
Beberapa orang memang diciptakan seperti pelangi. Sangat indah.
Tapi, betapa kerasnya pun kamu mencoba mendekati, ia tetap tidak akan bisa kau raih.
Pintu yang tertutup dengan keras membuatnya jatuh merosot, seakan kakinya tak bertulang.
Nina menangis dengan air mata yang turun deras membasahi pipi.
Satya,
Lelaki yang ia cintai. Lelaki yang ia ingin kan sebagai teman dalam menghabiskan sisa umur bersama-sama kelak, ternyata bukan lelaki baik yang harus ia pertahankan.
Nina usap perutnya dengan perlahan.
"Maaf, maafkan mama yang tidak bisa mempertahankan ayahmu. Maaf, mama menyerah sayang "
Selang beberapa menit setelah puas menangis, Nina berdiri meninggalkan apartemen itu. Ia meraih ponselnya, menulis sebuah nomor dari kartu nama yang ia simpan didalam tas. Kemudian Nina memanggil nomor itu.
"Halo, dengan Nina disini. Bisakah aku berbicara dengan Reyhan?"
Setelah berbicara panjang lebar, Nina mengucapkan terimakasih.
Sambungan telefon itu Nina tutup dengan perasaan lega. Kemudian ia menelfon Sari. Memintanya menjemput dibawah apartemen milik Satya.
Sambil berjalan turun kebawah tanpa tenaga, Nina melamun.
Mengingat kembali kenangan manis antara dirinya dan Satya didalam apartemen itu.
Sedikit banyak, Satya pernah memperlakukannya dengan baik selayaknya istri yang ia cintai. Meskipun tak sedikit pula, Satya bertindak kasar dengan menampar Nina hingga berdarah.
Perlakuan Satya yang seolah-olah seperti suami siaga membuat Nina lupa, siapa Satya sebenarnya. Nina lupa diri, hingga berani memiliki harapan membangun keluarga yang utuh dengan lelaki itu.
Tapi, sekarang Nina sadar.
Apa yang Satya ucapkan tadi benar,
Mungkin Nina yang terlalu berharap lebih. Nina terlalu berharap Satya akan berubah demi mereka. Demi Nina dan bayi nya.
Hingga harapan yang terlalu tinggi itu sekarang menghempaskan Nina ke dasar jurang, tanpa ampun. Tanpa belas kasihan.
Membuat Nina lupa jalan pulang kembali ke sisi Satya.
"Nin..." Seru Sari terkejut begitu keluar dari mobil nya dan mendapati Nina berdiri dipinggir jalan dengan wajah yang sembab. Bukan hanya itu, rambut Nina tampak acak-acakan dan sudut bibirnya membiru bekas tamparan. "Ya Ampun, kamu kenapa?"
Air mata Nina jatuh, bahkan hanya sekedar menjawab pertanyaan Sari saja, bibir Nina terasa kelu. "Sar..."
Dua perempuan itu berpelukan. Nina tengah mencari sumber kekuatan dari sahabatnya, sedangkan Sari yang paham dengan perasaan Nina memilih diam sambil mengusap-usap punggung sahabatnya itu. Membiarkan Nina menangis sampai puas di dalam pelukannya.
__ADS_1
"Sabar ya..." Ucapnya setelah Nina melepas pelukan itu. "Masuk ke mobil yuk. Kamu tenangin diri kamu dulu Nin."
Nina mengangguk. Ia masuk ke dalam mobil Sari dan membiarkan Sari membawanya kemanapun pergi.
Hening.
Selama perjalanan, Sari fokus mengemudi mobil, dan Nina yang lebih memilih melihat keluar jendela dengan tatapan yang kosong. Membiarkan air matanya jatuh tanpa suara.
Sampai, tibalah mereka disebuah cafe.
Sari memesan tempat dan membawa Nina masuk kedalam cafe itu.
"Kamu belum makan kan? Makan dulu ya?" Tawar Sari sambil membolak-balik buku menu. "Mau makan apa Nin?"
Menggeleng lemah sebagai jawaban. "Aku lagi gak pengen makan Sar. Pesen sop buah aja deh. Yang tanpa nanas yaa.?"
"Enggak. Harus makan." Tegas. "Aku tau kamu lagi ada masalah, tapi makan ya Nin? Demi bayi kamu. Demi keponakan aku." Serunya sambil mengusap perut Nina lembut.
Nina tersenyum tipis menerima perlakuan itu dari Sari. Sangat beruntung dia memiliki sahabat yang baik seperti Sari dan Nayla. Sahabat yang perhatian sekalipun masalah sempat ingin merenggangkan mereka. "Yasudah, pesen sirloin steak nya aja, tambah nasi ya.."
Sari mengangguk, dan memanggil pelayan cafe untuk memesan makanannya.
Sambil menunggu pesanan, kedua perempuan itu saling bertukar kabar dan cerita. Sari yang tampak ceria dan antusias berhasil menarik tangan Nina dari jurang yang menyedihkan itu.
Terbukti dengan terciptanya seutas senyum dibibir pucat Nina.
Nina masih diam. Matanya kembali berkaca-kaca mengingat nasib rumah tangganya.
"Kamu berantem sama Satya?"
Nina menunduk. Pertanyaan Sari seakan tepat sasaran. "Satya, dia membawa wanita lain pulang ke apartemen Sar. Dia ngusir aku."
"Apa?" Terkejut.
Nina mengangguk, seakan memberi tahu ke Sari semua yang keluar dari mulutnya barusan adalah kebenaran.
"Brengs*k emang dia." Sari yang mendengar cerita Nina merasa ikut marah atas perlakuan Satya pada kedua sahabatnya. "Maunya dia apa sih? Dia bersikap kasar kan sama kamu? Dia sering nampar kamu kan? Dan kenapa kamu masih saja bertahan sih?"
Nina mengusap pipinya, menghapus air mata yang mengalir deras di sana. Bibirnya kelu, tidak sanggup melanjutkan cerita yang lebih menyakitkan lagi. "Dulu, dia tidak seperti ini Sar. Dulu dia baik, memperlakukan aku dengan baik meskipun sesekali dia mengaku masih mengharapkan Nayla."
"Lalu, Sejak kapan dia jadi sekasar ini Nin?"
"Sejak,. dia mulai curiga hubungan Nayla dan Reyhan.
Dia jadi lebih sering bersikap kasar, sejak dia tahu Nayla sudah menikah. Sekarang, aku tahu, kenapa Nayla melarang kita memberitahukan pernikahannya dari Satya. Laki-laki itu benar-benar menggila dan selalu melampiaskan amarahnya kepada aku"
Sari mengatur nafasnya yang menderu akibat gejolak emosi mendengar cerita Nina.
__ADS_1
"Gak henti-hentinya dia. Apa kurang, dia selalu mengganggu rumah tangga Nayla dan suaminya sampai harus sekasar itu sama kamu?"
"Apa?" Nina kaget. Satya mengganggu rumah tangga Nayla?
Ah,
kenapa ia tidak tahu. "Satya kenapa Sar?"
"Eh," Sari kelabakan. Membungkam bibirnya yang hampir keceplosan.
Suasana menjadi canggung untuk Sari karena tidak tahu harus menjawab apa. Dia satu sisi, Nina berhak tau apa saja yang sudah Satya lakukan kepada Nayla, disisi lain, ia sudah berjanji kepada Nayla untuk tidak menceritakan apapun kepada Nina. Dengan alasan, Nayla takut Nina merasa bersalah karenanya.
Sampai pelayan datang mengantarkan pesanan mereka, membuat Sari mengucap syukur bisa keluar dari situasi canggung ini.
"Makan dulu Nin." Sari membantu Nina terlebih dulu, sebelum ia menyantap sendiri pesanannya.
"Terus, langkah kamu selanjutnya apa? Masih mau pulang ke apartemen Satya?" Membuka obrolan, sekaligus mencari topik lain.
Nina menggeleng sambil mengunyah potongan daging steak di mulutnya. "Enggak Sar. Aku gak mau balik lagi kesana. Aku sudah memutuskan untuk pisah sama Satya, setelah anak ini lahir."
"Kamu serius?"
"Iya, aku akan membesarkan anak ini sendirian saja. Aku yakin aku bisa." Dari pada bayi ini hidup bersama ayah kandung yang sama sekali tidak mengharapkannya, lebih baik Nina membesarkan anaknya sendirian, tanpa mengenalkan dia kepada Satya.
Nina yakin bisa.
Kasih sayangnya yang berlimpah akan ia berikan seutuhnya kepada buah hati nya kelak.
Lagian, tabungan didalam rekeningnya sudah lebih dari cukup untuk menghidupi dia sampai beberapa tahun ke depan.
"Terus, setelah ini kamu mau kemana? pulang ke rumah orang tua kamu?" Tanya Sari lagi yang masih penasaran.
"Enggak." Nina menggeleng cepat. "Aku enggak mau nyusahin mereka lagi."
"Kalau begitu, tinggal saja di rumah ku ! bagaimana?"
"Enggak usah Sar." Jawab Nina lagi. "Aku sudah meminta bantuan ke Reyhan."
Eh, Sari terkejut.
"Apa?"
***
Jangan lupa like ya 😘
Kalau like-nya cepet, Uploadnya lagi juga pasti cepet.. ðŸ¤
__ADS_1