pulang cepet, karena mau tahu isi flashdisk itu. Reyhan ingin tahu video apa yang sebenarnya sedang dipakai sebagai senjata ancaman.


Video yang katanya, bisa mempengaruhi keharmonisan pernikahannya.


"Iya, memang isinya apa? penting banget ya? Maaf"


"Ya penting lah. tapi yasudahlah, gak papa. Besok aja memeriksanya."


"Maaf. Habis aku nggak tau kalau ada flashdisknya. Mana penting banget kan ya?"


"Enggak kok, cuma penting aja." Tangan Reyhan mengusap-usap rambut Nayla. Lalu, mendaratkan kecupan di puncak kepala perempuan itu. "Sudah, gak papa"


Aku berjanji, akan menjaga pernikahan kita. Sepahit apa-pun nanti,!

__ADS_1


__ADS_2