
Reyhan baru saja turun dan menarik kursi dimeja makan saat sebelumnya hanya ada mama Riana disana. Setelah beberapa jam lamanya lelaki itu memilih beristirahat di dalam kamar, sekaligus memberi kesempatan pada Nayla untuk menuntaskan perasaan rindunya pada mama Riana.
Ah untungnya , kamar Nayla selalu siap digunakan kapan saja.
Mulanya, lelaki biasa saja
sebelum akhirnya, dia menyadari hanya duduk berdua bersama mama mertua. Lalu dimana Nayla?
"Nayla masih ngobrol sama papa nya diruang kerja."
Bahkan sebelum lelaki itu sempat bertanya, Riana sudah lebih dulu menjawab pertanyaan yang ingin dia ajukan. "Mau makan dulu, atau nunggu mereka."
"Nunggu mereka saja ma..."
Disatukannya kedua tangan itu dengan erat diatas meja. Jujur, Reyhan harap-harap cemas memikirkan apa yang kiranya sedang mereka berdua bicarakan. Meski dia bisa menebak kemungkinan besar masalah itu tak jauh dari skandal kemaren.
Reyhan khawatir. Kalau sang Papa yang masih dalam suasana kecewa bisa memarahi Nayla sampai hilang kendali. Bagaimana nanti dengan kondisi kandungan Nayla kalau sampai dia tertekan? dan bagaimana pula dengan kesehatan Papa?
Ceklek...
Pintu ruang kerja terbuka. Keluarnya dua sosok dari sana membuat Reyhan bernafas sangat lega.
Pemandangan yang Reyhan lihat, ternyata jauh sangat berbeda dari apa yang dia khawatirkan.
Senyum sumringah Nayla yang merekah, meski matanya sedikit sembab. Pun dengan wajah papa Zeko yang masih tenang, tak sedikitpun kemarahan tergambar disana.
Apalagi, keduanya berjalan dengan bergandengan tangan. Dan sesekali Nayla membatu jalan sang Papa agar lebih hati-hati.
Reyhan tak melepas pandangan itu, bahkan sampai Nayla telah duduk disampingnya.
"Yasudah, kalau begitu mari makan.."
Seperti biasa, sejak dulu Mama Riana selalu melayani Papa dengan sungguh-sungguh. Seperti halnya dimeja makan, perempuan itu akan mengutamakan sang suami, mengambilkan nasi dan lauk pauknya terlebih dulu, kemudian baru dia mengambil untuk dirinya sendiri.
Dan sikap tersebut, sebagian berhasil menjadi contoh yang bagus untuk Nayla. Meski belum se-sempurna sang mama dalam melayani suami, namun Nayla tetap berusaha melayani Reyhan sebaik yang dia bisa.
"Selamat makan, Mas Reyhan..."
Ucapnya sangat lirih setelah meletakkan beberapa sendok potongan daging sapi ke atas piring sang suami, yang seketika ucapan itu membuat Reyhan menoleh.
Senyum Nayla yang tiada sepah nya membuat Reyhan tertegun. Apa dia tidak salah dengar?
Nayla yang sengaja menggoda dengan berpura-pura mengabaikan Reyhan. Meski dia tahu lelaki itu tengah memperhatikannya, tapi Nayla memilih fokus mengambil makanan untuk dirinya sendiri, tentu dengan senyum yang dia tahan semampunya.
Baru sebelum perempuan itu menyendok, dia kembali menoleh ke Reyhan yang sedari tadi belum mengalihkan pandangan darinya. "Dimakan, mas.."
Reyhan menatap Nayla intens. Sungguh, dia merasa sangat senang saat Nayla memanggilnya seperti itu.
Rasanya seperti, jiwa nya sudah sepenuhnya diterima oleh perempuan itu.
Reyhan ingin tersenyum, tapi dia menahannya dengan menggigit bibir bawahnya. Sebelum akhirnya Reyhan mulai menyendok makanan untuk dirinya.
__ADS_1
Aku akan memberikan hadiah padanya, nanti malam.. ucap Reyhan dalam hati.
Dan Nayla paham, arti dibalik gigitan bibir itu membuat bulu tengkuknya berdiri, kikuk.
Tiba-tiba saja Nayla merasa salah tingkah, hingga tidak bisa berekspresi sedikitpun sampai dia menghabiskan makanan di piringnya. Hening.
"Oh iya ma...." Suara papa Zeko memecah keheningan yang tercipta diantara Nayla dan Reyhan. Bukan hanya mereka, kini semua mata tertuju pada papa. "Mama belum tahu kan? Sebentar lagi, kita akan punya cucu.."
Mama menyelesaikan suapan terakhirnya. Dia mengunyah makanan di mulutnya mata membulat sempurna.
Mendengar ucapan sang suami membuatnya berpikir cepat. Kemudian tanpa menunda waktu lagi, perempuan itu menatap Nayla. "Nayla hamil?"
"Iya ma.." Jawab Nayla senang.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Tuhan.." Ucap syukur mama.
Aura bahagia tergambar jelas di wajah wanita paruh baya bernama Riana. "Sudah berapa bulan sayang.? Kok baru bilang?"
Sebelum menjawab, Nayla menghabiskan tegukan terakhir minumannya. Lalu mengelap bibirnya dengan tisu. "Maaf ma. Nayla cuma nyari waktu yang pas aja. Kan Papa juga baru aja keluar dari rumah sakit.?"
"Bener? Bukan mau main rahasia-rahasiaan kan?"
"Bener ma." Kali ini Reyhan yang menjawab. "Kita cuma gak mau nambah-nambahin pikiran mama. Lagian kita juga belum lama tahu nya."
Menyipitkan mata, wajah Riana belum sepenuhnya lega. Melihat itu kembali membuat Zeko bersuara. "Sudah lah ma, yang penting kan sekarang mama sudah tahu. Doain aja semoga kehamilan Nayla sehat dan lancar sampai melahirkan."
"Iya-iya." Riana menggenggam tangan Nayla. "Selamat ya sayang. Gak terasa gadis kecil mama sekarang sudah mau jadi ibu."
"Terimakasih ma..."
"Masih ada kerjaan ya?" Tanya Nayla.
"Cuma nge-cek laporan dari Bima, bentar lagi selesai." Jawab Reyhan singkat. "Oh iya, tadi didalam ruangan kerja Papa, ngomongin apa?"
Nayla terdiam, sambil bercerita, pikirannya menerawang jauh mengingat oblorannya dengan sang Papa diruang kerjanya tadi.
"Sejujurnya, Papa sangat kecewa Nay..."
Sambutan pertama saat langkah kaki Nayla memasuki ruangan kerja itu. Dan Nayla hanya bisa menjawab "Maaf pa.. maaf. Ini memang murni kesalahan Nayla."
Air mata tentu saja tidak bisa Nayla tahan. Tetes demi tetesnya mulai membasahi wajah Nayla. "Nayla yang salah, sudah mengecewakan Papa. Maaf, Nayla tidak bisa menjaga kepercayaan yang papa berikan untuk Nayla. Yang justru malah Nayla hancurkan."
"Kamu tahu? Betapa malu nya Papa kepada suami mu?" Ucap papa Zeko lagi. "Papa Nay yang memaksa Reyhan menikahi kamu. Karena papa pikir, kamu tidak akan melakukan hal sejauh itu. Ternyata papa salah. Bagaimana kalau Reyhan merasa tertipu?"
Nayla mendongakkan matanya. Meski berlinang dan memerah, tapi dia beranikan diri menatap mata sang Papa. "Pa, Aku tahu kalau aku salah. Sudah mempermalukan papa dengan tindakan bodoh ku itu. Tapi aku tidak akan mempermalukan papa untuk kedua kalinya dihadapan lelaki pilihan Papa.
Jauh sebelum acara pernikahan itu terjadi, aku sudah menceritakan semua masalah ini ke Reyhan. Aku sudah mengatakan bagaimana kondisi ku.
Dan aku juga sudah membebaskan Reyhan jika dia ingin membatalkan persetujuannya untuk menikah dengan Nayla."
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Reyhan tahu masalah ini, sebelum pernikahan kita terjadi."
Sejak Nayla menceritakan hal itu lah, Papa Zeko mulai kembali lembut sampai obrolannya mulai ringan kembali. Sehingga membuat Nayla memiliki kesempatan untuk menceritakan perihal kehamilannya.
Tak lupa, Nayla juga menceritakan kepada papa nya, bagaimana selama ini lelaki pilihan Papa nya begitu menjaga dan menghormati Nayla sebagai seorang perempuan. Tanpa mengungkit sedikitpun kesalahan Nayla dimasa lalu.
"Terimakasih ya pa, sudah menikahkan aku dengan lelaki terbaik pilihan Papa. Jauh lebih baik dari pilihan ku sendiri." Nayla menghambur memeluk papa nya. "Terimakasih sudah menjaga Nayla sampai sejauh ini. Nayla sangat menyayangi Papa."
Zeko membalas pelukan Nayla. "Sama sama Nay. Seorang Papa akan terus melakukan yang terbaik untuk anaknya."
"Jadi begitu mas, ceritanya. " Ucap Nayla kepada Reyhan yang mulai menutup laptopnya.
Tak terasa, selesai Nayla bercerita bersamaan dengan selesainya Reyhan dengan urusan kantornya.
Panggilan baru yang Nayla berikan untuk Reyhan tentu membuat lelaki itu senang. "Aku ingin mendengarnya sekali lagi..."
"A-pa?"
"Jangan berpura-pura. Kau senang menggoda ku ya Nay?" Ucap Reyhan yang mulai mendekat kearahnya. "Ayoo, aku ingin mendengarnya sekali lagi.."
"Apa sih, mas Reyhan..." Nayla memberi penekanan disetiap kalimatnya. Dengan pipi yang ikut memerah malu, membuat Reyhan tidak tahan untuk membiarkan Nayla berlama-lama.
Lelaki itu menjatuhkan kepalanya pelan diperut Nayla, mengusap-usap dengan lembut, sambil bergumam mengatakan sesuatu.
"Halo adek. Adek kangen Papa kan?"
Nayla tersenyum mendengarnya.
"Kangen dong papa." Ucap Reyhan lagi sambil menirukan suara anak kecil.
Kemudian Reyhan menatap wajah Nayla. "Tuh Nay, kangen dia katanya." Sambil mengerlingkan sebelah mata.
Sampai membuat Nayla tidak bisa menahan tawanya. "Minta dijenguk sama Papanya."
"Ih, modus banget Mas Reyhan.."
Kemudian Reyhan mendekatkan wajahnya ke wajah Nayla, dan mencium bibir perempuan itu. "Terimakasih, aku suka panggilan baru nya."
Tanpa menunggu jawaban Nayla, Reyhan kembali melu mat bibir Nayla dengan penuh perasaan. Sebelum akhirnya meminta haknya sebagai seorang suami.
***
Diam-diam dalam kebahagiaannya, Nayla kembali mengingat obrolannya dengan sang Papa yang sengaja tidak dia ceritakan kepada sang suami.
"Boleh papa minta sesuatu?" Ucap Papa Zeko saat Nayla memeluknya.
"Tentu. Papa mau minta apa dari Nayla?"
"Hormati suami mu. Mulailah dengan memberi panggilan terbaik kepadanya."
Nayla menoleh kesamping, mendapati wajah Reyhan yang penuh keringat karena kelelahan akibat aktifitas ranjangnya barusan.
__ADS_1
"Terimakasih Pa, sudah memilihkan lelaki sehebat Reyhan untuk perempuan biasa sepertiku. Aku memang bukan perempuan yang paling baik,
tapi untuk Reyhan dan rumah tanggaku, aku akan berusaha menjadi yang terbaik."