
Nayla masih terpukau dengan pemandangan indah didepannya saat mobil yang Reyhan kemudikan berhenti di suatu tempat.
"Ada tempat yang ingin kamu kunjungi?" Awal mula pertanyaan Reyhan beberapa jam yang lalu saat perjalanan pulang dari rumah Nina.
"Aku masih ada hari libur"
Yang kemudian, membuat Reyhan membawanya ke tempat ini.
Pantai Sadewa
"Ayo turun."
Nayla mengangguk. Melepas sabuk pengaman, lantas dia membuka pintu dan bergegas menghampiri Reyhan yang sudah menunggunya. "Ayo cari makan, kamu belum makan dari tadi pagi."
"Tapi Rey, kamu apa enggak pingin main-main di pantai ini dulu?"
"Nanti ya, setelah makan." Digandengnya tangan Nayla dengan erat. Berdua, berjalan beriringan menuju belakang bukit.
Dimana bangunan megah bernama Sadewa Hotel berdiri.
"Kok kesini? katanya cari makan?" Nayla bertanya, sambil melihat-lihat ke atas. Sadewa Hotel, tempat yang pernah dikunjungi bersama Reyhan saat bulan madu kala itu, kini berubah jauh lebih bagus dengan fasilitas yang lebih lengkap.
"Kamu lagi hamil, gak boleh kecapekan naik tangga." Reyhan menjawab sambil memandang Nayla lekat-lekat. Menyisipkan anak rambut yang berantakan ke belakang telinga sang istri. "Jadi aku membawamu lewat sini. Gak papa kita berjalan agak jauh kebelakang bukit asal jalannya enggak nanjak. Lewat hotelnya ini. Ada eskalatornya tuh"
Nayla tersenyum. Sikap Reyhan yang begitu perhatian membuat dia merasa dihargai. "Terimakasih." Bergumam lirih.
Seperti hari-hari biasanya, Restoran Sadewa selalu menjadi tempat yang paling banyak dipilih dibanding tempat lainnya.
Terbukti dari banyaknya pengunjung yang hampir memenuhi semua kursi yang tersedia.
Ada yang masih kosong. Tapi tidak lebih dari lima kursi.
Mungkin tempatnya yang strategis, dibangun lebih estetik dan instagramabel sehingga menarik wisatawan untuk lebih memilih Restoran ini dibanding rumah makan lainnya. Baik yang masih muda, maupun yang sudah cukup usia.
"Crab with black pepper sauce, sama kasih tumis kangkung dan nasi dua porsi." Kemudian, Reyhan menoleh kearah Nayla yang duduk didepannya. "Kamu pingin makan apa?"
"Em, Aku mau,
Grilled squid with honey sauce, pakai sambel tomat with shrimp paste, dan vegetable salad. Kasih daun kemangi ya mbak."
Pelayan restoran mengangguk. Dia pergi setelah mencatat pesanan Nayla dan Reyhan, tak lama kemudian hidangan mereka tersaji lengkap dimeja.
Dan Nayla akui,
Rasa makanan yang tidak mengecewakan ini tentu menjadi alasan utama kenapa Restoran Sadewa menjadi incaran para wisatawan. Baik lokal, maupun non lokal.
__ADS_1
Hari menjelang sore saat Nayla sudah puas bermain di bibir pantai bersama Reyhan. Kini, mereka juga sudah berganti pakaian. Dan beristirahat sejenak di Hotel Sadewa. Didalam kamar yang sama dengan saat dulu pertama kali Nayla kesini.
"Kamu mau menginap disini Nay?" Tanya Reyhan, yang dibalas dengan gelengan kepala oleh sang istri.
"Atau, kamu mau kemana lagi? Aku akan mengantar, kemana tuan putri ingin pergi."
Nayla meletakkan ponselnya dimeja. Dia menoleh kesamping dengan memicingkan mata kearah Reyhan.
"Kenapa?" balas Reyhan, menjawab sorot mata Nayla yang seakan curiga.
"Biasanya nih ya, kalau ada orang yang tiba-tiba baik banget. Biasanya ada maunya."
"Yang pasti. itu bukan aku." Terang Reyhan.
"Terus, kenapa kamu tiba-tiba baik?" Nayla bergumam lirih. Tapi masih sanggup didengar Reyhan.
"Jadi selama ini, aku kurang baik?"
"Bukan begitu." Nayla menarik nafasnya, sebelum dia melanjutkan kalimatnya. "Kan, biasanya kamu enggak nge-bolehin aku keluar rumah. Jangankan keluar rumah, keluar kamar saja harus laporan dulu kan?"
Nayla hanya tidak tahu. Bahkan sebelum Reyhan memutuskan membawa Nayla perjalanan jauh ke rumah Nina, lelaki itu sudah menghubungi dokter kandungan yang menangani Nayla.
Menanyakan resiko apa yang bisa terjadi.
"Tidak masalah pak. Asal ibu Nayla tidak sampai kelelahan saja. Apalagi kalau itu bisa membuat dia merasa senang, itu justru bagus untuk janinnya. Kesenangannya akan mengusir tekanan batin yang menyerang ibu Nayla, dengan begitu psikosomatis yang dia derita bisa sembuh dengan sendirinya."
"Yasudah, jadi pingin kemana lagi? Bermalam disini juga boleh."
Nayla menggeleng. Dia tidak tau ingin kemana lagi. Sebelum dia tiba-tiba dia merasa merindukan seseorang. "Aku mau ke rumah mama sama papa, boleh? Aku kangen mereka Rey."
"Ide yang bagus." Mencium kening Nayla, "Tentu boleh dong Nay. Setelah ini, kita kesana."
"Terimakasih.." Nayla tersenyum.
"Sama-sama istriku. Kalau begitu, ayo bersiap-siap check out."
Mengangguk, lantas Nayla meraih tas selempang nya. Perempuan itu masuk ke kamar mandi mengambil paper bag berisi pakaian basah yang dia gunakan di pantai tadi.
Hanya mengambilnya dikamar mandi saja. Karena sepanjang perjalanan, Reyhan lah yang membantunya membawa paper bag itu sampai ke mobil mereka.
Sepanjang perjalanan, diisi dengan obrolan ringan keduanya. Reyhan bertanya, dan Nayla yang menjawab. Begitu juga sebaliknya.
"Kapan-kapan, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Kemana?"
__ADS_1
"Nanti juga tau sendiri."
Dirumah Papa Zeko.
Mama Riana sedang membantu bibi di dapur saat tadi pintunya diketuk. Sekarang dia tengah berjalan keruang tamu untuk membukanya, dan tersenyum senang serta merentangkan tangan menyambut Nayla.
"Ma.." Dia ikut memeluk sang mama, sebelum akhirnya memberi kesempatan sang suami untuk mencium tangan Mama Riana.
Pelukan mama yang masih menghangatkan.
Selama Nayla jauh berada di negeri beton, hingga ia kembali ke Negara adidaya indonesia, baru hari ini dia sempat mengunjungi orang tuanya.
Bukan Nayla melupakan keduanya,
Tapi, banyaknya masalah yang menimpa, mulai dari scandal-nya dengan Satya yang merusak citra baik perusahaan keluarga, sampai masalah kandungannya, calon malaikat kecil buah cintanya dengan Reyhan yang harus dia jaga. Yang memaksanya mau tidak mau harus berteman baik dengan kasur dan kamar miliknya dirumah Reyhan, membuat Nayla hampir tidak memiliki waktu untuk mengobati rasa rindunya pada orang tua.
Meskipun diam-diam,
dia selalu sempatkan bertukar kabar dengan sang Mama.
"Masuk Rey" Riana mempersilahkan sang menantu, sebelum ia kembali menutup pintu. "Barusan mama bantuin Bi Sri. Mumpung papa lagi istirahat."
"Kalian dari mana?" Lanjut Mama. Saat mereka sampai diruang tengah.
"Dari tempat Nina ma.." Nayla ikut duduk disamping Riana setelah membiarkan Reyhan berlalu ke kamar. "Trus mampir ke sini."
Merindukan sosok Mama yang perhatian, dan juga sosok papa yang penuh kasih sayang.
"Nginep sini kan?"
"Enggak tahu nanti." Nayla menggelengkan kepalanya. "Tinggal bagaimana Reyhan."
Riana hanya mengangguk menanggapi.
Dan ketika ibu dan anak itu berbincang tentang banyak hal, sampai lupa waktu. Sadar saat langit mulai men-jingga, lalu tiba-tiba lelaki paruh baya membuka pintu kamarnya.
"Itu, papa sudah bangun."
Papa.?
Deg. Disinilah ketakutannya.
Ketakutan yang sejak tadi sebenarnya mengganggu pikirannya. Papa,
iya, bertemu papa untuk pertama kalinya setelah kejadian itu, membuat jantung Nayla serasa berhenti berdetak.
__ADS_1
Bagaimana Nayla harus menunjukkan muka dihadapan papa, setelah semua yang terjadi.?